
“Aku melakukanny terpaksa! Aku melakukannya terpaksa.” Erin menangis dan berjongkok, dia tidak tahu kalau ternyata ada yang memfotonya saat sedang ....
“Aku kira kau bukan dari keluarga yang miskin, bahkan orang tuamu dari keluarga yang berkecukupan. Lalu kenapa kau mencuri kain-kain itu?” Alka bertanya, semua orang kaget karena sedetail itu Alka tahu.
“Aku mencurinya karena butuh, keluargaku tidak berkecukupan seperti yang terlihat.” Erin membuat alasan.
“Tidak ada maling yang mau mengaku sampai dia akhirnya terjebak di sini, kau sudah terjebak di sini saja masih tidak mau mengaku, manusia serakah.” Alka mengejeknya, Erin akhirnya menangis.
“Aku ... aku tidak tahu kalau aku akhirnya menjadi serakah, awalnya aku hanya mencuri dua meter, tidak ketahuan, lalu menjadi berlipat-lipat setelahnya dan masih tidak ketahuan, aku ... aku mendapatkan uang itu untuk makan enak dengan teman-temanku, aku juga bahkan beramal dengan uang itu, aku bukan penjahat, seharusnya kalian menghukum koruptor, untuk apa kalian menghukum pencuri kecil seperti aku!” Erin kesal karena merasa kawanan tidak adil.
“Kau tahu, bahwa bahan yang kau ambil bukan bahan biasa, itu adalah bahan laknat yang bisa membuat siapa saja merasa sombong, kau mengambilnya dengan cara yag salah, sehingga membuat energi gelapnya menjadi berlipat-lipat setelah kau jual kembali.
Lalu apa kau tahu, bahan-bahan yang kau jual itu akhirnya membuat rumah tangga hancur, membuat anak membunuh ayahnya dan beberapa kasus lain!
Kau bodoh, karena tidak tahu apa-apa, merasa dosa yang kau lakukan kecil dan melakukannya lagi dan lagi.”
“Alka dari mana kau tahu bahwa efek dari kain itu sampai membuat banyak kerusakan?” Ardi bertanya karena penasaran.
“Aku sudah memeriksanya, orang-orang yang membeli bahan dari wanita ini semua bernasib buruk karena bahan itu adalah energi jahat makanya tidak bisa main-main, semua yang memakainya menjadi sombong dan tidak terkendali, sehingga membuat mereka congkak dan membuat apapun yang merendahkan mereka walau hanya sedikit saja membuat pemakai bahan itu menjadi bringas dan tak terkendali, perceraian, perkelahian bahkan pembunuhan.
Semua makhluk di sini adalah orang-orang yang terbunuh karena memakainya atau menyalahgunakannya, lihat banyak bukan? begitu banyak korban dari keserakahan dan kesombongan. Tidak heran begitu banyak orang yang menjadi korban, karena pakaian adalah salah satu kebutuhan dasar manusia.”
Aditia tersenyum begitu bangganya dia memiliki gadis sepintar ini, karena jujur, Aditia masih tidak menemukan jawaban atas asal kobran-korban itu, dia hanya menemukan caranya memusnahkan mereka karena tidak ingin bahan itu mendapatkan energi jahat lagi.
“Baiklah, sekarang aku tahu kenapa kau kejam sekali padanya, dari awal kau sudah yakin ada yang salah dengannya lalu bertindak yang aku pikir tindakan kejam, ternyata kau menyebunyikan semua karena belum yakin?” Aditia meminta penjelasan tiba-tiba.
“Aku jelaskan selanjutnya, sekarang yang kita perlu lakukan adalah memusnahkan semua jiwa penasaran itu segera, karena kalau sampai mereka berhasil keluar kita akan membuat gempar dunia ghaib, bukan hanya Ayi yang akan murka, tapi juga mungkin ratu laut, jadi sekarang ayo kita bantai mereka.”
“Permisi, apakah saya boleh keluar?” Ardi meminta izin keluar, tapi sebelumnya dia membawa foto yang dilempar Alka, yaitu foto Erin yang sedang mencuri kain.
“Pak, nggak mau ikut tarung?”
“Pistol saja tembus, lalu saya melawan mereka pakai apa? orang perlu tahu kemampuannya.”
“Pak, kalau begitu Dinda bisa dilepaskan Pak?” Aditia bertanya.
“Ya, saya akan lepaskan dia. Karena bukti juga tidak ada yang mengacu padanya.” Ardi lalu diantar Alka keluar dari dunia ghaib dan menunggu di luar.
Sementara lima sekawan masuk ke seksi pola, begitu masuk mereka menemukan makhluk-makhluk itu sedang melakukan utaran Ananta, putaran sihir yang membuat setiap kain dan benang menjadi energi jahat.
Dari yang terdekat, Aditia dan semua kawanan mulai membantai mereka, andingn dengan goloknya, Ganding dengan trisulanya, sedang yang lain menggunakan senjata masing-masing.
__ADS_1
Mereka tahu ini sangat melelahkan, tapi memang harus dibantai satu persatu.
Setelah selesai dengan seksi pola, mereka lalu ke bagian kantor, tentu tidak ada orang di sana, dalam pemikiran kawanan, orang kantor pasti ada yang tahu soal ini, tapi pasti yang memiliki jabatan tinggi.
“Cari kuncinya, setelah mendapatkan kunci itu, kita akan bisa memusnahkan dunia ghaib yang dibangun oleh dukun ini.” Aditia meminta kawanan untuk mulai berpencar.
Mereka tidak mencari kunci yang sebenarnya, mereka mencari sesuatu yang menjadi induk terbuatnya dunia ghaib itu, sesuatu yang bahkan mereka tidak tahu apa bentuknya, makanya Aditia menyebutnya dengan kunci saja, sebagai simbol apa yang mungkin menjadi induk.
“Dit, ini bisa nggak?” Ganding menyerahkan sebuah guci yang terbuat dari emas, ada di meja Manager keuangan.
“Nding, elu rasainlah, energi hitamnya pekat nggak?” Aditia menjawab dengan kesal.
“Karena energi jahat di sini terlalu banyak, kemampuanku menjadi sedikit terganggu Dit.” Ganding mengaku karena energi gelap di pabrik ini seperti asap, makanya menurup radar kawanan.
“Kayaknya kita semua deh, mungkin kamu dan Alka aja yang masih bisa merasakan energi hitam yang pekat.” Lais juga ikut mengatakan keluhannya, Jarni dan Hartino mengangguk.
“Baiklah, kalau begitu, cari benda yang sepertinya paling tidak mungkin ada dikantor, karena benda itu pasti berbeda dari yang lain, terlihat menarik karena kita juga bisa melihat hal ghaib, mungkin sulit tapi kita harus temukan.” Aditia memberikan tanda-tanda pada lima sekawan dan Lais.
Mereka berpencar lagi, setelah cukup lama, akhirnay semua orang berkumpul di ruangan pemilik perusahaan.
Ganding menyerahkan beberapa temuannya, ada kalung mutiara, ada syal yang begitu gemerlap dan ada sebuah hiasan meja yang terlihat cukup etnik.
“Dia mana punya temen selain kita, Lais.” Hartino menertawakannya.
“Kau juga sama!” Ganding mengejek balik.
“Iya, maksudku, kita semua yang di sini, mana punya temen selain satu sama lain, nggak punya waktu untuk kegiatan berteman, kasus kita terlalu banyak dan masih keteteran.” Hartino meluruskan perkataannya.
“Kasihan sekali kalian.” Lais mengejek lagi.
“Kau memang punya teman? Kau saja tidak jelas asalnya.”
“Ya memang tidak, aku hanya pernah lihat teman sekolahku dulu dapat oleh-oleh seperti itu.” Lais tertawa.
Lalu Jarni dan yang lain juga menyerahkan temuannya, tapi tidak ada satupun energi hitam yang pekat, Alka dan Aditia yang mampu melihat kunci yang mereka cari, dari energi pekatnya.
“Bagaimana ini, nggak ada satupun yang bisa menjadi kuncinya.” Hartino mengeluh.
“Mungkin memang bukan di sini, ayo kita ke ruang lain, ingat masih ada beberapa ruangan yang belum kita bantai makhluknya.” Aditia meminta yang lain untuk segera berlari mencari ketempat lain dan memulai pembantaian, ternyata beberapa tempat sangat brutal, karena makhluknya jauh lebih lama dari tempat lain, sehingga energi gelapnya sangat besar.
Hingga akhirnya mereka keluar lagi dan tetap tak menemukan kuncinya.
__ADS_1
Lima sekawan sudah sangat kelelahan, adzan subuh berkumandang dan saat mereka keluar dari dunia ghaib, mereka sangat terkejut, tubuh Ardi tergeletak tepat di depan gerbang pabrik.
“Loh, tadi aku anter keluar dia baik-baik aja, setelah itu aku langsung masuk lagi.” Jarni bingung karena saat dikeluarkan semalam, dia baik-baik saja, lalu kenapa sekarang tubuhnya tergeletak seperti ini.
“Pak, pak ... Pak!” Ganding memeriksa keadannya.
“Masih idup Nding?” tanya Aditia.
“Masih, tapi kayaknya ... lepas raga Dit.”
“Brengsek, dukun yang megang kunci nih kayaknya, ngapain dia nahan sukmanya Pak Ardi, ah! Tau gitu semalem ikut kita aja, tuh dukun nggak berani hadapin kita malah ambil orang yang lemah.” Aditia kesal karena Ardi malah dibuat koma begini, dia tidak bisa mengambil Ardi secara utuh karena Ardi bukan orang serakah. Tapi dia bisa menahan suka Ardi sementara.
“Ah, kerjaan lagi deh! Nyebelin banget sih!” Hartino mengeluh.
“Istirahat dulu, bawa tubuhnya Ardi ke vila aja, karena kita tak mungkin bawa dia ke keluarganya, nanti dikerjain dukun lain lagi, kau tahulah orang kita seperti apa.” Aditia dan Hartino lalu menggotong Ardi, sebenarnya kalau mereka sedang fit, bisa saja Aditia menggendong Ardi sendiri, tapi karena mereka sudah kelelahan, harus memakai beberapa tenaga untuk menggotong tubuh Ardi yang tidak terlalu berat itu.
Mereka masuk angkot setelah akhirnya membangunkan security yang mereka tidurkan.
“Ka, kau sejak kapan merasa bahwa jiwa di pabrik itu tidak beres?” Aditia sembari menyetir bertanya, Alka memang duduk di samping kemudi, di samping Aditia.
“Sejak masuk aku tahu ada energi yang berbeda, mereka semua terasa sudah pergi, bukan jiwa yang dicuri.”
“Tapi kau bilang kita harus menyelamatkan mereka, makanya Erin dikorbankan.”
“Aku tidak ingin apa yang aku sangka benar Dit, makanya aku menyangkal, aku masih berharap mereka hidup, tapi saat aku menyelidiki keluarga Erin yang memang tabiatnya jelek, suka mencuri, lalu keluarga Dinda yang baik, Dinda adalah orang yang sangat pekerja keras, dia mencari uang kuliahnya sendiri, maka aku yakin ada yang tidak beres dari korban-korban itu, kenapa nyawa mereka hilang dengan mudah, pasti karena sihir yang sudah ditanam sejak lama. Walau aku menyangka bukan dari baju itu, karena ketika datang ke pabrik itu berpura-pura untuk membeli seragam mereka, aku yakin energi hitam itu disembunyikan oleh dukunnya. Sehingga kita tak bisa melihat energi itu.
Lalu aku menyamar menjadi salah satu karyawan pabrik, aku menidurkan salah satu buruh wanita dan merubah wujudku menjadinya, aku harus menyelinap ke dalam agar tahu siapa Erin sebenarnya, perlahan aku menemukan fakta bahwa ada orang yang merekam Erin mengambil bahan, sayang orang itu dipecat karena Erin, dia dijebak oleh Erin dan akhirnay bukti menguap, aku mendapatkan bukti itu cukup susah.”
“Kau mengerjakan PRmu dengan baik, maaf aku mengancammu malam itu.” Aditia merasa bersalah.
“Tak mengapa, caramu mengancamku sangat ,,, seksi.”
Ganding dan Hartino langsung berteriak, mereka merinding mendengar Alka menggombal untuk pertama kalinya. Sementara Aditia hanya tersenyum malu.
“Terima kasih sudah menutupi lubang yang aku sendiri tidak bisa lihat sehingga kita semua tidak terjatuh dan terjebak.” Aditia sekali lagi berterima kasih.
“Dit, semua untuk keluarga.” Alka tersenyum.
Aditia merasa lega karena ini bukan efek Lanjo yang terkunci.
Sementara memang masih ada kunci yang mereka harus temukan.
__ADS_1