Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 549 : Mulyana 55


__ADS_3

Wulan yang ruhnya terjebak di sana karena terkubur, ternyata dukun brengsek itu juga memasang pagar saat mengubur, berjaga takut kalau ruh Wulan akan jadi penasaran, maka ketika dibebaskan, ruh itu linglung.


“Wulan, ini ayah.”  Ayahnya berusaha membuat putrinya ingat.


Wulan menatap ayahnya, dia terlihat bingung, tubuh ruhnya sangat berantakan.


Ruh itu terdiam terus menatap ke depan dengan tatapan kosong, ayahnya yang merupakan salah satu tetua dengan ilmu tinggi di kampungnya itu melihat dengan sedih lalu mengucapkan mantra dan ruh itu hilang seketika.


“Aku takkan biarkan mereka hidup tenang, aku akan pastikan mereka mendapatkan balasan. Tunggu aku di sini, aku akan kembali menjemputmu.” Ayahnya lalu pergi, dia hendak membawa putrinya dengan ritual bersama beberapa orang, karena putrinya menjadi ruh penasaran yang lupa kejadian hidupnya, dia harus memanggil ingatan dari tubuhnya, makanya tidak boleh dipindahkan, karena kejadian terakhir hanya bisa diingat oleh tubuh yang berada di tempat terakhir dia hidup.


Maka Tubuh Wulan tidak diambil olehnya, tidak setelah ritual itu, tapi perlu persiapan dengan uang yang cukup banyak, karena ritual ini harus dilakukan banyak orang dari kampungnya, para tetua yang sudah pasti mata duitan, ilmu hitam memang selalu punya jalan mulus jika saja uang bertindak.


Tapi sayang, sebelum ritual itu dilakukan, tiba-tiba mayat wanita itu diketemukan, karena dianggap korban pembunuhan dengan  kuburan dangkal, sehingga ketika hujan tiba dan tanah longsor akibat dari penebangan pohon yang dilakukan di sekitar tempat yang akan dijadikan tempat pelatihan dan juga lapangan pelatihan itu, maka mayat Wulan akhirnya muncul ke permukaan.


Seperti yang aku katakan pada kalian semua sebelumnya, bahwa tubuh dingin yang ditemukan itu terlihat masih sangat cantik, Wulan mati dalam keadaan perawan dan membawa dendam kesumat, tak terbayang jika ruhnya ingat, maka apa yang mampu dia lakukan dengan bantuan ayahnya.


Maka sejak mayat itu diketemukan, tempat yang masih dibangun itu menjadi angker, banyak orang yang mengaku telah dihantui oleh ruh Wulan, tapi yang paling menakutkan adalah reaksi dari Yoga.


Dukun peliharaan Badrun sudah pergi dari kota itu pamit setelah dua hari mereka mengalami insiden itu, Badrun tidak bisa mencegah, jujur dia juga takut, melihat kerabat Wulan yang mengincar mereka dengan ilmu tinggi membuat kemampuan Badrun sebagai seorang petinggi Kepolisian tak terlihat sama sekali, dia tahu bahwa dia dan dukun itu telah salah orang mencari gara-gara.


Maka ketika akhirnya mayat Wulan diketemukan, Badrun panik bukan kepalang, lalu Yoga, dia bahkan lebih gila lagi, dia menjadi orang yang lebih pendiam, dia lebih banyak menghabiskan waktu di kantornya di tempat pembangunan itu, dia selalu berharap Wulan bisa datang sebagai setan dan membunuhnya, itu lebih baik dibanding jika dia harus menahan rindu yang luar biasa, tentu saja, efek pelet semakin terasa sejak dukun itu melepas pagarnya secara penuh, takut kalau energi dukun itu bisa dideteksi dari tubuh Yoga dan akhirnya perburuan berhasil dari pelacakan sisa energi dari Yoga.


Maka dengan egois dukun yang telah menerima uang dari Badrun untuk menyelesaikan segala urusan dengan Wulan itu cuci tangan, dia pergi dengan melepas pagar secara penuh, membiarkan Yoga terpelet secara sempurna dari sisa pelet yang Wulan pernah berikan. Maka Yoga menjadi tergila-gila pada orang yang sudah meninggal dunia.

__ADS_1


Malam ini Yoga sedang lembur di tempat kerjanya yang tidak terlalu besar itu, ini padahal sudah hampir tengah malam, tapi dia tak kunjung ingin pulang, bertemu istrinya adalah hal yang paling menyiksa karena dia merasa telah mengkhianati Wulan, padahal istrinya bukanlah Wulan, Yoga sudah menjadi bodoh oleh pelet itu.


Saat di sedang bekerja, tiba-tiba udara di ruangan dia bekerja terasa sangat dingin, padahal tak ada kipas angin yang dinyalakan di sana, dulu AC bukanlah barang yang mudah dipasang, biasanya mereka menggunakan kipas angin hanya jika udara terasa panas di ruangan itu, tapi aneh, malam ini terasa sangat dingin, bahkan Yoga bisa menghembuskan udara yang terlihat seperti embun dari mulutnya.


“Dingin sekali.” Yoga bergumam, saat dia bergumam, dia melihat ada siluet dari luar ruangan, seperti bayangan yang lewat, bayangan itu seperti seorang ... perempuan, Yoga langsung bangun. Sedikit takut tapi dia penasaran, apakah yang dia sangat inginkan akan datang hari ini, setelah beberapa waktu lalu mayat itu diketemukan, mayat yang telah dikuburkan, mayat yang keluarganya menolak otopsi, ayahnya Wulan datang ke kantor Polisi dan menolak otopsi, dia bilang hanya ingin mengambil mayatnya, itu saja, tidak ingin mengusut, Polisi juga tak bisa berbuat apa-apa jika anggota keluarga tidak menuntut dan tentu saja walau proses hukum seharusnya berjalan karena ini ranah pidana dan berhubungan dengan keresahan masyarakat, yaitu rumor ada pembunuh di tempat pembangunan itu, Badrun mampu menutupinya, maka kasus ditutup dengan sangat cepat.


“Siapa di sana!” Yoga berteriak, karena dia yakin ada seseorang di sana.


Yoga melihat dari kejauhan ada bayangan lagi seorang perempuan dengan rambut panjang, bahkan dari jauh Yoga tahu bahwa itu Wulan, maka Yoga berlari keluar dari kantornya dengan tergesa-gesa, dia berlari terus mengejar perempuan itu.


“Wulan! Wulan!” Yoga seperti kerbau yang dicucuk hidungnya, dia terus mengejar ruh itu.


Tapi Wulan tidak juga berhenti, dia terus berjalan di kegelapan malam, lapangan itu sepenuhnya telah menjadi lapangan tandus tanpa pohon, Wulan berjalan terus mengelilingi areal lapangan, Yoga lalu melihat dengan seksama bahwa kaki Wulan tidaklah berlari, tapi dia ... melayang, Yoga jatuh karena terkejut, saat dia jatuh, Wulan berhenti masih membelakanginya.


“Aku merindukanmu, Wulan.” Yoga berkata dengan penuh harapan.


Wulan masih terus membelakanginya, hingga yang terlihat adalah rambut hitamnya yang panjang menutupi punggung, baju terakhir yang dia gunakan adalah baju terakhir yang Yoga lihat saat sebellum dia dibunuh, walau baju itu kalau dilihat secara tegas, maka baju itu terlihat sangatlah lusuh, seperti kain yang sudah dikubur sangat lama.


“Aku ingin hidup lagi.” Wulan akhirnya berkata dengan sangat sedih, walau perkataannya sangat lemah, hingga Yoga merasa suaranya terdengar berbisik.


“Aku akan membantumu, apa aku bisa melakukan sesuatu untuk bisa menghidupkanmu lagi?” Yoga bertanya, hal paling gila yang pernah dia tanyakan, bahkan dia berniat melakukannya.


“Ritual ... Ritual!” Wulan berteriak sebelum akhirnya dia menghilang seperti ... ditarik oleh sesuatu, Yoga berteriak memanggilnya, dia jelas berniat melakukan apapun jika memang itu bisa membangkitkan lagi Wulan.

__ADS_1


Maka Yoga teringat perkataan ayahnya Wulan saat mereka berdua bertemu di rumah sakit saat menunggu mayat Wulan akan diberikan ke keluarga, Yoga beralasan selaku bos, dia merasa turut berduka cita, tapi ayahnya Wulan tahu bahwa Yoga sudah kena pelet Wulan, ada wangi Minyak Kasturi dari mulut dan tubuh Yoga saat berbicara dengan ayahnya Wulan untuk mengucapkan bela sungkawa.


“Kau benar berduka cita atas meninggalnya anakku?” Ayahnya Wulan bertanya ketika itu.


“Ya, tentu saja, Wulan pegawai wanita yang sangat baik dan bahkan punya cita-cita yang tinggi.”


“Ya, Wulan bercerita di suratnya kalau dia ingin kuliah berkat bentuan Pak Yoga, terima kasih karena sudah perhatian dengan anak saya.” Ayahnya Wulan berbasa-basi.


“Iya pak, semoga Wulan tenang di alam sana. Dia wanita baik.”


“Aku yang tidak tenang karena kematiannya sangatlah tragis.”


“Maafkan kami ya, Pak.” Yoga meminta maaf, terdengar seperti orang yang merasa bersalah karena tempat pembangunan miliknya adalah tempat di mana tubuh Wulan diketemukan dalam keadaan tak bernyawa, tapi sebenarnya, Yoga benar-benar merasa bersalah karena dia tahu siapa pembunuhnya dan dia tak bisa berbuat  apa-apa karena tak ingin ayahnya terseret, dia masih punya otak untuk memikirkan hal ini dengan hati-hati.


“Tidak perlu meminta maaf, kau hanya perlu membantuku.”


“Iya Pak, tentu saja, apa saja!” Yoga salah paham, bukan uang yang dimaksud oleh ayahnya Wulan, walau dalam situasi ini biasanya memang uang yang menjadi incaran dengan kata bantuan yang disebutkan oleh ayahnya Wulan.


“Aku ingin anakku bangun lagi, jika saja kau mau membantu Ritual, kau mungkin bisa ... memilikinya lagi.”


Yoga terdiam, dia bingung dan sangat terkejut, bagaimana mungkin hal itu bisa dilakukan pada orang yang sudah mati.


Tapi ayah Wulan pergi ketika Yoga ingin bertanya lebih jauh saat itu.

__ADS_1


Maka malam ini saat melihat Wulan dan berkata ingin hidup lagi, Yoga tahu harus menemui siapa.


__ADS_2