Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 452 : Kamboja 14


__ADS_3

“Aku juga tak mau kehilangan orang yang aku sayang lagi, kalau mereka kenapa-kenapa dan Alka tahu, kita semua yang akan dibunuh dia, kau tahu kan, bagi Alka Jarni adalah adik kecil yang sangat dia sayangi.”


Alisha lalu berlari ke arah terowongan, siapa tahu dia bisa masuk ke sana dengan cara itu, tapi semakin dekat, semakin lemaslah dia, tidak sampai pintu masuk Alisha jatuh tersungkur, Aditia langsung menariknya menjauh.


“Tidak bisa Alisha! Tidak bisa!” Aditia tidak mampu menahan air matanya, dia sungguh takut kalau Ganding dan Jarni sungguh di dalam dan akan menjadi korban berikutnya.


...


Alka terbangun, dia lalu berlari ke luar, dia melihat Hartino sedang di ruang tamu, wajahnya tak dapat berbohong bahwa, betapa dia sedang khawatir.


“Kemana yang lain?”


“Jarni dan Ganding sedang di terowongan, Aditia masih di rumah sakit dan Alisha kembali ke apartemen ambil keperluan kami.” Hartino berbohong, dia tak ingin kakaknya tahu dan harus pergi ke sana.


“Kau berbohong kan?” Alka bertanya.


“Aku melihat Jarni berada di tempat yang begitu gelap, aku menaruh mantra kembar padanya, sejak dia masih kecil, mantra ini adalah jiwa yang bertaut seperti anak kembar, jadi ketika Jarni terluka, aku akan merasakan apapun yang dia rasakan, aku tahu dia sedang tidak baik-baik saja. Jujur padaku, di mana mereka semua?”


“Aku tidak bisa beritahu, maaf. Kau kakakku, tapi Aditia pemimpin kawanan, perintah dia di atas perintahmu, maafkan aku kak.”


“Istrimu pun mungkin dalam bahaya, kau masih mau mengabaikan itu?”


“Kak!”


“Kalau mereka kenapa-kenapa apakah kita akan bisa tetap hidup?”


“Kak! Aku tidak bisa.”


“Baiklah, aku bisa mencari mereka sendiri kalau kau sampai tak mau memberitahuku, kau tahu aku beisa merasakan energi mereka, walau tubuhku lemah.”


“Kak! Kau akan celaka, Adit bilang kalau kau itu sedang lemah, aku mohon, jangan tepatkan aku di dalam kesulitan dan bertahanlah untuk tetap tenang di sini bersamaku.”


Alka tetap saja berjalan ke arah luar untuk merasakan energi kawanan walau agak sulit karena tergantung radius.


Hartino akhirnya menyerah, baiklah, aku akan antar kau ke sana.


Hartino dan Alka berkendara ke terowongan itu.


Saat sampai, keadaan Alisha dan Aditia sungguh sangat menyedihkan, mereka berdua duduk di aspal dengan wajah berkeringat banyak, malah kalau diperhatikan, baju mereka sudah basah karena keringat.

__ADS_1


“Kau!” Aditia akan marah pada Hartino.


“Kau tahu kakakku! Dia juga sudah menaruh mantra kembar pada Jarni, dia terbangun karena Jarni mengirim sinyal permintaan tolong pada jiwa kakakku, aku mohon, mengertilah, aku sudah berusaha.” Hartino takut kalau pemimpinnya akan sangat murka padanya, tapi posisinya sungguh sangat terjepit diantara semua masalah ini, Jarni dan Ganding, istri dan lemahnya tubuh Alka, dia bingung.


“Jangan salahkan adikku, salahkan dirimu, yang tidak mampu melindungi adik-adikku, sekarang kau marah padanya hanya karena ingin melindungiku! Kau ingin melindungiku karena keegoisanmu! Kau egois, kau bertindak bukan untuk kepentingan bersama, tapi untuk kepentingan dirimu sendiri, kau hanya ketakutan aku terluka, karena hatimu, untuk kepentingan kawanan, kau gagal!” Alka melihat Aditia dengan marah, karena beraninya dia menyembunyikan keadaan Jarni adik kesayangannya.


Tak lama kemudian seseorang datang, seorang lelaki paruh baya yang semua orang kenal, Aditia terkejut dia datang.


“Pak, bagaimana kau bisa kemari?” Aditia bertanya.


“Alka menelponku untuk meminta bantuan.”


“Apa maksudmu meminta bantuannya? Kau ingin dia celaka?” Aditia bertanya pada Alka.


“Kau pikir aku gegabah sepertimu, dengan datang ke sini dan akhirnya harus tetap tak bisa berbuat-apa-apa dan di dalam sana adikku bisa saja disiksa?”


“Kenapa kalian malah ribut? Aku tidak pernah melihat anak muda sekompak kalian dalam menyelesaikan masalah, lalu kenapa kalian semua seperti ini?” Pak Dirga, sahabat Mulyana, mantan Polisi yang sudah lama sekali tak Aditia temui, dia datang atas permintaan Alka.


“Aku meminta Pak Dirga datang, dia akan masuk ketika waktu subuh masuk, karena setelah waktu itu, tidak ada aktivitas dari sosok itu, aku ingin Pak  Dirga melihat ke dalam karena kita tak bisa, tidak ada lagi yang bisa kita percaya selain dirinya, makanya aku memintanya datang.”


“Maafkan kami merepotkan Bapak lagi.”


“Kau kan tahu, aku suka kalian merepotkanku, aku juga terkadang bosan di rumah.”


“Kau masih mau ribut denganku juga setelah ribut dengan Alka? Kau ini seperti ayahmu, sukanya marah kalau keinginanmu tidak teracapai.”


“Berarti aku anaknya, itu tak dapat di ragukan lagi, kan, Pak?”


Terdengar suara adzan berkumandang, kawanan segera meminta Pak Dirga masuk, memastikan apakah Jarni dan Ganding baik-baik saja.


Pak Dirga masuk ke dalam terowongan, berjalan dengan hati-hati, dia membawa sebotol ramuan yang mungkin tidak terdeteksi oleh sosok itu, karena ramuan itu dipagari Aditia, itu yang mereka harapkan, hanya jaga-jaga, jika saja teori mereka tentang aktivitas di dalam berhenti ketika adzan subuh berkumandang itu meleset, Pak Dirga akan tetap selamat dengan melempat ramuan itu.


Kawanan menunggu dengan perasaan khawatir, sepuluh menit mereka menunggu, tak lama kemudian deru mobil terdengar dari dalam, lalu keluarlah mobil yang Ganding kendarai saat akan mengintai terowongan.


Aditia dan yang lain terlihat lega, karena melihat mobil itu keluar dengan aman.


Saat mobil mendekat, Aditia lemas, karena yang mengendarai adalah Pak Dirga, bukan Ganding, Pak Dirga menghentikan laju mobilnya, kawanan yang tersisa mendekat dan bertanya pada Pak Dirga, apa yang terjadi sebenarnya.


“Aku masuk, gelap sekali ternyata, bukan tidak ada lampu, ada lampu, tapi mati! aku memakai senter dari telepon genggamku untuk berjalan masuk, aku melihat mobil terparkir di tengah jalan, aku mencoba untuk melihat, siapa yang ada di dalam sana, aku tidak tahu kalau ini mobil Ganding, karena kalian lebih sering memakai angkot saat bertemu denganku.

__ADS_1


Lalu saat aku menerangi kaca mobil untuk melihat apakah ada orang di dalam, ternyata Ganding dan Jarni ada di bagian depan tapi dalam keadaan ... pingsan.


Aku perlu waktu untuk membangunkan mereka berdua, tapi tidak banugn juga, Dit. Makanya aku lama keluar dari terowongan itu, bukan karena ada yang ingin mencelakaiku, tapi karena aku sendag berusaha membangunkan Ganding, tapi tidak berhasil, makanya kau memindahkan Ganding ke bangku penumpang di tengah itu, lalu mengendari mobilnya ke luar.”


Alka membuka mobil bagian depan, di mana Jarni masih tertidur di sana.


Alka tidak berusaha membangunkannya, tapi dia berusaha merasakan jiwa Jarni.


“Kosong! Brengsek!!!!” Alka berteriak, karena sadar, jiwa Jarni sudah ditahan.


Aditi melakukan hal yang sama dengan Ganding yang ada di bagian tengah mobil, apa yang dia rasakan, sama! Ganding kosong, jiwanya ditawan di sana.


“Mereka koma?” Pak Dirga bertanya.


“Mereka koma Pak.” Hartino paham maksud Alka dan Aditia.


[Dokter Adi, bisa tolong kami?] Aditia meminta bantuan orang yang paling dia percaya untuk menangani tubuh dua saudaranya.


[Ada apa?]


[Ganding dan Jarni ... koma, jiwanya ditawan oleh makhluk dari terowongan.”


[Hah? baik aku akan ke markas ghaib kalian, aku juga akan membawa peralatan yang dulu dipakai Malik ketika koma.] Dokter Adi lalu menutup teleponnya.


“Mobilnya penyok pada atap, Dit.” Alka menunjukkan itu pada Aditia dan semua orang baru tersadar, mobilnya penyok pada bagian atap.


“Berarti mereka berdua diserang oleh sesuatu.” Aditia mengatakannya dengan marah.


“Mereka diserang dan dipaksa masuk, sosok itu berarti mampu membuat Jarni dan Ganding kalah.” Alisha geram memikirkan bagaimana Jarni dan Ganding dikalahkan, bagi Alisha, Jarni juga adik kecilnya.


“Salahku, kenapa membiarkan Ganding dan Jarni untuk mengintai berdua saja, kita tahu bahwa mereka bukan petarung yang mahir, mereka berdua khusus untuk perlindungan, sedang Ganding tanpa Hartino itu seperti kaki kanan dalam satu tubuh, butuh kaki kiri agar tubuh seimbang, salahku! Kau benar Alka. Aku memang bodoh.” Aditia menyesal.


“Tak perlu lagi menyesal, tak ada waktu, sekarang kita harus segera mengamankan tubuh Jarni dan Ganding, setelah itu mencari cara membebaskan tubuh mereka dari terowongan itu.”


“Aku akan menanyai soal Pak Arif yang sedang diterapi, kita harus segera mendapatkan informasi mengenai sosok itu, semoga Pak Arif bisa sembuh dengan lebih cepat.” Hartino yang dari tadi hanya mampu menangis melihat sahabat sejatinya, sekaligus saudara seperjuangan harus koma seperti ini.


Kawanan kembali ke markas, tanpa Pak Dirga, karena dia harus kembali ke rumah, sedang kawanan  akan fokus merawat Ganding dan Jarni.


Begitu sampai, Dokter Adi sudah di markas, dia dan beberapa perawat yang juga pemilik Khodam dan Kharisma Jagat sedang mempersiapkan alat penunjang hidup bagi orang koma, untuk dua orang, biasanya dia hanya harus menyiapkan untuk Malik saja atau satu orang, tapi sekarang, dia harus menyiapkan untuk dua orang, sulit tapi bukan berarti tak mampu.

__ADS_1


“Maaf Dok, aku tidak bisa membawa mereka ke rumah sakit, karen akan bahaya bagi mereka jika ke rumah sakit, akan banyak pertanyaan dari keluarga dan mungkin kepolisian soal ini, ditambah tubuh mereka tubuh istimewa pemilik Khodam, akan banyak jiwa yang suka tubuh-tubuh itu, makanya aku meminta pertolonganmu, Dok.” Aditia meminta maaf menyusahkannya.


“Santai saja, kayak baru pertama kali aja kau merepotkanku.” Dokter Adi masih sibuk dengan semua peralatan ini.


__ADS_2