
Aditia dan Alka datang ke rumah lelaki itu, lelaki yang mengganggu di gedung terbengkalai milik pemerintah.
“Bu, bisa bicara dengan ibu dari Pak Rido?”
“Siapa kalian? Wartawan ya? saya kan sudah bilang, saya nggak tahu apa-apa!” Ternyata yang membukakan pintu sepertinya ibu dari Pak Rido sendiri. Nama pria yang mengganggu itu.
“Bu sebentar.” Alka menahan pintunya, Aditia membantu menahan pintu itu dibelakang Alka, Alka jadi ada di antara tangan Aditia.
“Pergi kalian! Aku tidak tahu apapun!” ibunya Rido berkata.
“Bu, kami ingin bicara, karena ruh Rido tidak tenang, dia menagganggu semua orang di gedung itu, hingga gedung itu jadi tidak digunakan lagi! kami ingin membantu!” Alka sengaja berteriak agar ibunya mau menjelaskan apa yang terjadi.
Tangan rentanya akhirnya melemah memegang pintu, Alka dan Aditia diizinkan masuk.
“Duduklah, saya tidak akan berbasa-basi. Kalian dukun dari mana lagi? aku sudah begitu sering mengusahakan dukun-dukun itu untuk membantu mengantar ruh anakku kembali kepada Tuhannya, tapi tidak pernah berhasil.”
“Kau menggunakan jasa dukun untuk mengusir anakmu dari gedung itu?” Aditia kesal.
“Ya, karena hanya dukun yang menjanjikan keberhasilan, tapi ternyata mereka penipu.”
“Ya tentu saja, ustad saja tidak bisa menjamin, apalagi dukun.”
“Dit!” Alka meminta Aditia diam.
“Begini Bu, kami bukan dukun, bukan juga ustad atau ustadjah, kami hanya orang-orang yang diberi kemampuan oleh Tuhan untuk melihat dunia mereka yang tak terlihat. Rido sudah menampakkan wujudnya pada semua orang yang masuk gedung kecuali kami, mungkin dia tahu, kami akan memintanya untuk ‘pulang’ kami perlu tahu apa yang terjadi agar bisa memancing dia keluar dan membujuknya pulang.”
“Sulit, dia takkan mau.”
“Kenapa?”
“Aku sudah membujuknya, dengan berbagai cara, tapi tidak mampu, aku ibunya saja tidak bisa.”
“Bisa dimulai dari, apa yang terjadi hari itu?” Alka ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.
“Hari itu, adalah hari yang membuat dia bahagia, hari yang sudah dia tunggu sangat lama. Setelah satu tahun penuh mempersiapkan semuanya. Pernikahan itu akan terjadi. Dua keluarga sudah sangat saling kenal, wanita itu calon istri anakku adalah anak pejabat yang cukup kaya, kami juga bukan dari keluarga miskin.
Tapi malapetaka terjadi, satu jam sebelum akad nikah dimulai, ada seorang pria yang masuk ke ruang rias pengantin, di sana ada anakku dan pengantin wanitanya serta para periaa. Mereka berdua sedang memakai pakaian adat dan dirias.
Semua perias disuruh keluar, entah oleh siapa, kami orang tua dan sanak keluarga, dirias di tempat yang berbeda, jadi tidak tahu apa yang terjadi di dalam.
Pintu itu ditutup, setelahnya setengah jam kemudian anakku keluar dari kamar itu, pria lain itu juga keluar. Anakku masuk ke ruang rias kami para keluarga, dia minta untuk didandani layaknya pengantin pria, hanya memakai alas bedak dan bedak tidak terlalalu tebal, entah kenapa riasannya terhapus, sepertinya dia habis menangis, walau kami agak bingung karena tidak tahu apa yang terjadi di dalam, kami tetap mengikuti perintahnya sementara calong pengantin wanita tetap di ruang rias itu.
Saat dirias kembali, anakku terus saja menatap jam tangannya, kami pikir dia menunggu akadnya.
Lalu entah kenapa dia tiba-tiba dia berdiri lalu berlari ke kamar paling belakang lantai dua, itu adalah kamar setelah ruang rias pengantin, setelahnya aku mendengar suara benda jatuh. Semua berlari ke kamar itu dan berteriak, aku paling belakang sampai karena aku tidak bisa lari, tapi aku melihat, bahwa jendela kamar itu terbuka dan saat melihat ke bagian bawah jendela lantai dua itu, aku melihat anakku jatuh, walau itu hanya lantai dua, tapi kepalanya sepertinya jatuh duluan dan menimpa batu besar yang ada di sana.
Dia bunuh diri! Dia lompat dari jendela itu.
Aku benci sekali saat pengantin wanita itu masuk ruangan, dia terlihat sangat tenang, bahkan sanak saudara kami semuanya terlihat terguncang, dia hanya terlihat tenang, mendekatiku yang ada di dekat jendela, lalu melihat ke bawah, melihat jasad calon suaminya dan dia tidak menangis! Perempuan biadab, dia lalu pergi dari ruangan itu masih dengan santai, tanpa air mata atau rasa takut, dia melangkah dengan tenang.”
“Apakah ada kemungkinan ini bukan bunuh diri?”
“Tidak, walau aku benci wanita itu, tapi aku tahu, anakku bunuh diri. Polisi sudah memeriksa semua sidik jari di ruangan itu, tidak ada sidik jari lain, selain sidik jari anakku.
Semua menjadi saksi bahwa wanita itu juga baru keluar dari ruangan rias setelah Rido jatuh, semua juga melihat bahwa kamar itu kosong saat Rido masuk ke sana. Aku yakin dia bunuh diri, tapi karena apa, aku tidak tahu.”
“Kenapa kau bisa yakin dia bunuh diri?” Alka bertanya.
“Karena itu bukan percobaan bunuh dirinya yang pertama kali, itu sudah yang ketiga kalinya. Dia sebelumnya pernah mencoba bunuh diri dengan obat penenang dan juga menyayat nadinya.
Dari kecil, di keluarga kami, dia adalah anak yang paling lemah mentalnya. Dia anak lelaki yang sangat lemah baik fisik maupun mental. Dia sakit-sakitan dan kurang cerdas. Tapi walau begitu, aku menerima anakku apa adanya. Salahku terlalu memanjakannya dan menerima semua kekacauan yang dia timbulkan karena perundungan dari sekolah, kampus bahkan tempat kerja.”
“Sebentar, kalau dia lemah mental, tapi kenapa dia membut kekacauan?” Alka bingung.
“Karena setiap kali dirundung, dia akan melakukan segala upaya untuk melawan, upayanya sering kali lebih berbahaya dibanding apa yang dilakukan teman-temannya.”
“Misalnya?”
“Misalnya dia dirundung saat jam makan siang, dia membalas secara spontan perundungan itu dengan menusuk tangan temannya memakai garpu makan. Dia bilang tidak bisa mengendalikan gerakan spontan karena marahnya, dia memang lemah.”
“Berarti dia kerap melukai teman-temannya balik karena dia dirundung duluan?”
__ADS_1
“Ya, begitu. tapi tentu saja itu salah, karena pembalasannya sering kali terlalu spontan hingga dia menggunakan barang sekitar untuk menyakiti orang lain.”
“Menyakiti orang lain? Berarti ini aneh dong Bu, dia menyakiti dirinya sendiri saat hari pernikahan, bukankah seharusnya dia suka membalas secara spontan?”
“Kan sudah kukatakan, bahwa dia spontan menyakiti orang dan dirinya sendiri, karena itu percobaan bunuh dirinya ketiga kali, yang terakhir itulah dia berhasil.” Ibunya menangis lagi, walau Alka dan Aditia tidak tega mengorek kisah lama yang menyaktikan, Alka harus melakukannya.
“Jadi intinya adalah, apa yang terjadi di dalam kamar itu bukan?” Alka bertanya.
“Ya, di kamar rias pengantin itu.”
“Lalu pria asing yang masuk ke ruang rias itu siapa?” Tanya Aditia lagi, karena dia teringat.
“Tidak tahu, mungkin mantan pacar dari wanita itu, entahlah. Karena wanita itu dan keluarganya pergi begitu saja tanpa pamit, kami tidak pernah melihat mereka satupun, bahkan dipemakaman anak kami.
Aku tidak perduli, aku hanya merasa kasihan saja dengan anakku, karena aku pikir dia wanita baik, tapi ternyata sama saja, penyakit mental anakku tidak terlalu dia sukai mungkin. Entahlah. Aku sempat begitu penasaran apa yang terjadi tapi tidak bisa mengoreknya dari pihak besan ataupun wanita itu, makanya aku meminta bantuan dukun untuk mempertemukan dengan anakku begitu mendengar gedung itu tutup karena akan renovasi, tapi aku tahu, rumor yang beredar berbeda, bukan renovasi, tapi memang begitu banyak gangguan yang cukup intens, makanya tidak ada yang berani lagi untuk bertahan di gedung itu.
Sayang, dia hanya menunjukan dirinya, tapi lalu dia pergi lagi, tidak pernah bicara sedikitpun, sepatah kata pun. Tapi rasa rinduku cukup terpenuhi padanya.”
“Baiklah Bu, kami akan bantu sebisa kami, jika kami sudah dapat jawaban, akan kami beritahu padamu apa yang terjadi.” Alka dan Aditia hendak pamit.
‘’Tidak masalah tidak berhasil pun, karena aku sudah menyerah, aku ingin menjalani hidup karena selama ini cukup terpuruk, aku masih memiliki dua anak yang sudah berkeluarga, aku akan fokus pada apa yang hidup saja saat ini.”
Alka dan Aditia akhirnya pamit, mereka akan ke gua, untuk membicarakan temuan.
...
“Oh, jadi begitu ceritanya,” Ganding berkata. Aditia dan Alka sudah menceritakan apa yang mereka dapatkan di kediaman Rido.
“Kalau kalian, apa yang kalian temukan?”
“Kami menemukan alamat baru keluarga calon pengantin wanitanya. Nama wanita itu adalah Karina. Sayang, wanita itu tidak tinggal bersama keluarganya, dia telah menikah dengan pria anak pejabat juga. Aku dan Hartino menyamar menjadi Polisi, makanya orang tua Karina mau menerima kami dan memberikan keterangan.”
“Kalian menyamar menjadi Polisi, memang mereka percaya?” Aditia bertanya.
“Percayalah, kan pake ini.” Hartino memperlihatkan dompet yang tertempel lencana Polisi dan juga kartu tanda anggota Polisi. Khas tanda pengenal Polisi.
“Kok, bagaimana?! Har, kau benar-benar kriminal, aku hitung semua kejahatanmu ya, besok-besok kalau kau mengacau denganku, aku akan melaporkanmu ke Polisi.” Aditia kesal karena Hartino cenderung berani melakukan itu, dia cenderung berani melakukan berbagai pelanggaran hukum, seperti memalsukan tanda pengenal Kepolisian ini. Tapi karena cara ini cukup membantu Aditia hanya meledek saja, siapa yang bisa menembus rumah pejabat itu kalau bukan Polisi.
“Kok bisa gitu?”
“Kan kau komplotanku.”
“Bodoh!”Alka untuk kali pertamanya mengatai Aditia.
“Iya juga ya, aku komplotan kalian.”
“Bisa lanjut lagi?” Jarni si pendiam bertanya. Karena dia tidak ikut dalam mencari informasi
“Kami bertemu orang tua dari Karina, ibu dan ayahnya ada di rumah saat kami ke sana. Kurang lebih sama persis seperti yang diceritakan oleh ibunya Rido, tapi, yang berbeda adalah, lelaki itu bukan mantan pacar Karina, dia itu adalah ajudannya Karina.
Kami bertanya, untuk apa dia masuk ke ruang perias itu di saat waktu akad sudah dekat. Katanya hanya memastikan Karina baik-baik saja,” Ganding menjelaskan.
“Memastikan Karina baik-baik saja, memang Karina akan celaka? Aneh sekali.” Aditia bingung.
“Tentu kami juga berpikiran hal yang sama, kami bertanya apa yang dilakukan ajudan itu di dalam. Dia bilang hanya memeriksa. Lalu kulanjut bertanya, apa mereka punya musuh hingga Karina harus dijaga. Ayahnya Karina sempat sedikit terkejut dengan pertanyaanku, tapi lalu dia berusaha tenang lagi dan berkata bahwa mereka tidak punya musuh, tapi apa salahnya memastikan semua baik-baik saja.
Tapi malah tiba-tiba calon menantunya itu bunuh diri.”
“Ada hal lain lagi?”
“Ada Dit, aku bertanya lagi, apa asumsi keluarga Karina tentang kejadian bunuh dir calon menantunya itu, ayahnya menjawab, setelah kejadian itu, mereka baru tahu kalau Rido punya banyak hutang, mereka pikir itu yang mungkin menjadi alasannya.”
“Hah? kalau banyak utang mah harusnya tetap nikah dong, kan dapat ikan paus buat numpang hidup, anaknya pejabat. Lagian, ibunya Rido bilang mereka juga bukan dari kalangan sulit ekonomi, ini aneh sih.”
“Ya, Dit, kami juga pikir ini aneh. Dia kan pejabat, punya ajudan, masa anaknya mau nikah nggak diperiksa latar belakangnya, Hartino aja yang ibunya Pengacara semua pacarnya di cek latar belakangnya.”
“Kenapa jadi aku! ayah ibu kalian juga gitu!” Hartino kesal.
“Sorry Bro, santai. Aku lanjut ya. Lalu kami bertanya awal mula mereka bertemu, katanya si Rido dan si Karina ini bertemu saat Perusahaan Karina sedang menjalin hubungan perusahaan dengan client, sedang Rido adalah salah satu pegawainya, lalu mereka saling jatuh cinta dan memutuskan menikah. Tidak ada yang aneh, bertemu secara alami dan menjalin hubungan.”
“Tapi berarti Karina sudah menikah dengan pria lain saat ini?” Tanya Aditia.
__ADS_1
“Ya, dia sudah menikah dua tahun lalu dan sudah punya satu orang anak. Makanya dia tidak tinggal dengan orang tuanya, dia tinggal di apartemen bersama suami dan anaknya.”
“Dia bisa bahagia dengan lelaki lain ya sekarang, andai semudah itu.” Hartino bergumam, yang dia pikirkan adalah, andai Alisha bisa begitu. Bisa dengan cepat melupakannya. Hartino akan lebih bahagia jika bisa begitu, bukannya malah menunggu selama ini. Alisha yang malang.
“Ya bisa saja, orang kata ibunya saat Rido bunuh diri saja dia masih santai dan tenang, seperti tidak merasakan apapun lagi.” Aditia kali ini menjelaskan.
“Serius begitu?” Ganding heran.
“Ya, serius begitu. Aku merasa ada yang terjadi saat ajudan itu masuk ke ruangan perias pengantin. Hingga memprovokasi si Rido untuk bundir.”
“Sekarang apalagi Kak?” Ganding bertanya.
“Menurutmu?” Alka melempar kembali pertanyaan.
“Ketemu dengan Karina, satu-satunya saksi hidup di ruangan itu.”
“Ya itu yang terbaik, tapi aku akan bertemu dengan ajudannya bersama Aditia dan Jarni, kalian menyamarlah menjadi Polisi lagi seperti sebelumnya agar mudah mengorek informasi.”
“Baiklah Kak.” Akhirnya setelah itu mereka memutuskan waktu yang tepat untuk bertemu dengan Karina dan ajudannya.
...
“Kami dari Kepolisian, ini soal Rido, bisa kita bicara sebentar?” Karina yang membuka pintu terlihat ragu.
“Kalian bawa surat penugasan?” Karina lebih pintar dari ayahnya.
“Ya, ini dia.” Hartino memberikannya.
Karina mengambil surat itu, tidak ada yang janggal, itu sepertinya memang surat asl. Tentu saja itu surat palsu yang sudah diaslikan oleh Hartino melalui tekhnologinya.
“Kalau begitu silahkan masuk, suami saya sedang dinas, hanya ada saya, anak saya dan dua pembantu.”
Hartino dan Ganding masuk dan duduk di ruang tamu, walau ini hanya sebuah apartemen, tapi begitu masuk kau akan lupa ini adalah apartemen, karena unit apartemen ini terdiri dari dua lantai daalam satu unit, ada kolam renang juga di bagian sebrang pintu masuk, terlihat dengan jelas dari jendela, sungguh apartemen yang mewah, jelas dia anak pejabat.
“Jadi sudah berapa lama anda berpacaran dengan Rido sebelum akhirnya memutuskan menikah?” Tanya Ganding.
“Sudah satu tahun.”
“Saya sudah mendatangi orang tua anda, mereka mengatakan bahwa ajudannya masuk ke ruang perias pengantin dan tidak lama keluar lagi bersama dengan Rido. Apakah benar?”
“Ya benar.”
“Apa yang terjadi di dalam?”
“Tidak terjadi apapun, ajudan ayahku hanya memeriksa keadaanku dan sekitar, memastikan semua aman. Setelah itu dia pergi dan Rido bilang mau melihat keluarganya dirias. Lalu peristiwa itu terjadi.”
“Kalau begitu terima kasih atas bantuan anda memberikan informasi."
Ganding dan Hartino pulang.
Sementara ditempat lain, Alka sudah mendapatkan ajudan itu. Mereka tidak pakai cara-cara yang digunakan Hartino serta Ganding. Mereka menggunakan cara yang lebih frontal.
Ajudan itu terikat di kursi.
"Kalian siapa?" ajudan itu bertanya.
"Jawab dulu kami, apa yang terjadi sebenarnya pada Rido?"
"Kalian siapa? apakah kalian dari keluarga dia?" ajudan itu bertanya.
"Kami bukan siapa-siapa yang perlu kau ketahui, sekarang jawab saja, apa yang terjadi pada Rido."
"Dia bunuh diri, apalagi yang selain itu! aku tidak tahu!"
"Kau tahu, kau ada di ruangan itu, apa yang kalian bicarakan di ruangan itu!" Alka berteriak lagi.
"Aku hanya memeriksa keadaan anak tuanku, lalu juga keadaan sekitar." ajudan itu menjawab.
"Bohong! kau benar-benar tidak bisa ditangani dengan halus ya, rupanya?" Aditia maju, dia meminta Jarni memberikan ularnya. Ajudan itu gemetar ketakutan, dia memang pernah menjadi tentara di negeri ini, tapi baru kali ini melihat ular kecil tapi begitu mengerikan, kepalanya seprti ular kobra walau bentuknya bgitu kecil, taringnya terlihat jelas.
"Aditia melempar ular itu ke wajah ajudan, setelah itu dia berteriak dan berkata, "Aku akan mengatakannya, aku akan mengatakannya!"
__ADS_1