Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 212 : Tinung 16


__ADS_3

Dokter Adi keluar, dia kaget melihat kawanan babak belur, dia lalu memanggil Perawat untuk membantu mengobati mereka.


Aditia menolak, dia buru-buru mendekati Dokter Adi.


“Dok ....”


“Operasinya berhasil, tenang saja, kita tunggu mereka sadar. Mengenai efek samping operasi yang aku lakukan pada Alka karena pendarahan pada otaknya, baru kita bisa pastikan setelah dia sadar, sekarang kau obati dulu lukamu, nanti saat Alka bangun, jangan sampai di stress karena memikirkan kalian.” Dokter Adi mengingatkan.


“Baik Dok.” Aditia kembali mendekati Perawat yang tadi hendak mengobati lukanya.


“Tadi Seira kesini?” Dokter Adi bertanya, tidak tertuju pada satu orang, hanya bertanya saja pada mereka.


“Seira?” Mereka bingung, orang yang dimaksud Dokter Adi siapa?


“Oh ... maaf, maksudku Ayi Mahogra.” Dokter Adi meralat kata-katanya.


“Oh, iya tadi Ayi yang membantu kita untuk mengusir pasukan Ratu laut, untung saja Ayi datang.”


“Ya, aku menghubunginya, karena aku merasakan kedatangan mereka, tapi tidak bisa membantu kalian, aku minta tolong Ayi untuk mengutus beberapa orang membantu kalian. Tapi ternyata dia turun tangan sendiri, ini pasti karena di sangat sayang padamu, Dit.”


“Ah enggak Dok, dia juga sayang pada tim ini, karena dia mungkin kelak bisa menjadikan kami murid dan penjaga AKJ.”


“Ya, bisa jadi itu juga.” Dokter Adi lalu pamit, dia hendak istirahat karena proses operasi dan trasnfusi darah itu memakan waktu berjam-jam.


Alka dibawa ke luar oleh Perawat bersama dengan gadis itu.


Aditia dan yang lain mengikuti Alka hingga ke ruang perawatan, kepala Alka tampak sudah diperban, ternyata rambutnya di cukup habis.


Aditia sedih melihatnya, dia tidak bermaksud sedih karena Alka sudah gundul, tapi dia sedih karena Alka terlihat sangat kesakitan.


Lalu setelahnya mereka makan dan istirahat di ruang perawatan Alka, ruang VVIP.  Jadi ruangannya cukup luas untuk menampung mereka semua. Dokter Adi juga membawakan mereka kasur lipat agar yang lain bisa tetap tidur dengan nyaman di kasur lipat tersebut.


Malam lalu semakin larut, satu persatu tidur. Aditia masih di samping Alka, dia memegang tangan Alka sementara yang lain sudah terlelalap.


“Sabaku, bertahanlah, kau itu wanita kuat, kami semua menunggumu bangun sayang.” Aditia mengecup dahi Alka, lalu setelahnya tidur dengan kepala menunduk di kasur tempat Alka tertidur juga.


...


Pagi datang, Alka masih belum bangung juga, Dokter Adi memeriksa keadaan sembari memberikan sarapan untuk kawanan, sungguh pelayanan yang maksimal karena Dokter Adi menjamu para tamunya dengan baik, sehingga tamunya tidak kelaparan dan tidur dengan baik.


“Dok, kenapa Alka belum bangun?” Aditia bertanya.


“Mungkin karena efek bius, aku memang memberikan dosis yang cukup tinggi, karena takut Alka akan bangun ketika kami sedang melakukan transfusi, karena dia itu bukan manusia biasa, pasti anastesi tidak terlalu mempan untuknya. Jadi bersabar ya Dit, kau makan saja dulu, aku lihat kau dari kemarin belum makan.” Dokter Adi meminta Aditia untuk makan, sementara yang lain sudah sibuk dengan makanannya masing-masing.


Aditia duduk bersama mereka dan mengambil makanannya, memang makan terakhir dia adalah kemarin siang karena sibuk dengan pencarian, dia jadi sering lupa wakt makan.


Aditia makan dengan enggan, walau tidak ingin dan tidak nafsu makan, tapi dia harus paksakan, karena dia harus jadi lelaki sehatnya Alka. Alka akan lemah setelah ini, dia harus lebih kuat dan sehat untuk menjaganya.


Saat mereka sedang makan, tiba-tiba mereka mendengar suara rintihan dari tempat tidur Alka, spontan mereka meninggalkan makanannya dan mendekati Alka.


“Kak!” Ganding memegan kakinya Alka, sementara Aditia ada disisi kanannya, memegang tangan dengan sangat lembut, sisanya mengitari Alka.


“A ... a ... air.” Alka terlihat kehausan.


Aditia sigap, dia langsung mengambilkan air yang ditaruh di gelas dan diberikan sedotan agar Alka bisa meminumnya dengan mudah.


Ranjang perawatan Alka sudah dibuat tegak, agar dia bisa minum dengan mudah, setelah minum, Alka lalu meringis, kepalanya sakit.

__ADS_1


“Sakit Ka?” Aditia bertanya.


“Ya sakit sekali.” Alka berkata sambil memegang kepalanya.


“Mau aku panggilkan Dokter Adi?” Aditia bertanya.


“Boleh ... tapi ... ngomonga-ngomong kalian ini ... siapa?” Alka bertanya, semua orang terkejut, bagaimana bisa dia terlihat baik-baik saja, tapi lupa ingatan.


“Kak! Jangan bercandalah, ini kami adik-adikmu, ini Aditia, kau tidak ingat kami?” Hartino memelas.


“Tidak!” Alka menjawab dengan tegas.


Dokter Adi datang, dia terlihat khawatir.


“Saba Alkamah, lihat saya, apakah kau merasakan pusing di kepala?” Dokter itu bertanya.


“Ya Dok, sakit kepala hebat.” Alka menjawab dengan tenang.


“Apa kau tidak ingat mereka?” Dokter Adi khawatir, ini bisa jadi efek samping dari operasi kemarin, walau kemungkinanannya kecil.


“Siapa mereka?” Alka bertanya lagi.


“Ini adik-adikmu Ka, walau mereka tidak dilahirkan satu rahim denganmu, tapi mereka selalu bersamamu untuk jangka waktu yang lama.” Aditia menjelaskan, tapi Alka terlihat kebingungan.


“Lalu kau siapa?”


“Aku? aku ... aku ... aku calon suamimu!” Aditia mengatakannya dengan jelas, sementara yang lain terlihat kesal dengan Aditia karena dia seenaknya berbicara. Bagaimana mungkin dia calon suami kalau kata cinta saja tidak pernah mereka ucapkan.


Tiba-tiba Alka menonjok Aditia, walau dia lemas, sekujur tubuh sakit, Alka masih ingin menyiksa lelaki satu ini. Bisa-bisanya dia memperkenalkan diri sebagai calon suami Alka.


“Kak!” Mereka sadar bahwa Alka ternyata hanya bergurau saja, dia tidak benar-benar lupa ingatan, dia sedang mengerjai adik-adiknya dan Aditia, karena mereka terlihat sangat konyol tadi, ada yang masih kotor tangannya bekas makan, ada yang masih mengunyah dan ada yang membawa piring makannya. Alka jadi ingin mengerjai mereka.


“Halo Dok, maaf aku sudah merepotkan.” Alka meminta maaf pada Dokter Adi.


“Tak apa.”


“Apakah adik-adikku ini menyusahkan?” Alka bertanya.


“Tidak, mereka orang-orang hebat.” Dokter Adi terlihar senang melihat Alka ternyata cepat pulih.


“Baiklah Dok, tapi soal sakit kepalaku, aku tidak berbohong, sakit sekali rasanya, lalu ... sebentar ... kemana rambutku!” Alka berteriak, karena sadar kalau rambutnya tidak ada, hilang!


“Rambutmu sudah dicukur, karena Dokter Adi terganggu dengan rambutmu saat operasi!” Aditia sewot, entah untuk alasan apa.


“Benar Dok, rambutku mengganggu?” Alka bertanya.


“Memang harus dicukup karena aku akan mengoperasi kepalamu, itu prosedur yang harus dijalani, bukan karena mengganggu.” Dokter Adi menjelaskan.


“Oh begitu, lalu apakah rambut saya bisa tumbuh?” Alka bertanya lagi.


“Tentu saja bisa, tapi menunggu waktunya, akan tumbuh alami kok.” Dokter Adi menenangkan.


“Baiklah Dok, terima kasih ya.”


“Ya, kalau begitu aku akan tinggalkan kalian ya, keadaan  Alka sudah membaik, hanya tinggal recovery aja.”


“Oh ya Dok, apa kabar dengan gadis itu?” Aditia bertanya.

__ADS_1


“Gadis?” Alka bingung siapa yang dimaksud.


“Itu loh Ka, anak perempuan Mbah Nur. Yang kemarin ditumpangi oleh Tinung.


“Oh itu.” Alka terdengar sinis.


“Dia baik-baik saja, aku sudah menghubungi ayahnya, dia akan dibawa pulang begitu perawatannya selesai.” Dokter Adi menjelaskan.


“Baiklah Dok, terima kasih ya.”


Lalu Dokter Adi pamit, Aditia masih duduk di samping Alka dengan kursi.


“Ada apa?” Alka bertanya karena Aditia terlihat kesal terus.


“Memang harus memperkenalkan diriku sebagai adikmu!” Aditia kesal.


“Hah?” Alka bingung.


“Kau memperkenalkan aku sebagai adikmu pada Dokter Adi.” Aditia meluapkan apa yang dia tidak sukai.


“Lalu aku harus memperkenalkanmu sebagai apa? calon suami?!” Alka sekarang yang marah.


“Bukan begitu, setidaknya kalau belum sampai di tahap calon suami, bagaimana kalau ditahap pacaran saja?” Aditia meggoda dan ayng lain pura-pura tidak dengar.


“Aku tidak suka pacaran!” Alka menolak tegas.


“Baiklah, bagaimana kalau kita menikah saja?” Aditia mengatakannya dengan tiba-tiba. Alka tersedak mendengar itu.


"Jangan main-main dengan kata menikah, karena urusannya dengan Tuhan langsung." Alka membaringkan lagi tubuhnya dengan memencet remot agar ranjangnya dalam posisi tidur lagi.


"Aku tidak main-main!"


"Aku juga tidak suka main-main, makanya bisakah kau tidak membahasnya saat ini?"


"Justru harus saat ini." Aditia memaksa.


"Kenapa!" Alka yang kesal.


"Karena kau harus ada yang melindungi, tapi harus yang muhrim, menjagamu 24 jam."


"Jar! mau jagain kakak nggak?" Alka tiba-tiba berteriak, memberitahu Aditia kalau dia masih punya adik-adik yang jauh lebih hebat.


"Mau!" Jarni menjawab singkat tapi terlihat senang.


"24 jam bisa?"


"Bisa!" Jarni menjawab tegas dari tempat duduknya.


"Masalah selesai kan?" Alka meledek Aditia.


"Dijagain sama orang lain dan suami itu berbeda." Aditia masih bersikukuh.


"Dit, kamu bikin kepalaku makin pusing ah!" Alka kesal karena Aditia benar-benar memaksanya untuk menikah.


"Ka, kau cemburu ya saat aku bertanya tentang gadis itu pada Dokter Adi? Kau tidak perlu cemburu, gadis itu hanya bagian dari kasus, setelah selesai kasus, maka aku dan gadis itu tak ada hubungan."


"Kau gila!"

__ADS_1


__ADS_2