
“Jadi kita harus cari kemana jiwa Pak Ardi?” Ganding bertanya.
“Temukan dukunnya, pasti Pak Ardi bersama dia.” Aditia memberikan solusi yang bukan solusi, karena pertanyaan berikutnya adalah dimana dukun itu.
“Cara menemukan dukun itu?” Ganding bertanya lagi.
“Temukan kuncinya, kalau kunci itu kita temukan otomatis dukun itu akan muncul.”
“Dit, kau ingat tidak, lelaki yang berpakaian security sedang berlari tengah malam dulu itu, kau ingat?” Alka tiba-tiba bertanya.
“Ya, aku ingat, kenapa?”
“Besoknya berita tentang kematian Erin disebarluaskan, aku punya firasat buruk tentang security itu.”
“Lalu bagaimana kita mencarinya? Kau kan tahu, kita hanya melihat sekitar.”
“Dit, kalau dia berlari ke arah sana, berarti rumahnya memang ke arah sana, di sini kan rumahnya tidak terlalu banyak, maksudku, rumahnya terjarak cukup jauh, makanya mungkin kita bisa melacak di mana rumah Security itu.” Ide cemerlang bagi lima sekawan muncul tiba-tiba dari ingat Alka.
“Kalau begitu, kita mulai cari, menyebar, biar lebih cepat.” Aditia berkata dengan semangat.
“Tapi yang liat dukun itu kan, cuma kalian, kami mana tahu wajahnya, plus gimana tanyanya?” Hartino bingung.
“Jangan cari Security, tapi cari lelaki aneh yang mungkin anak dukun.” Alka memberi clue yang cukup membingungkan, tapi semua orang tidak mau bertanya, karena pasti kelak Alka akan memberikan jawaban.
Mereka akhirnya menyebar, bertanya pada penduduk sekitar, Aditia dan Alka tentu saja bersama, bagaimana mereka berpisah? Sedang yang lain saja ingin bersama pasangannya.
“Permisi Bu, boleh tanya?” Alka bertanya pada kumpulan ibu-ibu yang sedang mengobrol, target yang cukup pas untuk ditanyai.
“Bu, kami dari vila sana, kami ini rekan Polisi di daerah ini, kebetulan kami sedang magang untuk penelitian skripsi, kami anak hukum, makanya membantu Pak Ardi untuk menyelidiki kasus pabrik di dekat sini, saat ini kami disuruh Pak Ardi untuk bertanya soal lelaki yang mungkin aneh atau seorang anak dukun di daerah sini, karena ada saksi yang melihat pemuda berlari ke arah sini saat kematian salah satu buruh di pabrik itu.” Aditia menjelaskan dengan rinci, karena tidak ingin ibu-ibu curiga, menjadi Mahasiswa Hukum cukup meyakinkan.
“Oh ini anak hukum, udah punya pacar belum? Anak saya belum nikah tuh, anaknya cantik, pinter masak sama pinter urus ruma, mau nggak?” Seorang ibu berkata, bermaksud menjodohkan Aditia dengan anaknya, Alka terlihat kesal, Aditia buru-buru menyelamatkan ibu itu dari amukan yang mengerikan.
“Maaf Bu, ini tunangan saya.” Aditia menunjuk Alka.
“Oh iya, maaf ya Neng, kirain belum punya calon.” Ibu terlihat malu, sedang Alka wajahnya memerah. Dia senang sekaligus risih dengan perkataan Aditia.
“Di sini sih anak dukun nggak ada, tapi pemuda aneh ada, dia itu anaknya agak ....” Seorang ibu memutar jari telunjuknya di kening bagian samping sebelah kanan, ingin memberitahu bahwa lelaki yang dimaksud itu agak gila.
“Maksudnya dia kenapa Bu? Sakit bawaan?” Alka bertanya.
“Bukan, dia itu katanya gila karena azab, dulunya dia itu anak berandal, di kampung ini dia paling dibenci, lalu tiba-tiba dia begitu, jadi aneh dan selalu pulang tengah malam, entah apa yang dilakukan, kata bapaknya sih dia itu kerja, tapi nggak tau kerja apa, nggak mau nyapa tetangga, kalau ketemu tetangga buang muka, sekalinya ramah pasti yang diramahi kelak akan sakit.” Ibu itu bergidik membayangkan jika bertemu lelak itu.
“Lelaki itu rumahnya di mana Bu?” Aditia bertanya lagi.
“Itu, dari sini lurus saja, nanti ada pertigaan, belik kakan, trus jalan sampai ujung, rumahnya sebelah kiri nggak ada gerbang, namanya Eep. Jam segini biasanya bapak sama anak itu masih tidur, karena mereka kerjanya malam, nggak tau deh kerja apa.” Memang kumpulan ibu-ibu selalu bisa diandalkan.
Alka dan Aditia berjalan ke rumah yang ditunjukan, ketika sudah sampai, dia tidak menyangka kalau ternyata yang lain sudah di sana, mereka mendapatkan informasi yang sama.
__ADS_1
“Kalian juga tahu kalau Eep tinggal di sini?” Aditia bertanya.
“Iya, ayo kita masuk, aku tidak sabar menghabisi lelaki itu, kalau benar dia anak dukunnya, pasti dia tahu di mana kunci dan Pak Ardi.” Hartino terlihat sangat kesal.
“Bentar Har, jangan asal pukul, belum tentu dia salah, belum tentu kita benar, minta penjelasan dulu.” Alka protes.
“Kalau sampai dia tetap nggak mau ngaku? Aku boleh ya sedikit memaksanya?” Hartino memaksa ingin menghajar Eep.
“Ok, ayo masuk.” Ganding akhirnya mengetuk pintu, tak ada jawaban.
“Gedor Nding, kelamaan.” Hartino menggedor pintu rumah itu, ada jawaban dari dalam.
“Siapa itu!” Suara lelaki.
Tak lama pintu terbuka, lelaki bernama Eep itu terkejut melihat gerombolan itu.
“Kalian ngapain!” Eep tidak bertanya identitas mereka, dia hanya bertanya untuk apa mereka ke rumahnya, berarti Eep tahu siapa orang-orang ini.
“Kau kenal kami? Kenapa tidak bertanya kami siapa?” Ganding menebak, dia memang jenius.
“Aku tidak perduli siapa kalian, pergi dari sini, apapun yang kalian cari, tidak ada di sini.” Eep hendak menutup pintu rumahnya, tapi dihalangi oleh Ganding dan Hartino, mereka menahan pintu itu, Eep menatap Ganding dan Hartino, seketika Hartino dan Ganding muntah batuk dan muntah darah bersamaan.
Aditia melihatnya marah, karena Eep berani menyerang saat bahkan mereka belum siap.
Aditia menahan pintunya, Eep menendang pintu itu dan membuat Aditia terjatuh dengan cara terduduk, badannya tidak bisa digerakkan.
Alka berlari hendak menghajar pemuda itu, tapi ....
“Lepaskan dia!” Alka lemah, karena Aditia dalam bahaya.
“Kau juga, kalau kalian semua bermaksud melawan lagi, aku akan membuat dua pria ini tidak hanya muntah darah, tapi mungkin memuntahkan organ dalam mereka.” Lelak itu seperti menggenggam sesuatu dan meremasnya, tapi tak ada yang dia pegang, remasan tangannya membuat Ganding Hartino muntah darah semakin hebat.
Setelah membuat lima sekawan sekarat, dia menutup pintunya, memundurkan rumahnya, entah kekuatan sebesar apa yang dia punya hingga bisa membuat rumahnya tergeser secara tiba-tiba dan membuat lima sekawan terkulai di tanah.
“Dit, Nding, Har!” Alka memanggil satu persatu, mereka mulai kembali pulih.
“Ayo.” Alka lalu memapah Aditia dan yang lain bersama pasangannya.
“Dit, itu kekuatan apa? aku tidak melihatnya bergerak dan dia menyerang kita.” Ganding masih terkejut.
“Bah, aku butuh diskusi.” Aditia memanggil Abah Wangsa.
“Assalammualaikum.” Abah Wangsa keluar dan duduk di samping Aditia sementara semua orang duduk melingkar di bangku yang ada.
“Waalaikumsalam Bah, Bah, tadi diikat sama Eep ya?” Aditia bertanya, karena tadi dia tidak merasakan kehadiran Abah Wangsa dalam dirinya.
“Ya, dia mengikatku.” Abah Wangsa berkata sambil mengusap jenggotnya.
__ADS_1
“Bah, dia juga membuat aku dan Hartino muntah darah. Apakah dia lebih kuat dari pada kami?” Ganidng bertanya.
“Ya, dia lebih kuat bahkan dariku.” Abah Wangsa terlihat khawatir.
“Dia itu siapa?” Aditia bertanya.
“Bukan dia, tapi yang di dalamnya.”
“Siapa yang di dalamnya?” Aditia bertanya lagi.
“Prabu Gendeng Sumping. Dia adalah raja jin masa majapahit, dia khodamnya para raja-raja terdahulu.” Abah Wangsa terlihat khawatir.
“Dia jahat?” Aditia kembali bertanya.
“Entah, karena yang aku tahu, dia hanya bersama orang yang dia sukai, dia akan mentuankan manusia yang dia sukai, yang memiliki energi yang tinggi dan juga ambisi yang kuat, mirip raja-raja jaman dulu.”
“Berarti kita tidak sepadan dong Bah?” Ganding khawatir.
“Tidak, bahkan denganku, dia jauh lebih tua dariku.” Abah Wangsa jujur.
“Kalau begitu kemungkinan kita membuat pabrik itu menjadi tidak sesat lagi terlalu kecil dong Bah? Yang jaga kesesatannya kerabat dajjal, bisa seenaknya ngatur apa yang menjadi takdir.” Lais kesal karena Eep benar-benar bukan orang baik.
“Kita harus gimana Bah?” Hartino kali ini yang bertanya.
“Kita harus cari tahu kenapa dia berbuat itu, setelah itu kita akan tahu langkah selanjutnya.” Abah Wangsa memberikan solusi.
“Memang perlu tahu alasannya, urusan dia lah.” Hartino kesal.
“Perlu, karena Prabu Gendeng Sumping adalah orang yang adil, walau kata baik jauh dari sifatnya, tapi dia adil, dia selalu memilih tuan yang adil dan bisa menyeimbangkan dirinya yang terlalu kuat. Jadi sudah pasti Eep punya alasan untuk berbuat seperti ini, sejauh ini dengan menyekap seluruh jiwa itu lalu diperkerjakan dengan kejam.” Abah menjelaskan.
“Bah, tapi gimana caranya tahu apa alasan Eep?”
“Kita selidiki dengan diam-diam, kau tahu kan kalau Eep itu pasti ke luar untuk selalu memperbaharui sajen yang ada di pabrik itu, karena sajen itu membantunya membuat gedung itu tenang, kalau dia keluar, kita buru-buru masuk ke rumahnya, agar kita tahu, apa yang menjadi alasan Eep untuk berbuat separah ini dengan ilmu yang setinggi itu.” Abah Wangsa lalu masuk ke tubuh Aditia.
“Ok, jadi kita kayak pengecut nih? Mengendap-endap?” Hartino kesal karena kali ini lawannya jelas sepadan bahkan lebih tinggi ilmunya.
“Ya, tapi sebelum itu kalian harus tetap cek dulu pabrik itu, karena pembantaian itu pasti disadarinya, maka dia tahu kalau jiwa-jiwa itu sebagian musnah, membuat energi negatifnya berkurang.
Hati-hati dengan jin kelaparan, dia akan mengincar jiwamu untuk dimilikinya, Eep tidak seperti manusia pada umumnya, dia sudah dikuasai oleh Prabu, makanya kita perlu menolongnya. Selain itu ... soal Prabu ....”
“Kenapa Bah?” Aditia penasaran.
“Kelak aku ceritakan, sekarang kalian harus segera ke pabrik itu, minta operasional kantor berhenti dulu, karena kalau terlambat, aku takut kalau kalian akan celaka.”
“Kok bisa gitu Bah?” Jarni protes.
“Hanya berjaga-jaga saja aku takut kalau Eep sudah bukan Eep lagi, tapi menjadi Prabu yang serakah ingin memiliki tubuhnya, makanya energinya begitu besar, karena Prabu ingin hidup sebagai manusia, dia mungkin menjadi serakah setelah tahu kalau dia bisa mengendalikan manusia dengan uang yang dia dapatkan dari menyekap jiwa itu dan bekerja di pabrik sehingga pabrik menjadi lebih sukses.”
__ADS_1
“Bah, apakah ini soal uang lagi?” Jarni kesal sekali dengan drama peruangan ini.
“Kau hidup dengan bergelimang uang Jarni, jadi kau mungkin tidak terlalu tertarik dengan uang, tapi berbeda dengan manusia-manusia yang lain, uang itu menjadi cukup berharga, bahkan menukar jiwa.” Lais terdiam setelah mengatakan itu.