
“Astagfirullah!” seseorang berteriak. Ganding yang mendengarnya langsung terbangun, karena suara itu sangalah kencang sekali.
Saat Ganding bangun, dia baru sadar, di mana dia saat ini.
Di tengah jalan antar gerbang hotel dan pintu lobby.
Ganding bingung, kenapa dia bisa tidur di sini?
“Pak, bangun.” Pak Teddy membangunkan Ganding. Wajahnya terlihat khawatir pada Ganding.
“Terima kasih Pak.” Ganding lalu berlalu, dia tidak menghiraukan kerumunan yang tadi melihatnya tertidur di jalanan.
Ganding kembali ke room 713, dia mengetuk pintu, karena tidak memiliki akses.
Pintu tidak kunjung dibuka, Ganding yang tadinya hanya mengetuk, saat ini akhirnya menggedor pintu.
Masih tidak dijawab.
Akhirnya Ganding menyerah dan akhirnya kembali ke lobby, front office sudah ganti petugas, bukan Selly lagi, tapi Pak Teddy.
“Ya Pak? bagaimana?” Pak Teddy sama sekali tidak puas walau dia merasa perkataannya semalam benar, bahwa keputusan Ganding dan teman-temannya untuk menginap di 713 tidak tepat.
“Pak, boleh minta tolong bukakan pintu 713, karena entah kenapa teman-teman saya tidak menjawab dari dalam.”
Pak Teddy akhirnya memilih mengantar Ganding kembali ke kamar dengan membawa kunci cadangan.
Saat ini Teddy dan Ganding sudah di dalam lift akan naik ke lantai tujuh.
“Sebaiknya anda dan teman-teman anda segera check out ya, saya takut terjadi hal lebih buruk lagi dari semalam.” Teddy berkata dengan nada cemas yang bersungguh-sungguh.
“Saya itu kalau tidur memang kadang berjalan, sleep walking itu loh Pak, jadi jangan terlalu khawatir, kami baik-baik saja. Paling teman-teman saya juga saat ini masih tidur. Makanya nggak ada yang bukakan pintu deh.” Ganding tidak mau memberitahu yang sebenarnya karena itu tidak penting. Dia agak kesal karena kamar itu tidak ada yang buka.
Mereka berdua sampai di lantai tujuh, lalu menuju 713 dan Teddy membuka pintu 713. Saat pintu terbuka, Ganding dan Teddy kaget, kamar sudha porak-poranda.
Meja kerja yang terbuat dari kayu patah menjadi beberapa bagian, gagang pintu juga sudah lepas. Gorden kamar robek dan hanya menyisakan beberapa bagian saja di jendela karena masih menempel pada relnya.
Tempat tidur sudah bolong seperti disobek oleh ... kuku harimau.
“Astagfirullah! Kacau sekali! Saya bilang juga apa kan!” Alka melihat Ganding datang dia langsung berdiri, ternyata semua orang sedang dalam posisi seperti sedang berkelahi, tapi kedatangan Teddy dan Ganding membuat mereka berhenti.
“Masih lanjut?” Ganding bertanya.
“Kau pikir mereka akan berhenti mempertahankan kamar ini?” Alka duduk, kelelahan, semalaman mereka berkelahi.
“Aku kenapa bisa ada dijalanan dan tertidur?” Ganding bingung.
“Kau dan Hartino terlempar keluar, tuh liat jendela sudah bolong, kalian mungkin ketiduran karena kelellahan.”
“Oh ya, bisa jadi, Hartino mana?” Ganding bertanya lagi.
“Genteng mungkin.”
“Woy! Gue tidur di genteng. Kamu ya, kamu pemimpin di sini kan? genteng dibersihin dong! lihat aku tertidur di sana dan tubuhku penuh debu begini! Kalian memang benar-benar tidak bisa menjaga bisnis!” Hartino kesal karena hal yang membuat Teddy kebingungan, bagaimana mungkin lima orang ini terlihat tidak kaget dan ketakutan, tapi malah terlihat menikmati keseruan di kamar ini.
“Kalian ... baik-baik saja?” Teddy bertanya dengan gugup.
Hartino menutup pintu lalu mendorong Teddy agar masuk.
“Kak, kasih tahu ajalah nih orang, toh dia yang harus ijinin kita extend, gue nggak terima dilempar sejauh itu, nggak sopan tuh setan!” Hartino kesal.
__ADS_1
“Kalian siapa! kenapa kalian tenang sekali dan seperti menikmati kengerian ini!” Teddy mulai curiga.
“Udah duduk Pak, minum dulu ini.” Ganding seperti tuan rumah, padahal dia hanya tamu. Menyuguhkan air mineral yang hotel sediakan.
Teddy meminum airnya dan mulai berusaha menenangkan diri.
“Kami ini sudah biasa menghadapi yang tidak bisa kalian lihat. Kalian biasa menyebutnya, setan, hantu, iblis, pocong, genderuwo, kuntilanak atau bahkan tuyul. Kami membantu membersihkan ‘mereka’ yang membantu tanpa imbalan.” Alka menjelaskan dengan singkat saja, dia kelelahan karena semalaman tidak berhenti berkelahi.
“Kalian berlima, dukun!” Teddy mengatakan dengan spontan.
“Adakah dukun semuda kami dan se-modern kami!” Hartino walau sedang kesal tapi dia tidak diterima malah dikatai dukun.
“Lalu kalian apa?”
“Sebut saja kami ... Sang Penjemput.”
“Sang penjemput?” Teddy bingung.
“Ya, tugas kami menjemput ‘mereka’ dari tempat yang salah,” Ganding menjawab.
“Benar tanpa pamrih?” Teddy bertanya lagi.
“Ya memang begitu, sebut saja kami sedang menjalani hobi, jadi kau dapat pembersihkan, kami dapat kesenangan.” Ganding mengatakannya dengan gaya.
“Lalu, apa yang terjadi semalam? Kalian kalah?”
“Hei!” mereka berlima kesal dikatakan kalah.
“Ini belum berakhir, salah kau datang tidak tepat waktu tadi, jadi ‘mereka’ menghilang.” Aditia menjelaskan.
“Apa yang terjadi semalam?” Teddy mengulang pertanyaannya.
Semua orang di 713 memutuskan tidur, mereka memang sedang kelelahan, pada jam dua ini, mereka telah terlelap.
Udara di kamar itu tiba-tiba menjadi sangat dingin, padahal udara di wilayah hotel itu berada adalah wilayah yang berada di dataran tinggi. Jadi, udara cukup dingin. Karena itu dari awal suhu AC dibuat sedang saja. Tapi ketika jam dua malam, suhu AC berubah menjadi ke arah suhu yang paling rendah, jadi mereka semua merasakan kedinginan.
Seorang wanita dengan wajah cantik dan gaun putih usang dan robek di beberapa bagian terlihat sedang mengawasi lima sekawan.
“Pertama dia mendekati Hartino, dia mengelus wajah Ganding dengan kuku-kuku tangannya yang panjang, setelah itu dia mendekati Ganding dan juga Aditia, saat dia menyentuh wajah Ganding, semua masih aman. Tapi saat dia menyentuh wajah Aditia, tiba-tiba tangannya ditahan oleh tangan lain. Anita yang cantik namun berwajah pucat dan bergaun lusuh itu kaget.
Alka mampu memegang tangannya dengan sangat kuat, sehingga dia kesakitan.
Belum sadar telah menghadapi orang-orang yang spesial, dia menampik tangan Alka.
“Kau manusia yang berbeda ya,” lirih setan perempuan itu.
“Aku bukan manusia pada umumnya.” Alka tersenyum dan secepat kilat mengeluarkan cambuknya.
Dia menyabet-nyabet cambuknya ke arah wanita itu, tapi wanita itu bisa menghindar, tapi sebagai gerakan penghindaran, ruangan menjadi berantakan.
Saat berkelahi dengan Alka, wanit itu mengeluarkan senjata utamanya, wajah yang buruk rupa dan leher yang memanjang. Alka bukan Selly yang penakut. Maka dia tetap melawan wanita itu.
Sementara yang lain mulai terbangun karena kegaduhan perkelahian Alka dan juga wanita setan itu.
“Mereka ikut mengeroyok wanita itu agar cepat bisa diatasi, saat wanita itu akhirnay terpojok. Tiba-tiba derap kaki sepatu militer terdengar.
“Apa itu?” Tanya Aditia yang selalu tidak terlalu paham dengan apa yang mereka hadapi.
“Tentara Belanda? Jepang?” Ganding menebak.
__ADS_1
“Mampus kalian!” Wanita itu menghilang.
“Eh malah kabur, katanya kami yang mampus!” Hartino meledek.
Tepat saat itu juga, tiba-tiba udara di kamar semakin dingin, ada kabut yang datang entah dari mana, udara semakin tidak menentu, suhu dingin yang semakin tinggi. Lalu masuklah pemilik derap kaki sepatu militer itu.
Tentara Jepang. Mereka ada 10, tidak, 20 tidak! tiga puluh pasukan.
Ganding dan Hartino menelan ludah.
Walau ilmu mereka tinggi, tapi menghadapi musuh sebanyak ini sungguh sesuatu yang sangat membuat mereka lelah.
Pasukan itu berbaris seperti menunggu aba-aba. Mereka tenang, berdiri tegak. Wajahnya pucat, bajunya seragam Militer yang sudah lusuh, satu kesamaan mereka lagi, yaitu, merekamemegang senjata, yang pasti sudah tidak bisa digunakan lagi.
“Mereka banyak banget Kak.” Ganding dan lima sekawan berkumpul. Mundur dulu sejenak untuk membangung strategi. Karena dengan jumlah sebanyak ini, pasti tidak mudah dikalahkan, ditambah mereka dalam keadaan letih.
“Bukan itu Nding pertanyaanya, tapi, kenapa mereka di sini, sebanyak ini, kenapa mereka bisa masih berada di sini?” Alka terlihat bingung, sementar Hartino kesal, dia hanya ingin tidur, itu saja. Tapi dunia perghaiban sepertinya terlalu melekat pada mereka, hingga dimanapun mereka berada, pasti ada saja yang mereka hadapi terkait para arwah ini.
Sementara di luar kamar 713, beberapa tamu dan pegawai mengalami juga peristiwa yang tak kalah menyeramkan.
“Dingin banget nggak sih?” Seorang housekeeper bertanya pada rekan kerjanya, mereka sedang membersihkan kamar yang baru selesai di huni tapi tamunya check out mendadak.
“Iya, suhunya gue bikin tinggi loh.” Rekannya terlihat bingung.
“Lu denger sesuatu nggak?”
“Iya ... itu kayak langkah kaki pasukan miiliter gitu ya?”
“Cepet yuk. Gue merinding nih, nggak enak banget perasaan gue.”
“Iya, yuk gue juga takut.”
Mereka berdua akhirnya buru-buru membereskan kamar dan akhirnya selesai.
Setelah itu mereka keluar dari kamar dan mendorong troly barang yang berisi perlengkapan kamar menuju lift untuk turun.
Saat pintu lift terbuka, mereka berdua buru-buru masuk karena derap kaki itu terdengar semakin kencang. Mereka memang sedang berada di lantai tujuh.
Lift terbuka, mereka berdua buru-buru masuk dan mencoba menutup pintu lift, tapi entah kenapa, pintu tidak mau tertutup juga.
Masih mencoba menutup pintu lift sementara rekan satunya lagi telah berdiri di bagian paling pojok lift karena suara derap kaki pasukan militer itu sepertinya berada tepat di dekat lift.
Rekannya masih terus memencet tombol lift yang bertanda tutup. Tapi lift masih tertahan padahal jelas tak ada orang lain di luar lift yang memencet tombol hendak naik atau turun. Sementara tombol lantai yang mereka tuju telah menyala yang seharusnya membuat pintu lift tertutup.
Ketika derap kaki itu semakin mendekat, akhirnya housekeeper yang memencet tombol tutup lift, menyerah, dia mundur bersama temannya dan bersembunyi di balik troly agar tidak melihat apa yang akan melintas di depan mereka.
Beruntung, pintu lift perlahan mulai tertutup. Dua petugs itu yang lega, tapi ternyata itu bukan keberuntungan. Saat pintu lift hendak tertutup sempurna, mereka melihat dengan jelas, pasukan militer yang berwajah pucat, membawa senjata dan dengan baju lusuh, melintas tepat dihadapan mereka, walau pintu lift hampir tertutup, tapi pemandangan pasukan itu terlihat jelas, satu persatu dan sangat banyak.
Akhirnya dia petugas hotel itu tidak mampu menahan rasa sakit dan pingsan.
______________________
Catatan Penulis :
Maaf ya, kemarin salah nulis judul, harusnya 3 bukan 4, pas pagi mau aku edit, takut kalian lagi baca jadi pasti nanti error kalau aku ubah judulnya karena status akan berubah menjadi review kembali setelah publish, makanya baru aku ubah sekarang, biar yang tadi pagi baca nggak keganggu. Kalau yang hari ini benar, Hotel 4 ya.
Makasih yang masih setia membaca.
Selamat malam, selamat tidur. Semoga nggak mimpi buruk.
__ADS_1