Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 203 : Tinung 7


__ADS_3

“Ada apa ini!” Alka datang tepat waktu, dia membuat Alisha menyadari telah mengatakan hal yang diluar batas.


“Apa maksudmu!” Hartino terlihat bingung dengan perkataan Alisha yang mengatakan bahwa dia menginginkan dirinya.


“Apa maksudmu?” Alka melotot pada Alisha, sekaligus kode agar Alisha buru-buru mencari pengalihan kata agar Hartino tidak penasaran lagi.


“Ya! aku hanya ingin kau ... ingin kau berhenti! Berhenti mengolokku, berhenti merendahkanku dan berhenti untuk membuatku merasa tidak berguna di tim ini! aku berusaha semampuku, tidakkah kau melihatnya!” Alisha berhasil membalik keadaan, Hartino terlihat sangat merasa bersalah.]


“Har! Dia ini saudaraku, walau mungkin kemampuannya tidak terlalu tinggi, aku mohon terimalah. Dia sedang kesulitan, bukankah bapak juga mengajarkan kita untuk menerima siapapun!” Alka turun tangan, dia ingin membuat Hartino benar-benar teralihkan dan yakin kalau tadi Alisha hanya memotong ucapan, bukan tentang dia menginginkan Hartino.


“Iya Kak, aku udah minta maaf sebenarnya, tapi tadi Lais tidak mau menerima permintaan maafku.”


“Nah itu juga salah Lais! Terima permintaan maafnya, dia sudah merendahkan harga diri untuk memitna maaf padamu.” Alka melotot lagi, dia ingin Alisha tidak memulai drama.


“Iya aku maafkan.” Alisha tersenyum dengan paksa.


Lalu setelahnya Alka menarik Alisha untuk berbicara berdua saja di bagian belakang rumah.


“Ada apa!” Alka mencoba untuk menurunkan volume suaranya, karena dia sebenarnya kesal sekali dengan Alisha.


“Maaf, aku kelepasan.”


“Apa yang membuatmu kelepasan!”


“Aku ... aku ... Jarni bilang ada wanita yang Hartino sukai, sangat sukai hingga dia tidak mau menikahi wanita itu karena dia wanita biasa, dia memilih menikahi wanita dari kalangan Kharisma Jagat jika harus menikah, kerabat kekasihmu itu.”


“Adit bukan kekasihku, jaga ucapanmu. Mengenai wanita yang dia sukai itu, jangan kau hiraukan, karena wanita itu sudah pergi jauh, dia tidak akan ada diantara kalian.” Alka masih tetap tidak ingin mengatakan yang sebenarnya karena itu adalah hak Hartino. Mengenai Jarni yang mengatakan itu, Alka tidak bisa menegurnya karena itu adalah pembicaraan rahasia antara Jarni dan Alisha, sehingga tidak ada ruang bagi Alka untuk menegur Jarni.


“Walau dia pergi jauh, tapi tidak ada aku dihatinya.”


“Lalu untuk apa kau di sini kalau menjadi lemah begitu! keluar saja dari tim, berhenti mengejar adikku, kau terlalu lemah untuknya. Pantas dia memilih menikahi wanita dengan status Kharisma Jagat, karena wanita itu adalah wanita-wanita kuat, seperti pemimpinnya Ayi Mahogra, dia bahkan tidak berhenti mengikuti orang yang dia sangat cintai mulai dari dia sekolah, kuliah sampai bekerja. Hingga akhirnya dia mendapatkan lelaki yang dia inginkan karena ternyata mereka berdua sebenarnya saling mencintai tapi banyak yang disembunyikan. Kalau takdirnya bersama maka akan bersama.”


“Kalau akhirnya takdirnya tidak bersama bagaimana?” Alisha bertanya.


“Maka paksakan supaya bisa bersama dengan berusaha sampai titik nadir, seperti Ayi dan Malik.” Alisha bermaksud meninggalkan Alisha.


“Alka, bisa beritahu aku, dimana aku bisa tahu kisah lengkap dari Ayi Mahogra?” Alisha bertanya sebelum Alka benar-benar pergi.


“Tanya pada Aditia, kisah lengkapnya, karena dia Kharisma Jagat dan Ayi adalah pemimpin seluruh Kharisma Jagat, kau juga bisa ke sana jika ingin semakin mengasah kemampuanmu.”


“Ke sana?”


“Ya, Ayi Mahogram membuat akademi untuk para Kharisma Jagat, tapi tidak menutup pintu untuk para manusia yang diturunkan khodam tanpa status Kharisma Jagat dan yang ngilmu juga sepertimu. Ayi selalu membuka pintu untuk orang yang mau membantu orang lain.”

__ADS_1


“Baiklah, terima kasih, aku akan berusaha lebih hati-hati.” Alisha akhirnya mengerti.


Mereka semua berkumpul lagi di ruang tamu, Hartino duduk di samping Alisha, dia sepertinya ingin menebus kesalahan.


“Kami sudah memastikan, bayi itu memiliki tanda lahir.” Alka membuka diskusi.


“Jadi bayi itu akan menjadi target berikutnya?” Ganding bertanya.


“Ya, kemungkinannya besar, lalu apa yang kalian temukan.”


“Kami sudah memeriksa sekali lagi, asumsi kami adalah, bahwa Tinung adalah objek yang menjadi korban juga.” Hartino memberitahu apa yang mereka temukan.


“Apa maksdumu Tinung korban juga!” Aditia kesal mendengarnya.


“Ya, karena dia adalah objek yang dipaksa bangkit lagi, ini masih kemungkinan tapi kemungkinannya cukup masuk akal. Jadi, kami berasumsi bahwa, kemungkinan dukun atau ayahnya Tinung masih hidup, karena tidak diketemukan makam mereka dan informasi mengenai mayat mereka. Kalau Tinung kan jelas, dia sudah dibakar dan abunya dijadikan patung untuk mengunci kesialan yang dipercaya warga, maka Tinung harusnya sudah tenang.


Tapi kenapa dia kembali bangun lagi dan mengejar bayi-bayi itu? pasti karena ada yang membangunkannya, siapa lagi yang ingin dia bangun selain orang yang paling mencintainya. Ayahnya kan? Lalu Lais juga tadi berasumsi bahwa kalau Tinung berhasil dibangkitkan dalam tubuh manusia lain, maka bayi yang harus dikorbankan, tidak akan berhenti sampai bayi terakhir, akan ada bayi-bayi lain yang akan menjadi korbannya karena energi yang mereka hasilkan dari kelahiran di hari yang menciptakan keberuntungan.” Hartino mencoba untuk menonjolkan bantuan Alisha, dia benar-benar ingin Alisha memaafkannya.


“Jadi kalian juga memiliki asumsi yang sama dengan kami, bahwa tanda lahir itu adalah perbuatan Tinung dan subjeknya, atau orang yang ingin dia bangkit, kita sebut sementara ini ayahnya.”


“Gimana Kak? Jadi maksudmu tanda lahir itu juga merupakan perbuatan mereka?” Ganding dan yang lain bingung, karena asumsi mereka tak sejauh itu.


“Ya, aku dan Aditia menemukan fakta bahwa bayi itu dengan tanda lahir di wajah adalah perbuatan Tinung dan subjeknya. Mereka menandai bayi itu agar kelak menjadi korban. Bayi itu sengaja ditandai dan dipastikan lahir sesuai keinginan mereka, yaitu hari rabu. Hari di mana keberuntungan berkumpul di bumi dan mengalirkannya pada bayi-bayi yang baru lahir, setelah enam bulan, bayi itu menjadi tabungan energi baik yang sangat besar.


Itu yang Tinung dan subjeknya inginkan, aliran keberuntungan itu masuk ke dalam jiwanya, lalu akhirnya, dia bisa memasuki tubuh baru dan jiwa dari tubuh itu dikunci ditempat lain.”


“Lalu kita harus apa Kak?” Hartino bertanya.


“Butuh waktu enam bulan untuk menangkapnya, karena bayi itu baru lahir dua minggu lagi dan akan diambil tinung pada saat telah menginjak enam bulan. Waktu itu terlalu lama bukan?” Alka berkata.


“Ya, itu terlalu lama bagi kita untuk tinggal di sini. Warga juga pasti lama-lama akan curiga dengan semua pertanyaan kita yang tidak ada sangkut pautnya dengan pembangunan listrik.” Aditia berbicara dengan kesal, karena kasus ini lumayan pelik.


“Kalau begitu, bagaimana kalau kita kacaukan ....”


“Kau yakin kak?” Hartino bertanya.


“Jika tidak ada pilihan, maka kita yang akan membuat pilihannya. Bagaimana?”


“Kami selalu ikut kok Kak.”


Semua setuju. Lalu Aditia mengajak Alka untuk makan di luar, sementara yang lain istirahat setelah seharian mencari informasi dan mengulik tentang masa lalu Tinung.


“Ka, aku ada yang mau ditanyain.” Aditia dan Alka makan di warteg yang berada di desa sebelah, Aditia sengaja memilih tempat yang agak jauh untuk berbicara. Dia ingin menanyakan sesuatu yang membuatnya lumayan kesal. Tapi dia tunda karena kasus ini.

__ADS_1


“Mau tanya apa?” Alka menyuap makanannya.


Aditia memastikan tak ada yang mendengar mereka, makanya dia memilih duduk di angkot untuk makan, Alka tadi sempat menolak, tapi Aditia memaksa untuk makan di dalam angkot.


“Soal Lais.”


Alka terdiam, dahinya berkeringat, sepertinya ada yang dia lewatkan.


“Ke-kenapa Lais?” Alka berusaha untuk bersikap tenang, ini situasinya seperti tertangkap saat sedang mencuri.


“Apa yang kau lakukan padanya? Apakah kalian melakukan perjanjian?” Benar prasangka Alka, bahwa Aditia tahu.


“Kau bicara apa?” Alka mencoba mengelak.


“Kau menipu adik-adikmu Ka.” Aditia kesal.


“Aku tidak menipu mereka.”


“Tidak, pasti kau memakai mantra rubah wajah kan pada Lais, makanya Hartino tidak mengenalinya.”


“Kenapa kau berkata begitu.” Alka benar-benar melewatkan sesuatu.


“Hartino mengenal Lais, karena aku melihatnya bersama Lais di rumahnya saat aku datang ke sana untuk meminta maaf, perempuan yang bersamanya itu Lais, lalu kenapa ketika datang ke gua, Hartino ttidak mengenalinya! Itu aneh, gadis itu yang bersama Hartino, gadis itu masuk ke mobilnya saat aku datang  dulu, tapi kenapa Hartino seperti tidak mengenalnya!” Aditia mulai tidak tahan dan akhirnya berkata jujur tentang apa yang dia rasakan.


“Dit, bisakah kau mengabaikannya kali ini?” Alka bertanya.


“Tidak bisa, karena kau sedang bermain api dengan adik-adikmu, kau mau membakar mereka? akhirnya kau yang akan terbakar!”


“Dit!”


“Ka, aku selalu mendukungmu, tapi kalau kau mencoba untuk menjatuhkan dirimu secara sukarela untuk jatuh ke jurang, aku jelas akan menangkapmu, bagaimanapun caranya. Kau akan membuat adikmu membencimu jika mereka tahu kalau kamu ikut menipu mereka, apalagi Hartino, dia akan benar-benar pergi dari tim jika tahu kau telah membohonginya bersama wanita itu.


Dia itu siapa? kenapa kau bisa begitu takluk dan setuju membohongi adik-adikmu?”


“Dit, maaf, kali ini aku tidak bisa jujur, kau percaya padaku bukan?”


“Aku tahu kau akan lakukan terbaik untuk adik-adikmu, tapi jalan yang kau pilih sekarang, terlalu berbahaya, itu yang aku coba beritahu padamu.”


“Maaf Dit, aku tidak bisa.” Alka masih menolak untuk memberitahu apa yang sebenarnya terjadi.


Alka lupa bahwa Aditia adalah Kharisma Jagat kelas tinggi, dia memiliki keistimewaan seperti Ayi dan garis kelas yang sama. Yaitu, mata mereka tidak bisa ditipu oleh mantra rubah wajah, jadi manusia yang melakukan mantra itu tidak mempan terhadap mata Kharisma Jagat kelas tinggi seperti Aditia.


Ini berbeda dengan tipuan yang dulu dilakukan di kantor milik ratu dulu, dimana Aditia sedang marah dan akhirnya tertipu masuk ke kantor yang akan menjadikannya tawanan di kantor kosong itu.

__ADS_1


Karena itu adalah jin-jin yang terjebak dengan wujud asli, tidak menyerupai siapapun, tapi ini mantra rubah wajah, Alisha menyerupai Alka, tentu Aditia tidak akan mempan.


Alka benar-benar melewatkan hal ini, dia menyesal karena Aditia harus melihat sisi terburuknya, yaitu kalah dengan kisah cinta.


__ADS_2