
“Tetap bersama, apapun yang terjadi.” Aditia berkata dengan tegas, yang lain saling memegang tangan agar tidak terpisah. Vila itu menjadi tempat yang sangat gelap, karena asap yang begitu tebal, suasana di sekitar vila menjadi seperti malam, padahal ini belum malam.
Kawanan bersiap dan … ada yang menarik kaki Aditia, tubuhnya terseret, kawanan terus saling memegang hingga membuat yang lain juga ikut terseret, mereka … terseret terus hingga tubuh mereka seperti menyapu sisa-sisa puing yang ada di sekitar vila itu.
Kaki Aditia yang ditarik membuat kawanan juga jadi terjerat, Aditia sudah berusaha untuk melepas pegangan tangannya pada Alka, tapi Alka tetap memegang tangan Aditia termasuk seluruh simpul pegangan antar kawanan tetap terjaga, biar satu sama pain mencoba melepas tapi yang memegang tidak juga mau saling melepas.
Maka tidak heran kalau moto mereka adalah hidup dan mati bersama.
Mereka terus diseret, saat itu terjadi, Aditia melihat begitu banyak tubuh yang mereka tubruk, tubuh itu berserakan, entah hanya pingsan atau telah tiada.
Terbesit penyesalan dalam diri Aditia, begitu banyak kehilangan di pertempuran ini.
Pertama Aditia hampir kehilangan Alisha, beruntung ritual pemanggilan khodam berhasil, beruntung Alka dapat memancing Rangda hingga tubuh Alisha menerima.
Lalu Alka juga patah kakinya, bisa bertahan karena dia punya wujud setengah jin.
Lalu Ganding, jika saja dia kehilangan Ganding, maka mungkin dia tak mampu hidup lagi.
Aditia terus berpikir dengan dalam, apa yang harus dia lakukan.
Aditia lalu mengeluarkan khodamnya, Abah Wangsa yang sebenarnya masih ngambek karena kerisnya dikorbankan.
Setelah Abah keluar, sisa khodam lain juga dikeluarkan kawanan, termasuk Rangda, walau dia sangat tidak kooperatif tapi Alisha mampu memerintahnya untuk ikuti peperangan ini.
Maklum Rangda suka dengan keributan, makanya dia ikut saja ketika Abah memimpin.
Abah dan khodam yang lain mencari sumber dari serangan itu.
Gelap, suasana sekitar vila benar-benar mencekam. Itu sebabnya Hartino sudah meminta hotel mengosongkan vila sekitar vila nomor 11.
Maka sekarang benar-benar dapat dibuktikan insting kawanan jarang meleset. Sak Gede bukan musuh sembarangan.
Hanya di sekitar vilalah, gelap menyelimuti tempatnya.
Abah terus menembus kegelapan dengan melayang bersama khodam yang lain.
Saat melayang mereka akhirnya menemukan satu titik cahaya, apakah mungkin itu adalah keberadaan dari Sak Gede?
Abah mengambil resiko, dia melayang ke arah cahaya, sedang yang lain mengikuti hingga semakin dekat, mereka mulai menyebar, karena hendak menyergap dari berbagai arah.
Walau dalam kegelapan, mereka berusaha untuk yakin bahwa yang mereka akan sergap adalah Sak Gede.
Sedang dari bawah mereka melihat kawanan masih terus diseret ke berbagai arah, terlihat dari pergerakan, bukan benar-benar bisa melihat.
Abah bersiap, dia memberi aba-aba pada yang lain. Lalu dalam hitungan serempak mereka menyergap cahaya itu dan ....
Hilang!
Cahaya itu hilang bahkan sebelum mereka sergap.
Abah dan yang lain bingung, Rangda yang tiba-tiba terbang ke bawah, karena dia dipanggil oleh Alisha.
Abah Wangsa mengikuti, kalau Alisha merasa dalam bahaya, berarti yang lain juga.
Tepat saat Rangda sudah sampai di dekat tuannya, ternyata Aditia masuk ke dalam lubang bersama dengan Alka dan Hartino.
Rangda menarik Alisha yang hampir masuk, dia menarik tuannya, abah menarik Jarni dan Ganding yang terlihat sudah sangat lemas.
Begitu pegangannya terlepas, tiga kawanan masuk, tanah disekitar vila tiba-tiba melayang dan menutup areal pura terbalik.
Hingga pura itu berbentuk seperti sebelum hancur.
Perlahan kepulan asap hitam mulai mereda. Pandangan sudah dapat melihat dengan bebas.
__ADS_1
Maka ... terlihatlah seluruh orang tergeletak dalam keadaan yang sulit dipahami.
Tubuh-tubuh mereka semua tergeletak tapi membentuk suatu pola. Polanya seperti ... SEGITIGA.
Abah Wangsa menarik Ganding dan Jarni. Sedang Rangda sudah menarik Alisha ke atas, Rangda sangat cekatan ketika tuannya dalam bahaya. Dia menarik Alisha karena Alisha ingin segera ikut jatuh. Bagaimana tidak? Suaminya sudah masuk dalam pura terbalik itu.
Mereka berkumpul. Pemimpin Balian mencoba membangunkan semua orang yang tergeletak, 19 orang yang dia bawa, beberapa operator alat berat, mereka semua terluka parah, tidak ada yang meninggal. Semua orang terlihat kesakitan.
Alisha menangis karena suaminya di sana, Ganding dan Jarni hanya menatap pura yang kembali rapi seperti sedia kala.
"Apa yang harus kita lakukan, Bah?" Ganding bertanya.
"Jika saja kerisnya masih dia pegang, dia pasti bisa melawan ketika kakinya dijerat. Dia bahkan terlambat memanggilku keluar dari tubuhnya." abah masih sangat kecewa dengan apa yang dilakukan oleh Aditia, mengorbankan kerisnya.
"Bah, dia bertanya apa yang harus kita lakukan? Suami dan saudaraku di sana, kau masih saja kecewa pada apa yang tuanmu putuskan! Bukankah kau adalah Karuhunnya Kharisma jagat? Lalu kenapa kau meragukan insting tuanmu!" Alisha marah karena Abah tidak fokus menyelamatkan kawanan dan masih sibuk dengan perasaannya.
"Aku merasakan mereka masih hidup, aku tidak tahu apa yang baik saat ini, lihat, para Balian bahkan tumbang semua, tak ada satu pun yang bisa untuk menyerang lagi."
"Bukankah kau dulu menghadapi Sak Gede dengan Pak Mulyana? Dulu apakah kau melihat bentuknya?" Alisha mengingatkan.
"Tidak, kalian salah. Aku tidak ke sini bersama Mulyana, dia dan anaknya sama-sama nekat jika sudah begitu sangat yakin.
Dia pergi ke sini secara ilegal. Maksudku tanpa mengikuti ritual, Mulyana melepaskanku agar bisa masuk kawasan bali tanpa terdeteksi.
Dia dibantu banyak Kharisma Jagat Bali, termasuk ayahnya Jajat untuk bisa tembus ke vila ini tanpa ritual.
Mulyana menolak ritual kerjasama dari Balian karena waktu, dia tahu waktunya tak banyak lagi, tapi kasus Bali sungguh darurat. Makanya dia terpaksa ke sini dengan cara ilegal, ilegal secara ghaib ya.
Saat ke sini dan tahu bahwa Sak Gede bukan lawan yang mudah untuk ditaklukan. Maka dia meminta bantuan para Balian untuk menghancurkan vila ini, tapi para Balian tak mau menolong, karena Mulyana datang dengan cara ilegal.
Mulyana terus membujuk hingga memohon, akhirnya para Balian setuju, tapi dengan satu syarat, Balian ingin ... Tombak Badha.
Tapi dia menolak."
"Menolak tapi bukan karena keberatan." Abah menjawab.
"Kalau bukan karena keberatan, lalu karena apa?"
"Karena tombak itu harus ditancapkan pada lokasi pura Sak Gede, tombak itu disimboliskan sebagai gembok pada pagar ghaib yang dia buat.
Maka Mulyana menolak karena dia tak punya benda pusaka lain untuk dijadikan pemantek.
Mulyana terus putar otak agar Sak Gede tidak mengambil tumbal lagi.
Maka jalan satu-satunya adalah, mengunci Sak Gede dalam puranya, lalu memagari vila ini agar tidak bisa terlihat seperti markas ghaib kita, sedang tombak Badha adalah gemboknya."
"Kenapa abah baru cerita sekarang? Kalau abah jelaskan dari awal, kami takkan pernah kebingungan seperti ini!" Ganding terlihat kecewa, karena Abah diam saja padahal melihat betapa beratnya perjuangan kawanan selama di Bali ini.
"Karena aku tidak yakin bahwa yang kalian hadapi adalah Sak Gede, karena Mulyana tidak pernah cerita kalau Sak Gede punya kemampuan untuk menaruh penyakit hati pada jiwa kalian, membentuk parasit jiwa dan lalu dibangunkan dalam wujud yang terlihat.
Sak Gede tidak punya kemampuan itu, makanya aku tidak mau kalian teralihkan dan salah ambil keputusan.
Sampai Aditia bercerita tentang mimpinya dan akhirnya tahu kalau nama makhluk itu adalah Sak Gede.
Aku tercengang mendengar nama itu setelah bertahun-tahun. Nama yang selama ini disembunyikan oleh Mulyana muncul.
Aku mencari tahu apakah benar kalau Sak Gedelah yang membuat ulah, aku mencoba mencari tahu tanpa sepengetahuan kalian, karena untuk memastikan saja, kalau yang kian hadapi bukan dia.
Tapi kalian selalu lebih dulu menemukan jawaban."
"Jadi benar kan, Sak Gede yang di dalam pura itu?" Alisha mulai kalut karena kalau Mulyana saja terkesan takut, maka kawanan dalam bahaya di dalam sana.
"Aku lanjutkan dulu ceritanya. Jadi Mulyana menolak memberikan tombak itu karena dia akan gunakan sebagai gembok dari pagar ghaibnya, karena kalaupun akhirnya dia berikan pada Balian, dia tidak yakin Balian dan dirinya mampu mengalahkan Sal Gede. Tapi kalau menguncinya, itu masih mungkin.
__ADS_1
Aditia dan Mulyana berbeda, Aditia berani memberikan benda pusakanya lalu menyerang Sak Gede, walau aku sendiri sangsi kita menang, tapi aku ikuti mau tuanku."
"Bah, pertanyaanku, apakah benar yang di dalam itu Sak Gede?" Alisha mengulang pertanyaan.
"Ya dan tidak ...."
...
"Kita di mana?" Alka menahan sakit di kakinya, bertanya pada Aditia dan Hartino yang juga sudha bangun. Mereka tadi pingsan, entah berapa lama.
"Di dalam pura terbalik sepertinya." Aditia menjawab sambil berusaha membantu Alka dan Hartino berdiri.
"Pura ini luas sekali." Alka merinding melihat pura yang begitu luas.
"Kita cari jalan ke luar dulu." Aditia memimipin jalan, tapi baru sebentar saja mereka berjalan, ada suara yang menggelegar.
"Aditia anak Mulayana, kau datang kemari juga akhirnya."
Aditia dan yang lain kaget.
"Loh ... bukannya Sak Gede itu seorang Dewa? Lalu kenapa, suaranya seperti ...."
"Perempuan!" Alka dan Hartino melanjutkan perkataan Aditia yang terpotong.
"Kita hanya menebak Sak Gede itu lelaki karena namanya yang cenderung maskulin, Dit. Memang waktu kau tahu namanya dulu, dalam mimpi itu, apakah aku melihat wujudnya? Lalu apakah wujudnya lelaki? Mengingat dia adalah khodam tari, mungkin dia memang bukan Dewa, tapi Dewi!" Alka membuat kesimpulan.
"Masuk akal, tapi aku ...."
"Tanyakan maunya dia apa!" Alka meminta Aditia menjawab suara wanita itu.
"Kau mau apa!" Aditia berteriak.
"Mauku mudah, aku akan lepaskan semua orang, aku juga akan pergi dari vila ini, tapi aku ingin kau lakukan satu hal dulu sebagai syaratnya."
"Apa syaratnya?" Aditia bertanya tanpa melihat wujud suara itu.
"Jalanlah hingga kau menemukan cahaya, lalu tarik tombak yang menancap pada inti pura ini, tombak itu yang menahanku di sini selama ini. Aku juga ingin pergi, tapi tombak itu yang memaksaku tetap di sini.
Kalau aku bisa cabut tombak itu, aku akan pergi dari vila ini." Suara itu berjanji.
"Tombak? Aku hanya harus mencabut tombak lalu kau akan menyerah?" Adiia bertanya.
"Ya ... cabutlah dulu tombaknya, ya ...." Suara itu semakin memelas.
"Kita cari tombaknya lalu kita cabut, bagaimana?" Aditia bertanya.
"Kau yakin dia berkata jujur dan akan menepati janji?" Alka bertanya.
"Ya, aku yakin." Aditia bersemangat, sudah terbayang tugas ini akan segera selesai.
Mereka mulai berjalan ke arah yang disebutkan oleh suara Dewi itu dan tak lama kemudian, ada cahaya yang terlihat, mereka mengikui cahayanya dan benar saja! Ada tombak yang tertancap dengan tegak di sana. Tombak yang begitu indah, tombak berwarna hijau dengan mata tombaknya berwarna emas. Sedang pada bagian tengah tombak itu ada pegangan yang ditandai dengan besi berwarna emas juga, atau itu memang emas asli, entahlah, tapi Aditia terpukau pada tombak itu. Sangat indah, itu yang ada di dalam hatinya.
"Itu kan tombaknya?" Aditia bertanya pada yang lain.
"Tidak ada tombak lain, seharusnya memang itu." Hartino menjawab.
"Dit tapi ...."
"Aku akan coba menariknya, kita akan segera keluar dari sini, bersiap-siap ya." Aditia mendekati tombak itu, satu langkah demi satu langkah, laku dia semakin dekat dengan tombaknya.
Aditia memegang tombak itu dengan kedua tangan hendak mencabutnya dari entah apa yang ada dibawahnya.
Aditia mengumpulkan kekuatan lagi dan berusaha menarik tombaknya, saat tombak itu terangkat sedikit, bumi terasa bergoncang.
__ADS_1
Aditia terdiam, dia lalu tersadar ....