
Sedari pagi istri Pak Ari menyiapkan semua keperluan untuk pengajian sehabis Magrib nanti, makanan hampir selesai, waktu masih panjang, jadi kemungkinan semua akan selesai tepat waktu.
Beberapa tetangg datang membantu sejak pagi, Bi Iyem pun datang seperti biasa, tidak ada yang membicarakan kejadian kemarin, semua hanya berusaha fokus pada acara ini.
Pak Ari akan ijin pulang kantor lebih cepat, katanya selepas Ashar Pak Ari akan pulang dari kantor.
Akbar sudah main di rumah Ilham sejak pagi, Bu Ari bilang pada Akbar jangan pulang sampai di jemput, kalau ada apa-apa lagi, Bu Ari tahu, kalau itu bukan anaknya, di sini banyak tetangga, pasti anak lelak iitu tidak akan berani menampakkan wujud Akbarnya.
“Aduh!!!” Seseorang berteriak di toilet, istri Pak Ari buru-buru berlari untuk melihat disusul yang lainnya.
“Bu, ayo saya bantu bangun.” Ternyata seorang tetangga yang membantu terjatuh di kamar mandi, dia jatuh dalam keadaan terduduk dan memegang closet.
“Kenapa, bu?” Istri Pak Ari sudah membantu tetangga itu untuk duduk di ruang televisi yang berdekatan dengan kamar mandi tempatnya terjatuh tadi.
“Saya kepeleset, lantainya licin sekali,” ujar tetangga itu.
“Nggak mungkin licin, saya sikat kamar mandi setiap hari, pagi sama sore kok, mana mungkin licin.” Bi Iyem protes.
“Lah wong saya jatuh, masa saya ngarang.” Tetangga itu kesal.
“Yasudah, maaf ya bu.” Istri Pak Ari mencoba untuk membuat suasana menjadi tenang lagi, dia memebri kode pada Bi Iyem untuk tidak merespon lagi ucapan tetangga itu. Bi Iyem memonyongkan bibir karena kesal.
“Tapi bu, yang bikin saya heran, kenapa pas saya masuk, kok pintunya terasa berat sekali saat di dorong.”
“Maksudnya, Bu?” Seseorang bertanya, istri Pak Ari merasa, pasti si Akbar palsu yang membuat celaka tetangganya ini.
“Iya, jadi pas saya dorong pintu kamar mandinya, terasa berat sekali, seperti ada yang … bergelayut di pintu itu.”
Hih!!! Beberapa tetangga merinding mendengarnya.
“Bu, minta tolong ya, kita lupakan kejadian yang terjadi barusan, saya akan bertanggung jawab untuk pengobatan kaki ibu, tapi saya mohon bantu saya di sini ya, Bu, kalian semua tahu kan, tentang rumah ini, makanya saya berusaha untuk mengadakan pengajian agar rumah ini terbebas dari bantuan.” Istrinya Pak Ari memohon, semua ibu tetangga itu merasa iba.
“Yaudah, Bu. Tenang aja, kaki saya nggak kenapa-kenapa kok, saya tadi kaget aja jatuh, yuk kita masak lagi.” Ibu yang celaka itu berkata dengan bijak.
“Oh ya satu lagi Bu, jika nanti melihat Akbar berkeliaran di sini, jangan dihiraukan ya, karena itu bukan Akbar, Akbar ada di rumah Ilham, saya melarangnya pulang sampai kami jemput nanti.”
Semua orang mengangguk, mereka mengerti apa yang dimaksud dengan bukan Akbar itu.
Mereka memulai memasak lagi, ada juga bapak-bapak yang bantu mengeluarkan sofa dari ruang tamu ke halaman, karena ruang tamu akan digelar karpet untuk duduk bersila saat pengajian nanti, pengajian akan di ikuti oleh Bapak-bapak, sementara ibu-ibunya membantu menyiapkan makanan saja.
Tak terasa waktu menunjukan pukul enam sore, sudah magrib, beberapa tetangga sudah pulang untuk mandi dan solat, baru setelah itu akan datang lagi untuk membantu, Pak Ari dan istrinya sudah menyiapkan semua keperluan pengajian, besek untuk dibagikan saat pulang nanti, minuman dan kue basah untuk dinikmati saat pengajian berlangsung dan sound system agar suara Pak Ustad terdengar sampai halaman.
Akbar masih di rumah Ilham, seperti yang Bu Ari katakan, Akbar nurut untuk tidak pulang dulu.
__ADS_1
Tidak ada gangguan yang berarti sepanjang hari, Akbar palsu tidak muncul.
Pak Ari dan istrinya sudah selesai solat, Pak Ari sudah mengenakan baju koko untuk pengajian, begitu juga dengan istri Pak Ari, sudah mengguankan gamis lengkap dengan jilbabnya, karena sehari-hari, istrin Pak Ari belum mengenakan jilbab.
“Assalamualaiku.” Seseorang mengetuk pintu dan memberi salam, walau pintu tidak di tutup dan terbuka lebar, tamu tersebut sangat santun dan menunggu yang punya rumah menyambut mereka.
“Pak Ustad udah datang, cepat sekali, yang lain belum datang, Pak.” Pak Ari mempersilahkan Pak Ustad masuk, Pak Ustada tidak datang sendiri.
“Justru itu Pak, saya sengaja datang lebih awal, ada yang mau saya bicarakan.” Wajah Pak Ustad berubah menjadi serius.
Mereka duduk bersila melingkar.
“Perkenalkan Pak, ini Aditia, Alka, Jarni, Ganding dan Hartino, mereka dari Jakarta. Mereka yang akan bantu saya untuk … membersihkan rumah ini.” Pak Ustad mengatakannya dengan hati-hati.
“Oh iya, saya Ari, ini istri saya. Terima kasih sudah mau jauh-jauh datang ya. Terima kasih juga Pak, sudah memanggil orang yang bisa membantu saya.” Pak Ari terlihat penuh harap, walau dalam hatinya dia tidak tahu, apakah orang-orang muda itu bisa menolong dia, bahkan sekelas Pak Ustad saja butuh bala bantuan, tapi mereka terlihat masih sangat muda.
“Aditia dan teman-temannya tidak saya panggil, justru kami bertemu di jalan tadi pagi, mereka mencari rumah ini dan bermaksud untuk membersihkannya, tadinya, jujur saya menolak datang dan akan mencarikan Ustad dari Desa yang jauh, agar mau datang, karena kalau Desa terdekat pasti menolak datang ke sini.”
“Oh begitu, Aditia sudah tahu tentang rumah ini? apakah Aditia dan kawan-kawan ini sedang buat acara youtube ya?” Wajar Pak Ari mengira mereka hanya sekumpulan anak muda yang sedang cari bahan untuk acara youtube mereka.
“Bukan Pak, kami hanya menerima amanah dari ayah saya, beliau sebelum meninggal menitipkan rumah ini untuk dibantu dibersihkan, tenang saja Pak, kami bukan content creator kok, nggak ada syuting-syutingan dan kami tidak akan memungut biaya sedikitpun, ini murni karena amanah ayah saya, selama ini saya tunda ke sini karena rumah masih kosong. Tapi begitu saya tahu kalau rumah ini ternyata tiba-tiba berpenghuni, kami langsung ke sini.”
“Ayahnya Aditia pernah tinggal di sini?”
“Baik Aditia, terima kasih banyak ya.”
“Apakah dia sering menyerupai anak Bapak?” Alka tiba-tiba bertanya.
“Iya, iya betul.” Istrinya Pak Ari yang menjawab.
“Apakah anak itu terlihat sangat lusuh dan kotor?” Alka bertanya lagi.
“Betul, betul.” Istrinya Pak Ari mulai sedikit percaya pada mereka, ini berkat penglihatan Alka, begitu sampai rumah ini dia melihat serangkaian kejadian, tetapi anak itu menghilang, seperti bisa merasakan aura 5 sekawan itu, bahkan sejak mereka mendaratkan kaki di desa ini, anak itu menghilang, makanya tidak ada gangguan sejak siang.
Beberap tetangga mulai datang, termasuk Pak RT.
“Loh Stad, tadi pagi katanya nggak bisa.” Ternyata memang benar, Pak Ustad tadinya tidak mau bantu.
“Iya, saya bawa bala bantuan Pak, semoga bisa bersih setelah ini,” jawab Ustad.
Pengajian dimulai, semua berjalan lancar, mulai dari pengajian, tausiah, sampai pembagian besek, tidak ada gangguan sama sekali, istri Pak Ari juga merasa bahwa hawa rumah menjadi lebih adem, karena biasanya panas dan pengap walau AC sudah nyala sekalipun.
Tetangga satu persatu meninggalkan rumah, yang tinggal hanya lima sekawan dan Pak Ustad.
__ADS_1
“Kami akan menginap, kami akan tidur di ruang tamu, di karpet ini saja, besok kami akan bantu membereskan rumah, apakah boleh?” Aditia bertanya, kalau difikir-fikir, anak-anak orang kaya itu, seperti Jarni, Ganding dan Hartino, tidak pernah mengeluh sekalipun saat perburuan, padahal mereka terbiasa hidup enak, mereka bahkan kalau boleh memilih lebih senang tinggal dengan kakak angkatnya di gua tengah hutan itu.
“Boleh-boleh, kalau begitu yang perempuan tidur di kamar Akbar saja, biar Akbar tidur di kamar kami,” tawar Pak Ari.
“Tidak perlu Pak, kami sudah biasa.” Alka menjawab, karena Jarni tetap malas ngomong.
Setelah bantu beberes, akhirnya malam tiba, Akbar sudah dijemput untuk pulang, lalu keluarga Pak Ari tidur, sementara lima sekawan masih mengawasi, mereka sengaja tidak menandai rumah ini, karena tujuan mereka adalah anak yang sering menyerupai Akbar itu.
Alka dan Jarni terus terjaga, sementara Adit dan yang lainnya tertidur, mereka lelah.
“Alka dan Jarni, kalau mau kopi atau the buat aja ya.” Istri Pak Ari mengatakannya lalu pergi ke dapur, istrinya Pak Ari mau mengambilkan air untuk Akbar.
Tidak lama kemudian, Akbar terlihat berlari menghampiri ibunya, Jarni dan Alka kembali fokus pada penjagaan.
Tiba-tiba sepuluh menit kemudian, Alka sadar, kenapa kok istri Pak Ari dan Akbar tidak kembali lagi dari dapur, karena dari ruang tamu tempat mereka duduk tidak terlihat dapurnya, tapi terlihat jika ada yang lewat dari dapur ke kamar keluarga Pak Ari.
Alka merasa ada yang salah ini terlalu lama, karena istrinya Pak Ari sempat bilang akan mengambil air minum saja untuk Akbar.
Alka menghampiri dapur dan terkaget, istri Pak Ari menatap kosong ke depan tanganya … memegang pisau yang sudah berlumuran darah.
Sementara di depannya Akbar sudah tergeletak, bagian perutnya berdarah, cukup banyak.
“Adit!!!” Alka berteriak, seketika istrinya Pak Ari tersadar dan menjatuhkan pisau dari tangannya, Pak Ari ikut keluar karena mendengar teriakan Alka, dia gemetar melihat tangan istrinya berlumuran darah dan saat melihat Akbar sudah terbaring berlumuran darah, dia menjerit sejadinya.
Aditia dan yang lainnya berlari ke dapur, menutup mulut Pak Ari agar tidak menimbulkan kegaduhan.
“Udah gue duga, cepet masukin ambulan.” Alka memerintah Aditia dan Ganding. Mereka sigap menggendong Akbar dan membawa ke ambulan, ternyata Aditia meminjam Ambulan dari masjid dekat rumahnya untuk dibawa ke rumah terkutuk itu. Alka sudah mendapatkan penglihatan buruk, tapi dia tidak menyangka, Akbar akan menjadi korbannya.
“Pak Ari ikut berlari ke ambulan. Sementara istrinya Pak Ari masih histeris, Jarni memegangnya agar dia tidak menimbulkan keributan dan membuat tetangga datang, bisa bahaya, karena masalah ini tidak boleh masuk ranah hukum, istri Pak Ari akan dipidana, padahal dia sedang dalam pengaruh iblis.
“Denger saya Bu, dengar saya, Akbar akan baik-baik saja, percaya kami, sekarang ikut kami ke rumah sakit, setujui apapun yang saya katakan di rumah sakit nanti, kalaupun ada Polisi, tetap pada pernyataan yang akan saya katakana kelak, mengerti?”Alka berkata dengan sangat tegas, istri Pak Ari masih kalut dan takut anaknya celaka, dia tidak bisa memikirkan hal lainnya.
“Saya tidak bermaksud menusuk Akbar, saya bermaksud menusuk anak setan itu!”
“Baik, ceritakan di jalan ya, tapi saat keluar nanti, tetangga mungkin akan ada yang bertanya, tapi saya mohon jangan jawab apapun, diam saja. Mengerti?!” Istri Pak Ari mengangguk.
______________________________
Catatan Penulis :
Ini adalah amanah ayah Aditia yang tertulis di buku harian ghaibnya, masih ada yang ingat kalau ayahnya Aditia punya buku yang menulis kisah tentang arwah penasaran yang selalu dia antar dan belum sempat dia antar karena dia harus berpulang pada YANG MAHA KUASA.
Jangan lupa like ya.
__ADS_1