
“Aku akan menepati janjiku, melepas tombak itu bersama kawanan, bawa 3 orang lagi ke sini, lepas jiwa-jiwa yang kalian tahan, kau akan bebas dari kutukan ayahku.”
“Baiklah, aku akan lakukan.”
Aditia dan Alka saling melihat, Alka tampak ragu, Aditia menutup matanya, meminta Alka tetap pada rencana.
Sel penjara yang dibuat oleh keturunan Dewi Kali itu sudah hancur, Hartino yang memeriksanya, dia melihat sebuah pintu ghaib terbuka, dia lalu keluar, hanya Hartino yang diizinkan keluar dari pura itu, untuk menjemput tiga kawanan lainnya, yang masih ada di luar pura terbalik itu.
Kawanan yang masih mencari cara untuk masuk, terkejut, karena tanah yang menutup pura terbalik itu terbuka, banyak jiwa keluar dari sana, jiwa yang terlihat kering tanpa energi.
“Har!” Alisha mendekati suaminya, Ganding dan Jarni juga mendekati mereka, termasuk pemimpin Balian.
“Mana yang lain?” Jarni bertanya, karena dia tak melihat Aditia dan Alka.
“Mereka keluar, kita harus masuk dan menyerahkan jiwa kita pada keturunan Dewi Kali. Kalian masuklah dan banyak tanya!” Kawanan mengerti dan mereka ikut masuk, sementara pemimpin Balian mengurus penjemputan jiwa bersama Jajat.
Tapi sebelum mereka semua masuk, Pemimpin Balian menahan Hartini dan bertanya, “Kau yakin?”
“Sama seperti orang-orang yang percaya pada kepemimpinanmu, kami juga percaya pada pemimpin kami, saat dia bilang masuk dan tidak banyak tanya, maka kami akan lakukan.” Hartino menjawab dengan sungguh-sungguh.
“Kalian memang berbeda.” Pemimpin Balian lalu melakukan tugasnya.
Setelah 4 kawanan masuk, pintu pura tertutup lagi.
Mereka berjalan tanpa arah, karena jalan terbuka sesuai langkah mereka, pasti ujungnya adalah markas Dewi iblis itu.
Begitu melihat Alka dan Aditia, Jarni berlari ke sana dan memeluk kakaknya.
“Kalian baik-baik saja?” Jarni khawatir.
“Seperti yang kau lihat, kami baik-baik saja Jarni, Dewi ini meminta jiwa kita, tapi hal pertama yang harus kita lakukan adalah, melepas tombaknya, ayahku menancap tombak ini dengan memasukkan 6 energi kita sebagai mantra kutukan, bukan pagar, seperti yang kita yakini selama ini.” Aditia menjelaskan.
“Tapi ….” Jarni merasa ada yang janggal.
“Ya, kau benar, maka kita lakukan.” Aditia menatap Jarni dengan senyum, Jarni menjadi paham.
“Tombak milik kalian di sana, maka kalian harus melepasnya.” Dewi iblis itu menghadirkan tombak di tengah-tengah antara kawanan dan juga Dewi itu berada.
__ADS_1
Aditia meminta semua orang untuk mendekati tombak itu, dia meminta kawanan memegang tombak itu, 6 orang kawanan memegang tombak dan bersiap untuk mencabut tombaknya.
Dewi iblis itu terlihat sedang, tidak sabar mencicipi energi dari kawanan, energi yang tidak bisa disentuh karena terkutuk.
Dalam hitungan menit, tombak berhasil ditarik keluar, ada hembusan angin yang kuat di sana.
Aditia memegang tombaknya.
“Kami sudah menariknya, sekarang kau bebas dari kutukan tempat ini, tempat ini sudah tidak mengurungmu lagi.” Aditia berkata.
“Kalau begitu … siapa yang bisa aku santap duluan?” Dewi itu bertanya.
“Kami akan menyerahkan Alka terlebih dahulu, dia memiliki energi yang paling besar untuk kau santap.” Aditia berkata dengan tenang, kawanan masih merasa khawatir, takut kalau rencana mereka akan gagal dan membuat Alka celaka.
“Baiklah, kemari kau.”
“Kau tidak mau energi terbesarnya?” Aditia bertanya.
“Apa maksudmu?”
“Apa benar?”
“Kalau kau mau mencobanya, aku bisa meminta Alka untuk merubah bentuknya menjadi jin, bagaimana?” Aditia berkata dengan hati-hati.
“Aku ingin mencobanya.”
Dewi itu mendekati Alka, lalu Alka merubah wujudnya menjadi jin, setelah wujud itu berubah, Dewi itu mencium aroma energi yang begitu lezat, energi Alka dalam wujud jinnya memang tidak main-main.
Dewi itu memegang kepala Alka, hendak mengambil energinya dari sana, Aditia menatap dengan tajam, lalu sedetik kemudian, ada suara yang sangat besar terdengar.
GEDEBUM! BRAK! DUARR!!!
Dewi itu terkejut dan mundur, muncul sekumpulan makhluk yang mengerikan.
Makhluk pertama yang menunjukkan dirinya adalah, Rarung, Alisha segera berdiri menghadap Dewi, saat Alisha bersiap, 20 Rarung berdiri di belakangnya dan masih bermunculan sisanya. Rarung adalah antek-antek Rangda, berbeda dengan Rangda yang memiliki paras mengerikan, Rarung terlihat lebih cantik dan muda, tapi mereka tunduk pada Rangda. Memegang Rangda, berarti memegang seluruh Rarung yang ada di Bali.
Makhluk kedua Gamang, dia hanya sendirian, tapi sendirian saja sosoknya yang memiliki rambut panjang tak terurus telihat sangat mengerikan, gerakannya yang sangat cekatan, tak terlihat, membuat siapapun sulit siap untuk menghadapinya.
__ADS_1
Aditia menatap Alka yang lemas karena energinya sempat terambil oleh Dewi itu, dia memberi aba-aba pada Alka untuk merubah wujudnya menjadi manusia lagi dan bersembunyi. Alka menuruti, meski dalam keadaan lemas, dia merubah wujudnya menjadi manusia dan berlari mencari tempat persembunyian, mencari pintu keluar yang sudah dihancurkan oleh para makhluk yang berdatangan itu.
Ada satu lubang yang terlihat oleh Alka dalam wujud manusianya, dari lubang itu keluar Kemangmang, sosok yang hanya memiliki kepala tanpa tubuh itu menggelinding mengikuti semua sosok itu dekati.
Alka akan keluar dari pura ini dari lubang itu, tapi dia akan menunggu Kemangmang masuk semua dan tidak menyadari dirinya.
Ada suara nyanyian nina bobo khas Bali, suara itu membuat semua orang merinding, suara yang begitu lirih dan bergema, tentu saja, ini menandai kedatangan Gregek Tunggek, dia sangat suka bermain dengan anak kecil, dia tak ingin melewatkan pesta ini, makanya dia datang dengan tembang yang menakutkan.
Masih terdengar tembang yang menakutkan, datang dengan suara langkah yang sangat berat, Celuluk, 5 sosok Celuluk, datang dengan suara langkah besar bersamaan, mereka datang dengan berbisik suatu mantra, entah apa yang keluar dari mulut itu, Aditia tidak paham, dia hanya memastikan bahwa Alka telah berhasil keluar dari pura itu.
Celuluk memiliki rambut yang lebat dan botak pada bagian depan, *********** besar, bertaring, dengan mata mebelalak.
Celuluk pun sama seperti Rarung, antek-antek dari Rangda, maka mereka berdiri di belakang Alisha yang memiliki Khodam seorang Rangda.
Tonya, adalah makhluk terakhir yang datang bergerombol karena dia memang adalah makhluk berkelompok, mereka datang dengan menyanyikan lagu khas Bali yang belum pernah didengar Aditia.
Begitu banyak makhluk yang berkumpul di tempat itu, Dewi iblis terdiam, dia terlihat bingung.
“Mereka mengejarmu, karena … kau menyerap energi Saba Alkamah, energinya tinggi hingga bisa membuatmu menjelma menjadi sepertinya, energimu dirasakan oleh para makhluk ini, sebagai energi ‘makhluk luar’, makhluk yang dengan seenaknya masuk wilayah mereka, kau tahu kan, kalau mereka semua yang hadir di sini, sangat membenci makhluk ghaib pendatang, energi makhluk ghaib pendatang itu berbeda, bisa tercium.
Karena kau mengambil energi Alka, maka kau berubah menjadi makhluk pendatang, musuh mereka semua.
Kami berenam memang kalah ilmu, tapi kau kalah jumlah!” Aditia tertawa bersama kawanan.
Dewi licik itu tanpa pikir panjang, langsung berlari melayang dan mencoba menghancurkan atap yang ada di atasnya, dia hendak kabur, tapi gagal, atap itu membuat dia terpental.
“Kau tidak bisa kabur, karena … kutukan ayahku, belum dilepas.”
Kawanan tertawa mendengar Aditia berkata.
“Apa maksudmu!” Dewi itu mulai khawatir.
“Energi yang ayahku taruh di dalam kutukan itu, hanya 5 energi, Alisha bukan bagian dari pembentuk kutukan itu. Cara kami mengumpulkan kekuatan juga bukan dengan memegang benda itu bersamaan, aku menyesatkanmu agar kau percaya aku telah membuatmu lepas dari kutukan tempat ini, tapu aku bohong.” Aditia menjelaskan, karena jelas, saat Mulyana membentuk kutukan itu dengan tombaknya, dia hanya memasukkan 5 energi saja, bukan 6, tapi Aditia sengaja ingin Alisha masuk sebagai bagian dari rencana, pertama untuk menggagalkan niat untuk mematahkan kutukannya, lalu memastikan ketika Alka merubah wujudnya menjadi jin lalu energinya terendus oleh semua makhluk, maka antek-antek Rangda akan datang membela Ratunya.
Itu kenapa Aditia rela Alka diserap energinya, hanya agar, Dewi itu menjadi memiliki energi seperti Alka, bukan lagi energi aslinya yang memang berasal dari kota ini, makhluk ghaib ini kelaparan ingin menghajar Dewi yang tidak bisa pergi kemanapun dan mau tidak mau harus menerima bahwa dia kan dihajar habis-habisan oleh makhluk-makhluk mengerikan ini.
“Semua siap!” Aditia memberi aba-aba, Alisha bersama Rangdanya bersiap, dia sudah tak sabar ingin berkelahi dengan wanita sok cantik ini yang mengklaim dirinya adalah Dewi tapi berkelakuan iblis.
__ADS_1