
“Dit ….” Ganding menunjuk Alka yang telah ada di meja makan dan sedang sibuk membaca sesuatu.
“Ka.” Adit mendekati Alka dan memastikan bahwa semuanya berjalan dengan baik. Maksudnya, mantra itu.
“Dit, Nding, kalian dari mana?” Alka terlihat tenang.
“Kami menemui orang yang menjadi tersangka pembunuhan Suminah.” Aditia yang menjawab.
“Oh ya, Jarni cerita padaku kalau Suminah itu dikabarkan adalah hantu penunggu sumur itu.” Alka terlihat membaca lagi.
“Kau baca apa?” Aditia bertanya.
“Ini kumpulan mantra, aku merasakan energi pengunci saat mencium bau air sumur itu. Tapi aku lupa mantra apa itu, sepertinya mantra yang dibuat oleh perkumpulan dukun ilmu hitam. Makanya baunya begitu menyengat dan memuakkan.” Alka ternyata sedang mencaritahu tentang apa yang dia cium sebelumnya dari air sumur itu.
“Ka, ada beberapa hal yang harus aku bicarakan dengan Hartino, Ganding ceritakan apa yang kita dapatkan di penjara itu ya.” Aditia meminta Ganding mengalihkan perhatian Alka, dia harus tahu apa yang terjadi saat Alka bangung dari Hartino.
Aditia dan Hartino memilih berbicara di angkot, Alka tidak curiga, karena memang terkadang Aditia berbicara secara personal pada salah satu kelompok.
“Saat dia bangun apa yang terjadi?”
“Dia mengira ketiduran karena lelah.” Hartino menjawab dengan tenang.
“Apa dia mengingat sesuatu?”
“Tidak, sama sekali tidak, dia bahkan tidak ingat telah menemui orang yang sakit karena sumur itu, yang dia ingat hanya kita datang ke sini dan dia sempat mencium bau sumur itu. Itu saja."
"Baiklah, kalau begitu, Alka akan lebih stabil karena Lanjonya sudah kuikat untuk sementara."
"Dit, tidakkah kau bisa menyembuhkannya? Aku sangat kasihan melihat Kakak kesakitan setiap kambuh. Menahan cinta itu rasanya ...."
"Alka itu sepenuhnya urusanku, jauh sebelum dia bertemu kalian, dia adalah milikku. Aku tahu yang terbaik untuknya. Soal Lanjo, sudah cukup, jangan bahas lagi. Anggap sakit itu tak pernah ada."
"Kalau kakak sadar, Lanjonya tidak pernah kambuh, gimana?"
"Orang yang sakit, tidak akan sadar kalau dia telah lebih baik, kecuali diingatkan. Karena sepanjang hidupnya, dia menahan agar sakit itu tidak pernah kambuh.
Lanjonya masih di sana, makanya dia takkan pernah sadar, dia hanya akan terus menahan. Tapi sekarang, cara bertahannya akan jauh lebih ringan."
"Dit, walau gue ga terlalu suka cara lu ngebohongin kakak, tapi makasih ya, udah jagain kakak."
"Alka itu tanggung jawabku."
Aditia lalu pulang keluar dari angkot dan kembali ke dalam rumah, disusul Hartino.
"Dit, kakak udah ketemu mantra pengikatnya."
Ganding begitu melihat Aditia masuk ke dalam, langsung berkata.
__ADS_1
"Apa?" Aditia duduk di samping Alka, lalu semua orang berkumpul dan mengelilinginya.
"Mantra ini benar digunakan oleh dukun ilmu hitam. Mereka menggunakannya untuk memantek kuntilanak. Kau tahu, Anindyamentari?"
"Wanita yang mati saat melahirkan dan arwahnya tidak tenang karena anaknya dalam bahaya. Maka dia akan bangkit sebagai wujud setan yang mengerikan. Mantra Anindyamentari adalah mantra untuk mengunci mereka agar tetap berada di bawah tanah ruhnya.
Tenang dan tidak mengganggu manusia. Mantra ini sebenarnya jahat, karena seharusnya Anidyamentari dipulangkan bulan dikunci." Alka menjelaskan dengan sedih.
"Aku tidak memikirkan kemungkinan itu, bisa jadi Suminah sedang hamil saat dibunuh. Dalam laporan otopsi, tidak disebutkan tentang kehamilan."
"Bisa jadi ada kesalahan yang tidak disengaja atau ...."
"Disengaja." Semua orang menyambung perkataan Alka.
"Sekarang yang harus kita temui adalah orang tua Suminah, kita perlu tau siapa yang paling mungkin menjadi tersangka lain."
"Sebentar Kak, orang tuanya Suminah sudah tiada, kalau kakak mau tahu tersangka lain, kakak bisa lihat diberkas ini, aku tadi foto berkas kasus Suminah dari Pak Dirga.
Ada tersangka lain, itu namanya Nicko, mungkin saat ini umurnya sekitar akhir enam puluh tahunan. Kita harus menemuinya untuk mendapatkan informasi." Ganding menjelaskan.
"Nicko ini siapa?"
"Mantan kekasih Suminah, tapi saat bersama Suminah dia sebenarnya sudha beristri dan juga sudah punya anak."
"Wah kacau Nding, serius itu? Kenapa dia nggak dicurigain?" Hartino selalu sensitif jika membahas soal perselingkuhan.
"Iya, sebenarnya Nicko juga sempat dijadikan saksi, tapi setelah itu namanya dibersihkan, karena bukti yang berat mengarah pada Deden."
"Ya, intuisiku berkata, bukan Deden pembunuhnya, entah apa yang membuatnya sulit bicara yang sebenarnya."
"Kalau begitu kita gunakan intuisimu Dit, karena Kharisma Jagat itu terkenal akan intuisinya yang tajam." Semua setuju dan mulai dengan pekerjaan masing-masing
...
"Selamat siang, saya Alka dan ini Aditia, kami dari perusahaan rekanan ingin bicara dengan Pak Nicko, apakah beliau ada di kantor?" Tanya Alka pada resepsionis. Alka dan Aditia berpakaian rapih.
Hartino dan Lais sudah mengatur pertemuan mereka. Membuat janji dengan sekertaris Nicko agar bisa bertemu.
Aetelah diselidiki Hartino, ternyata perusahaan Nicko sempat bekerja sama dengan perusahaan milik lima sekawan dulu sekali, sebelum mereka pegang. Saat Mulyana masih menjawab sebagai presiden Ditektur.
Tapi entah kenapa kesepakatan diantara mereka putis dengan cepat. Pasti Mulyana sudah merasa ada yang tidak beres dengan Nicko, makanya buru-biru mengakhiri kerja sama.
Sekarang Aditia dan Alka malah hendak menawarkan kerja sama lagi dengan perusahaan milik Nicko.
Begitu masuk ruangan Nicko, Aditia mendahului Alka berjalan, sehingga yang tadinya Alka berjalan di depannya, menjadi berjalan di belakang Aditia, ada rait khawatir di wajah Aditia.
Mereka dipersilahkan duduk di bangku yang telah disediakan, di sana di ruangan Nicko ternyata ada meja meeting yang cukup besar dan panjang. Mungkin meja meeting itu dipersiapkan agar rapat bisa diadakan kapan saja saat Nicko butuh. Seperti sekarang ini.
__ADS_1
"Baiklah, ini agak mengejutkan karena yang menghubungi saya adalah perusahaan gajah yang dulu sempat terputus hubungan kerja sama."
Nicko terlihat sudah cukup tua, tentu saja umurnya enam pulih tahun lebih. Dududk di sampingnya seorang pria yang kira-kira sama tuanya dengan Nicko, dia jauh lebih diam dan tidak berkekspresi.
"Ini pak Darmin, dia adalah penasehat saya di perusahaan ini, dia akan membantu kita menemukan jalan keluar jika menemui masalah dalam pekerjaan." Nicko memperkenalkan tangan kanannya, dulu dia hanya supir.
"Baiklah, saya akan langsung pada inti dari kedatangan kami. Pak Nicko mungkin anda heran kami datang, tapi budaya-budaya yang orang tua kami ciptakan dalam perusahaan, berusaha kami hilangkan, karena terlalu kolot.
Kita berdua sama-sama tahu, bahwa di negeri ini sulit memiliki usaha yang jujur. Makanya kami datang ke sini, katanya Bapak bisa membantu kami memuluskan pembangunan perumahan di tempat yang kami minati. Sulit sekali menembus barikade penduduknya agar mau pindah dan mengizinkan kami membangun perusahaan di tanah mereka." Aditia terlihat sangat mempersona. Seolah dia memang seorang eksekutif muda yang berambisi.
"Baiklah, jadi ini soal lahan yang sulit ditembus ya?" Nicko terlihat puas. Walau perusahaan ini besar, berada di gedung yang besar. Tapi semua hal terlihat sangat kuno, perusahaan ini jelas hampir bangkrut, bahkan sekedar mengganti meja milik bosnya saja tidak bisa mereka penuhi.
Melihat semua perabotan di ruang ini sudah sangat kuno dan cenderung rusak di beberapa bagian, tentunya setiap orang tahu, perusahaan ini tidak punya uang untuk merenovasi dan mengganti furniture yang rusak.
Jadi ide Aditia yang didapat di menit terakhir sangat brilian. Perusahaan hampir bangkrut ini butuh suntikan dana, dia pasti mau melakukan apapun untuk investor gila yang mau mengucurkan dana di perusahaan hampir bangkrut itu.
"Menarik Pak Adit, kami memang ahlinya dalam menangani kasus pembebasan lahan. Tentu ajalan kerja sama ini akan kami terima." Nicko tidak berpikir panjang.
"Ini lokasinya dan ini luas tanah yang kami bu to hkan."
Aditia menyodorkan dokumen yang menerakan alamat lokasi yang dimaksud serta luar lokasi tersebut.
Nicko kaget, dia tercekat dan terdiam sesaat. Darmin yang tahu perubahan elspresi bosnya, segera mengambil dokumen itu, lalu dia memiliki ekspresi yang sama.
"Ya saya tahu, pasti anda berdua juga kena omong kosong tentanh tanah itu kan? Soal sumur yang katanya berpenunggu makhluk yang mengerikan? Serius kalian percaya itu?" Aditia mencoba memancing mereka.
"Hmmm, i-iya. Kami sih, percaya tidak percaya ya. Tapi kenapa lokasi ini pak? Ini lokasi kumuh, bukankah kalian tidak suka dengan lokasi yang gak strategis?" Nicko bertanya, suara lnya sedikit bergetar.
"Ini yang saya tidak suka dari kebiasaan ayah saya saat menolak kerjasama dengan perusahaan anda untuk membangun perumahan itu.
Cara-cara kuno takkan pernah kami gunakan lagi. Lokasi strategis itu tidak muncul sendiri. Lokasi itu harus kita ciptakan. Saat ini memang benar kata anda, ini lokasi yang jelek, tapi percayalah, saat kita mengekpansi tanah itu, lalu tanah disekitarnya cepat atau lambat akan mampu kita kuasai untuk membangun sarana yang membuat siapapun tinggal di perumahan itu seperti tidak ingin keluar lagi.
Makanya, tanah ini penting sekali untuk perusahaan kami, kalau anda sanggup membebaskan tanah itu. Saya akan bicarakan mengenai pembangunannya dengan anda lagi, bisa jadi perusahaan kontraktor anda bisa kami pakai dalam jangka waktu yang panjang. Ini kesempatan yang jarang anda bisa dapatkan.
Hanya karena saya tahu reputasi anda dalam pembebasan lahan, makanya saya datang ke sini. So, take it or leave it." Perkataan Aditia membuat Alka kagum. Dari mana rasa percaya diri itu? Aditia benar-benar terlihat sangat mempesona saat berpura-pura menjadi orang licik.
"Beri saya waktu. Saya ...."
"Dua hari, lebih dari itu, jika anda tak menghubungi saya, maka saya akan cari perusahaan lain yang bersedia, bukankah perusahaan kontraktor milik Antoni itu saingan anda? Saya bisa saja memberikan proyek ini padanya." Aditia mengancam, seorang serakah seperti Nicko pasti takut kalau rival dalam usaha ya malah dapat tander yang jauh lebih nesar akibat penolakan itu.
"Dua hari, kami akan usahakan jawabannya adalah kabar baik."
Nicko berusaha meyakinkan dua pemuda yang percaya diri itu.
"Baiklah, saya kira sampai di sini dulu meeting kita hari ini. Saya tunggu kabar baiknya." Aditia dan Alka lalu izin pamit pulang.
Nicko dan Darmin bergegas melakukan pekerjaan mereka, memastikan bahwa lahan di mana sumur bersegel itu ada, harus bisa dibebaskan dari penduduk yang menolak pembangunan di sana.
__ADS_1
Ya betul, tanah yang Aditia dan Alka maksud adalah tanah di mana tubuh Suminah dikubur, tamah di mana Deden ditanhkap dan tanah di mana Suminah dibunuh.
Kira-kira Nicko sama Darmin ngapain ya buru-buru dengan tubuh renta mereka?