Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 476 : Nyebrang 8


__ADS_3

“Wak Eman! Wak! Gera (Cepat).”


Suara seseorang memanggil dari luar, sedang Wak Eman masih sedang bercerita. Tapi terpaksa harus menyudahi ceritanya.


Dia akhirnya buru-buru keluar dan membuka pintu rumahnya.


“Aya naon (ada apa)?” tanya Wak Eman pada tamu yang adalah tetangganya.


“Itu si akang dah balik.”


“Alhamdulillah, ari si jaka kumaha (kalau Jaka gimana)?”


“Jaka belum ketemu.”


“Haduh, kumaha iyeu, udah berapa hari ini?” Wak Eman bertanya.


“Udah 3 hari, Wak.”


“Yaudah, saya nyusul deh, di mana dia sekarang?”


“Udah pada pulang Wak, tadi ribut, istrinya Jaka marah-marah pas dibilang Jaka yang ajak si akang lewat jalan persawahan itu.”


“Kok malah ribut, harusnya ditanya sama si akang, mereka liat apa aja?”


“Nggak taulah, Wak Eman ditunggu sama Pak RT.”


“Iya, saya ke sana.”


Tamu itu pamit, Wak Eman masuk.


“Ada apa Wak?” Aditia bertanya.


“Itu, yang kemarin hilang, akhirnya ketemu.”


“Hilang? Anak umur berapa?”


“Bukan anak-anak, bapak-bapak!” Wak Eman mengoreksi.


“Oh ya, apa ini karena suatu jalan yang ada persawahannya Wak?” Ganding bertanya.


“Ya, betul, kalian mau ikut? Siapa tahu kalian bisa bantu.” Wak Eman sepertinya memang yakin kalau Aditia dan kawanan ini punya kemampuan yang cukup seperti Mulyana dan juga Aep.


“Iya Wak, boleh.”


Mereka menjemput Alka dan Alisha, lalu berjalan ke rumah Pak RT.


“Pak, ini kenalin keponakannya Mang Aep.” Lalu kawanan mulai bersalaman dengan Pak RT, sudah tak berkumpul orang-orang lagi di sana, hanya Pak RT dan keluarga, serta beberapa orang pemuda yang masih duduk-duduk saja.

__ADS_1


“Kalian ada apa kemari?” Pak RT bertanya.


“Kami mau mengunjungi Paman Aep, tapi ternyata paman sudah tiada.”


“Loh, kalian nggak tahu?”


“Iya, kami baru tahu.”


“Pak, panjang ceritanya, ini soal Jaka ama si akang gimana?” Wak Emang tidak ingin kawanan bingung menjelaskannya, makanya dia mengalihkan pembicaraan yang memang menjadi tujuan utama mereka ke tempat ini.


“Oh ya, si akang ketemu. Di daerah Subang, bensin motornya tiris, itu kenapa dia kembali, kalau Jaka masih belum ketemu.”


“Soal akang gimana? belum sempet cerita ya?”


“Belum, biasa, istrinya pada marah-marah mulu, harusnya mah denger dulu ya penjelasan akang, katanya akang yang ajak si Jaka, istrinya Jaka nggak terima, makanya dia marah-marah sama si akang, ya kamu tahulah, istrinya akang nggak mau kalah, suaminya digeret aja pulang ke rumah.”


“Duh, harusnya ditanyai dulu ya, kita tahulah, yang sering ngaco itu kan si akang, tapi sekarang gimana atuh?”


“Nggak tahu Wak, udahlah, kita tunggu aja, bakal balik kok kalau bensinnya udah abis, kita tunggu aja.”


“Kalau pas abis dia bisa tahan, udah berapa hari ini, dia belum makan, belum minum. Nggak inget kejadian tiga tahun lalu, ketemunya udah ....”


“Pak, udahlah jangan ngomong yang aneh-aneh dulu, kita doain aja ya.”


“Ya, kita doakan, tapi kita juga harus bersiap pada kemungkinan terburuk.”


Wak Eman dan kawanan pamitan, di perjalanan, Wak Eman bilang akan menunjukkan jalan persawahan itu.


Tak lama kemudian mereka sampai, setelah berjalan kaki selama 10 menit, cukup jauh memang.


“Ini tempatnya? Wah ini mah tadi kita lewat.” Hartino kaget, karena ini memang salah satu jalan utama ke arah desanya Paman Aep.


“Iya jalan ini, jalannya baru diaspal sama pemerintah, tapi sayang, lewat maghrib kita nggak ada yang berani lewat sini.”


“Apa mitosnya, Wak?” Ganding bertanya, sementara Aditia dan Alka berjalan menjauh dan menyentuh aspalnya dengan tangan mereka dengan cara duduk.


“Mitosnya, kalau malam-malam lewati sini, bakal diputerin di sini sampai batas waktu yang tidak bisa diperkirakan, banyak orang berasumsi karena bensinnya habis makanya dia bisa kembali, kayak si akang itu yang baru kembali setelah hilang beberapa hari itu.”


“Oh ya, lalu korban sebelumnya ada yang bilang nggak? gimana cara mereka berputar-putar di sawah ini? lalu kenapa nggak ada yang lihat pas mereka mutar-mutar?” Ganding bertanya lagi.


“Nggak ada yang lihat, orang sebenarnya mah mungkin dia jalan terus nggak mutar-mutar, makanya nyebrang ampe jauh ke Subang, tapi dalam penglihatan mereka mah, ya muter-muter, nggak ada pagi ataupun siang, cuma muter aja, jadinya mereka nggak tahu tuh udah berapa hari.”


“Terus, tadi saya sempat denger tentang kejadian tiga tahun lalu, korbannya kenapa tiga tahun lalu, Wak?” Ganding sangat penasaran soal ini.


“Oh itu ... duh gimana ya ceritanya, ini kan sebenarnya sudah lama, trus orangnya udah nggak ada, jadinya pamali diceritain.”


“Ayolah Wak, siapa tahu kami bisa bantu, tujuan kami ke sini memang untuk menguak misteri dari Bapak Mulyana, kenapa dia ingin kami ke sini, begitu Pak.” Ganding mengarang, padahal mereka ke sini karena buku itu, kalian tahu kan.

__ADS_1


“Jadi tiga tahun lalu itu, ada anak lelaki dan perempuan yang kabur dari rumahnya, salah satu tetangga kami, mereka pacaran, tapi nggak dibolehin karena masih remaja, masih SMA, akhirnya kabur naik motor, jam dua dini hari mereka kabur, sengaja lewat jalan ini, karena tahu takkan tertangkap.


Tak ada yang berani lewat, lalu mereka hilang, keluarganya tidak menyangka mereka hilang di jalan persawahan ini, mereka hanya menyangka hilang kabur, dicari terus, satu hari, dua hari, tiga hari, lalu pada hari keempat mereka ditemukan jauh sekali.”


“Di mana?” Hartino jadi ikut penasaran.


“Di Tasik.”


“Astaga, jauh sekali, lalu?” Hartino bergidik mendengarnya, kok bisa sejauh itu mereka nyebrang.


“Tapi sayang, ditemukannya, sudah tergeletak di jalan, tidak bernafas lagi, mereka ... meninggal dunia.


Semua keluarga tidak pernah ikhlas, akhirnya mereka mengotopsi dua remaja itu agar tahu penyebab kematiannya.”


“Apa penyebab kematianya, Wak?” Ganding bertanya dengan hati-hati dan sudah bisa menebak dalam hati.


“Hipotermia, kurang gizi dan cairan. Kau tahu, katanya keadaan mayat itu, seperti tersesat di gunung yang dingin dan mereka tak makan berhari-hari, padahal mereka tidak hilang di gunung, tapi berputar-putar di jalan aspal persawahan ini.”


Wak Eman menceritakan itu dengan sedih, karena harus mengingat kembali, dua remaja yang jatuh cinta, harus mati sia-sia.


“Sedih sekali.” Jarni berkata dan menyeka air mata, dia agak lemah kalau soal romansa, pertahanannya bisa hancur, wajah dinginnya seketika menjadi wajah kucing yang sangat sedih.


“Empat hari, kalau ini Kang Jaka sudah hari ketiga ya?” Ganding bertanya lagi.


“Iya, makanya kalau tidak diketemukan besok, akan sangat bahaya bagi Jaka, dia bsia bernasib sama seperti dua remaja itu.”


“Wak, kita menginap di rumah Paman Aep, boleh?”


“Boleh, tapi itu kan lama kosong, mening nginep aja di rumah kami, anak-anak kami kan pada di kota, jadinya kami mah seneng banyak orang. lagian takutlah, itu kan tempat yang suka dikirim santet, takut ada jin di dalem loh.”


Kawanan tertawa mendengar itu, karena di dalam tubuh mereka semua ada jin yang jauh lebih menakutkan.


Wak Eman tidak paham kenapa mereka tertawa, tapi dia akhirnya mengizinkan Aditia dan yang lain untuk tidur di rumah Paman Aep.


Kawanan berencana untuk malam nanti datang, tapi ada yang harus mereka diskusikan terlebih dahulu soal aspal yang Aditia dan Alka sentuh.


“Kau merasakannya Dit?” Alka bertanya.


“Ya, aku merasakannya ini tidak beres,” Aditia menjawab.


“Hanya malam ini kita akan mendapatkan jawabannya bukan?”


“Ya benar, Ka. Tapi jangan gegabah, masih ada satu korban lagi bukan, kita temukan dia dulu, kalau sudah keluar dari zona ghaib, orang itu pasti baru merasa lemas, karena sudah beberapa hari tidak makan dan minum.


“Iya Dit, aku setuju. Kita akan coba cari malam ini, kita harus beritahu mereka, soal aspal ini.”


“Iya, aku akan beritahu, kita akan pastikan korban satu lagi itu juga akan ketemu.”

__ADS_1


Alka dan Aditia kembali bergabung dengan yang lain dan bersiap pulang ke rumah Paman Aep.


__ADS_2