Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 301 : Bus 404 (4)


__ADS_3

“Enak Rif?” Melati bertanya.


“Iya lumayan, bisa ganjal perut.”


“Kamu perhatiin baik-baik ya, ini biji-bijiian dan juga daun yang bisa kamu makan, nanti kalau kamu laper, cari yang seperti ini ya.” Melati seperti memberi wejangan.


“Iya, lagian kan ada kamu, nanti kalau aku bingung tinggal tanya kamu.”


“Ya, aku kan nggak selalu ada,” Melati menjawab.


“Kamu emang mau ke mana, kita kan punya tujuan yang sama.”


“Ya, siapa tahu akunya lelah dan akhirnya balik ke saung tadi, kalau cari aku, kamu ke saung itu aja ya.”


“Iya, tapi Mel, aku bingung, saung itu tadi nggak ketemu loh, aku cariin kamu trus nggak ketemu, aku niatnya balik ke saung takut kamunya kembali ke sana lagi, tapi aku nggak ketemu tuh saungnya.”


“Ketemu kok nanti, kalau aku balik ke sana, trus kamu cariin aku, kamu pasti ketemu.” Melati tersenyum dengan tulus, setelah makan, mereka melanjutkan perjalanan.


Mencari Nola atau jalan ke luar, Arif bersyukur karena ditemani Melati, dia jadi yakin akan bisa menemukan Nola.


Malam tiba, lagi-lagi Arif dan Melati harus bermalam di hutan itu, tapi bukan di saung lagi.


Sementara di tempat lain.


Setelah ketakutan dan mendengar suara dari bagian belakang bus, Nola akhirnya memberanikan diri untuk ke sana, karena kalau ke depan dia tidak begitu berani, ada perasaan takut yang tidak bisa dia jelaskan saat melihat orang-orang tadi melihat ke arahnya secara serentak sambil berdendang mendengar lagu lawas.


Nola berjalan ke belakang tanpa ragu, walau di sana terasa gelap. Saat sudah semakin dekat, dia baru sadar sesuatu, ada beberapa orang di sana.


Wajah mereka terlihat jauh lebih normal dibanding wajah-wajah orang di depan, Nola semakin mempercepat langkahnya, dia lalu menyalakan senter di telepon pintarnya, dengan begini dia bisa melihat semua orang.


“Sini cepat!” Nola ditarik oleh seorang lelaki, setelah dia menarik Nola, Nola duduk di deretan lima orang yang ada di belakang, mereka semua terlihat ketakutan.


“Kalian siapa?” Nola bertanya.


“Aku Bobby, ini Mita, ini Desi, Rosi yang di pojok itu Rendi. Kami mahasiswa jurusan Psikologi, kami juga kayak kamu, terjebak di bus ini.” Bobby menjelaskan.


“Aku Nola, Terjebak?” Nola tidak begitu paham.


“Iya, kita takkan berhenti di tempat biasa, mereka akan membawa kita ke ....”


“Kemana?” Nola penasaran.


“Ke hutan!” Bobby berbisik.


“Duduk Nola, mereka tidak suka kita berisik,” Mita berkata.


Mita menarik Nola untuk duduk bersamanya dan juga Desi, mereka duduk di bangku paing belakang, bangku yang lebih panjang dari yang lain karena tidak terpotong bagian jalan, karena bagian paling belakang dari bus.


“Kita bakal diturunin di hutan?” Nola bertanya lagi.


“Iya, pokoknya nanti kalau pintu ini kebuka, kita semua harus turun cepet ya, abis itu kita lari, tapi perhatikan larinya, kau harus ikutin kita ya, jangan sampai kau lari tanpa arah, nanti kau tersesat, kalau sampai tersesat, kita akan kesulitan kembali, ngerti Nola?”  Bobby menunjuk pintu yang ada di dekat mereka, pintu bus bagian belakang.


“Iya Bob, tapi kenapa kita bisa terjebak di bus ini ya? kenapa juga temenku dan juga bus yang melewati kita, nggak bisa melihat bus ini dan juga aku, padahal aku sudah berusaha untuk memberi mereka tanda, tapi mereka nggak sadar dan tidak ada yang melihatku.


“Mungkin karena gelap makanya nggak ngeliat kita, semua yang di sini juga sama kok, ini karena areal kampus gelap, makanya mereka nggak lihat kita.” Bobby menjelasakan lagi

__ADS_1


“Tapi aneh, orang ini bus bunyinya juga gede, masa nggak bisa dilihat bus lain?” Nola masih sangsi.


“Nanti kalau kita udah keluar, aku bakal minta kampus untuk menyalakan lampu lebih banyak lagi, agar mereka bisa memantau mahasiswa dengan baik.” Desi terlihat bersemangat.


“Aku sih nggak mau apa-apa, aku hanya ingin bertemu dengan ibuku, aku ingin keluar dari sini, di sini terlalu menakutkan.” Mita menipali.


"Kenapa kalian semua ada di sini?" Nola bertanya.


"Kami naik bus sepertimu, lalu terjebak di sini." Bobby menjawab.


"Apakah kita tidak bisa cari jalan keluar?" Nola bertanya lagi.


"Kita akan keluar kok sebentar lagi, tunggu saja." Bobby berkata dengan misterius.


Bus berhenti, Nola memperhatikan ke luar , gelap tapi Nola bisa melihat bahwa di luar penuh dengan pepohonan.


"Kita diturunkan di hutan?" Nola bingung.


"Begitu pintu kebuka, lari semua, Nola pokoknya harus ikuti kami, jangan tanya, pokoknya ikuti kami. Kita harus berhasil malam ini. Ibuku pasti sedih menunggu kami pulang." Bobby dan yang lain sepakat, Nola tidak punya pilihan karena Bobby dan yang lain adalah satu-satunya harapan Nola, walau ini terasa seperti mimpi.


Pintu terbuka Bobby keluar duluan, dilanjutkan Nola dan semua orang, Nola digandeng oleh Bobby agar tidak terpisah dari tim, semua orang berlari, menembus pohon, Nola berlari sambil melihat belakang, dari bus itu terlihat banyak sekali makhluk mengerikan keluar, ada perempuan dan lelaki berpakaian compang-camping, sisa darah di sana sini, wajah tak utuh dan juga cara jalan yang aneh, seperti robot. Mereka semua mengejar Bobby dan semua kawannya.


Nola ketakutan, dia terus saja berlari memegang tangan Bobby dengan kencang. Dia menangis, terus menangis tapi tetep berlari di belakang Bobby.


Hingga mereka akhirnya tiba di suatu pertigaan, Bobby seperti mengingat-ingat kemana mereka kemarin, dia lalu memilik sisi kanan dari pertigaan hutan itu, Nola masih terus memegang tangan Bobby, semua orang di belakang mereka.


Mereka berlari dengan kecepatan yang tidak dikurangi, hingga akhirnya mereka kelelahan dan memilih untuk beristirahat.


“Semua sembunyi dulu di pohon besar itu, semoga mereka sudah tidak mengejar kita lagi.” Bobby berkata dengan nafas yang tercekat karena kelelahan.


“Nggak apa-apa Bob, makasih ya udah jagain aku, sebenarnya aku ini orang yang tidak kuat lari, tapi karena kau tarik, aku jadi bisa lari dengan baik, makasih ya, Bob.”


“Iya sama-sama, kita semua di sini saling jaga ya.”


“Bob, mereka tadi apa sih? kok tubuhnya nggak utuh, seperti bukan manusia, aku takut.” Nola bertanya dia menutup matanya karena ingat kejadian tadi.


“Nola, kita juga nggak tau mereka apa, mungkin setan, mungkin alien mungkin juga makhluk yang belum didefinisikan, tapi jujur, mereka memang menakutkan, makanya kami semua berusaha untuk tidak berada di bus bagian depan, karena itu tempat mereka, kita harus selalu di belakang, ingat itu Nola.”


“Apa kita akan kembali lagi ke sana?” nola bertanya, karena ucapan Bobby sungguh ambigu, mengingatkan Nola untuk selalu memilih bagian belakang, apakah mereka akan kembali lagi?


“Yuk kita jalan lagi,” Mita mengajak.


Mereka berjalan lagi, kali ini tidak lagi berlari, karena mereka merasa tidak dikejar lagi.


“Behenti.” Desi meminta semua orang berhenti setelah mereka berjalan sekitar dua puluh menit.


Mereka bersembuyi terpisah di bali pohon.


“Ada apa?” Nola bertanya pada Bobby yang masih menggenggam tangannya.


“Sstt,” Bobby meminta Nola diam dengan menempelkan jari telunjuk pada bibirnya, Nola mengangguk, tidak lama Nola melihat ke arah yang semua orang lihat, ada seorang nenek-nenek sedang berjalan dengan cucunya, tidak ada yang aneh dengan mereka, kecuali, cucu dan neneknya sangat pucat, pakaian neneknya juga kebaya dan kain jarik, sedang cucunya hanya memakai kain putih pada bagian alat kelaminnya, kepala cucu itu botak dan badannya kurus sekali.


Nola memejamkan mata dan menutup mulutnya, saat sadar, tidak ada mata pada kedua makhluk itu.


Bobby menarik Nola untuk lebih dekat, dia tahu kalau Nola ketakutan, ini pertama kalinya mereka melihat seorang yang mengerikan seperti itu.

__ADS_1


Setelah menunggu beberapa menit, karena jalan nenek itu sangat pelan, mereka mulai berjalan lagi, kali ini jalannya lebih cepat.


“Bobby, itu tadi bukan orang, jelas dia setan, kau tahu, aku pernah dengar gosip tentang hutan ini, makanya dari dulu aku paling tidak suka masuk hutan ini, karena jelas sangat menakutkan.”


“Mungkin kau benar, kami menamainya Nenek mata bolong, kalau melihat dia, kau harus sembunyi ya.”


“Kenapa?” Nola bingung.


“Karena dia sangat berbahaya, kalau kau sampai tertangkap, kau akan dihabisi olehnya.” Bobby memperingatkan.


“Syukurlah dari kalian tidak ada yang pernah tertangkap.” Nola bergumam.


“Kata siapa? kami tahu dia bahaya setelah kehilangan banyak dari kami.”


“Apa maksudmu?” Nola bingung.


“Kami ini dulunya 15 orang Nola, sekarang sisanya hanya kamil.”


Nola berhenti dan menarik tangan Bobby.


“Ka-kalian ... dulunya lima belas orang? dulunya itu kapan?” Nola bingung.


“Entah, waktu di sini seperti berhenti, jam tanganmu pasti mati.


Nola melihat jam tangannya, ternyata benar, sejak kapan itu, tapi memang dia tak perhatikan, tapi tadi pas dia mengirim pesan ke Winda, bahkan telepon genggamnya masih berfungsi dan jam juga masih berfungsi di layar telepon genggamnya.


“Kenapa jam kita berhenti, apakah kita terjebak di dunia ghaib?” Nola berspekulasi.


“Kita juga pernah membahas itu, tapi daripada mencari tahu soal itu, lebih baik kita cari jalan keluar.”


Bobby dan yang lain meneruskan perjalanan, mereka tiba pada suatu jembatan yang Nola pikir ini aneh, kalau secara struktur hutan kampusnya, tidak akan pernah ada jembatan ini, karena dibawah jembatan ini ada air sungai mengalir, aneh. Tidak ada sungai mengalir di sekitar kampus ini.


Mereka mulai berjalan, semuanya saling menggenggam tangan, Nola tetap di belakang Bobby, sedang yang lain di belakang Nola, mereka berjalan satu baris, Nola bingung kenapa di jembatan lebar muat tiga orang ini mereka harus berjalan seperti ini, hingga tiba di pertengahan jembatan, tiba-tiba jembatan goyang dan akhirnya saat Bobby melangkah, jembatan itu bergoyang semakin kencang, hingga akhirnya membuat orang-orang yang ada di atasnya saling berpegangan erat dan ... ctas!


Jembatan putus, Nola dan yang lain tidak melepaskan pegangan, mereka jatuh bersama.


Nola menahan nafas, karena ini adalah sungai, artinya dia harus menahan nafas agar ketika jatuh, tidak banyak air yang tertelan, dia sudah siap untuk menyelam, tapi saat jatuh ... brak.


Nola terbangun, dia tidak terjatuh di sungai, tapi dia terjatuh di sebuah bangku busa, dia kembali mendengar lirik lagu yang sangat familiar, lirik lagu yang sangat lawas.


Potong padi ramai-ramai di sawah


Ani-ani dikerjakan semua


Jika sudah waktunya


Mari kita pulang ke rumah


Potong padi ramai-ramai di sawah


Ani-ani dikerjakan semua


Bila tiba waktunya


Mari kita pulang ke rumah

__ADS_1


__ADS_2