
“Kau yang menyebar fitnah itu, kau juga yang membuat istriku meninggalkanku kan?”
“Ya, tentu saja, aku takkan membiarkan keluarga kalian bahagia sementara keluargaku menderita karena ulah ayahmu!”
“Ayahmu dukun yang jahat, itu yang tak kau pahami.”
“Maka aku akan berubah menjadi sejahat dia.”
Lalu tiba-tiba dari belakang, anak buahnya membawa 5 orang bersama mereka, 6 orang yang sudah babak belur, orang itu diikat lalu dilempar hingga tersungkur di belakang dukun wanita itu, dukun wanita menyingkir, membiarkan Aep mellihat siapa saja orang-orang itu.
5 orang kawanan dan tentu saja ... Eman! Dukun itu tahu kelemahan Aep. Punya orang untuk dijaga selalu bisa membuat seseorang lemah.
Lelaki yang kawanan temukan dengan mobil mogok itu adalah ... salah satu murid dukun wanita.
Aditia harus bergegas, karena nasib mereka tergantung padanya.
“Jika kau melawan, maka aku akan membuat orang yang paling kau sayangi ini satu persatu menjadi ruh gentayangan, setelah mereka mati, aku takkan biarkan mereka tenang, ruh mereka akan aku taruh di zona gelap itu, supaya mereka bisa merasakan apa yang jin-jin ayahku rasakan!”
“Kau pikir mudah membunuh kami? Menjebak kami dengan trik murahan takkan bisa membunuh kami dengan mudah.”
Alisha berkata dengan angkuh, padahal wajahnya babak belur. Tidak heran, karena begini kejadiannya ....
“Lihat itu, sepertinya dia wanita yang tersesat itu, lihat dia berlari terus, kita kejar?” Hartino menujuk arah wanita yang dia lihat, kawanan setuju, toh kalau sudah ada, untuk apa menunggu Aditia kembali, karena akan sangat berbahaya kalau wanita itu hilang lagi nanti.
“Kita semua pergi, atau ada yang berjaga?” Ganding tidak setuju sebenarnya semua pergi, karena siapa tahu Aditia malah jadi bingung mencari mereka.
“Aku akan tunggu Aditia, kalian kejar wanita itu, hentikan dia berlari, jangan buang waktu, karena tugas kita masih banyak.” Alka memberi perintah.
Yang lain lalu mematuhi perintah itu dan buru-buru pergi untuk mengejar wanita yang keluar dari mobil mogok.
Alka melihat mereka berlarian dari jauh, lalu menghilang, khas tempat ini, sekali bergerak, hilang karena diputar oleh sawah.
Sementara Alka menungu Aditia, dia tak sadar kalau di belakang tubuhnya ada seseorang yang sedang mengendap, memegang sebuah batu, batu itu lalu tanp ampun dipukulkan ke kepala Alka, Alka jatuh, tak langsung pingsan dan segera menghindar pada pukulan ke dua, tapi entah kenapa, ketika dia menghindar tubuhnay lemas, sangat lemas, batu itu membuat tubuhnya benar-benar seperti tak bertenaga, lalu pingsan.
“Racun ini ternyata ampuh.” Sosok itu berubah menjadi perempuan dengan baju silat berwarna hitam, wajahnya sangat cantik, tapi sayang ilmunya hitam pekat dan buruk seburuk-buruknya dunia.”
Dia lalu menggendong Alka di bahunya, sangat mudah baginya menggendong Alka, karena ada puluhan jin dalam tubuhnya yang dia kumpulkan, mengerikan sekali wanita dukun satu ini.
Kawanan mengejar orang terus wanita yang berlari itu, hingga mereka tiba di satu titik, aneh, kenapa wanita itu menghilang.
“Ke mana wanita itu pergi?” Ganding bertanya, yang lain tak melihat juga, lalul tiba-tiba dari segala arah datang timpukan batu besar, sebesar batu bara, batu itu telah dilumuri racun yang sangat kuat, racun itu jika kena luka akan membuat tubuh menjadi lumpuh sesaat, racun itu memang memiliki efek yang cepat, tapi juga cepat menghilang, karena memang tidak mematikan.
Dalam hitungan menit, kawanan tumbang dan pingsan, wanita yang menggotong seorang wanita lain datang, dia lalu melempar Alka dekat dengan kawanan yang jatuh.
“Keluar kalian semua.” Dukun wanita itu meminta semua anak buahnya keluar, mereka bersembunyi di kegelapan menunggu kawanan masuk jebakan lalu melempar mereka semua dengan batu beracun itu.
“Siapa yang sangka, tempat yang guru mereka buat untuk memenjarakan jin-jin ayahku dan para sekutunya, sekarang malah menjadi markasku, aku mendapat keuntungan dari ini semua, Mulyana dan Suraep aku seharusnya berterima kasih pada kalian.” Dukun wanita itu tertawa menggelegar, dia sangat senang, karena dia menjadi orang yang mampu mengalahkan murid-murid dari guru yang sangat ingin dia kalahkan, walau sekarang tidak bisa, karena Mulyana telah meninggal dunia.
__ADS_1
“Nyi, hilang satu, lelaki itu bernama Aditia.” Murid dukun wanita itu berkata, memberitahu Aditia tidak ada di antara kawanan.
“Anak Mulyana?”
“Betul Nyi.”
“Yang paling kuat, dia mengantar umpan kita sepertinya ke luar, biarkan, dia akan mencari kawanan, kita harus memancingnya untuk datang, sementara itu, biarkan si brengsek Aep datang, biarkan dia masuk pada lubang markas kita, arahkan dia untuk sampai di markas kita, aku ingin dia melihat, melihat semua anak buahnya kita tangkap.” Dukun wanita itu tidak peduli, baginya pertarungan yang adil atau licik, tidaklah penting, karena yang terpenting saat ini adalah menang, apapun caranya, karena kalau dia kalah, maka perkumpulan ayahnya akan dibubarkan oleh orang-orang sok suci ini. Itu yang ada dalam pikiran dukun wanita itu.
Maka disinilah mereka sekarang, sedang kawanan diikat dan Aep tidak bisa melawan, takut kalau kawanan atau Aep akan dihabisi.
“Apa maumu?” Aep bertanya.
“Nyawamu.”
“Untuk 6 orang ini? aku akan berikan.”
“Mungkin, kita lihat saja nanti, toh sekarang terserah aku.”
“Meski sudah menjadi dukun yang berilmu tinggi, kau tetaplah wanita, tak bisa menentukan maumu, pantas saja kau sering kalah oleh kami.”
“Diam kau bedebah!” Dukun wanita itu menyerang Aep, Sabdah Zaid lalu keluar dari tubuh Aep dan mulai menyerang murid-murid, dukun wanita itu, sedang dukun itu menyerang Aep, seorang wanita, tetaplah wanita, dia tetap saja menggunakan perasaannya untuk menyerang Aep, walau ilmunya tinggi, tapi kemampuan Aep yang sudah jauh naik juga tak bisa dianggap enteng, mereka bertarung.
Sementara kawanan masih tidak mampu bergerak karena batu-batu racun itu, tapi ada yang janggal, kalau mereka bisa saja dibunuh dengan dosis racun yang lebih tinggi, lalu kenapa kawanan dibiarkan hidup? Apa yang hendak dukun wanita itu lakukan dengan kawanan yang masih hidup? Apakah memang hanya karena agar kawanan dapat di kurung di zona ghaib itu?
Kawanan bingugn memikirkannya dan sibuk memperhatikan pertarungan antara Sabdah dengan murid dan juga sekaligus jin-jin milik mereka, lalu Paman Aep yang bertarung dengan dukun wanita itu, kawanan tidak bisa melepaskan ikatan jadi mereka hanya memperhatikan.
...
Kalau ini jatuh, kemungkinan Alka tidak sadar, kalau dia tak sadar, lalu di mana dia?
Aditia berjalan lebih jauh lagi, hingga dia melihat kabut yang tebal, dia tahu, kalau dia melewati kabut itu, artinya dia akan menyebrang, tapi itu lebih baik, jika saja dia tak menemukan kawanan di sini. Aditia mengambil resiko untuk melewati kabut itu, begitu dia melewati kabut, dia melihat banyak sekali orang yang sedang bertarung, di antara kerumunan itu dia melihat Alka yang wajahnya babak belur, ditambah yang lain juga sama, mereka terduduk lemas, bahkan punggung Ganding diinjak oleh salah satu orang di sana.
Aditia naik pitam melihat semua orang yang seharusnya berada dalam perlindungannya harus tersiksa seperti itu, Aditia marah, sangat amat marah, Abah Wangsa keluar dari tubuh Aditia karena begitu panas di dalam tubuh itu, Abah lalu mencoba menahan Aditia yang hendak berlari membantu kawanan, karena mereka butuh taktik agar menang.
“Mereka dibuat babak belur, Ganding bahkan diinjak seperti itu, akan kupatahkan kaki orang itu.”
“Lihat wanita itu, dia bukan wanita sembarangan, dia bahkan menjebol zona gelap buatan ayahmu, jangan gegabah, karena bisa jadi kau akan berakhir seperti mereka, kau harus tahu apa yang harus dilakukan.”
“Aku hanya ingin menghajar mereka.”
“Diam di sini, aku akan tanyakan pada kawanan apa yang membuat mereka lemas begitu, lalu di mana para khodam mereka? kenapa mereka kosong?”
“Bah!”
“Maaf Dit, mungkin bagimu mereka penting, tapi bagiku, kau jauh lebih penting, maaf.” Abah lalu memukul tengkuk Aditia agar dia tertidur, dia lalu menghilang, membuat dirinya tak dapat dideteksi oleh antek dukun, dia mendekati Alka dan membisikinya, pertanyaan tentang bagaimana mereka bisa lemas.
Alka tidak menjawab dengan mulutnya, dia menjawab dengan batin, karena Aditia bisa berkomunikasi dengan batik pada Alka, maka Abah pun bisa, dia adalah Karuhunnya.
__ADS_1
[Batu racun, Bah, mereka melempar kita dengan batu racun, begitu batu itu terkena luka pada kepala, segera racunnya menyebar membuat kita lemas.] Alka menjawab melalui telepati pada Abah yang berdiri dengan mode senyap tak terlihat di samping Alka.
[Kemana para khodam kawanan? Aku tak melihat mereka di dalam tubuh yang lain?] Abah bertanya lagi.
[Entah, mungkin ditawan oleh dukun wanita itu.]
[Aditia telah aku tidurkan karena takut dia gegabah, aku akan membantu Sabdah melawan anteknya dan aku akan melepaskan kalian satu persatu, aku akan mengelabui mata anak buah dukun ini dengan gendam, sehingga mereka seolah melihat kalian, kalian akan aku kumpulkan di tempat Aditia aku tidurkan, setelah kalian semua lepas, aku akan menarik Sabdah dan juga Aep keluar dari sini, kita perlu rencana lebih besar untuk menghabisi wanita itu, tidak dengan gegabah seperti ini.]
[Baik, selamatkan dulu yang lain, aku belakangan.]
Abah mulai menyelamatkan Alisha dulu, pertama dia menggendam orang sekeliling kawanan, agar mereka tetap melihat kawanan masih di sana lemas.
Setelah Alisha dipindahkan ke tempat Aditia ditidurkan, dia lanjut Hartino, Ganding, Jarni, Alka dan terakhir Eman.
Lalu setelah kawanan berhasil dikumpulkan, dia lalu menarik Aep yang otomatis menarik Sabdah Zaid karena tuan dan khodam itu begitu rekat ikatannya. Makanya mereka tertarik sekaligus.
“Kemana Suraep dan Sabdah brengsek itu!” Nyi dukun itu kaget karena tiba-tiba Suraep menghilang, begitu juga dengan Sabdah Zaid.
“Dia kabur!” Anak buah itu menjawab.
“Tapi tenang saja Nyi, mereka masih bersama kita.”Anak buah itu menunjuk kawanan, tapi sayang, dalam hitungan detik, kawanan hilang seperti debu, tak bersisa.”
“Kalian digendam bodoh! Mereka kabur!” Dukun wanita itu berkata dengan sangat kesal.
“Mereka kabur, bukankah ini berita menarik? Mereka kabur darimu, berarti mereka takut padamu, Nyi.”
Dukun wanita itu yang hendak marah, malah jadi tersenyum, omongan anak buah itu ada benarnya juga, dia menang, karena Suraep pemilik khodam ayahnya, bahkan kabur! Itu sungguh berita yang sangat hebat.
“Sebarkan berita ini ke pelosok negeri, kita akan mempermalukan mereka, ini pasti akan membuat mereka menjadi orang yang direndahkan kelak.”
“Nyi, apakah itu tidak gegabah? Karena Ayi Mahogra ....”
“Ratu itu? itu hanya mitos belaka, kau yakin dia ada? Kalau dia ada, kenapa dia tak membasmiku dan kelompok kita? kalau pun dia ada, aku akan menginjang batang lehernya dan memenggal kepalanya di zona gelap, agar mereka tahu, ratu mereka saja bisa aku habisi.”
Omongan bualan yang kita semua tahu, kalau jika Ayi Mahogra turun saat ini, jangankan menginjak batang lehernya, menyentuh sehelai rambutnya saja dia takkan mampu, kemampuan Ayi Mahogra adalah yang tertinggi di kelasnya. Jika dia menguasai secuil ilmu dunia, maka Ayi Mahogra menguasai hampir ilmu seluruh dunia, begitulah perbandingannya, bagi Ayi mahogra dia hanyalah nyamuk yang ditepuk sekali akan mati.
Dia bahkan bisa mengalahkan kawanan hanya dengan cara curang, mengendap dari belakang, kalau berhadapan, jelas mereka kalah, dasar dukun wanita iblis, jumawa karena kemenangan yang licik!
Sementara kawanan, Aep dan Eman sudah di rumah Aep, mereka semua terlihat babak belur kecuali Aditia dan Aep.
“Dia menggunakan batu beracun, mereka curang, mereka mengendap dan melempar batu itu.” Ganding tak terima kalau mereka harus kabur, tapi itu cara terbaik.
“Maaf aku harus melakukannya, tidak ada salahnya mundur dulu sesaat, karena kalau kita memaksa untuk maju, mungkin kehancuran yang akan Aditia timbulkan mampu memporak-porandakan tempat itu dan bahkan memicuk tragedi ghaib, kawanan sudah terlalu banyak menyebabkan masalah, jangan terlalu brutal dalam menangani kasus.”
“Aku tetap kesal kau memukul tengkukku, jangan kau pikir aku diam karena kau tak cerita tentang membuat tempat itu dengan ayahku dan paman, aku selalu lemah terhadapmu Bah, semua ada batasan, ingat ini, aku tuanmu!” Aditia menatap Abah dengan mata menyalang, Abah diam dan duduk lalu meminta maaf, Kharisma Jagat bukanlah tuan yang menyenangkan jika marah dan Karuhun harus tunduk jika tuannya marah, kawanan maklum, melihat Alka bebak belur dan kawanan juga sama babak belurnya, Aditia pasti sangat marah, dia adalah pemimpin anak buahnya tak dapat dia jaga sama saja tak becus jadi pemimpin.
Aditia lalu keluar dari rumah Aep, dia sangat marah dan perlu untuk menyalurkan kemarahannya, dia pergi sejenak keluar dari rumah itu.
__ADS_1
Alka lalu mendekati Abah, “Terima kasih Bah, tapi kau tahu kan, kalau perbuatanmu, akan mencoreng nama kita, bagaimana kalau Ayi dengar, dia akan mendatangkan pasukan Ayi untuk menghabisi dukun itu, bukankah pantang baginya nama Kharisma Jagat dinodai? Pasti berita itu akan menyebar, aku tahu kau hanya ingin melindungi kami, tapi kali ini tindakanmu salah.”
Alka lalu mengejar kekasih hatinya, yang belum benar-benar bisa dia anggap kekasih sungguhan.