Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 189 : Sesat 4


__ADS_3

Mereka berlima sudah sampai di lantai dua, hening, tidak ada apapun.


“Tadi pada denger kan?” Tanya mandornya.


“Ya makanya kita lari, tuh semua ikut naik kan ....”


“Anto! Anto nggak naik.” Ucap salah satu orang.


“Kemana dia?” Mandor itu kembali berlari ke tempat terakhir mereka di lantai satu.


Tidak ada, petugas yang mereka panggil Anto itu tidak ada.


“Cari deh, kemana sih tuh anak, bukan ikut naik malah keluyuran.” Yang lain akhirnya menyebar mencari petugas yang bernama Anto itu.


“Pak!!!” Seseorang berteriak, semua kembali berlari ke arah suara.


“Kenapa?” Tanya Mandor.


“Itu!!!” Salah seorang pegawai ternyata telah menemukan Anto.


Anto sedang duduk bersila membelakangi mereka, Mandor tidak mengizinkan siapapun untuk mendekatinya, Mandor memang bukan dukun, tapi dia punya sedikit kemampuan untuk merasakan mereka yang tak terlihat.


Mandor berjalan perlahan sembari membaca Ayat Kursi, ayat andalan jika menghadapi kejadian seperti ini.


Saat mendekati Anto, dia mendengar Anto bergumam sesuatu, tapi tidak begitu jelasa apa gumamannya, karena sepertinya itu bukan bahasa Indonesia.


Mandor menepuk bahunya Anto dengan tetap terus membaca ayat itu, saat bahunya ditepuk, Anto diam, gumamannya berhenti, tapi dia masih diam bersila membelakangi semua orang.


“Anto ....” Mandor memanggilnya.


“Pergi kalian!!!” Anto berteriak dengan sangat keras dan tubuhnya berbalik dengan posisi duduk masih sama.


Ketika Anto berteriak, semua orang terpelanting, entah ada apa, tapi sepertinya ada kekuatan yang sangat besar membuat mereka semua terlempar.


Hening ....


Mandor dan yang lain terjatuh, tidak ada yang celaka, sementara Anto masih memandang mereka dengan tatapan menyeringai, dia duduk masih duduk bersila membelakangi semua orang tapi kepala dan tubuhnya menengok ke arah semua orang yang terpelanting.


“To! Sadar, istigfar To!” Mandor mencoba berdiri, yang lain juga sama.


Mandor mendekati Anto lagi, tapi Anto tetap pada posisinya.


Mandor mendekatinya, membacakan Ayat Kursi dengan sangat lantang dan menutup mata Anto supaya dia segera sadar. Mandor tahu, ada yang salah dengan tempat ini.


Dalam hitungan menit, Anto pingsan.


“Gimana nih Pak?” tanya seorang Pegawai. Sementara hari mulai sore.


“Kita bangunkan Anto, lalu pulang saja dulu deh, lanjutkan besok kerjanya.” Mandor takut kalau dia memaksakan kerja di malam hari, bisa jadi ada yang kesurupan lagi, hampir sore saja Anto bisa kesurupan, apalagi malam, waktunya ‘mereka’.


Anto dibangunkan, sementara dia bingung kenapa bisa tertidur di sana.


Setelah Anto bangun, mereka buru-buru berjalan untuk keluar dari gedung itu, saat hendak sampai pintu keluar, tiba-tiba ada suara tertawa seorang lelaki, tawa itu seperti puas karena telah mengerjai mereka.


Semua orang buru-buru berlari ke arah luar.


“Istirahat dulu aja, di warung itu.” Mandor meminta semua orang ke warung kopi di sebrang gedung terbengkalai itu.


“Kenapa Pak, kok lari-larian rame-rame gitu?” Ibu warung kopi bertanya.


“Nggak apa-apa, Bu.” Mandor menutupi.


“Dari gedung itu ya?” Ibu itu menebak.


“Iya, kami disuruh ngukur luas tempat itu, soalnya mau renov besar-besaran. Jadi setiap ruangan harus diukur lagi.”


“Oh gitu, tahan berapa lama di sana?” Ibu tertawa karena dia ingin Mandor itu tahu, kalau rumor tentang gedung itu sudah tersebar ke mana-mana di wilayah ini.


“Hah? tahan berapa lama?” Mandor bingung.


“Iya, tahan berapa lama di sana?”

__ADS_1


“Saya nggak ngerti maksudnya??”


“Pak. gedung itu angker, kalau mau beresin gedung itu, Bapak panggil dukun dulu, siapa tahu bisa usir.


“Harus pake dukun-dukunan, Bu?” Mandor keberatan, dia tidak suka dukun, musrik.


“Oh terserah, mau dukun, mau ustad, yang penting jangan tiba-tiba dateng, nanti kalian nggak akan tahan, diganggu terus.


“Oh begitu.”


“Tadi digangguin ya?”


“Bukan saya, ini yang diganggu. To, tadi kenapa?” Mandor ingat, dia tadi belum tanya pada Anto, apa yang terjadi.


“Maksudnya?” Anto bingung.


“Apa yang kamu ingat terakhir kali?” mandor bertanya lagi.


“Tadi kan ada suara yang jatuh dari atas, trus semua orang lari ke atas, aku juga ikut lari, tapi pas di tangga, aku ngeliat ada laki-laki lagi berdiri liatin kita, aku akhirnya lari ke arah lelaki itu, tapi pas aku deketin, tiba-tiba dia berubah menjadi ....”


“Bayangan hitam ya?” tanya ibu warung kopi itu.


“Iya, bayangan hitam besar, tubuhnya menjadi transparan dan berwarna hitam, setelah itu aku berteriak, tapi suaraku tidak keluar, aku berusaha lari, tapi entah kenapa tubuhku tidak bisa digerakkan. Abis itu gelap, aku tidak ingat apa-apa, sampai kalian bangunkan aku.” Anto menjelaskan apa yang dia lihat.


“Tuh kan, emang itu bayangan mengganggu. Pernah suatu kali, air cuci piringku habis, ini posisinya abis magrib, lalu karena rumahku jauh, aku mengambil air dari gedung itu, air kran yang ada di luar itu loh.


Trus aku masuk ke dalam gedung itu, karena gerbangnya tidak digembok. Lihat, kran yang itu, kelihatan kan dari sini.” Ibu itu menunjuk kran yang berada dekat gerbang masuk.


Semua mengangguk.


“Nah, pas saya ambil air pake ember, sambil nunggu, saya melihat ke dalam gedung. Pas saya nengok itu Mas, di jendela besar sebelah kiri pintu masuk ... itu ... ada ... astagfirullah!” Wanita itu berkata dengan kencang, membuat semua orang kaget.


“Apa, Bu?” tanya Mandor.


“Ada seorang lelaki, dia memakai setelah serba putih, dia tersenyum melihat ke arah saya sambil melambaikan tangan, wajahnya pucat, lalu ... lalu ... lalu ... kakinya tidak napak!” Wanita itu bergidik.


“Kakinya tidak napak?”


Aku tinggalin emberku, krannya tidak aku matikan, nggak keburu, aku ketakutan. Untung ada suamiku, dia tanya kenapa, lalu aku beritahu apa yang aku lihat. Suamiku akhirnya yang mematikan kran dan mengambil ember kami. Ketika dia kembali, dia bilang tidak melihat apapun.


Tapi dia percaya kalau memang aku melihat sosok lelaki itu. Aku benar-benar melihatnya dengan mata kepalaku sendiri, hampir semenit.”


“Iya, Bu, sepertinya memang orang itu memakai baju serba putih, tapi aku tidak lihat kakinya karena terlalu fokus melihat ke arah wajahnya, aku bingung kenapa dia ada di situ, makanya aku samperin, taunya ... setan!” Anto kesal.


“Jadi, sebelum kami, apakah ada yang pernah datang untuk renov gedung itu?” tanya Mandor.


“Belum, baru kalian ini kok.”


“Oh begitu.”


“Ya, tapi aku sebenarnya dari warung kopi ini ada, gedung itu udah terbengkalai, jadi aku nggak tahu kenapa dulu gedung ini akhirnya nggak digunakan lagi trus jadi ancur deh bangunannya.”


“Ya, sebenarnya saya sempat diberi tahu oleh kantor pusat, bahwa gedung ini sudah tidak digunakan lagi selama lima tahun terakhir, mereka bilang, tidak digunakan lagi, karena pusat pelatihan para calon Pegawai Negeri udah pindah ke Jakarta Pusat, lebih dekat dengan balai kota.


Akhirnya gedung ini tidak terpakai, satu dua tahun masih bagus kondisinya, tapi kalau sudah lima tahun, tentu aja nggak heran jadi sarang setan.” Mandor mengerti kenapa gedung ini jadi angker.


“Iya mungkin begitu, saya baru buat warung di sini sekitar tiga tahun lalu lah.”


“Yaudah, Bu, tolong bikinin kopi ya sama mi rebus.” Mandor akhirnya memesankan semua petugas renovasi gedungnya makan dan minum.


...


“Begitu ceritanya, jadi kalian tuh harus hati-hati.” Ibu pemilik warung kopi itu menceritakan petugas renovasi yang pernah ke gedung terbengkalai itu dan akhirnya tidak melanjutkan.


“Jadi, mereka batal merenovasi gedung itu?” Alka bertanya.


“Sempat manggil ustad, tapi tetep aja digangguin setelah renovasi dimulai, ada yang jatuh sakit, kesurupan massal, lalu terakhir malah hampir buat mati.”


“Hah? buat mati gimana?”


“Itu loh Mas, bahan bangunan yang jatuh tiba-tiba gitu. Ketimpa kepala, untung orangnya nggak mati.”

__ADS_1


“Oh sudah sampai begitu?”


“Iya, makanya mening tolak ajalah, kasihan nanti tim kalian, bisa celaka.”


“Ya, kami coba rundingkan dulu deh Bu, tapi saya mau masuk dulu deh, mau liat ke dalam.”


“Kalian berdua aja?”


“Enggak, nanti kita ada tiga orang lagi, jadi berlima.”


“Oh begitu Mas, yaudah, hati-hati aja di dalam, baca ayat kursi dulu baru masuk, kalau nggak bawa apa gitu biar nggak ada yang kerasukan.” Ibu warung baik, memperingatkan.


“Nggak apa-apa Bu, makasih ya.” Aditia berterima kasih, Alka memberitahu yang lain agar berkumpul.


Setelah semua berkumpul Alka meminta semua untuk bersiap masuk ke gedung itu.


“Kalian hati-hati ya, kalau ada yang aneh, mening buru-buru keluar, saya liatin dari sini deh, kalau ada apa-apa saya panggilin dukun di deket sini.”


Mereka berlima tertawa, dalam hati pasti berkata, dukunnya yang nanti malah kerasukan.


Alka dan lima sekawan masuk ke gedung itu, saat melewati gerbang, ada angin yang berhembus kencang tiba-tiba hingga rambut Alka yang terkuncir terkibas.


“Ucapan selamat datang yang cukup unik,” Alka berkata.


“Kita menyebar ya, aku ingin segera menangkapnya, sudah baca catatan bapak, kan ya?”


Semua mengangguk. Dari jauh, ada seorang wanita yang berpakaian sangat kasual, memperhatikan mereka dari jauh dan menunggu kesempatan agar bisa masuk ke dalam gedung, tujuannya hanya untuk mencari tahu apapun tentang informasi yang dia ingin tahu.


Semua menyebar, Alka dan Aditia di lantai dua, sedang Jarni, Ganding dan Hartino di lantai 1.


“Dit, kamu ngerasain sesuatu nggak?” Alka bertanya.


“Tumben nanya, iya rasain tapi samar, hanya seperti tempat kosong saja, jin yang tidak mengganggu, jin yang memang numpang tinggal saja, tidak ada terasa energi jahat.”


“Sama, aku juga.” Alka bingung karena dia tidak merasakan apapun.


Begitu selesai naik tangga, kau akan menemukan sebuah ruangan yang cukup besar, makin masuk ke dalam kau akan menemukan ruangan bersekat-sekat seperti kamar.


Mereka masuk ke salah satu ruangan, ada sesosok wanita yang sedang duduk, dia menghadap jendela, rambutnya begitu panjang tergerai hingga sampai di dekat pintu masuk, padahal antara jendela dan pintu masuk itu bersebrangan. Lantai dan ruangan ini gelap sekali, karena tirai yang dipasang tebal sekali, saking tebalnya sinar matahari tidak tembus sama sekali.


Ruangan yang gelap, wanita yang terlihat tiba-tiba dan rambut yang begitu panjang itu. Dia bersenandung tanpa lagu, merapihkan rambutnya dengan tangan yang jelas terlihat pucat.


“Kaget!” Alka yang baru masuk ruangan terlihat kaget.


“Ka? Tumben kaget?”


“Itu rambutnya keinjek, takut kepeleset.” Aditia tertawa terbahak-bahak. Mana ada wanita macam ini, melihat setan bukannya kaget karena takut, tapi kaget karena menginjal rambutnya.


“Kau tahu kan, kalau kami tidak bisa ditakuti olehmu?” Tanya Aditia.


Wanita itu tetap bersenandung.


Alka dan Aditia mendekatinya, dia perlahan memutar kepala, khas semua jin lakukan, memutar kepala tanpa badannya ikut berputar.


“Trikmu klasik sekali, kau itu ruh, mau putar atas bawah, tengah atas, tengah bawah bukan hal yang aneh, karena kau tidak punya tubuh, trik itu takkan berhasil pada kami.” Aditia semakin mendekat dan berusaha untuk mencengkramnya.


Kali ini Alka yang tertawa karena mendengar Aditia malah mengejek jin wanita yang ditakuti dan dikenal sebagai kunti.


“Dit, biarin aja, dia nggak ganggu kita, ngapain kamu tangkap.”


Kunti itu melihat Aditia dengan kesal, dia memang jin berkemampuan tinggi, kalau dalam tatanan sebuah negara, dia adalah warga sipil. Jadi tidak bisa mendeteksi ilmu manusia yang berkelihan khusus.


“Kau tahu ada seorang lelaki yang berpakaian putih-putih dan suka mengganggu orang sekitar?” Tanya Alka, kali ini mereka duduk di tengah ruangan di lantai dua, ruangan yang tanpa sekat, kunti itu masih saja merapihkan rambutnya sembari bersenandung.


“Hei, jawab!” Aditia menjenggut rambutnya.


“Dit, kasar banget sih.” Alka menarik tangan Aditia hingga rambut yang digenggam Aditia jadi semakin tertarik, Alka sengaja agar jin itu semakin kesakitan.


“Iya aku beritahu!” Jin kunti yang suka menyamar itu akhirnya mau memberitahu.


“Yaudah, tunggu apalagi?” Aditia memerintahkan.

__ADS_1


“Jadi, begini ceritanya ....”


__ADS_2