
Bagian 126 : Saba Alkamah 11
“Tuan, kenapa kau memanggilku?” Meutia tidak lupa ini adalah gua milik suaminya.
“Kau sudah menjadi pembangkang hanya karena memiliki anak itu di rahimmu?”
“Anak itu? ini anakmu!” Meutia kesal, sementara anaknya ditolak oleh Darhayusamang, tapi orang lain mau mengakui anak ini sebagai cucunya, sungguh ironis.
“Anakku memang, tapi jelas bukan pilihanku.”
“Kalau begitu kau langsung saja sebutkan keinginanmu.”
“Aku ingin kau membunuh anak ini begitu lahir, selama ini aku mencari beberapa mantra dan tumbuhan untuk menciptakan racun yang bisa menangkal kekuatan jahat bayi itu, lalu membunuhnya secara cepat.”
“Kau mau aku membunuhnya begitu dia lahir?”
“Ya.”
“Tapi tidak bisa semudah itu Tuan, karena anak ini telah diakui sebagai anak dari Haris, mantan suami resmiku.”
“Bodoh! kenapa kau tidak menyembunyikan kehamilanmu?”
“Aku sebenarnya tidak perlu menyembunyikan kehamilanku, karena ini hanya kain.” Meutia membuka perutnya dan melepas kain yang dia sumpal di perutnya.
“Kenapa kau melakukan itu?”
“Karena kau meninggalkanku, lalu aku tidak punya sandaran, tiba-tiba orang tua Haris datang mendengar kehamilanku dari dukun urut yang kau buat menjadi gila itu. Aku memeras mereka agar member uang, jadi aku menikmati harta mereka karena kehamilanku ini.” Meutia berkata dengan santai.
“Kau benar-benar manusia yang beracun, semua sikapmu sungguh menjijikan, tidak heran kau akhirna hamil dari janin terburukku.”
“Aku memang merasakan energi jahat dari tubuh anak ini, karena sejak aku hamil, setiap saat aku rasanya ingin membunuh orang dan melakukan kejahatan lain, rasanya itu membuatku merasa puas.”
“Itu makanya aku tidak ingin kau hamil, anak itu akan membuat siapa saja yang berada di dekatnya akan celaka, aku melakukan itu untuk kebaikanmu, kelak, cepat atau lambat kejahatan kau dan ayahmu akan terungkap, kau harus berhati-hati. Membunuh anak ini adalah jalan untuk memutus nafsu jahat itu.”
“Tidak, aku suka dengan apa yang aku rasakan saat ini.”
Darhayusamang berbohong, dia tidak melakukan itu untuk istri manusianya, tapi untuk dirinya sendiri, dia melakukan itu agar posisinya sebagai jin berilmu tinggi tetap bertahan, kalau dia membiarkan anak itu lahir dan berita soal anak itu tersebar, dia akan menjadi jin yang tidak dihargai lagi, diolok-olok karena punya anak haram, hasil pernikahannya dengan wanita manusia.
“Tuan, maaf, aku harus kembali ke rumah, anak ini tidak akan aku lenyapkan, dia sangat berguna bagiku, aku bisa memanfaatkannya untuk mendapatkan harta keluarga Haris, sedang kalau sudah besar kelak, aku mungkin bisa memanfaatkannya untuk hal lain.
Jadi, kita urus masing-masing masalah kita, jangan temui aku lagi, kau meninggalkanku, bahkan kemarin hampir membunuhku. Jadi, tidak ada hal yang ingin aku bicarakan lagi denganmu.”
Meutia berjalan, dari belakang Darhayusamang bersiap, dia hendak menyerang Meutia secara diam-diam, dia melempar kekuatannya berupa api yang terlontar dari tangan, api itu kena tangannya, Meutia kaget, karena rasanya panas. Dia berbalik menghadap Darhayusamang karena sadar terlalu berbahaya membelakanginya, begitu dia berbalik, api yang kembali menyerangnya, musnah, berubah menjadi hembusan angin, Meutia terlempar, tapi dia berhasil menguasai tubuhnya yang terlempar dan memegang apa saja yang bisa diraih.
Pagar rumah, dia memegang pagar rumahnya, ternyata hentakan barusan membawa dia kembali ke rumah, janin ini pasti yang telah menyelamatkannya dari serangan suami jinnya itu.
Meutia tersenyum, dia tidak mengusap perutnya sama sekali, tidak ada usapan kasih sayang untuk anaknya, kasihan sekali anak itu padahal sudah melindungi sedemikian rupa.
Meutia buru-buru masuk ke rumah karena dia teringat, sumpalan perutnya telah dia keluarkan di gua tadi, sehingga perutnya kembali rata, kalau ada tetangga yang lihat bisa bahaya.
“Darimana saja kamu, lama sekali, tidak pulang-pulang, ini sudah hampri malam,” ayahnya bertanya.
“Oh ya, sudah gelap, tidak terasa. Tadi Darhayusamang memanggilku, seperti biasa dia menarikku ke guanya, jadi waktu lebih lama dari biasanya karena kami di dimensi yang berbeda.”
“Darhayusamang? apa yang dia inginkan memanggilmu ke sana?”
“Dia ingin anak ini dibunuh, katanya dia sudah menemukan mantra dan juga tumbuhan racun untuk meredam kekuatan anak ini dan juga membunuhnya dengan cepat.”
__ADS_1
“Kau setuju?” ayahnya bertanya lagi.
“Tentu tidak, anak in ibanyak manfaatnya, lagian kalau anak ini mati, siapa yang akan melindungiku kelak?”
“Bagus kau wanita pintar, kita harus melindungi anak ini karena dia adalah sumber uang kita, jangan lengah, kau tidak ingin menjadi budak jin itu selamanya bukan? kita bisa menipu banyak orang, seperti orang tua Haris saat ini, bukan?”
“Iya Ayah, aku tidak akan pernah menurutinya lagi.”
“Kalau begitu, istirahat dulu Nak, kau pasti lelah.”
“Ya Ayah.” Meutia lalu pergi ke kamarnya.
...
Sementara jauh di luar sana, ada seorang pria yang sangat baik dan sederhana, dia sedang duduk santai dan menatap ke langit.
“Pak, ini kopinya, pahit kayak biasa ya.” Seorang Pelayan yang sudah kenal member pesanan kopi lelaki itu, sekarang dia sedang di warung kopi pinggir jalan dekat rumah orang tuanya.
Mulyana menyeruput kopi hitam itu sembari terus memandang langit.
“Kenapa lu?” sahabatnya Dirga bertanya.
“Lu ngerasa nggak sih, kalau langit terlihat merah?”
“Nggak sih Yan, kenapa emang?”
“Berati cuma gue yang lihat begitu ya?”
“Lu ngerasain apa sih?” Dirga yang saat itu masih pelatihan Kepolisian bertanya.
“Langit teras menakutkan, udara terasa panas, aku merasa takut setiap saat.” Mulyana yang belum menikah dan masih berpacaran dengan ibunya Aditia menjelaskan apa yang dia rasakan beberapa hari ini.
“Aku takut kalau aka nada kejadian mengerikan karena ulah jin-jin itu.”
“Jin apa?”
“Jin yang ingin melakukan kerusakan.”
“Menakutkan sekali, tapi apakah kau bisa mengabaikannya saja?”
“Tidak bisa, karena bisa jadi aku harus mencegah hal itu.”
“Mul, bahaya, kalau kau melakukan itu bisa jadi kau tidak akan selamat, aku lelah harus membawamu berkali-kali ke rumah sakit.”
Mulyana masih muda kala itu, dia sering salah melakukan langkah sehingga tubuh mudanya itu sering sekali dikerjai oleh jin yang dia hendak usir atau ruh penasaran yang hendak dia ingin antar pulang.
“Tapi Dir, tolong aku kali ini, perasaanku tidak enah sekali, aku harus tahu apa yang akan terjadi, aku kira aku harus meminta bantuan khodamku memeriksa.”
“Kau akan lepas raga lagi?” Dirga kesal karena ini adalah hal yang paling dia takuti, takut kalau Mulyana tidak mampu kembali ke tubuhnya.
“Aku janji kembali, lagian aku belum menikah, aku ingin menikah dan punya anak, tenang saja.”
“Kau bisa bekata dengan tenang begitu? sementara kau tahu dengan jelas kemarin aku baru saja membawamu ke UGD karena kau pingsan tiga hari,” Dirga mengingatkan.
“Dir, ayolah, aku mohon.”
Dirga akhirnya setuju, karena kalau tidak setuju, bisa jadi Mulyana akan melakukannya sendirian, itu lebih menakutkan lagi bagi Dirga.
__ADS_1
“Kita akan melakukannya di mana?” tanya Dirga.
“Sebentar, kita antar kakek ini dulu.” Mulyana melirik ke belakang ke arah kakek-kekek yang tubuhnya tidak utuh lagi, kakek itu hanyut di sungai, tubuhnya tidak diketemukan lagi karena telah hancur. Dirga tidak bisa melihat, tapi dia merinding tanpa henti.
“Yaudah.”
Mereka mengantarkan pulang kakek itu dulu lalu setelahnya pergi ke suatu rumah yang tidak terlihat, dari luar gerbang, rumah ghaib ini terlihat seperti tanah lapang saja bagi mata awam.
Mulyana membuka pagarnya dengan mantra, lalu setelah pagar terbuka bangunan terlihat, bangunan itu masih satu lantai dan sederhana, kelak bangunan tersembunyi ini akan menjadi tempat penyimpanan semua rahasia Mulyana dan benda pusaka yang tidak bisa dijinakkan.
“Tuan, tumben datang malam sekali?” Seorang jin dan merupakan pelayan wanita di sana menyambut mereka, Dirga tentu tidak bisa melihat, dia hanya melihat gelas melayang, toples kue melayang dan juga semua yang Pelayan itu bawa terlihat seperti benda yang melayang sendiri, padahal dibawa oleh pelayan jin itu.
"Kamu tinggalkan kami berdua ya," perintah Mulyana pada pelayannya itu.
Dirga dan Mulyana masuk ke ruangan khusus, itu adalah ruangan yang gelap dan tanpa perabotan, hanya ada sebuah bangku yang disiapkan untuk Mulyana duduk.
"Dir, lakukan seperti biasa ya, jika aku tidak bangun dalam waktu tiga jam, kau harus segera membangunkanku dengan menusuk keris ini di bagian tangan."
"Ya, aku sudah tau, sudah sering melakukan itu."
"Baiklah, aku akan lepas raga dulu ya."
Mulyana duduk di bangku yang ada di tengah ruangan itu lalu terdiam sejenak dan perlahan kehilangan kesadaran, Dirga menunggunya duduk berhadapan, tapi dia di lantai memegang keris mini milik Mulyana.
Saat Mulyana sudah keluar dari raganya, ada beberapa orang yang berbaju mirip seperti punggawa mendatanginya, dia lalu memerintahkan Mulyana untuk ikut.
"Ibu Ratu sudah menunggu," ucap Punggawa itu.
Mulyana mengikuti punggawa itu, mereka membuka pintunya lalu begitu pintu dibuka, laut luas terhampar, Mulyana naik sebuah kereta kencana yang dikendarai dua buaya putih, seorang punggawa lain telah duduk sebagai kusir dari dua buaya putih itu.
Tidak lama, kereta kencana itu masuk ke dalam laut lebih dalam lagi, tentu dia tidak tenggelam karena wujudnya adalah ruh, saat masuk lebih dalam, terbentang sebuah jalan yang dihiasi hamparan emas sebagai permadani, terluhat pintu gerbang kerajaan yahg sangat megah, begitu pintu kerajaan itu dibuka, ramai sekali, seperti pasar, dari jauh terlihat kerajaan yang berdiri dengan kokoh dan sangat luas.
Mereka masuk ke dalam kerajaan itu, Mulyana turun, ini sudah beberapa kali dia dipanggil ibu ratu.
Saat masuk dia dikawal dua orang punggawa berbeda untuk masuk ke ruangan kerajaan, ruangan utama.
Saat masuk ruangan itu sudah ada banyak sekali makhluk berbagai rupa, sepertinya sedang terjadi perdebatan sengit di sana.
Ibu ratu duduk di singgasana dengan tongkat emasyang tingginya sama seperti tinggi pemiliknya, ibu ratu terlihat sangat kesal hingga memegang kepalanya.
"Kemana saja kau!" Seorang patih bertanya pada Mulyana muda.
"Ada apa?" Mulyana bingung.
"Kau tidak tahu? apakah langit tidak memberiki tanda?!" Patih itu terlihat sangat marah.
"Cukup! Mulyana kemarinkau!"
Ibu ratu yang menyadari Mulyana datang langsung memanggilnya untuk mendekat.
"Maaf Ibu Ratu, aku tidak tahu, ada apa ini?"
"Kau ini, sudah kupanggil berkali-kali baru datang, aku sudah memebrimi tanda bukan!"
"Mohon maaf Ibu Ratu."
"Ke sini kau, aku akan jelaskan secara detail."
__ADS_1
Ibu ratu meminta Mulyana semakin mendekat, dia lalu mulai bercerita.