Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
(Bagian 430 : Bulan Madu 28)


__ADS_3

Keris telah dimandikan, hari mulai sore, beberapa Balian datang untuk mengambil keris sebagai syarat dari bantuan.


Keris telah dibungkus dengan kain jarik. Aditia menemui para Balian yang telah datang.


"Kita akan adakan ritual pelepasan benda pusaka, mari bersiap." Aditia mengatakannya dengan dingin.


Semua orang keluar dari vila dan membentuk lingkaran yang cukup besar, mengelilingi sebuah meja, di mana keris itu berada.


Alka mulai membaca mantra, mantra pelepasan ini dilakukan untuk melepas ikatan antara Aditia dengan kerisnya, biasanya percobaan pertama gagal, karena benda itu tidak rela berpindah kepemilikan.


Alka memimpin pembacaan mantra, semua orang ikut membaca baik demi bait mantranya ....


Ruwat jiwa aning galih sadri


Jar tasik jagdi jiwa baragaz


Saben jagsa nu balih dinya, bardik jahum!


Alka dan yang lain meneruskan mantra yang sangat panjang, hingga pada penghujung mantranya Aditia maju ke arah meja dan memegang kerisnya, berusaha dengan sekuat tenaga merasakan energi keris itu.


Kosong, Aditia tak merasakan energi sama sekali dari benda itu. Padahal sebelumnya ikatan mereka sangat kuat, teramat sangat kuat hingga keberadaan keris selalu bisa terdeteksi dengan mudah. Tapi kalian ini berbeda, keris itu terasa tak memiliki energi.


Aditia merasakan energi yang tidak dia kenali pada keris itu. Mereka menjadi saling asing.


"Gimana Dit?" Alka bertanya.


"Dia melepasku, Ka." Aditia menunduk dan bersedih, karena merasa kecewa, sebab pada percobaan pertama kerisnya melepas Aditia, hingga energi mereka tak sling terkoneksi lagi.


Kawanan tahu bahwa koneksi antara tuan dan senjata pusaka adalah yang menjadi ukuran kemampuan seseorang dalam menguasai benda itu.


Koneksi antara Aditia dan keris itu terputus dengan sangat mudah. Aditia pasti sangat kecewa, karena dia pikir mungkin saja mereka harus mengulang berkali-kali mantranya hingga keris itu bisa melepas Aditia sebagai tuannya, tapi pada kenyatannya, hanya sekali dan keris itu melepas Aditia.


Aditia lalu mengangkat keris itu dan berbalik, salah satu Balian maju untuk mengambil keris itu.


Balian mengulurkan tangannya agar Aditia menyerahkan keris itu.


Aditia terdiam, ada rasa tidak rela hingga air matanya kembali menggenang, namun di tahan.


Aditia menatap lagi keris itu dengan lekat dan mulai berbicara.


"Pergilah pada tuanmu yang baru, jadilah berguna bagi banyak orang, ayahku pasti mengerti dengan langkah yang aku ambil." Lalu Aditia menyerahkan kerisnya.


Satu perwakilan Balian itu mengambil keris dan memasukkannya dalam sebuah kotak emas.


"Pada siapa keris ini akan diberikan?" Aditia bertanya.

__ADS_1


"Tidak akan digunakan oleh siapapun, akan menjadi benda pusaka hanya jika dibutuhkan maka akan digunakan. Tuannya adalah kami para Balian, tidak merujuk satu orang." Kerisnya telah mereka terima lalu malam ritual itu berakhir dengan tenang.


Semua perlengkapan telah dibereskan, kawanan berkumpul di ruang tamu.


"Kau baik-baik saja?" Alka bertanya pada Aditia.


"Tidak, aku takkan berbohong bilang aku baik-baik saja, nyatanya aku memang tidak baik-baik saja." Aditia tertunduk.


"Dit, kau sangat hebat dan berani sekali, itu salah satu alasan kami yakin bahwa Bapak tidak salah memilih pemimpin kita." Ganding mencoba membesarkan hati Aditia.


Sang pemimpin yang tidak punya senjata lagi.


"Kau bisa pakai ular miniku, mereka patuh padamu bukan? Ularku kan banyak, kau bisa ambil sebanyak yang kau mau." Jarni berkata dengan tulus.


"Aku suka ularmu, tapi jangan bohongi aku, mereka patuh padaku karena kau yang suruh, mana mungkin senjatamu patuh pada dua tuan. Kau bicara seolah aku anak kemarin sore." Aditia merajuk yang lain tertawa, karena Jarni memang tak pandai membujuk.


"Kau bisa pakai cambukku, kita berlatih saja, kau pasti mampu, karena sekarang Alisha dan aku tidak perlu berbagi cambuk, dia sudah punya Rangda."


"Tidak, aku tidak suka melihatmu tanpa senjata ketika keadaan genting, karena keselamatanmu jauh lebih aku prioritaskan."


"Kau kan tahu, aku dan Har tidak bisa menawarkan senjata kami, karena senjata kami tipikal benda pusaka yang posesif, mereka tak akan mau dipegang orang kain. Maaf ya Dit." Itu sulit disangkal karena senjata Ganding dan Hartino memang bukan senjata yang bisa sembarang dipegang orang lain.


"Aku tidak perlu senjata senjata kalian! Aku akan tidur duluan."


Karena lelah Aditia terlelap. Begitu juga dengan kawanan, Alisha dan Hartino tidur di kamar utama, Jarni dan Alka tidur di kamar lain.


Mereka menghabiskan malam dengan lelah yang menyedihkan.


...


Pagi tiba, kawanan sarapan, semua telah mengumpulkan energi untuk membuat vila itu rubuh.


Setelah sarapan mereka melihat beberapa alat berat telah berdatangan, Jajat kali ini juga tak diizinkan datang, karena banyak urusan yang dia harus selesaikan, termasuk menemukan adiknya Gea.


Setelah alat berat berdatangan, para Balian juga datang, mereka membawa begitu banyak perlengkapan.


Pemimpin para Balian itu berbincang dengan Aditia berdua saja, sementara yang lain bersiap untuk ritual.


"Nak Aditia, aku dulu bertemu ayahmu di sini juga, aku dan beberapa Balian memintanya untuk menghancurkan vila ini, tapi dia tidak dapat memberikan syaratnya pada kami." Pemimpin Balian itu berkata.


"Apa syaratnya?"


"Kami meminta benda pusaka yang selalu dia gunakan."


"Oh keris itu?"

__ADS_1


"Keris? Itu kan milikmu, bukan itu."


Aditia bingung, bukan keris? Tapi Aditia hanya mendapatkan keris itu dari ayahnya.


"Kalau bukan keris lalu apa?" Aditia bertanya.


"Itu adalah ...."


"Kami sudah siap, kita mulai ritualnya sekarang." Salah satu Balian mendekati Aditia dan pemimpin Balian yang memang agak menjauh dari kerumunan orang yang sedang bersiap untuk ritual.


"Kita bicarakan nanti, kalau begitu kita mulai sekarang ritualnya." Balian itu mengajak Aditia untuk memilai ritual.


Aditia setuju dan mereka semua di posisi.


Aditia dan kawanan ada di posisi pintu depan, sedang yang lain ada di samping kanan kiri vila dan belakang, lima orang Balian sisanya bersiap jika saja ada yang tumbang.


Alisha tidak ikut di barisan kawanan, dia masuk barisan Balian, karena energinya sulit bersinergi dengan energi kawanan, makanya dia bersama dengan Balian yang ada di samping kanan vila.


"Bersiap!" Seorang Balian memberi aba-aba dengan alat pengeras suara. Karena menyalurkan energi haruslah bersamaan agar memiliki efek yang tinggi.


Pemberi aba-aba mulai berhitung, semua pada posisi bersiap menyerang seluruh penjuru vila dengan kekuatan yang dimiliki.


Perpaduan antara ilmu ghaib Pasundan bertemu dengan ilmu ghaib Bali.


"Satu ... dua ... tiga, SERANG!" Pemberi aba-aba meminta semua orang menyerang, perpaduan energi itu sudah bertemu, ketika dua energi dua adat itu bertemu, menciptakan warna ungu yang pekat melesat ke langit lalu akhirnya jatuh kembali setelah bersinergi bagai bom nuklir yang menyerang vila tanpa ampun.


Duar!!! Duar!!! Duar!!!


Dua energi besar itu berhasil menghancurkan atap dari vila, atap yang tadinya berdiri kokoh, lalu hancur seketika.


"Hanya atap, kita mulai lagi ya." Pemberi aba hendak berhitung lagi.


Semua orang bersiap, tahapan penyerangan dilakukan lagi, energi melesat ke langit dengan warna ungu yang pekat, lalu kembali jatuh ke bumi, tujuan serangan masihlah sama, vila laknat itu.


Tepat setelah energi itu mengenai sisa atap yang masih utuh, membuatnya menjadi hancur, bukan hanya atap yang habis, tapi setengah dibanding vila mulai hancur.


Balian dan kawanan jatuh terduduk, energi mereka terkuras.


"Kita mulai lagi ya." Pemberi aba-aba ingin menghitung lagi, tapi kawanan dan para Balian berteriak meminta istirahat, karena mereka kelelahan.


Butuh waktu sekitar 15 menit untuk istirahat, setelah istirahat mereka mulai lagi dengan tahapannya.


Hingga akhirnya energi ungu pekat itu menghantam sisa bangunan vila dan ....


Aneh, kali ini vila tidak hancur.

__ADS_1


__ADS_2