Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 446 : Kamboja 8


__ADS_3

“Tempat apa ini?” Lelaki paruh baya itu bingung, dia sedang berada di ruang meeting, ruang meeting yang cukup besar, dia duduk di salah satu bangku kantor yang memiliki meja bundar terbuat dari kayu, hampir semua properti di kantor ini dari kayu.


Kayu bukan sembarang kayu, kayu yang memang sudah dimandikan dengan ramuan pelindung, semua benda di tempat ini tidak ada satu pun yang luput dari mantra, karena tempat ini adalah markas kedua setelah AKJ, walau besar, AKJ menyimpan para makhluk yang lebih buas lagi, sedang di sini banyak khodam titipan yang akan ditaklukan, sebelum akhirnya kembali ke tuannya.


Pria paruh baya bernama Arifin itu dijemput di pangkalan oleh salah satu pegawai kantor ini, tentu bukan pegawai biasa, hingga terbesit rasa ragu untuk ikut begitu tadi dijemput di pangkalan, bagaimana tidak? Arifin melihat ada bayangan hitam di balik tubuh penjemputnya, tapi karena pria itu bilang pesuruh kawanan, maka Arifin bersedia ikut.


Begitu sampai kantornya, dia masih biasa saja, tapi saat masuk, lututnya lemas, karena ebgitu banyak bayangan hitam, di dalam gedung itu, begitu masuk, energinya terasa berbeda, sangat mencekam dan menakutkan.


Ini bukan kantor biasa, bukan kantor di mana perusahaan Aditia dan kawanan berada, itu kantor yang berbeda, ini markas lain yang dibangun tidak begitu tinggi, bahkan belum selesai pembangunannya. Ini gedung yang dipersiapkan untuk kegiatan kawanan dalam menampung para tuan baik untuk Karuhun atau khodam. Bisa dibilang, cabang dari AKJ yang tanahnya lebih luas itu.


“Ini? kantor lah Pak.” hartino berkata dengan tertawa kecil.


“Kantor macam apa banyak setannya gini.”


“Bukan setan Pak, itu Karuhun dan Khodam.”


“Khodam saya tahu, Karuhun saya tidak paham, tapi yang tidak kelihatan dan hanya orang tertentu yang bisa melihat, menurut saya itu khodam.” Arifin bersikeras melihat setan di mana-mana.


“Tenang saja, apa yang bapak lihat, mereka tidak akan mengganggu, kecuali Bapak ganggu duluan.” Aditia menenangkan.


“Kalian 6 anak muda yang ....”


“Aneh?” Hartino melanjutkan perkataan Arifin yang  terpotong tadi.


“Bukan, bukan ... unik maksudku.”


“Hanya diperhalus saja itu mah.” Alisha menutup tirai yang sangat besar dan berat itu, tapi dia bahkan tidak menyentuh tirainya, dia hanya menggerakkan tangannya seoleh menutup tirai, tirainya seperti pesuruh yang nurut dengan gerakan Alisha.


“Astaga!” Arifin terjatuh dari bangkunya.


“Duh, kenapa Pak!” Ganding segera membantu pria itu duduk lagi dengan tenang.


“Itu bayangan di balik wanita itu sangat besar, hitam pekat dan menakutkan.” Arifin gemetar.


“Oh, itu khodamnya, namanya Rangda, mau kenalan?” Hartino tertawa kecil lagi.


“Sudah jangan bercanda. Maaf Pak, itu Alisha bercanda, tirai itu perlu ditutup untuk memastikan tak ada pihak lawan yang akan melihat Bapak, tirai itu terbuat dari bahan khusus yang datang dari AKJ, sudah dimantrai oleh Ayi langsung, jadi makhluk ghaib tidak adapat tembus, jika saja pagar ghaib di sekeliling gedung jebol, maupun kaca serta dingdingnya juga jebol, maka tirai itu akan menjadi pertahanan terakhir markas ini.”


“Kalian sedang berperang atau gimana, saya merinding.” Pria itu makin khawatir.


“Tidak, hanya bersiap saja.” Adiia menjelaskan lagi setelah tadi melarang yang lain bercanda.


“Kalian ini ... apa? siapa?”


“Kami hanya manusia biasa Pak, sama seperti Bapak, tapi kami diberikan keberkahan, mampu melihat makhluk ghaib dan dilatih oleh ayahku sekaligus bapak mereka untuk dapat mengendalikan khodam kami, atau jin yang mengikuti, baik kami dari lahir atau bawaan dari suatu tempat. Yang tentu sifat khodam itu mengikuti tuannya, jika baik, maka baiklah dia.”


“Dit, maksudnya Qorin?”


“Bukan Pak, itu berbeda, karena Khodam tidak menyerupai kami, khodam memiliki wujud sendiri dan biasanya mengabdi, melindungi dan bertarung jika tuannya ada masalah dengan hal ghaib, tapi banyak juga yang malah merusak tuannya.


Maka dari itu, tugas kami membantu orang-orang yang dilukai oleh makhluk ghaib dan ....”


“Dan apa Dit?” Arifin penasaran.


“Dan tugas utama kami adalah, menjemput jiwa yang tersesat, jiwa yang harusnya kembali ke Tuhannya, tapi malah tetap berada di sini karena merasa masih ada urusan, maka kalau bapak bertanya kami siapa? kami adalah penjemput jiwa yang tersesat.”


“Kalian masih muda tapi sudah sangat bermanfaat untuk orang banyak.” Di titik Ini, Arifin merasa takjub.


“Karena kami dididik oleh orang yang tepat, Pak. Kami banyak menemui yang dididik tidak tepat, makanya kami memiliki tujuan yang sangat mendesak yang sangat membutuhkan bantuan Pak  Arifin.” Aditia berusaha masuk ke tujuan awal Arifin dibawa ke kantor ini. Markas kedua kawanan.


“Butuh bantuan saya? untuk apa?” Arifin mulai was-was lagi.


“Kami butuh penglihatan Bapak, kami butuh penglihatan bapak malam itu.” Aditia berusaha menjelaskan.


“Tapi kan sudah saya jelaskan Dit, saya hanya melihat bayangan.”

__ADS_1


“Maka kami bisa bantu perbaiki penglihatan itu menjadi jelas. Karena penglihatan yang benar dan jelas itu, masih ada di dalam memory bapak yang dibatasi oleh otak trauma Bapak, tapi sebenarnya penglihatan itu masih tersimpan rapat di memori Pak Arifin.”


“Hah? kalian ini sedang bicara apa sih, saya tak paham.”


“Bapak melihat sosok itu dengan jelas sebenarnya, tapi karena Pak Arifin meyakini bahwa setelah Bapak menebus rasa bersalah, penglihatan itu akan hilang, maka kaburlah penglihata itu, karena apa yang bapak yakini.” Ganding masuk menjelaskan teorinya.


“Bagaimana mungkin, orang saya bisa lihat karena dosa saya, sekarang saya sudah sedikit sembuh.”


“Tidak Pak, penglihatan itu sudah ada sejak bapak lahir, kita semua memiliki panca indera keenam yang orang jarang tahu, tapi karena di didik di lingkungan yang tidak percaya dengan hal ghaib, maka bapak yakin tidak bisa melihat, maka tumpullah indera keenam itu.”


“Lalu kenapa saya bisa melihat lagi setelah saya melakukan dosa pada orang itu, korban laim asuransi yang saya gagalkan?”


“Karena rasa takut dan bersalah, pelan-pelan meruntuhkan keyakinan bapak, maka dinding yang semula menutupi penglihatan bapak, akhirnya hancur, bapak bisa melihat jiwa yang tersesat itu, yang sebenarnya mungkin juga ikut andil merusak dinding keyakinan akan hal ghaib pada otak dan hati Bapak.


Setelah Bapak selesai menebus rasa bersalah, maka Bapak merasa sudah selesai juga penglihatan itu, tapi dinding yang sudah dihancurkan, tak mungkin dibangun kembali, tapi akhirnya otak bapak yang perlahan meyakini bahwa Bapak akan sembuh dari melihat hal ghaib itu, menciptakan kabut pada penglihatan bapak, hanya agar bapak merasa aman.


Karena begitulah kinerja otak kita, terkadang mereka mengelabui kita hanya agar kita merasa aman.”


“Ini asumsi kan? hanya teori yang belum tentu kebenarannya?” Pak Arifin sangsi.


“Benar, hanya teori, makanya kami memohon pada Bapak, bantu kami, maka kami akan bantu Bapak.”


“Saya butuh bantuan apa?” Arifin bingung dengan sistem barter ini.


“Pria itu masih terus mengikuti Bapak.” Ganding menunjuk ke arah belakang pria paruh baya itu.


Pria itu terdiam dan melihat ke belakang.


“Tak ada apa-apa.” Pria it kaget tapi jadi tenang karena tak melihatnya.


“Karena dia memang menghindarimu, dia tak ingin terlihat, tapi terus menempel padamu.” Ganding menambahkan.


“Tidak mungkin, pria itu sudah tenang kembali ke alamnya.”


“Jiwa pria itu memang kembali, tapi bagaimana dengan Qorinnya, apakah dia juga bisa tenang?”


“Ya, jin yang menyerupai korban bapak, jin yangi kut bersama kita sejak lahir dan akan menyeruai kita.”


“Ke-kenapa dia masih menempel pada saya.”


“Tidak tahu, aku mau tanyakan tapi dia diam saja.” Aditia menjawab dengan jujur, karena Qorin ini hanya diam saja tak mau bicara.


“Aku harus tahu, apakah masih ada kesalahanku?”


“Makanya kami bisa bantu itu, gimana, apakah Bapak mau mulai pertukaran ini?” Ganding masuk dengan langkah yang cukup indah.


“Saya bisa berkomunikasi dengan Qorin itu?”


“Bisa asal Bapak mau diterapi, maka semua hal yang Bapak lihat bisa pulih kembali. Kami dapat wajah makhluk itu dan bapak dapat bicara secara langsung dengan Qorin itu.”


“Apakah setelah selesai urusan saya bisa minta kembali untuk melihat mereka secara samar saja? Saya merasa tenang jika begini. Kalau melihat jelas, saya sangat takut.”


“Tidak bisa, itu masalahnya, kami dilarang keras menutup penglihatan orang, karena itu berlawanan dengan keyakinan kami, tidak sesuai dengan etos kerja yang kami miliki.”


“Jadi maksud kalian, sekali dibuka, maka takkan bisa di tutup lagi.”


“Itu sangat menakutkan ya.” Arifin mulai ciut.


“Kami mohon Pak, karena kasus ini kami menemui jalan buntu, kami tak bisa masuk terowongannya, kemungkinan karena tak diundang, sosok yang bapak lihat itulah yang bisa membantu kami masuk, maka kami mungkin bisa tahu asal-usul tewongan itu.


Kami hanya mau mencegah timbul korban lagi, itu membuat kami merasa bersalah.”


“Kalian benar-benar tak memiliki upah atas pekerjaan ini?” Tiba-tiba Arifin bertanya.


“Tidak, malah banyak dari kami yang akhirnya mengupahi para korban yang kami tolong, karena kebanyakan berasal dari keluarga kurang mampu.”

__ADS_1


“Trus kalian dapat Apa, Dit?”


“Kami? Dapat sebuah ketengan batin, karena jika tidak menolong satu hari saja orang yang memang butuh kami itu, maka kami akan merasakan rasa bersalah yang sangat. Jadi, keberkahan ini bukanlah sesuatu yang diberikan pada kami untuk kami nikmati sendiri, atau untuk keuntungan kami, Tapi untuk bisa bermanfaat bagi orang lain.”


“Maka kalian juga beruntung, memiliki gedung ini dan kekayaan lainnya, tentu ini semua diberikan kepada kalian karena memang kalian orang-orang baik yang mampu menjaga amanah.” Arifin menambahi.


“Kalau begitu, bagaimana dengan barter kita?” Hartino bertanya lagi.


“Baiklah, mari kita lakukan apa yang menurut kalian benar, karena aku percaya pada kalian, kalian melakukan untuk banyak orang.”


Kawanan senang, mereka akan segera melakukan sesi terapi segera.


...


“Pak, bangun, anak-anakmu menunggumu.” Istri supir taksi itu masuk sendirian ke ruang ICU, suaminya masih koma, sudah satu minggu. Karena ini masuk ke kecelakaan kerja, maka perusahaan taksinya menanggung semua biaya perawatan, termasuk memberikan sumbangan untuk sekolah anak mereka.


Suaminya masih saja belum bangun.


“Pak, anak-anak bilang mau bikin kamu bangga, harus bangun ya.” Istrinya mulai memberikan kata-kata yang menyemangati agar suaminya segera pulih.


Saat dia terus membisiki kata-kata penyemangat, dari kaca wanita itu sekilah melihat ada yang lewat.


Dia menengok untuk memastikan siapa yang datang, tapi ... tidak ada siapa-siapa. Di ruang ICU itu ada beberapa pasien dan karena letak supir taksi berbaring itu dekat pintu masuk, maka jendela kaca dari luar ruangan terlihat sangat jelas, kalau ada yang lewat, langsung ketahuan, karena jarang sekali jendela itu di tutup tirainya. Mungkin memudahkan melihat pasien, walau ada begitu banyak alat untuk memastikan pasien baik-baik saja, tapi lebih mudah melihat langsung bukan?


Entah karena penasaran atau karena merasa mengenal yang baru saja lewat, wanita itu akhirnya keluar dari ruangan, masih wilayah ICU tapi aneh, kenapa petugas di ruang ini tidak ada satu pun.


Wanita itu melihat dengan seksama, ada seorang pria yang sedang berjalan, pria itu berjalan perlahan, jarak mereka hanya beberapa langkah saja.


“Pak ... Pak ....” istrinya memanggil lelaki yang berjalan membelakanginya, mendengar panggilan, oria itu akhirnya berhenti berjalan.


“Pak ... itu kamu?” Wanita itu berjalan perlahan hendak mendekati pria yang dia yakin adalah suaminya, dia lupa bahwa suaminya masih dirawat di dalam.


“Pak ... Pak mau ke mana?” istrinya bertanya.


Si suami masih saja membelakanginya, sedang istrinya hampir mendekati si suami.


Saat sudah sangat dekat, istrinya mencoba untuk menepuk bahu suaminya.


Sesaat setelah tangannya menyentuh bahu itu, istrinya lemas dan terjatuh, bagaimana tidak? bahu itu terasa sangat dingin sekali, dia memiliki firasat yang menakutkan soal ini.


Dia terus memandang bahu suaminya, masih membelakangi tanpa sekali pun berbalik.


“Pak ... Bapak mau kemana? Ayo kita pulang.” Istrinya menangis, dia mengusap air mata dan ....


Suasana ICU kembali ramai, hanya dalam hitungan detik, suasana itu berubah menjadi begitu ramai dan terang benderang.


Beberapa perawat mendekati ibu itu dan berusaha membangunkannya.


“Bu, ibu istri pasien Bapak itu kan?” Seorang perawat yang membantu membangunkan ibu itu bertanya, dia menunjuk ruangan supir taksi itu.


“Iya Sus, kenapa?”


“Kondisinya gawat, cepat bu, Dokter sekarang sedang memeriksa, panggil anak-anaknya ya, Bu, supaya masih ada kesempatan ketemu.” Perawat itu segera membangunkan ibu itu dan mengantarnya ke ruangan suaminya.


Ibu itu berlari bersama dua perawat yang membantunya itu.


Saat sudah sampai di ruangan itu, istri supir segera masuk, dia melihat suaminya sedang diperiksa oleh Dokter dengan intens, istrinya hanya diam dan menangis, dalam hati dia berdoa agar suaminya selamat, tapi semua raut wajah Dokter dan Perawat memperlihatkan sesuatu yang sangat mengkhawatirkan.


Apakah dia melihat suaminya barusan adalah cara suaminya untuk pamitan? Istrinya menangis sejadinya, dia tak ingin mengganggu Dokter itu, tapi dia juga sangat ingin memeluk suaminya.


“Dok ... tolong suami saya Dok, tolong.” Dia hanya bisa berkata seperti itu dengan pelan dan berusaha kuat hingga memastikan bahwa suaminya bisa stabil lagi.


Tapi takdir berkata lain ... tak lama kemudian, waktu kematian pasien disebutkan oleh Dokter, si istri lemas, dia terduduk di lantai, air mata jatuh tanpa bisa dibendung, dia tidak mengerti dengan apa yang terjadi, baru saja dia melihat suaminya berjalan di luar, tapi sekarang suaminya telah tiada, dia sadar sekarang, bahwa suami yang ada di luar itu bukanlah suaminya.


Wanita itu menangis tapi tidak histeris, dadanya sangat sakit, dia bahkan sesak nafas karena tidka mampu berteriak, dia menangis tanpa suara, lalu setelahnya gelap.

__ADS_1


Sebelum itu, dalam pikirannya hanya satu, bagaimana bisa dia menjalani hidup tanpa suaminya?


__ADS_2