Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 362 : Kemala 11


__ADS_3

Aditia terbangun, dia sedikit bingung kenapa masih ada di sini, bukankah tadi dia hendak ....


Mengingat kejadian sebelumnya dia ingin bangun dan melakukan hal yang sebelumnya dia akan lakukan, tapi langsung didorong oleh Ganding, sedang Hartino ada di sampingnya bersama yang lain, kecuali Alka.


“Kau mau ke mana?” Ganding bertanya.


“Mau menghajar Ajimantrana.”


“Ajimantrana hanya meminta bantuan, sedang Kemala memegang tanganmu dengan manja! Kau pikir apa yang ada di pikirannya Alka saat melihat itu? bisa tenang dia? padahal kau tahu dia memiliki Lanjo yang harus diatasi. Apa kau sengaja menyiksa kami semua dengan membawa Kemala ke sini?” Alisha yang menjawab, dia kesal melihat kelakuan Aditia.


“Di mana sekarang Alka?”


“Entahlah, mungkin masih berasama Ajimantrana!”


“Cha!” Hartino memarahi istrinya.


“Dia di gua.” Alisha akhirnay jujur, walau soal Ajimantrana meminta bantuan itu bohong, dia takkan ceritakan.


“Aku akan menemuinya.”


“Siapa? Kemala atau Alka! Karena kalau Kemala sudah kuantar dengan selamat semalam, jadi kau tidak perlua khawatir.”


“Tentu saja Alka!” Aditia marah.


“Kalau kau ingin kami bantu, kami tidak ingin melihat Kemala datang ke sini lagi. Kalian setuju kan?” Alisha melihat ke Jarni, sedang Hartino dan Ganding pasti tidak setuju, mereka dalam pengaruh energi kecantikan yang luar biasa.


“Ya, aku setuju, aku takkan mau membantu jika kau masih saja menjinjing Kemala ke markas kita yang suci ini, karena biarpun tubunya dirasuki khodam suci, tapi tidak pikirannya!” Jarni yang jarang bicara saja sudah muak melihat Ganding tersilaukan juga oleh kecantikan Kemala.


“Ya aku tidak masalah, dia ada atau tidak, yang penting sekarang, aku perlu bertemu Alka.” Aditia masih kekeh untuk bertemu Alka, dia sudah bersiap untuk pergi.


“Cinta memang berbeda, andai mereka berdua bisa menikah, sedang amanah bapak ....” Ganding terlihat sedih melihat sepasang manusia yang saling mencintai tapi tidak mampu bersama sebagai kekasih.


“Sudah jangan campuri romantisme orang lain, kau saja dulu berdua, menikah!” Alisha lalu keluar dari kamar, benci dengan adegan drama ini.


Aditia mengendarai angkotnya, saat dia menyetir, dia mendapatkan telepon, lalu mengangkatnya.


[Kenapa Mala?] Kemala yang menelponnya.


[Dit, kau sudah bangun? bisa ketemu?] Kemala bertanya.


[Bisa, tapi nanti aku ada keperluan.]


[Apakah kau akan bertemu dengan Alka?]


[ya, ada beberapa hal yang harus aku selesaikan dengannya.]


[Baiklah, tapi apakah bisa jangan terlalu lama, karena ....]


[Aku tidak bisa memastikan, bisa saja lebih lama dari dugaanku, maaf semalam kau harus melihat kami bertengkar.]


[Maaf aku memaksa, tapi ini darurat.]


[Soal?]


[Aku sudah menemukan alasan suamiku bunuh diri, ini soal surat keterangan Dokter, ada diagnosa yang ditetapkan, aku baru menemukannya di kamar kami, aku bermaksud mencari banyak dokumen tentang suami terakhirku itu.]


[Ok, aku akan ke sana, tapi setelah bertemu Alka.] Aditia lalu menutup teleponnya, dia merasa tidak bisa melakukan apapun saat ini, karena dia butuh bertemu dengan Saba Alkamah.


Begitu sampai gua, Aditia langsung masuk dna melihat Alka sedang meracik ramuan dengan mantra baru, terlihat karena pembacaan mantranya terus diperbaikin oleh Alka.


“Kau sedang apa?”


“Tidak kah kau lihat aku sedang apa?”


“Sedang mengaduk.”


“Lalu kenapa bertanya?”


“Bagaimaan dengan Ajimantrana?”


“Bagaimana dengan Kemala?”


“Dia baik saja.”


“Maka begitu juga dengan Aji.”


“Kau sudah memiliki panggilan sayang rupanya.”


“Kau pun, Mala, ya kan?”


“Alka, kau tahu kalau hubunganku dengan Mala hanya sebagai korban dari kasus.”

__ADS_1


“Aku tahu kalau hubunganmu dengan MALA,” Alka menekan nama Mala dengan sangat tegas untuk mengingatkan betapa Aditia memanggilnya dengan menggemaskan, “hanya sebatas korban kasus dan aku sangat terkesan betapa berdedikasinya dirimu yang bahkan rela dipegang, di depan kami semua dia mampu berbuat begitu, aku tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika kalian hanay ditinggal berdua saja.”


“Kau tidak percaya padaku?”


“Apa landasanku untuk mempercayaimu?!”


“Bahwa aku tidak bisa merasakan apapun pada gadis lain, apa yang aku rasakan padamu, aku sudah mengatakannya padamu ratusan kali aku mencintaimu, bukan? tapi kau yang selalu menolak, apa kau lupa, bahwa pria muda ini yang mengejarmu sejak hari pertama kau menunjukkan wajahmu padaku, bukan?”


Alka terdiam, karena Lanjonya, dia lupa bahwa Aditia telah seringkali mengatakan bahwa dia sangat mencintainya.


“Aku tidak suka melihatmu terlalu dekat dengan Kemala.”


“Aku juga tidak suka kau terlalu dekat dengan Ajimantrana, kalau kau ingin membantunya, kau tidak aku izinkan untuk pergi berdua saja dengannya.”


“Maka aku meminta yang sama, aku takkan izinkan kau untuk bertemu dengan Kemala berdua saja, aku ingin kau menyertakanku jika harus bertemu dengannya.”


“Tapi kawanan tak izinkan aku membawa Kemala ke markas.”


“Maka hargai apa keinginan kawanan, jangan bawa dia, kita bisa menyelesaikan kasus tanpanya.”


“Ok, tapi dia meminta bertemu tadi, aku harus melihat dokumen tentang suami terakhirnya.”


“Terserah kau, datang saja, itu hakmu.”


“Ikut aku, itu kan yang aku mau?”


“Aku saja yang mau? kau tidak ingin?”


“Aku ... tidak pernah ada masalah jika saja kau ikut aku ke manapun, yang penting, jangan sembunyikan apapun dariku.”


“Ya, setuju.”


Maka masalah antar mereka berdua telah berakhir, Kemala menjadi pemicu antara dua makhluk ciptaan Tuhan yang saling mencintai, kembali akur dan mampu saling mengerti.


...


“Hai Alka, kau datang juga?” Aditia dan Alka sudah di rumah Kemala.


“Ya, kenapa? kau keberatan?” Alka bertanya dengan ketus.


“Tidak, tentu saja tidak, aku hanya bertanya.” Kemala lalu membawa mereka berdua ke kamarnya, Aditia terlihat hapal di mana kamarnya.


“Kau tahu kamarnya?”


“Sampai ke kamarnya?” Alka geram lagi.


“Ya tentu saja, di rumahnya tidak ada lelaki untuk dimintai tolong, lagian banyak orang di kamarnya, tidak berdua saja.”


“Kau yakin?” Alka cemburu lagi.


“Ini dokumennya.” Kemala memotong pertengkaran dua sejoli itu, dia memberikan dokumen.


Alka menarik dokumen itu agar obrolan tidak terlalu intens antara Aditia dan Kemala.


“Diagnosa Dokter? Skizofrenia? Dari awal pemeriksaan sampai terdiagnosa, hanya tiga bulan dan suamimu dinyatakan menderita Skizofrenia. Lalu faktor apa yang menyebabkan dia sakit mental seperti itu?”


“Entah Alka, andai aku tahu.” Kemala terlihat sedih, Aditia hendak menepuk bahunya untuk menguatkan, tapi tangan Aditia ditahan dan Alka akhirnya berdiri di antara mereka, hingga Alka menepuk bahunya menggantikan Kemala. Aditia tersenyum melihat kelakuan kekanak-kanakkan Alka. Sungguh menggemaskan baginya.


“Apa suamimu suka berhalusinasi?” Alka bertanya lagi.


“Tidak tahu, selain yang aku katakan pada Aditia sebelumnya, dia sering mengeluh kesakitan pada daerah mata.”


“Apakah suamimu yang lain juga memiliki diagnosa seperti ini?”


“Entahlah, karena kematian mereka begitu cepat, aku tidak bisa menyelidikinya, saat ini juga hubunganku dengan anak-anak dari suamiku yang terdahulu tidak baik. Makanya kau tidak bisa bertanya pada mereka.”


“Kalau begitu, aku dan yang lain akan menyelidikinya, kau tunggu saja di rumah tidak perlu ikut, karena banyak hal yang harus kami lakukan.”


“Aku ikut ya Alka, aku ingin membantu.”


“Tidak usah, kalau kau ikut, kau hanya akan membebani kami, kami bekerja dengan cepat dan tepat, kau akan menyusahkan kami.”


“Maksud Alka, ini untuk kebaikanmu, kami berusaha melindungimu, makanya kau tidak perlu ikut.” Aditia memperhalus kata-kata Alka.


“Yasudah kalau kalian tidak mau aku ikut membantu.”


“Bukan begitu Kemala, kami ....”


“Kami memang tidak mau kau ikut, sudah ayo kita pergi.” Alka pergi tanpa pamit, mendorong tubuh Aditia agar keluar dari kamar dan membiarkan Alka di kamarnya sendirian.


“Ka, itu terlalu kasar.”

__ADS_1


“Kau mau lembut-lembut pada janda yang sedang lemah batin itu? maka tidak heran kau akan mendapatkan hatinya.  Sana pergi lagi ke atas, obati hatinya sekalian, apa menikah saja denganya? Kasus bisa kita tutup dengan cepat.” Alka berteriak di dalam angkot yang masih terparkir di halaman rumah Kemala.


“Kau mau aku menikah dengannya?” Aditia jadi kesal lagi.


“Menikah saja, maka kau akan lihat kuburan di pelaminanmu.” Alka memasang wajah cemberut, Aditia bersorak dalam hatinya, tidak ada yang menggemaskan selain cemburunya seorang wanita yang sangat mencintai, dia menikmati ini, tapi tidak mau menyakiti hanya sedang menikmati Alka tidak menahan rasa cintanya saja.


Mereka akhirnya sudah sampai di markas ghaib lagi. Saat masuk mereka disambut kawanan yang sedang sibuk mencari data.


“Jadi, bagaimana? apa yang kalian dapatkan?” Aditia bertanya, mereka sudah berkumpul di suatu kamar yang sudah mereka sulap jadi ruang meeting.


“Aku sedang mempelajari beberapa ritual pengusiran esash, kau tahu kan, Rajima dan Esash punya kesamaan, sama-sama suka tubuh yang suci.”


“Berbeda Alisha, Esash merasuki tubuh yang sudah suci dan bisa berpindah ke tubuh suci lain jika tubuh yang sebelumnya tidak memenuhi prinsipnya.


Sedang Rajima, membuat tubuh yang dia rasuki, suci selamanya, jadi ada perbedaan di sini, Rajima menciptakan tubuh yang dia inginkan untuk suci selamanya, kalau esash berbeda, dia tak turut campur atas kesucian seseorang, dia hanya merasuki tubuh yang sudah sudah suci, tidak menciptakan.” Alka menyanggah, Alisah tersadar, memang begitu kenyataannya.


“Maka kata kuncinya penciptaan, ya Kak?” Ganding mengambil kesimpulan.


“Betul, makanya seperti yang Aditia jelaskan sebelumnya, bahwa Kemala anak di luar nikah, artinya ibunya Alka mampu merusak penciptaan Rajima dengan pemahaman baru, yaitu menciptkan kemungkinan dirinya memiliki anak, walau akhirnya sebuah aib, lahir di luar nikah.”


“Tapi kak, bisa jadi, ibunya Rajima tidak tahu, kalau dirinya dirasuki Rajima, maksudku, dia mungkin melakukan kesalahan itu tanpa ada niat untuk merusak penciptaan Rajima di tubuhnya, mengingat bahwa Kemala diberikan ke panti asuhan, artinya kelahiran Kemala bukan sesuatu yang disengaja atau diinginkan.”


“Kita temui saja ibunya? Untuk tahu, memastikan bahwa apakah dia memang tidak tahu bahwa Rajima ada di tubuhnya dulu dan sekarang ada di tubuh anaknya, Kemala.” Hartino memberi ide.


“Baiklah, ayo kita coba, aku dan  Alka akan menyelidiki orang tuanya, sedang Ganding dan Jarni akan menyelidiki semua mantan suami Kemala dari kerabatnya, Hartino dan Alisha kalian cari semua yang kalian bisa dapatkan di internet.” Aditia sudah memposisikan dirinya sebagai pemimpin lagi dan yang lain patuh, karena mereka tahu, sejatinya, Aditia adalah pengganti bapak, walau masih banyak kuranganya, posisinya sebagai Kharisma Jagat dengan posisi yang tinggi, tidak bisa dipungkiri, seperti Ayi yang bahkan dulu sangat merasa rendah diri, tapi ternyata seorang Ayi Mahogra.


Maka kawanan mulai beraksi lagi.


...


“Ini rumahnya?” Aditia bertanya pada Alka.


“Ya, berdasarkan alamat yang dikasih Hartino, benar ini alamatnya.”


“Rumahnya besar, dia bukan orang miskin.”


“Kita ketuk rumahnya untuk mengetahui yang sebenarnya.” Aditia dan Alka telah berganti baju dengan pakaian yang sopan.


Setelah pintu diketuk, lalu keluarlah wanita yang seperti di foto itu, foto yang Hartino berikan, yaitu ibunya Kemala versi tua.


“Iya? Kalian siapa ya?” Seorang ibu tua yang berdandan begitu elegan dan terlihat terhormat itu bertanya.


“Bisa bicara?”


“Soal apa ya?” Ibu itu terlihat curiga.


“Soal Kemala, kami dari panti asuhan.”


“Ka-kalian ....”


“Ya, kami dari panti asuhan di mana Kemala anda titipkan dulu.”


Ibu itu terlihat gusar dan dia melihat ke arah dalam rumahnya.


“Tidak bisa, saya tidak bisa bicara, maaf.” Ibu itu hendak menutup pintunya, dia ketakutan.


“Harus bisa, karena kalau tidak bisa, kami akan membuat keributan.” Alka memaksa, ibu itu menatap Alka dengan tajam.


“Kalian mengancam?”


“Tergantung dari sudut pandang apa anda melihat.”


“Pergi kalian, aku tidak bisa bicara soal anak itu di sini, terlalu berbahaya, aku mohon.” Tadinya kasar, ibu itu sekarang malah ketakutan dan memohon.


“Kalau begitu bicara di tempat lain, bagaimana?” Alka dan Aditia masih menahan pintu yang hendak di tutup itu.


“Tidak bisa, aku tidak ingin bicara tentang anak itu!”


“Kami tidak akan berbicara tentang Kemala, kami perlu bicara tentang Rajima!” Aditia terpaksa meninggikan suara, Ibu itu melepaskan pintu masuk yang mereka sedang saling tarik, lalu jatuh terudduk, dia terlihat terkejut dan lemas.


“Kukira akan berhenti pada diriku saja begitu aku hamil, tapi ternyata dia malah mengikuti anakku, jin laknat!”


Dari kata-kata ini, Aditia dan Alka tahu, kalau ibunya Kemala jelas tahu kehadiran Rajima, mereka benar-benar perlu untuk bicara dengannya.


“Maka kami perlu tahu kejadiannya, kelahiran Kemala, karena dia saat ini menderita, dia telah menikah 3 kali dan semua suaminya meninggal bahkan tanpa bisa menyentuhnya. Dia telah sangat putus asa, terombang-ambing dengan takdir kutukan ini.”


“Aku tidak akan sanggup jika harus melaluinya lagi, aku mohon lepaskan aku, aku tidak bisa menjalaninya lagi, aku sudah bahagia, anak-anakku tidak tahu kisah kelam ini, aku mohon, jangan ganggu keluargaku.”


“Kami tidak bermaksud untuk mengganggu, kami sedang menolong Kemala, kami hanya butuh kisahmu untuk kami lakukan pada Kemala, agar dia terbebas dari Rajima.”


“Rajima takkan melepaskan kami, buktinya setelah dariku, dia merasuki anakku, dia terus saja merasuki seluruh keluarga kami, aku membuang Kemala hanya agar dia terlepas dari kutukan keluargaku, tapi ternyata aku gagal, aku mohon, aku tidak akan sanggup untuk melewati kutukan itu lagi.”

__ADS_1


“Kami hanya butuh ceritanya, aku mohon, kalau kau tidak menyayangi Kemala, paling tidak, izinkan dia hidup normal sepertimu, dia masih sangat muda, kasihan.” Alka memohon, ibu itu akhirnya mengangguk dan memberitahu tempat dan waktu untuk bertemu di lain hari, karena dia tak ingin membicarakan Kemala di rumahnya.


Aditia dan Alka setuju, mereka akan bertemu di lain waktu.


__ADS_2