Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 299 : Bus 404 (2)


__ADS_3

“Jadi gimana kejadiannya?” Petugas kampus itu bertanya.


“Gini pak, saya kirim pesan ke temen saya, tanya dia di mana, dia bilang dia ada di bus, trus saya bilang saya juga ada di bus, saya pikir kami di bus yang sama tapi karena busnya gede nggak keliatan, tahunya nggak Pak, dia ngerasanya kalau dia itu naik bus fakultas kami, tapi dia beneran nggak ada, karena saya di bus fakultas kami dan dia tidak ada.” Winda sangat khawatir dan berbicara dengan nada yang tinggi.


“Lalu?”


“Dia memberikan lokasi onlinenya, saya lihat GPS setelah dia kirim lokasi online, ternyata posisi kami dekat, saya minta supir untuk lebih cepat agar teman saya bisa melihat kami dan saya juga bisa melihat dia, tapi pada saat GPS kami bertemu, bis kami terlihat dekat sekali di GPS, saya masih tak melihat dia.


Tidak lama kemudian dia kirim pesan kalau dia melihat saya, tapi saya tidak melihat dia sama sekali, tak ada satupun dari kami yang melihat dia. dia menelpon tapi suaranya putus-putus, saya tidak begitu dengar apa yang dia bicarakan.


Oh ya, coba dengar ini Pak.” Winda menyodorkan pesan suara yang Nola kirimkan, saat dia meminta tolong, Petugas Kampus itu langsung meminta Winda mematikan pesan suara itu.


“Kalau begitu memang bus 404 yang dinaiki temanmu.” Parman menjawab.


“Bus fakultas mana itu Pak?” Winda bingung.


“Fakultas ghaib!” Supir bus yang sedari tadi nimbrung menjawab.


“Hah? fakultas ghaib? Bener Pak?” Winda memastikan ke Parman.


“Tidak begitu juga Pak, tapi kata ghaibnya bisa jadi benar.” Parman hanya menyetujui sebagian.


“Apa yang benar Pak?”


“Bus itu adalah bus ghaib. Bus itu tidak pernah ada di dunia nyata.”


“Apa! tapi kenapa teman saya bisa masuk bus itu, padahal itu adalah bus ghaib?”


“Karena mungkin temanmu ketika melihat bus itu dalam keadaan lemah, secara fisik maupun mental, bisa jadi karena lelah, bisa jadi juga karena ada masalah, pada kondisi ini, biasanya manusia gampang masuk ke dimensi ghaib, karena energi mereka dominan negatif. Makanya ketika melihat bus ghaib itu, dia merasa melihat bus ghaib itu dan langsung masuk.”


“Lalu, lalu bagaimana dengan teman saya?” Winda sangat sedih karena menyadari bahwa Nola bisa saja jadi korban.


“Ada beberapa orang yang pernah masuk ke bus itu, ikut mereka, ada yang kembali, ada juga diantaranya yang tidak kembali, hilang begitu saja.”


“Astaga Pak! serius Pak! trus Winda gimana? kita cari dia yuk Pak, saya mohon Pak, dia itu anak yang pintar, berprestasi, cantik dan sangat berbakti pada orang tua, tolong dia Pak.” Winda memohon.


“Saya ingin cari sebenarnya, tapi tidak bisa, karena yang bisa membuat temanmu kembali, ya dirinya sendiri, kalau dia tidak menemukan jalan keluar, dia akan terjebak selamanya di sana.”


“Pak, saya harus gimana? apakah saya perlu hubungi orang tuanya?”


“Orang tuanya di mana?”


“Di luar pulau Pak, jadi kalau saya hubungi mereka, bisa jadi mereka akan panik dan segera ke sini. walau mereka orang berada, tapi mereka sebenarnya sudah sangat tua.”


“Oh kalau begitu, mari kita tunggu dulu ya, sampai temanmu itu kembali.”


“Kapan Pak?”


“Bisa jadi 1 hari, 3 hari bahkan kami pernah menemkan korban yang hilang seminggu, kami semya sudah putus asa, tidak lama kemudian dia malah ditemukan di hutan, dia diketemukan dalam keadaan pingsan.


Kita cuma bisa menunggu.” Parman terlihat sungguh-sungguh mengatakannya.

__ADS_1


“Tapi Pak, jadwal dia itu padat sekali, jadi panitia acara ulang tahun kampus, lalu belum lagi segudang prestasi yang lainnya, dia tidak pantas berakhir begini!” Winda sangat menyesal dengan keadaan Nola.


“Saya tidak bisa apa-apa, jangankan yang jadwalnya hanya panitia saja, dulu pernah ada yang hilang dan tidak kembali, padahal dia Ketua BEM dan sangat berprestasi, tapi dia hilang tidak ditemukan.”


“Pak! tolong Pak, kasihan temen saya Pak.” Winda mulai merengek.


“Kau pulang saja dulu, besok kembali lagi ke sini, kita cari ulang, kalau sekarang terlalu berbahaya untuk si pencari.”


“Lalu nggak berbahaya untuk teman saya, Pak?” Winda kesal karena tidak ada yang memikirkan Nola.


“Bukan saya bermaksud untuk tidak menghargai kehidupan temanmu, tapi tanggung jawab saya besar pada kampus ini, kalau kita cari sekarang, lalu anak yang ikut membantu mencari ikut hilang, siapa yang akan memikul rasa bersalah? Kamu?” Parman mengerti kalau Winda sangat ingin Nola kembali, tapi Winda juga harus mengerti, daripada membuat korban semakin banyak, lebih baik bersabar untuk mengatur strategi.”


“Pak, saya mohon selamatkan teman saya.”


“Besok pagi kami datang ke sini ya, kita cari bersama ama yang lain, saya janji, saya akan mencari temanmu, tapi sekarang kau harus pulang.” Parman membujuk Winda untuk pulang, Winda akhinrya patuh, dia pulang ke rumahnya walau dalam hatinya dia sangat ingin Nola segera ditemukan.


...


Pagi tiba, jam delapan pagi tepatnya. Winda dan regu pencari yang dibentuk secara tiba-tiba itu berkumpul, total ada sepuluh orang termasuk Winda, empat orang merupakan petugas kampus sisanya Mahasiswa yang menjadi sukarelawan untuk ikut mencari, ada satu orang lelaki yang Winda tahu, dia suka pada Nola. Lelaki itu ikut mencari.


“Arif, ikut cari Nola juga?” Winda menyapanya.


Arif hanya mengangguk, dia terlihat sangat khawatir, Winda tahu, kalau Arif mungkin menyesal, seharusnya semalam dia menunggu Nola hingga selesai acara dan bisa mengantarnya sampai kos, jadinya Nola mungkin tidak hilang seperti ini.


Walau keseharian mereka pun, Nola sering menolak, tapi sungguh ini membuat Arif syok saat membaca grup kampus yang mengatakan bahwa Nola hilang semalam, hilang secara misterius.


Lalu Pak Parman membagi pencarian menjadi dua kelompok, dua orang petugas kampus bersama tiga orang mahasiswa yang akan ke sisi kanan jalan, yaitu hutan lindung sisi kanan, sedang 5 orang lain, 2 orang petugas dan tiga orang mahasiswa ke sisi kiri, jadi mereka akan mencari di mulai dari Fakultas Kedokteran Gigi, tempat di mana Nola naik bus itu.


Baru setelah itu mereka menyusuri jalan hingga akhirnya nanti menembus hutan lindung. Parman bersama Arif, Winda dan satu lagi mahasiswa ke sisi kanan jalan, sisanya ke sisi kiri.


Parman dan yang lain memulai perncarian tepat jam 9 pagi, semua jalan di susuri, sembari berteriak memanggil Nola, lalu cukup lama menyusuri seluruh fakultas, yang ada di sisi kanan, mereka tiba di hutan lindung, sebelum masuk hutan lindung Parman meminta semua berkumpul dulu.


“Baik ade-ade semua, kita ini mencari orang, maka kalian harus jaga diri kalian masing-masing juga ya, tetap bersama jangan sampai terpisah, kalau ada yang mendengar ada suara, jangan langsung berlari untuk mengejar suara, bicarakan dulu dengan yang lain baru kita hampiri sumber suara itu, ingat ini hutan, biar hutan ini ada di dalam kampus tercinta kita, tetap saja ini hutan yang cukup luas, jaga diri kita, jangan sampai terpisah dari rombongan, semoga Nola bisa ketemu. Bedoa dulu ya, semoga lancar.”


Semua lalu berkata amin dan mulai berdoa dalam hati.


Mereka mulai melangkah masuk ke hutan, saat masuk ke hutan itu, semakin dalam, cahaya dari matahari semakin terlihat redup karena hutan ini ternyata semakin dalam semakin rapat pohonnya.”


Hanya Winda seorang perempuan di dalam grup pencarian ini. Tapi Winda tidak takut, karena Nola sampai kenapa-kenapa itu jauh lebih menakutkan.


Mereka kembali berteriak memanggil Nola, tapi masih saja nihil, sudah tiga jam mereka mencari, tapi masih saja nihil, Parman memerintahkan semua orang untuk istirahat dulu, minum dan makan biskuit, agar stamina mereka tetap terjaga.


“Pak, Nola bakal ketemu nggak sih?” Winda bertanya pada Parman, sedang Arif hanya terdiam saja, dia masih sangat kecewa pada dirinya sendiri.


“Kamu jangan banyak mikir apapun, ingat kamu harus kuat imannya dan juga harus fokus, itu temanmu diperingatkan, jangan sering bengong, saya tahu kehilangan teman itu sangat sedih, tapi dia harus fokus untuk misi pencarian ini.


Tenang saja, saya tidak mudah menyerah, dulu di TNI saya ikut misi perdamaian beberapa kali di Negara konflik, banyak orang hilang tapi bisa saya temukan, ini Negara aman, Nola juga hilang di kampus kita, kampus ini memang sangat luas, tapi masih bisa kita sisir. Jadi kamu harus optimis ya. Itu temenmu bilangin sana, jangan bengong gitu.” Parman mengingatkan Winda untuk menjaga Arif.


“Iya Pak, saa bilangin dia untuk nggak bengong.” Winda lalu berjalan menghampiri Arif.


“Rif, jangan bengong kata Pak Parman kita harus fokus, jangan pisah dari barisan ya.” Winda memberitahu Arif, Arif hanya mengangguk, tapi raut mukanya sangat tidak sesuai dengan jawabannya, dia masih saja termenung.

__ADS_1


Setelah satu jam istirahat, mereka akhirnya memulai pencarian lagi, saat ini pasti regu pencarian sudah mulai ikut mencari, tapi karena grup Parman sudah duluan jalan, grup pencarian yang lebih profesional tertinggal di belakang.


Mereka terus menyusuri hutan yang semakin minim penerangan, sembari terus memanggil nama Nola.


Nihil tak ada jawaban.


“Rif ... Arif ....” Arif yang saat ini berdiri ke dua dari belakang menoleh, dia mencari sumber suara, karena dia berhenti akhirnya mahasiswa yang paling belakang mendahului Arif.


“Pak ... Pak! Pak!” Arif memanggil Parman dan yang lain, tapi tak ada yang mendengar suaranya, dia ingin memberitahu kalau dia mendengar suara lemah yang memanggilnya.


Karena takut suara itu keburu hilang, Arif sudah yakin itu suara Nola walau lemah, dia buru-buru berlari ke arah suara dan Arif yakin dia tidak akan ketinggalan rombongan.


“Nola! Nola! Nola!” Arif berlari dan terpisah dari grup pencarian, semakin dia berlari, suara itu semakin terdengar jelas, tapi saat dia merasa suara itu sudah dekat, dia tidak melihat apapun, lalu ada suara lemah itu lagi, Arif kembali mengejar suara itu, lagi-lagi setiap kali Arif merasa suara itu sudah dekat, dai tidak menemukan apapun, tidak ada siapa-siapa di sana.


Lalu Arif tersadar, kalau dia mungkin sudah berlari cukup jauh dari grup Parman, Arif melihat kebelakang dan kosong ... tidak ada siapa-siapa, tadi terakhir dia meninggalkan grup, dia masih melihat mereka dan langkah mereka samar, sekarang, benar-benar sepi, tak ada suara apapun, langkah orang saja tak ada, hanya ada hembusan angin.


“Pak Parman, Winda! Pak! Winda!” Arif sadar bahwa dia telah terpisah dari rombongan dan berlari tak tentu arah tadi saat mengejar suara yang Arif kira adalah suara Nola. Sekarang dia benar-benar terpisah, mungkin juga akan menjadi salah satu mahasiswa yang ikut menghilang setelah Nola. Arif berlari mengejar grup, dia mulai keringat dingin, di tasnya hanya ada sebotol sedang air mineral dan beberapa biskuit, kalau dia hilang, kemungkinan dia akan kelaparan, hutan lindung ini memang cukup luas dan kasus hilang juga minim karena tidak ada yang pernah masuk hutan ini tanpa pengawasan, salah satu pengawas handal adalah Parman, tapi Arif melanggar pantang, yaitu keluar dari barisan tanpa memberitahu.


Sementara di tempat lain Parman yang sibuk mencari Nola dan berteriak memanggilnya seperti tiga orang lain mulai sadar sesuatu.


“Sebentar, berhenti dulu.” Parman menghitung orang dan sadar, kurang satu orang, “ Arif mana!” Parman bertanya pada Winda, sementara Winda juga baru sadar kalau Arif hilang, dia melihat ke belakang dan tidak menemukan Arif di manapun.


“Tadi siapa yang melihat Arif terakhir kali dan di mana?” Parman bertanya, lalu seorang Mahasiswa yang tadi di barisan paling belakang, di belakang Arif tentunya, dia lalu berkata.


“Pak, tadi saya ngeliat Arif tiba-tiba berhenti trus saya lewatin dia, saya pikir dia capek, jadi saya lewatin aja, abis itu saya nggak ngeh dia ilang, kan saya cuma ikutin depan saya dan ikutin instruksi jangan terpencar, saya nggak ngeh kalau Arif sudah keluar dari barisan kita.” Mahasiswa itu memberi penjelasan.


“Kau ingat dia berhenti itu di mana?” Parman bertanya.


“Itu loh Pak, kawanan yang berpita kuning.” Parman terdiam sesaat saat mendengar itu.


Jadi kawanan hutan lindung ini memang ditandai dengan pita yang tahan angin dan hujan di setiap pohon yang dekat dengan jalan setapak, pita itu menjadi penanda. Semua mahasiswa tidak ada yang diberi tahu makna dari warna-warna pita itu, tapi begitu mahasiswa yang melihat Arif terakhirn bilang kalau Arif berhenti di kawanan hutan berpita kuning, Parman meminta semua rapat dan kembali ke kawasan pita kuning itu berada.


Begitu sampai, Pak Parman memastikan lagi pada mahasiswa itu bahwa ini tempat di mana Arif tadi tiba-tiba berhenti.


“Di sini kan?”Parman bertanya, mahasiswa itu mengangguk.


“Parman lalu meminta semua orang untuk menunggu di sini, di jalan setapak, sementara Parman akan masuk ke dalam hutan yang jelas ada garis penanda areal yang terlarang.


“Pak! sebentar!” Winda menahan Pak Parman.


“Kenapa Winda?” Pak Parman bertanya, jarak mereka tidak terlalu dekat.


“Terus pencarian Nola gimana? jangan terlalu lama Pak, takut Nolanya ketakutan.” Winda bertindak egois.


“Arif jauh lebih dalam bahaya, kau tahu tanda pita kuning ini artinya adalah kawasan paling berbahaya, saya harus cari dia sebelum dia tidak pernah kembali lagi, karena harapan ditemukan hilang di kawanan berpita kuning itu tipis kalau kita mengulur waktu.” Parman menjelaskan, winda akhirnya setuju menunggu di jalan setapak ini sampai Parman menemukan Arif.


Dari kejauhan Pak Parman terlihat berlari.


“Pak Peman nggak takut sendirian ke sana?” Winda hanya bertanya.


“Nggak lah, orang dia pernah hilang dua minggu di hutan ini.” Petugas kampus yang ikut di grup ini berkata.

__ADS_1


“Hah serius dia pernah hilang di hutan ini?” Winda kaget.


“Ya, dan ketika ditemukan, dia agak ... apa ya bilangnya ... agak hilang akal dan histeris setiap saat, ketakutan, butuh waktu berbulan-bulan untuk menyembuhkannya, untung kampus ini yang bayar pengobatan Pak Parman.”


__ADS_2