Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 91 : Dia Lagi


__ADS_3

"Kamu dengar kan?" Aditia bertanya pada Alka yang di sampingnya juga terkejut karena Aditia mengnjak rem dengan dalam sehingga menyebakan mereka terpental.


"Ya, aku dengar."


"Suara ini terus memanggil Ka, aku sudah merasakannya beberapa waktu ini, tapi entah siapa atau apa." Aditia bingung.


"Dia ada di sana." Alka menunjuk depan mobil Aditia.


Ada sesosok yang jelasmenghadang mobil Aditia.


Aditia hendak keluar dengan membuka pintu mobil angkotnya, tapi alka menahan tangan Aditia, Aditia urung membuka pintu itu lalu menoleh lagi pada Alka.


"Kenapa?" Tanya Aditia.


"Kalau kau membukanya, kau akan kembali pada rasa sakit itu."


"Rasa sakit itu?" Aditia bingung dengan perkataan Alka.


"Apakah kau mampu menolongnya atau malah mengabaikannya?"


"Ka, jangan pake kode-kodean begini ah, ada apa sih? Kamu kenal dia?" Aditia menunjuk sosok itu.


"Tahu, karena yang sangat mengenalnya adalah dirimu, rasa sakit yang cukup dalam membuatmu dulu begitu terpuruk, di satu sisi aku tidak ingin kau terluka lagi, tapi disisi lain, dia mungkin adalah entity yang harus kita tolong."


"Ka, percayalah, ketakutan terbesarku saat ini, hanya kehilangan kalian seperti ekmarin saat dikerjai sang ratu, sisanya aku pasti bisa menghadapi, asal ... ada kau di sini."


Alka tersenyum kecut, dia tidak suka sekaligus suka kata-kata itu.


"Turunlah sisanya kau yang memutuskan, jika kau mampu menolongnya aku dan yang lain akan membantu seprti biasa, tapi jika kau tidak mampu menolongnya, aku dan yang lain kemungkinan akan tetap menolongnya, karena dia sudah bertahan cukup lama."


Aditia akhirnya turun dari mobil angkotnya, dia tidak tahu siapa sosok di depannya, semakin lama semakin dekat, Aditia mulai mulai mencium aroma yang cukup familiar, dia terus mendekat, sampai wuduj itu semakin jelas trlihat, ketika Aditia sudah bisa melihat wajahnya dari dekat, kakinya berhenti melangkah, dia gemetar melihat wajah itu, wajah yang benar saja, Alka tepat menjelaskan apa yang Aditia rasakan saat ini, sakit yang dalam itu kembali lagi.


Dia membalik badannya, urung menolong.


"Dit, aku mohon." Sosok itu berkata, suaranya sangat berbeda, tidak seperti yang selalu dia dengar ... dulu.


Aditia tetap berjalan, walau ketika sosok itu berbicara, dia sempat terhenti.


"Dit, aku sudah tidak sanggup, bantu aku Dit." Sosok itu masih memohon.


Aditia terus berjalan, dia mendekati kembali mobilnya, saat semakin dekat dengan mobil angkotnya, tangan dingin sosok itu menyentuh Aditia kaget karena sangat dingn, dia reflek menepis tangan tanpa raga itu.


"Jangan kau berani sentuh aku lagi, Alya!" Ya, sosok itu adalah Alya, wanita yang dulu membuat Aditia sangat mencintainya, wanita hebat yang Aditia fikir akan menemani hidupnya kelak hingga mampu membawanya menemui Ayi Mahogra dalam zona netral, wanita yang hampir membunuhnya karena dia rela menjual jiwa untuk uang! Benar-benar wanita buruk yang tidak ingin Aditia temui lagi.


"Aku tahu aku tidak berhak meminta maaf, aku tahu aku tidak termaafkan, tapi aku tidak tahu siapa lagi yang mampu menolongku selain kau dan teman-temanmu, aku hanya ingin pergi dengan tenang Dit, aku sudah mendapatkan balasan semua yang aku lakukan saat ini, skarang aku sudah tidak kuat Dit, aku mohon, aku ingin kembali kepada Tuhanku, tapi aku tidak mampu, karena mereka ... mereka masih tidak mau pergi Dit." Alya mencoba menjelaskan kondisinya Aditia masih tidak mau menoleh, tidak ada sedikitpun rasa kasihan yang Aditia rasakan.


"Darimana aku tahu kalau kau tidak berbohong lagi? Darimana aku tahu kau tidak akan menipu lagi, bagaimana jika kali ini tujuanmu sama, hanya ingin mendapatkan ambisimu, uang dan harta itu, buatku, kisah kita adalah masa lalu yang tikda ingin aku ingat lagi, kenangan buruk yang bahkan tidak ingin aku jadikan pelajaran karena aku begitu tidak ingin mengingat itu." Aditia dengan tegas menolak menolong Alya, dia bahkan tidak menoleh sama sekali, dia muak melihat wajahnya.

__ADS_1


Aditia masuk ke dalam mobil angkotnya, Alka melihat Aditia murung, dia menjalankan kembali angkotnya dengan kecepatan yang tinggi.


"Dit." Alka memegang tangan Aditia yang di setir mobil, dia ingin Aditia menepi dan berhenti sebentar.


Aditia menepikan mobilnya lalu memukul-mukul setir sembari berteriak, ini malam hari jadi tidak banyak yang lalu lalang di jalan ini, suara Aditia tidak mengganggu siapapun.


"Aku tahu, kau pasti kecewa."


"Aku tidak kecewa, aku marah dan jijik."


"Dit, aku tidak akan memaksa kau emnolongnya, aku mendengarnya memanggilmu dan melihatnya, aku tahu wanita ini, karena aku mengikutimu dari sejak bapak masih ada. Aku tahu seberapa dalam wanita ini menyakitimu dan mengecewakanmu, tapi dia benar-benar butuh pertolongan Dit, Hartino sudah memeriksanya, keadaannya sangat ..."


"Kau memeriksanya tanpa sepengetahuanku?!"


"Dit, mungkin bagimu dia wanita yang menyakitimu, tapi bagiku dan yang lain, dia adalah entiti yang butuh pertolongan, tidak lebih."


"Aku tidak akan menolongnya." Aditia berkata.


"Aku tidak akan memaksa Dit, itu keputusanmu."


"Dan aku ingin, kalian juga tidak menolongnya."


"Dit, maaf, itu tidak bisa, dia sangat butuh kita, aku tidak bisa mengabaikannya, walau menolongnya juga menyakitiku."


"Rasa sakit apa yang bisa kau rasakan? Apa lebih dari rasa sakitku?" Aditia meninggikan suara.


Saat ini kendaraan sudah sampai di dekat gua Alka, Aditia memberhentikan angkotnya tanpa bicara dia membangunkan Alka yang memang tidak tertidur.


"Alka membuka pintu angkot, tapi sebelum keluar dia berbicara.


"Dit, kau tahu, ketika orang tidak bisa memaafkan kesalahan orang lain adalah karena orang itu dulunya sangat berarti baginya, hingga kesalahannya tidak bisa dimaafkan, dengan kata lain, rasa itu masih ada, rasamu pada Alya tidak pernah hilang, makanya kau masih saja marah, karena rasa itu masih sangat dalam kan, Dit?" Alka menatap lekat Aditian, hal yang sangat alka ingin katakan, walau itu sangat menyakiti hatinya yang terkena Lanjo.


"Kau sok tahu, aku membencinya bagaimana aku bisa masih merasakan perasaan itu padanya?" Aditia membantah.


"Tidak kau salah, kau masih sangat merasakannya, makanya hal itu tidak pernah kau lupakan, bahkan mungin kau masih menggenggam perasaan itu padanya, makanya bagimu ini berat, karena kau masih sangat memegang perasaan itu, perasaan yang akhirnay dihancurkan oleh Alya, atas ulahnya sendiri.


Tapi perasaan itu tidak pernah kau lepaskan sama sekali, hingga melihatnya masih membuatmu sakit, lalu kalau kau masih merasakan perasaan itu padanya, kenapa kau bisa mengatakan menginginkanku dihidupmu? Lelaki memang sulit dipercaya, apalagi lelaki berwujud manusia." Alka lalu membuka piintu mobil dan keluar, dia tidak mau mendengar penjelasan Aditia lagi.


Aditia akhirnya melajukan lagi angkotnya untuk pulang ke rumah, saat sampai rumah dia melihat Dita sedang belajar di ruang tamu, padahal sudah malam.


"Assalamualaikum Dita, masih belajar?"


"Iya Kak, baru pulang?"


"Iya,mau mandi dulua ya, nanti temani Kakak makan ya."


"Ogah."

__ADS_1


"Kok gitu sih?"


"Ajak makan lah, masa cuma nemenin."


"Loh kamu belum makan?"


"Udah, tapi laper lagi, ibu masaknya enak." Dita lalu bersiap menghangatkan makanan untuk kakaknya, dia terbiasa menghangatkan makanan untuk kakaknya dari dia diizinkan menyalakan kompor, ibunya sudah tidur karena besok dan hari-hari selanjutnya ibu harus bangun pagi sekali untuk menyiapkan pesanan kue dan setelahnya pergi untuk bekerja memasak.


Aditia selesai mandi, dia ambil makan yang sudah dihangatkan Dita, Dita juga ambil makanannya dan mereka makan bersama tapi di ruang tamu, karena ingin sembari nonton televisi yang ada di ruang tamu.


"Ih munafik banget, masih sayang tapi nggak mau ketemu, bilang aja belum move on." Dita bicara karena dia sedang nonton sinetron.


"Ya nggak munafiklah, kan emang nggak mau lagi, makanya nggak mau ketemu, bukan berarti belum move on."


"Lah gimana sih Kak? Kalau emang nggak ada perasaan, ketemu ya ketemu aja, nggak ada rasa yang tertinggal mah udah biasa aja, nggak sakit, nggak suka atau apapun, kayak ketemu temen lama aja, nggak ada perasaan." Dita kesal karena Aditia tidak mengerti hal sesederhana itu.


"Nggak gitu juga, kalau emang bencinya dalem, karena kesalahannya besar, ya pasti males ketemu, wajar itu." Aditia masih saja bertahan dengan pendapatnya.


"Kak, benci itu juga perasaan, malah lebih bahaya dari cinta, karena kau tetap menyimpannya dalam hati, tapi dalam hatimu yang kelam dan gelap, kasihan orang yang membenci terlalu dalam, karena dia akan terjebak dalam perasaan itu dengan tetap mengingat orang yang dia benci, alih-alih melupakan rasa bencinya dan meninggalkan perasaan itu, bencin juga suatu perasaan kan, Kak?" Aditia tersentak mendengar perkataan Dita, dia menyadari satu hal, benar bahwa dia masih menyimpan Alya dalam hatinya, dulu di dalam hati yang hangat, sekarang di dalam hati yang kelam, karena bencin dan cinta itu sama-sama perasaan.


Alka benar Aditia masih menyimpan Alya dalam hatinya walau di area yang berbeda, bagaimana dia melangkah pada perempuan lain jika hatinay masih menggenggam Alya wala udalam hati yang kelam, tapi itu tetap hati, seharusnya Aditia menyelesaikan perasaannya yang belum selesai pada Alya.


Saat Aditia sedang asik makan, tiba-tiba Dita menaruh piringnya dengan kasar dan duduk mendekat pada Aditia.


"Kenapa sih?" Aditia bertanya.


"I-itu ... itu." Dita menunjuk pada sesosok yang berdiri di dekat jendela rumah Aditia, sosok itu menempelkan wajahnya di jendela.


"Nggak ada apa-apa kok, kamu tidur sana, biar piringnya Kakak yang cuci." Aditia mengantar Adiknya untuk cuci tangan dan masuk ke kamar.


Tentu sosok itu memang ada, tapi Aditia tidak ingin Dita ketakutan, dia mendekati jendela, sosok itu lalu membuka rambutnya yang menutup wajah yang menempel pada tembok.


Wajah itu hancur seperti terbakar, bola matanya hampir keluar, kulit kepalanya terlihat gosong walau rambutnya panang tapi banyak bagian yang seperti rontok karena luak bakar, seluruh tubuh hangus.


"To-toloooongggg, tolong aku ...." Suara itu serak dan hampir tidak terdengar, itu jelas ruh Alya yang sedang kesakitan, sosok yang mengikutinya sejak beberapa waktu ini, sosok yang baru saja dia dan Alka temui, sosok yang entah kenapa lepas raganya dan menguntit Aditia selama ini.


Sosok itu semakin dekat ke jendela, semakin dia menempelkan wajahnya pada kaca jendela, semakin kulitnya terkelupas.


"Pulanglah, besok aku dan yang lain akan menemuimu tubuhmu." Aditia akhirnya luluh, bukan takut apda sosok ini, tapi tidak ingin menyakiti Alka lagi, dia ingin menyelesaikan masa lalunya dengan Alya.


___________________________


Catatan Penulis :


Ada yang masih inget Alya? Apa kabar ya dia?


Kita selesaiin kisah Alya dulu ya, baru masuk perjalanan hidup semua anggota satu-persatu sampai mereka dipertemukan.

__ADS_1


Terima kasih, jangan lupa kasih Vote dan hadiah ya.


__ADS_2