Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 222 : Wangapuk 4


__ADS_3

“Kalian! Kenapa sih pada terluka begini, kemarin si Har, sekarang kau.” Dokter Adi mengeluh, padahal yang terluka Hartino.


“Ya, namanya juga kasus Dok.”


“Kalian benar-benar membuatku mengingat kelakuan Malik yang setiap kali datang padaku karena babak belur.”


“Oh Malik suaminya Ayi Dok?”


“Ya, dia.”


“Apakah dulu dia juga menangani kasus seperti kami,” Ganding bertanya.


“Ya, tapi bukan kasus umum, hanya kasus yang berhubungan dengan Seira, kasus yang bisa membahayakan Seira.”


“Oh begitu, wah kisah cinta yang luar biasa ya Dok.”


“Ya, kisah cinta yan melelahkan juga.” Dokter Adi memang seseorang yang penuh logika, karena dia paling tidak suka jika itu soal cinta. Apa yang dia lihat pada Malik, membuatnya merasa cinta hanya membawa masalah.


“Jadi gimana Dok, apakah pahanya Ganding baik-baik saja?” Jarni yang sedari tadi hanya duduk diam bertanya.


“Baik-baik saja, tidak dalam kok. Kau butuh obat pereda nyeri atau tidak usah? Kita yang punya khodam biasanya bisa menahan sakit sepuluh kali lipat dibanding orang lain.”


“Ya, tidak perlu Dok, aku merasa baik-baik saja sebenarnya.”


“Kau tidak baik-baik saja!” Jarni menatap marah pada Ganding.


“I-iya, aku sakit kok.” Ganding takut melihat mata Jarni yang sangat marah.


“Tadi katamu tak sakit.” Dokter Adi meledek.


“Sakit Dok.” Ganding mengedipkan satu matanya agar Dokter Adi mengerti.


“Kalian sedang menangani kasus apa?” tanya Dokter Adi.


“Rumah susun yang dihantui Wangapuk Dok, anak kecil yang meminta camilan.”


“Oh ada kasus begitu, lalu apakah anak itu sudah diantar pulang?”


“Gimana diantar pulang, orang jin bukan ruh.”


“Hah? tapi jin itu anak kecil?”


“Bukan Dok, justru itu jin yang sangat besar dan hitam legam.”


“Oh, orang sering menyebutnya genderuwo. Tapi aneh ya, tak ada itu cerita genderuwo suka makan cemilan, yang ada dia suka menggoda istri orang dengan menyerupai.”


“Iya sih Dok, tapi ini kejadian. Buktinya dia sangat kekanakan untuk ukuran tubuh yang begitu besar itu.” Ganding mencoba menjelaskan duduk masalahnya.


“Bagaimana jika, memang itu bukan prilaku aslinya? Ya kau tahu lah, menyerupai orang saja dia bisa, apalagi membodohi orang. Kau sudah tawarkan apa padanya untuk pindah dari sana?”


“Tawarkan tempatku dan makanan yang dia suka tentunya, tapi dia menolak.” Ganding berkata lagi.


“Berarti benar, kalian dibodohi, ada sesuatu yang membuatnya tetap ingin di sana.”


“Misalnya kepuasan mengganggu orang bukan Dok?”


“Entahlah, kalian tetap harus memindahkannya bukan?”


“Ya.”


“Saranku, coba selidiki dulu, jangan asal bantai. Dulu Malik selalu menyelidiki beberapa lama dulu baru bantai, tapi itu juga dia masih sering salah kira.”

__ADS_1


“Ya, kami kita harus lebih melihat lebih jauh Dok.” Jarni setuju.


“Yasudah, Ganding kau tetap butuh pereda nyeri?”


“Dok!” Ganding kesal karena Dokter Adi menyulut api marah Jarni lagi.


Setelah berobat, Ganding mengantar Jarni pulang, lalu dia juga pulang ke rumahnya.


Begitu sampai rumahnya dia tidak langsung tidur, dia pergi ke perpustakaan rumah yang sangat besar itu, ada sesuatu yang harus dia pastikan.


Ganding membuka sebuah buku, judulnya adalah mitos genderuwo. Entah kenapa, setelah mendengar Dokter Adi berkata tadi, Ganding merasa ada yang janggal dengan kelakuan genderuwo itu.


Halaman demi halaman dia buka dan semakin yakin bahwa ada yang salah.


...


“Kau sudah membacanya kemarin?” Ganding membawa buku yang semalam dia baca ke rumah Jarni, mereka janjian sarapan bersama.


“Iya.” Mereka sedang sarapan di meja makan, sedang ibunya Jarni sedang menyiapkan sarapan, ayahnya belum turun. Makanya Ganding sempat memberikan buku yang sedang dia baca.


“Nding, kamu mau sarapan apa?” Ibunya Jarni bertanya, karena mereka selalu menyiapkan beberapa jenis sarapan.


“Roti tawar selai coklat.” Jarni menyiapkan sarapan untuk Ganding.


“Oh ya, maaf lupa.” Ibunya Jarni duduk dan menyiapkan sarapan untuk suaminya.


Ayahnya Jarni turun dan dia terlihat senang dengan kedatangan Ganding pagi ini.


“Nding, ayahmu sudah di pulang?” Ayahnya Jarni bertanya, karena ayahnay Ganding sedang tidak di Indonesia, mengurus beberapa bisnis di luar negeri.


“Belum Om, masih ada urusan katanya, satu atau dua bulan lagi pulang, mama juga kemarin nyusul.”


“Oh ya, kalau sudah pulang kasih tahu ya, Om ada urusan.”


“Itu, perjanjian pranikah kalian harus dibahas, beberapa waktu lalu, ibunya Hartino sudah memberikan draftnya ke Papi, Jarni.” Ibunya Hartino memang menjadi pengacara keluarga semua teman dekat anaknya.


“Pap!” Jarni berteriak, Ganding senyum tertunduk.


“Ya kalian kelamaan, kalau kami nggak bergerak kalian juga nggak akan bergerak bukan? kami akan atur pernikahan kalian, pokoknya kalian tinggal duduk santai aja nanti di pelaminan.” Ayahnya Jarni santai sekali.


“Pap, ini bisa kan aku sama Ganding yang bicara dulu, kami belum pada tahap itu.”


“Nding, kamu keberatan pernikahan kami yang urus?” Ayahnya Jarni bertanya.


“Tidak Om, silahkan.” Dengan mantab Ganding menjawab.


“Nding!” Jarni kesal karena Ganding tidak mendukung perkataannya.


“Buat Papi, Ganding sangat tepat untukmu, kami menanti pernikahanmu dengan Ganding harap cemas, karena pernikahanmu harus dengan keluarga yang kami kenal. Melihat kalian berdua sudah sangat dekat, aku tidak ingin menunggu lama lagi. Tidak sabar menggendong cucu.” Ayahnya Jarni terlihat sangat senang.


“Ya, aku juga nggak sabar Om.”


“Ganding!” Jarni kesal dia melempar roti tawarnya ke piring Ganding.


“Eh! Nggak sopan sama calon suami.” Ibunya Jarni marah, dia mendekati anaknya dan menjewer anaknya di depan Ganding.


“Tante nggak apa, masih mending dibuatkan roti, biasanya Ganding buat sendiri kalau sarapan di sini.”


“Eh anak ini harus dididik ulang deh Pi, masa sama calon suami kurang ajar gini.” Ibunya Jarni masih kesal.


“Sakit Mami.” Jarni kesal.

__ADS_1


Pernikahan tentu hal yang membahagiakan, tapi pernikahan yang diatur paksa itu lain hal, walau yang akan dinikahi dengannya adalah orang yang dia cintai.


Tetap saja pernikahan adalah pembicaraan intim, bukan pembicaraan bisnis. Bisnis kedua orang tua merekalah yang membuat ayahnya Jarni memaksa pernikahan dilakukan dengan cepat. Ganding akan menjadi sebuah pertukaran bisnis yang mumpuni bagi mereka. Jadi kalau ayahnya Ganding mundur, taruhannya adalah kebahagiaan anaknya.


Jarni tidak suka, ayahnya tidak pernah berubah dari dulu hingga saat ini, selalu memaksa dan mengatur sesuka hatinya.


Setelah sarapan mereka berdua akhirnya ke kamar kerja Jarni yang besar itu.


Jarni ingin membaca lebih tenang tentang mitos genderuwo ini.


Sementara Jarni membaca, Ganding duduk menonton televisi di ruang kerja itu.


“Aku tidak suka ya kau terlalu setuju dengan papi.” Jarni membahas apa yang mereka bicarakan saat sarapan tadi.


“Kau tidak ingin menikah denganku?” Ganding bertanya.


“Tidak begitu.” Jarni memasang wajah manisnya, karena takut Ganding salah tangkap dengan perkataannya.


“Biarkan mereka mengurusnya, kita tidak punya waktu mengurus detailnya bukan? akad adalah utamanya, lalu resepsi hanya formalitas, tidak perlu terlalu pusing. Kita masih punya banyak masalah setelah pernikahan. Kau mengerti itu kan Jarni?”


“Ya aku mengerti, tapi apakah kau tidak paham, kenapa papi ingin sekali pernikahan ini cepat-cepat?”


“Kau pikir aku telah berubah menjadi bodoh?”


“Lalu kenapa kau setuju saja, kau dijadikan jaminan bisnis mereka.”


“Terus kenapa? aku tidak pernah keberatan jika itu membuatku semakin dekat denganmu.”


“Ganding!” Jarni kesal.


“Jarni, lihat aku,”Ganding mendekati Jarni yang duduk di meja kerjanya, “jaminan atau bukan, bisnis adalah bisnis, kau merajuk marah atau malah meminta pernikahan batal, mereka akan tetap memaksa. Jangan melawan, energi kita sudah habis untuk masalah kawanan sayangku. Abaikanlah, pernikahan ini akan mewah seperti biasanya bukan? sekarang fokus pada apa yang harus kita selidiki, kau sudah selesai membaca?”


“Sudah.” Jarni memang sudah selesai membaca.


“Apakah kau menemukan ada tulisan tentang sesuatu yang menyimpang tentang kelakukan genderuwo itu pada buku mitos yang dikeluarkan oleh penerbit terpercaya kita?”


“Tidak, semua sama, genderuwo itu selalu menyerupai lalu menjadi ganas saat melihat gadis atau istri orang yang mengundang birahi.” Jarni menjawab dengan yakin.


“Kalau begitu Dokter Adi benar, ada yang salah dengan kelakukan jin itu, apa dia sakit mental?”


“Nding! Pemikiranmu liar kalau kakak nggak ada di samping kita.”


“Lalu apa lagi? kau punya teori lain?”


“Mungkin dia sedang bersandirwara?”


“Memang dia mau menjadi artis makanya bersandiwara?”


“Nding! Kau bercanda terus nih.”


“Maafkan aku. Jadi apa alasannya dia bersandiwara?”


“Agar kita berhenti dan percaya pada perkataannya, dia mungkin ingin kita berhenti tapi tak menyangka memintanya ikut pergi dari rumah susun itu.”


“Jadi kita harus menyelidiki motifnya? Menelusuri asal-usul jin itu bukan hal yang mudah bukan?” Ganding bertanya.


“Ya, tidak akan di internet, tapi kita bisa bergosip.”


“Oh, ya kau benar, kita bisa bergosip, cara paling ampuh. Kalau begitu, kita ke rumah susun itu lagi, mumpung masih siang, kalau beruntung, mungkin malam kita bisa menemukan jawabannya dan menangkap jin itu.”


“Ya, ayok.”

__ADS_1


“Tuh kan, apa aku bilang, masalah kita jauh lebih banyak, biarkanlah mereka mengurus semuanya, jangan terbebani dengan niat kedua orang tua kita, selama mereka tidak membuat kita terpisah, abaikanlah.” Ganding berkata lagi, dia benar-benar ingin Jarni tidak terlalu keras pada orang tuanya, dendam masa lalu Jarni pada dua orang tuanya sepertinya belum tunai.


Tentang saudara kembarnya ... Ganding berusaha untuk menyembuhkan luka itu dan menerima bahwa semua orang tua ada salahnya dan anak tidak berhak menghukumnya, karena niat orang tua selalu untuk perlindungan pada anaknya.


__ADS_2