Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 80 : Tersesat 5


__ADS_3

Alka dan Aditia sudah sampai di pos pendaftaran, meminta data pendaftaran, Alka butuh alamat Nanto untuk menyelidiki keluarganya dan memburu pembunuh itu. ternyata tidak ditulis alamat lengkapnya di pendaftaran, hanya daerahnya saja.


[Ganding masuk, Ganding.] Alka mencoba menghubungi Ganding, tapi sepertinya jangkauan walkie talkienya tidak sampai, mereka mungkin masih di puncak.


Alka harus tahu alamat lengkap pria ini, tapi karena sudah tahu alamat secara garis besarnya, maka Alka memutuskan untuk tetap ke daerah itu dulu, nanti untuk alamat lengkapnya bisa diminta pada Ganding atau Hartino saat mereka sudah turun, pasti sinyal telepon genggam sudah bisa dijangkau dan pesan dari Aditia menanyakan alamat mereka dengan lengkap pasti sudah bisa dibaca, Ganding atau Hartino bisa melihat alamat mereka dari KTP yang ada di dompet Nanto dan mengirim pesan selanjutnya pada Aditia.


Yang penting mereka harus segera mendekati alamat tersebut, intuisi Alka mengatakan, Si Pembunuh pasti mengejar sesuatu yang berharga di kediaman Nanto, makanya dia membunuhnya di sini, jauh dari kediamannya, kemungkinana di ketemukan hampir tidak ada jika bukan Alka dan kawan-kawan yang cari dengan kemampuan mereka.


Aditia dan Alka menggunakan mobil jeep yang kemarin membawa mereka ke kaki gunung, Aditia mengendarainya.


Ajimantrana duduk di samping Aditia, dia bilang ingin duduk di depan, padahal biasanya Alka yang duduk di depan.


Setelah berkendara cukup lama, mereka sudah sampai di daerah kediaman Nanto, pesan dari Ganding yang memberitahu alamat lengkap Nanto juga sudah masuk, tapi mereka tidak bisa menyelidiki secara langsung karena sekarang sudah sangat malam.


Mereka akhirnya memakirkan kendaraan dekat dengan rumahnya Nanto, rumah besar yang cukup mewah, kanan kirinya ada ruko berjejer, Alka tebak, itu pasti rukonya Nanto.


“Ka, dia kaya raya.”  Aditia berkata , mereka semua masih di mobil Jeep.


“Iya, kemungkinan yang dikejar pembunuh adalah uang.”


“Manusia, suka sekali uang.” Ajimantrana berkata.


“Nggak semua sih.” Aditia membela kaumnya.


“Nggak semua, tapi kebanyakan.” Ajimantrana masih saja berkata.


“Kau berarti kurang banyak mengenal manusia, makanya pandanganmu sempit sekali.”


“Hei, apakah kau sudah mengenal banyak manusia juga? Oh ya, kau kan supir angkot, wajar kalau kau kenal banyak orang.” Ada nada menghina dalam perkataan Ajimantrana.


“Ya, aku hanya supir angkot, tapi aku juga mengantar mereka yang tersesat, kau tahu itu juga kan?” Aditia membanggakan diri.


“Bisa serius nggak, jangan banyak bergurau deh, kita nih lagi mengintai!” Jarni kesal mendengar dua pria ini berbicara.


“Kita harus cari tahu, apa yang membuat Si Pembunuh begitu yakin kalau dia akan mendapatkan tujuannya jika membunuh Nanto, karena kalau dia tidak yakin, dia tidak akan segitunya sampai membunuh keluarga sebanyak itu, kita harus segera menangkap orang itu agar dia tidak bisa mendapatkan keinginannya.”


“Kau memang benar-benar idaman banyak pria, cantik, hatimu begitu hangat dan baik.” Ajimantrana memuji Alka.


“Dia memang baik, kau baru tahu?” Aditia panas mendengar Alka di puji.


“Aku sudah mengenalnya begitu lama, mungkin kau yang baru kenal dia!”


“Nggak tuh, Alka sudah mengenalku dan keluarga dari aku lahir.”


“Oh, jadi kau lebih muda dari Alka, berapa umurmu? Pasti lebih muda dariku juga? Sebut berapa umurmu anak muda?” Ajimantrana menemukan kelemahan Aditia yang membuatnya bisa merendahkan Aditia.


“Jangan bicara umur, tidak ada hubungannya dengan pembicaraan kita!” Aditia menolak memberitahu umurnya.


“Sstt, aku mau angkat telepon Ganding dulu ya.”


[Nding, ini Alka, gimana di sana?]


[Kami sudah membawa mereka semua ke rumah sakit terdekat di gunung ini Kak, seperti yang kakak interuksikan, aku menyembunyikan yang aku temukan di tengah.]


[Bagus, kau harus tetap menyembunyikannya, jangan sampai ada yang tahu, karena kalau ada yang tahu, akan sulit bagi kita menjebak Pelakunya.]


[Iya Kak, di sana gimana?]


[Pelakunya sepertinya belum sampai sini.]


[Tapi kak, kalau dia begitu cerdas, bukankah seharusnya dia tidak akan pulang? Mungkin saja dia ….]


[Kau benar Nding! Kita harus pergi dari sini.]


“Dit, balik lagi ke kaki gunung, kita harus ke rumah sakit di mana mereka semua dibawa, cepat.” Alka menyuruh Aditia berkendara lagi, walau lelah, tapi akan Aditia lakukan, bukan karena untuk menarik perhatian Alka, tapi untuk membantu Nanto dan keluarganya.

__ADS_1


Sudah pagi, Aditia hampir membuat mereka kecelakaan karena mengantuk, akhirnya Alka yang menyetir, sudah tidak terlalu jauh, sementara Aditia tidur di bagian belakang mobil bersama Jarni, walau tadi sempat menolak, karena tidak ingin Alka duduk berdua dengan Ajimantrana, tapi kantuknya benar-benar tidak bisa ditahan.


“Sudah sampai, turun semua ya. Dit, kamu tidur di dalam rumah sakit saja, biar kami yang akan mencari.”


“Iya.” Aditia setuju, karena dia tidak mau memaksa, tubuhnya benar-benar kelelahan, sepertinya dia harus sering naik gunung, agar tubuhnya bisa menyesuaikan jika kelak harus naik gunung bersama lagi.


Alka, Jarni dan  Ajimantrana yang menyamar menjadi manusia berpakaian pendaki berlari ke dalam, Aditia juga ikut, tapi berhenti di bangku dekat loket pendaftaran dan tidur di sana.


“Nding!” Alka memanggil Ganding.


“Kak, sini!”


“Gimana mayatnya? Udah di otopsi?” Alka bertanya.


“Sedang di otopsi, Cuma Polisi yang boleh tahu hasilnya, tapi … ada sesuatu yang aneh Kak.”


“Apa Nding?”


“Seorang keluarga yang selamat semalam mengunjungi Polisi dia memberi pernyataan.”


“Oh ya, dimana dia sekarang?” Alka kaget dengan informasi dari Ganding.


“Masih di kantor Polisi, dekat-dekat sini kok, Kantor Polisinya.”


“Ok, kita ke sana, kamu dan Hartino tetap di sini, jaga supaya tidak ada yang merusak bukti di sini ya Nding, Har.” Alka memberi perintah.


“Siap, Kak.”


“Jarni mau di sini atau ikut Kakak?” Alka bertanya.


“Ikut Kakak saja.”


“Kamu nggak capek?”


“Nggak kok.”


Alka mulai berkendara lagi, butuh dua puluh menit untuk sampai di Kantor Polisi itu, Alka fokus menyetir.


“Anak muda itu yang membuatmu menolakku?” Aji tiba-tiba bertanya.


“Ji, jangan bahas itu dulu ya.”


“Gue fikir dia sehebat apa, ternyata hanya anak kecil.” Ajimantrana mulai menghina.


“Ji, elu itu jin hebat, jangan turunin harga diri lu buat menghina orang, lu lebih dari ini kok.”


“Tapi buat lu, gue nggak lebih dari dia kan, Ka?”


“Ji … kita harus fokus dulu ke sini.”


“Tapi kenapa? apa lebihnya dia sampai elu rela untuk serahin seluruh hidup lu untuk anak kecil macam dia?”


Alka memberhentikan mobilnya, dia harus memperjelasnya lagi agar Ajimantrana tidak bertanya terus.


“Kau tahu kan, bahwa anak-anak sepertiku, setengah jin dan manusia, memiliki masalah pada perasaan, kau tahu bahwa aku telah terkena Lanjo, aku tidak bisa pergi kemanapun karena itu, kau ingin aku gila? Karena untuk anak-anak yang terkena Lanjo seperti kami, kami harus di dekat si pemberi Lanjo itu, atau kami akan gila, makanya aku tidak bisa jauh dari Aditia, harus berapa kali aku ulang?”


“Berarti kau terpaksa kan tetap bersamanya?”


“Entah.”


“Matamu berkata lain Alka.”


“Sudahlah, atau kesabaranku akan habis dan kutendang kau keluar.” Alka mulai kasar,  Ajimantrana tahu, kalau sampai dia tetap bersikeras, Alka akan melakukan ancamannya, Alka kalau sedang kasar, dia tidak terlihat cantik sama sekali.


Begitu sampai Kantor Polisi, Alka berlari masuk ke dalam dan bertanya di mana korban selamat dari tersesat di gunung itu, lalu Pak Polisi bilang bahwa mereka ada dalam, ruang interogasi, Alka tidak boleh masuk.

__ADS_1


“Tapi Pak, saya ada pesan dari korban yang selamat lain.” Alka berbohong.


Ajimantran membaca mantra agar Pak Polisi penjaga pintu depan ini membiarkan mereka berdua masuk.


Setelah mereka masuk, Pak Polisi penjaga pintu depan memberitahu dan meyakinkan mereka kalau Alka dan Ajimantrana punya informasi penting terkait pembunuhan itu.


Pak Polisi di ruang interogasi itu membiarkan Alka dan Ajimantrana ikut dalam interogasi korban yang selamat itu.


“Jadi bisa kita lanjutkan dulu pernyataan korban ini, baru kalian yang akan kami tanyai, gimana?” Tanya Pak Polisi, Alka setuju, setidaknya dia tahu apa yang dikatakan oleh korban selamat ini, karena dialah pembunuhnya, Alka tersenyum karena melihat akting dari lelaki ini, dia terlihat seperti orang linglung, padahal dialah pembunuhnya.


“Baik Mas Ardin silahkan lanjutkan.” Kata Polisi itu, ya, Ardinlah yang datang ke Kantor Polisi ini, tidak heran, rencananya membunuh keluarganya benar-benar sangat rapih, kalau saja Alka dan yang lain tak kebetulan ke gunung itu juga, pasti mayat-mayat itu takkan pernah ditemukan.


“Iya Pak, kami semua naik, sampai ke puncak setelah sempat semalamnya kami menginap di pos empat, saat di puncak kami semua baik-baik saja, tapi tiba-tiba semua orang batuk dan muntah darah, semua termasuk Om Nanto, hanya aku dan Anto yang tidak, awalnya aku sungguh mengira bahwa ini semua karena udara yang dingin dan kabut di atas gunung, mungkin keluargaku terkena gas beracun, makanya aku dan Anto lalu di suruh Om untuk cepat pergi, aku menolak, tapi Om memaksa, Anto juga bilang lebih baik kita turun.


Saat itu aku tidak menyangka bahwa Antolah yang meracun kami semua.” Ardin mengatakannya sembari menangis tersedu, seolah dia ketakutan dan marah.


“Jadi saudara sepupumu, Anto yang melakukan itu?” Tanya Pak Polisi, Alka tersenyum sinis.


“Iya, dia saat itu juga, saat kami akan turun juga berusaha memukulku dengan batu, ini Pak, kepalaku sudah diobati di rumah sakit, tempat keluargaku di otopsi.”


“Bagaimana bisa kau lolos? Seharusnya kau juga diracun kan?” Pertanyaan cerdas, Alka puas mendengarnya.


“Aku membawa peralatan makan sendiri Pak, coba nanti cek di tempat makan, karena aku makan, makanan yang sama dengan yang lain, tapi aku menggunakan peralatan makan yang aku bawa sendiri, sedang semua makan dari peralatan yang Om Nanto bawa, jadi kemungkinan di peralatan makan itulah racunnya Pak, ini asumsiku.” Sial! Jawaban yang cukup bagus juga, sesuai dugaan Alka, pembunuhnya adalah orang yang pintar, bukan orang yang kuat.


“Lalu gimana caranya kau bisa lari dan terhindar dari pembunuhan itu, bukankah katanya kepalamu dipukul ?” Masih bagus pertanyaannya, tapi pasti orang ini punya jawaban yang licik lainnya.


“Karena kabut, aku berhasil lari, aku berlari menjauhinya, aku terus naik, karena yakin kabut bisa menyembunyikanku, aku bersembunyi, hingga merasa aman, aku buru-buru turun, lalu saat di rumah sakit, aku tahu, bahwa mayat-mayat semua saudaraku diketemukan, makanya aku langsung ke sini, untuk melaporkan semuanya, aku takut Anto akan mendatangiku dan mencoba membunuhku lagi.” Benar kan, jawaban licik.


“Baiklah, lalu apakah kau melihat Anto pergi ke arah mana?”


“Setahuku dia mengikuti naik ke atas, tapi aku berlari lebih cepat, aku yakin dia kehilangan jejakku lalu kembali pada mayat saudara-saudara kami, karena menurut penuturan Tim SAR, mayat-mayat itu diketemukan di gua bagian dalam gunung, seingatku, mereka semua berada di puncak gunung sebelum kami berdua turun.”


“Kita harus mencari Anto segera, kita akan ke rumahnya.” Salah satu Polisi berkata.


“Pak, saya Alka, boleh saya memberi keterangan juga?” Alka yang sedari tadi duduk di belakang Ardin berkata, ruang interogasi ini bukan ruang pribadi, ini hanya ruang pelaporan biasa, makanya ada banyak orang di sini, para Polisi yang sedang bekerja.


“Oh, kau salah satu Tim yang membantu Tim SAR bukan?” Polisi sudah diberi informasi sebelumnya.


“Benar Pak, saya boleh memberi informasi? Tapi saya minta Pak Ardin korban selamat ini tetap di sini, agar kita bisa konfirmasi bersama, bagaimana?” Alka meminta, Ardin masih terlihat tenang dan mengangguk.


“Jadi begini Pak ….”


_______________________________________


Catatan Penulis :


Ada yang benar nebak siapa pelakunya? Yup, Ardin pelakunya.


Ini beberapa clue yang sudah aku berikan :


- Pembunuh tidak akan mau jauh dari barang buktinya, banyak kejadian pembunuh pasti menyimpan barang bukti di dekatnya, karena insting manusia, menyimpan barang paling berharga di dekatnya, kalau pada kasus pembunuhan menggunakan pisau, pisaunya pasti disembunyikan di dekatnya. Tapi kalau kasus ini barang buktinya adalah mayat itu sendiri yang tubuhnya telah terkontaminasi racun, maka pembunuh tidak mau jauh dari mayat-mayat itu.


Ada komunikasi di mana Ardin minta balik ke Puncak dengan alasan memberikan tenda untuk Nanto, padahal dia sedang merencanakan untuk ikut menghabisi Anto di atas, tapi gagal karena Anto bersikeras turun, akhirnya Ardin memilih ikut Anto turun menunggu dia lengah baru akan menghabisinya, mengesampingkan mayat-mayat di puncak, karena mayat tidak akan kemana-mana sedang Anto harus segera dihabisi.


- Anto tidak mungkin membunuh orang yang dia kagumi, ada obrolan antara Anto dan Nanto, Anto bilang ingin belajar bisnis dari Omnya agar cepat kaya, dalam obrolan tersebut, betapa terlihat bahwa Anto mengagumi Omnya, dia ingin menjadi seperti Nanto dan ingin belajar sukses darinya, apakah ada seorang murid membunuh guru yang jelas sedang dia ambil ilmunya? Di dunia nyata banyak murid membunuh guru, penggemar membunuh artis yang dia kagumi, tapi itu semua bukan karena si pembunuh sedang belajar mengambil ilmu, mereka kagum berlebihan. Pada kasus ini, Anto kagum dan ingin belajar, jadi seharusnya murid yang sedang menimba ilmu secara suka rela, tidak akan membunuh gurunya.


- Anto dan Nanto adalah Pecinta alam, pecinta alam adalah orang-orang dengan prinsip yang tinggi, mereka mencintai apa yang Tuhan berikan bahkan tanpa pamrih, orang-orang seperti ini biasanya tulus karena mampu mencintai tanpa pamrih, jadi kemungkinan membunuh itu tipis, walau pasti ada aja.


- Ardin adalah orang yang pintar, aku sudah memberikan clue tempat kuliahnya, tempat kuliah bagi orang-orang yang pintar, kebanyakan, orang pintar itu ambisius, tapi tidak semua ya, jelas bahwa banyak orang pintar yang baik dan tulus, tapi tidak sedikit orang yang cerdas atau pintar, terlalu ambisius sehingga mereka memanfaatkan kepintarannya untuk mendapatkan apa yang dia inginkan secara cepat, menggunakan kecerdasaannya, seperti  melakukan pembunuhan tanpa jejak, cuma orang-orang yang pintar yang bisa menyusun rencana segila itu dan orang yang paling pintar dalam rombongan adalah, Ardin.


- Terakhir pasti ada di antara kalian yang bertanya, kok bisa sih Ardin naik dan turun secepat itu, padahal dia tidak suka naik gunung, Antolah yang seharusnya seperti itu, pandai naik gunung, karena dari awal Author kan sudah jelaskan, Ardin nggak suka naik gunung, masa orang nggak suka naik gunung itu bisa cepat naik ke puncak lagi dan menurunkan mayat  ke gua bagian dalam puncak dengan cekatan.


Nah untuk yang ini, akan ada penjelasan di part selanjutnya ya, kenapa Ardin bisa jadi mahir naik gunung dan menggendong mayat-mayat itu sampai di gua bagian dalam puncak, jadi sabar ya, ada kok jawabannya.


Yang jawabannya benar, kalian hebat, yang jawabannya salah, terima kasih sudah mau menganggap serius Riddleku ini, aku sayang kalian.

__ADS_1


Terima kasih, jangan lupa Votenya ya, bucket hadiah juga boleh.


__ADS_2