
“Aku akan bersamamu di sini ya,” Alisha masuk ke kamar yang Hartino pakai untuk mencari data mengenai Sak Gede. Hartino tersenyum, karena akhirnya Alisha mau di sana bersamanya.
“Kau tidak takut lagi padaku?” Hartino bertanya pada Alisha. Alisha menggeleng dan duduk di samping Hartino walau dengan jarak yagn cukup untuk membela diri bila ada penyerangan.
“Tidak takut tapi kau menjaga jarak.” Hartino melihat jarak duduk Alisha cukup jauh.
“Hanya berjaga jika salah satu dari kita diserupai lagi, setidaknya kita masih punya jeda yang cukup untuk melawan.” Alisha tersenyum tanda dia sudah berusaha untuk bisa mengendalikan rasa takutnya.
“Apa yang sudah kau dapatkan?” Alisha bertanya.
“Aku tidak mendaparkan apapun, tidak ada di darkweb sekalipun, aku coba mencari referensi lain, kadang memang sesosok makhluk tidak pernah dibahas karena mereka memiliki nama lain, sedang nama aslinya tidak ada yang tahu. Sepeti kita semua tahu GANDARUWA adalah nama asli dari genderuwo, yang kita tahu selalu berbeda dari kebanyakan yang orang pahami.”
“Lalu referensi apa yang kau dapatkan?” Alisha bertanya.
“Kalau dua kata itu dipisah maka akan menjadi, SAK dan GEDE, SAK itu kalau diartikan dalam bahasa Jawa adalah SEPERTI.”
“Kenapa dalam bahasa Jawa? Bukan Bali?” Alisha memotong perkataan suaminya.
“Karena Bali dan Jawa memiliki sejarah yang sangat dekat, makanya banyak akulturasi yang terjadi di antara dua kebudayaan daerah tersebut. Karena tidak dapat menemukan di Bali sejarah SAK GEDE, maka aku bergeser ke kebudayaan Jawa yang mungkin teralkulturasi dengan kebudayaan Bali.
Maka aku menemukan setan ini, MOTO SAK TAMPAH. Setan ini terkenal dengan mata yang sangat besar tanpa tubuh, kata SAK ini diartikan sebagai pengacuan pada besarnya suatu objek. MOTO SAK TAMPAH, mata sebesar tampah, SAK itu diartikan sebagai kata seperti atau sebesar.”
“Ok, lalu GEDE? Apakah itu mengacu pada kata besar?” Alisha polos mengartikannya karena terinterupsi pada cara Har menjelaskan tentang kata SAK.
“Kan aku bilang akulturasi sayang, artinya … ada percampuran kebudayaan, artinya, kata GEDE ini harusnya merujuk pada kebudayaan Bali, yang biasanya, kata GEDE ini adalah nama yang biasa diberikan untuk anak pertama pada keluarga Bali, maka kalau merujuk pada alkulturasi ini, kita bisa menemukan jawaban bahwa SAK GEDE adalah SEPERTI YANG PERTAMA atau SEBESAR YANG PERTAMA atau bisa juga MENYERUPAI YANG PERTAMA. Dari sini kita bisa tarik kesimpulan bahwa, menyerupai dari apa yang ingin dia serupai, tingkatan penyerupaannya sangat tinggi, bahkan sampai kepada energi.”
“Aku seperti melihat Ganding.” Alisha tertawa mendengar Hartino mendapatkan kesimpulan sebaik itu.
“Apa aku terlihat cerdas?” Hartino bertanya.
“Kau memang cerdas, walau tak secerdas Ganding.”
“Ya, aku di tim ini kan memang terkenalnya tampan, bukan jenius seperti Ganding atau mahir sepert Aditia, itu juga kan yang membuatmu jatuh cinta padaku?”
“Kau mau membual? Aku suka padamu karena peletmu, ini pasti kerjaan khodammu.” Alisha mengelak.
“Bohong, kau pasti ... SIAPA ITU!” Hartino bangkit dan menarik tangan Alisha, dia tak ingin meninggalkan Alisha sendirian, makanya dia menarik Alisha mengejar sosok yang dia lihat, takut kalau Alisha nanti kembali dikerjai.
Sementara Aditia dan yang lain masih sibuk mencari.
Aditia mencari sumbernya di kamar utama, saat sedang mencari, dia melihat jejak yang aneh di kamar utama, seperti jejak kaki, kaki itu mengarah pada kamar mandi, Aditia terus masuk ke kamar mandi, memperhatikan keadaan sekitar, memastikan bahwa memang ada yang salah dengan kamar itu, saat melihat ke atas, dia melihat … dirinya sendiri sedang bergelantungan.
“Hei! Sedang apa kau di sana!” Aditia berteriak pada dirinya sendiri, tapi sayang, Aditia palsu itu bergerak lebih cepat menyusuri atap, dia keluar dari kamar mandi dan hilang.
Aditia mencoba menelisik, kenapa Aditia itu tiba-tiba muncul, mengapa dia muncul pada saat tertentu, pada saat kapan? Pada saat di mana, kalau kamar ini pemicunya, kenapa ada Alka di kolam renang itu, apakah memang ada lubang atau memang ….
“Hei! Berhenti kau di sana!” Hartino yang menarik tangan Alisha dia berlari berteriak dengan sangat kencang, melewati kamar utama, Aditia ikut mengejar, ternyata mereka sedang mengejar Alka.
Aditia berlari ikut mengejar Alka bersisian dengan Hartino.
“Har! Kita mengejar Alka?” Aditia bertanya.
“Alka palsu, karena dia tadi mengendap. Itu pasti bukan kakakku.”
__ADS_1
Saat mereka semakin dekat, tiba-tiba Alka palsu berubah menjadi butiran debu.
Alka yang asli berada di dekat situ, dia berlari mengejar suara teriakan, karena dia juga sedang berada di belakang rumah tadi.
“Hilang! Kalian sadar nggak sih! Kalau mereka yang menjadi debu itu, ketika hampir dekat dengan sosok aslinya.” Aditia melontarkan hal yang sebenarnya kawanan baru saja sadari.
“Ya aku pikir begitu, aku perlu bicara dengan kalian!” Hartino berkata, dia ingin semua kembali ke meja makan saja untuk berbicara.
Ketika mereka semua sudah di meja makan, Hartino menceritakan persis seperti yang diceritakannya pada Alisha soal akulturasi antara Jawa dan Bali itu. Ganding bertepuk tangan setelahnya.
“Kau cerdas, itu masuk akal Har.” Ganding senang melihat temannya mulai menggunakan akalnya, tidak hanya bertumpu pada data yang tersebar di mesin pencarian saja, tapi juga dapat mengambil kesimpulan dengan baik.
“Jadi maksudmu nama itu berarti adalah seperti yang pertama, seperti indung aslinya, maksudmu dia jin yang menyerupai dengan sangat sempurna begitu, karena saking sempurnanya, maka bisa dibilang SEPERTI YANG PERTAMA, bukan replika, bukan tiruan, tapi seperti yang pertama, lalu pertanyaannya, lubangnya di mana?” Aditia bertanya.
“Kalau ini, bolehkah aku yang mengemukakan pendapat? Karena aku yakin, Hartino tidak akan sampai ke sana.” Ganding mencemooh, Hartino kesal.
“Kau pikir aku bodoh?”
“Lalu memang kau bisa menjelaskan relasinya?” Ganding menantang.
“Kau sajalah, aku tidak mau melangkahimu.” Hartino mundur, Alisha tertawa.
“Baiklah, aku akan mulai pada kesimpulan. Seperti yang aku katakan sebelumnya bahwa ini bisa kita relasikan dengan penyakit bernama Amebiasis, penyakit ini disebabkan oleh parasit bernama amoeba Entamoeba histolytica. Larva parasit penyebab amebiasis akan tidak aktif apabila berada di pupuk, tanah, air, maupun feses pengidap. Meski begitu, saat memasuki tubuh manusia, larva akan bersifat aktif atau trofozoit. Larva aktif ini akan mudah berkembang biak di saluran pencernaan, lalu bergerak dan akhirnya menetap di dinding organ usus besar.
Ok, aku akan ke intinya Dit, aku tahu kau akan protes.
Jadi intinya adalah, seperti yang kita tahu, bahwa mereka yang menyerupai kita bukanlah peniru, tapi diri kita sendiri!” Ganding mengatakannya dengan pasti.
Lalu Ganding melanjutkan penjelasannya.
“Jadi aku pikir yang paling tepat adalah, mereka yang kita lihat bukan peniru, tapi mereka adalah parasit yang keluar dari tubuh kita, dipanggil oleh Sak Gede, sosok yang memberi penyakit pada jiwa kita hingga bisa keluar dari tubuh.
Kita terus saja mencari lubang, padahal lubang itu adalah ....”
“Kita sendiri!” Semua orang paham dengan apa yang Ganding katakan dan memberikan jawaban bersamaan.
“Ya betul, lubangnya adalah kita sendiri, karena diri kitalah jiwa yang sakit itu keluar dari tubuh kita lalu menjadi diri kita yang sangat mirip, bukan mirip, karena itu memang kita.”
“Nding, pertama penyakit itu diciptakan oleh Sak Gede, kita yang datang ke sini langsung terjangkit penyakit itu, penyakit itu entah bagaimana caranya masuk ke tubuh kita, seperti prinsip penyakit Amebiasis, di mana parasit akan aktif hanya bisa ada di dalam tubuh manusia, maka penyakit yang dibuat oleh Sak Gede menyebabkan penyakit itu aktif di dalam tubuh kita, setelah aktif, kembali ke prinsip penyakit tersebut, parasit itu berkembang biak dengan cara membelah diri, maka Sak Gede membuat jiwa kita membelah dirinya lalu keluar menjadi wujud kita yang sangat mirip, karena memang dia adalah kita hasil dari proses pembelahan jiwa yang difasilitasi oleh Sak Gede untuk memiliki tubuh untuk melengkapi jiwa itu. Tubuh yang tentu saja memiliki energi kita, karena sifat tubuh hanya seperti pakaian bagi jiwa, menutupi sisi asli dari jiwa itu, tak heran tubuh itu menjadi sangat mirip dengan kita.
Jadi lubangnya memang kita, lubang tempat perkembangbiakan itu memang tubuh kita kan, Nding, tapi pertanyaannya, apa yang memicu jiwa itu keluar dari tubuhku, aku bahkan tidak merasakannya sama sekali, dia keluar dari tubuh kita.”
“Dit, kalau itu aku belum dapat jawabannya, bagaimana jiwa yang membelah diri akibat dari parasit itu bisa keluar dari tubuh kita, atau lubangnya, hingga dia bisa menyerupai kita atau menjadi kita yang lain.”
“Kita sudah ketemu lubangnya, tapi tidak dapat menemukan pemicu dari bagaimana caranya lubang itu bisa terbuka, apa pemicunya? Itu yang harus kita cari, Nding, Dit.”
“Har, coba ingat-ingat, apa kira-kira yang kau lalui sebelum akhirnya Alisha terjebak di kamar utama itu?” Aditia bertanya.
“Sebentar, kami menyusuri areal belakang vila ini bukan? tapi semua tempat pun sudah kami lewati, sama seperti kalian. Jadi tidak bisa aku dan Alisha mengingat di mana kami melewati titik di mana belahan jiwa kita yang berpenyakit itu lepas dari tubuh kita.” Hartino bingung menjelaskannya.
“Baiklah, kita runut perlahan ok.” Alka mencoba mencari jalan agar mereka bisa mendapatkan titik di mana jiwa itu bisa keluar dari lubangnya, yaitu tubuh mereka.
“Pertama kami keluar lewat pintu belakang, karena kami akan menyisir areal belakang, setelah melewati pintu belakang, kami mulai menyisir areal yang cukup luas itu, tidak lama kemudian, Alisha bilang butuh ke toilet, dia lalu kembali dalam vila untuk ke toilet itu.
__ADS_1
Karena aku pikir Alisha terlalu lama di toilet, makanya aku berusaha untuk kembali ke dalam rumah, tapi aku pikir daripada aku lewat pintu belakang, sekalian untuk menyusuri vila bagian samping, di mana jaccuzi itu berada, hanya untuk sekalian jalan melihat Alisha, sekalian susur bagian itu karena aku lewat. Hingga ketika akhirnya aku melewati jendela kamar utama, aku melihat Alisha sedang ... ya kau tahulah ya, aku tahu itu diriku, tapi bukan aku, makanya aku menggebrak jendela dan berteriak memanggil Alisha, Alisha sadar itu bukan aku, lalu aku berlari ke kamar dan bertemu Alisha yang berlari ke luar ketakutan hingga tak mau aku peluk.”
“Sulit mendeteksi titik di mana jiwa itu bisa keluar dari tubuh kita, bahkan kita tidak bisa tahu, wajar, karena jiwa itu hanya parasit yang diciptakan oleh jiwa asli, sebagai hasil dari pembelahan diri, jadi dia hanya seperti makhluk asing yang tidak kita sadari ada di tubuh kita, sehingga ketika jiwa parasit itu keluar dari tubuh kita, kita tidak sadar. Masalahnya, tidak ketemu titiknya, maka setiap orang yang datang ke sini semua akan sakit pada jiwanya dan mungkin akan sakit mental seperti Gea.” Ganding pusing.
“Lalu kenapa efeknya pada Gea sangat parah? Apakah Gea sengaja dibuat menjadi inang pertama? Memang dimaksudkan untuk menjadi ibu dari hasil perkawinan parasit jiwa itu? walau tidak hamil, kita harus tetap waspada.
Nding, kau bilang hanya pada tubuh manusialah parasit Amebiasis bisa aktif, lalu apakah mungkin Gea memang dimaksudkan untuk mengaktifkan kembali parasit jiwa itu, kalau memang begitu, berarti ada yang sengaja kan, membuat parasit jiwa itu aktif lagi, sesuai dengan teori penyakit Amebiasis itu, karena berada di dalam tubuh manusia amuba itu bisa aktif.
Berarti keluarga Gea memang ....” Aditia menahan ucapannya.
“Kalau begitu bisa jadi ....” Hartino terkejut, faktor yang mereka lupakan selama ini.
“Cepat hubungi Jarni, Nding, kita harus memastikan Gea baik-baik saja.” Aditia meminta Ganding menghubungi Jarni.
Ganding menelpon Jarni, tidak lama kemudian telepon itu dijawab Jarni, [ Apakah kau baik-baik saja?]
[Ya, aku baik-baik saja. Ada apa? apa kalian butuh bantuanku?] Jarni bertanya.
[Tidak, kami baik-baik saja, aku hanya mengecek keadaanmu. Lalu Gea bagaimana?]
[Gea juga baik, dia tidur saat ini.] Jarni menjawab.
Lalu Ganding menutup teleponnya dan memberitahu kawanan kalau Jarni dan Gea baik-baik saja.
“Syukurlah kalau merenak baik, sekarang kita harus istirahat dulu, karena ini akan mulai malam, terlebih lagi kita sudah lelah dan belum makan sama sekali bukan?” Aditia bertanya pada yang lain, apakah mereka mau istirahat dulu. Yang lain setuju.
Alisha memesan makanan ke vila, butuh waktu 1 jam makanan baru datang, mereka tidak komplain karena memang tahu kalau memasak itu butuh waktu dan jarak dari restoran ke tempat mereka menginap juga jauh, makanya mereka sabar menunggu.
Makanan disajikan di meja makan, setelah makanan sudah ditata oleh pihak vila, kawanan duduk dengan tenang dan mulai makan.
Mereka sangat lahap karena memang belum makan sejak siang, ditambah kelelahan, makan jadi ritual yang paling menyenangkan.
Dipertengahan mereka makan, tiba-tiba ada seseorang masuk ke dalam vila, kawanan terkejut, karena orang itu masuk seenaknya ke dalam vila.
“Kau! sedang apa kau di sini!” Aditia berteriak pada orang itu, karena terkejut orang itu masuk begitu saja.
“Aku memang ingin bertemu kalian, tapi maaf mungkin dalam hitungan ke 10 kalian semua akan tertidur ....”ucap orang itu. Dia terlihat aneh.
Aditia dan kawanan tidak mengerti maksud perkataan pria itu, tapi di detik selanjutnya, Aditia merasa sangat mengantuk, dia merasa matanya sangat berat, lalu tidak sadar semua terasa gelap, disusul Alka, Ganding, Hartino lalu terakhir Alisha.
Seperti yang lelaki itu katakan, bahwa kawanan akan tertidur, benar saja, mereka semua tertidur, tepatnya, dipaksa tidur, lalu sosok itu memerintahkan beberapa orang untuk mengangkat tubuh kawanan, memindahkan mereka ke tempat lain.
“Akhirnya aku mendapatkan, kalian!” ucap sosok itu.
...
Sementara di tempat Jajat, Jarni baru saja menutup telepon dari Ganding, setelah menutup telepon itu, dia melempar teleponnya ke arah kasur.
“Tadi kekasih kita menelpon, aku sudah bilang kita baik-baik saja.” Ucap Jarni pada Jarni yang lain, Jarni yang lain itu telah diikat dan di dudukkan di sofa kamar itu.
Sementara Gea duduk di samping tempat tidur dengan tatapan kosongnya, wajahnya pucat, rambutnya berantakan dan Gea tetap tak sadar walau matanya terbuka.
“Gea, kau akan menjadi ibu, tunggu sebentar lagi ya.” Jarni yang lain itu berkata dengan lembut pada Gea.
__ADS_1