Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 241 : Hestia 5


__ADS_3

“Sum, baru pulang?” Deden yang kebetulan lewat sehabis mengantar penumpang ojeknya bertemu Suminah yang hanya diantar sampai depan gang rumahnya oleh Nicko.


“Iya Den, ini baru pulang.”


“Mau dianter sampe rumah?” Deden bertanya.


“Makasih Den, jalan kaki aja.” Padahal sudah malam, tapi Suminah tidak mau diantar karena dia merasa malu, diantar oleh tukang ojek yang jelas suka padanya.


“Sum, itu pacarmu tega banget, masa dianter cuma sampe depan gang.” Deden ternyata tidak menyerah, dia terus mengikuti Suminah dengan motor yang dimatikan.


“Kan, mobilnya nggak muat masuk gang kita.” Suminah masih mencoba untuk menanggapi dengan tenang.


“Ya mobilnya nggak bisa masuk, tapi orangnya kan, bisa masuk.” Deden masih terus saja mengoceh, Suminah yang tadinya berjalan dan berusaha tidak mengindahkan, tiba-tiba berhenti berjalan.


“Itu karena dia tidak punya waktu banyak sepertimu, tukang ojek, dia itu Direktur perusahaan besar, jadi aku merasa wajar saja jika dia tidak punya waktu berbasa-basi dengan keluargaku, kami akan menikah sebentar lagi, makanya aku nggak mau menimbulkan gosip yang tidak-tidak, masa calon istri Direktur dianter sama tukang ojek.”


Perkataan Suminah yang pedas itu membuat Deden terpaku, dia tidak menyangka kalau Suminah ternyata berkata sekasar itu.


“Kau ini bodoh atau gimana Sum? Dia itu memanfaatkan kamu, buktinya dia tidak takut kau akan celaka padahal ini sudah malam, seharusnya dia mengantarmu sampai rumah jika memang dia benar serius padamu. Dari depan gang sampai rumahmu itu, harus berjalan kaki selama sepuluh menit, bukankah semalam ini terlalu berbahaya bagi calon istri Direksi berjalan sendirian?” Deden masih saja berusaha meyakinkan Suminah.


“Diam kau tukang ojek, sepuluh menit, apa sih yang bisa terjadi, aku terbiasa pulang malam dan selalu baik-baik saja.” Suminah berjalan meninggalkan Deden yang terlihat sangat marah karena dikatai tukang ojek, walau itu benar, tapi itu hinaan tidak ada hubungannya dengan perkerjaan.


Malam berganti menjadi pagi, tapi tidak seperti pagi biasanya, seseorang berteriak-teriak, Pak RT sudah mengumpulkan warga sejak setelah solat subuh tadi.


Orang tuanya Suminah melapor kalau Suminah tidak pulang semalam, sejak tengah malam orang tua  Suminah sudah menemui Pak RT, tapi Pak RT hanya meminta mereka menunggu, setelah subuh datang, orang tuanya Suminah berteriak karena menemukan sesuatu yang sangat menakutkan di depan pintu rumahnya, sepasang sepatu Suminah yang berlumuran darah dan kotor.


Orang tuanya lalu melapor pada Pak RT,  sehingga Pak RT mengumpulkan warga, mencari tahu apakah ada yang terlihat mencurigakan saat tengah malam, karena kalau sepatu itu ditaruh di depan rumahnya, seharusnya ada yang melihat ketika sepatu itu ditaruh.


Tapi anehnya pasukan ronda tidak melihat ada yang aneh, mereka berkumpul seperti biasa dan berkeliling untuk memastikan bahwa kampung mereka aman-aman saja.


“Tidak ada yang aneh Pak, tak ada orang asing yang datang ketika kami berjaga, semua orang yang lewat kami kenal, terakhir sekali yang datang untuk ronda itu Deden, dia terlambat karena habis antar penumpang.

__ADS_1


Sisanya tidak ada yang mencurigakan Pak RT. Jadi, kita cari Suminah di mana sekarang? Harusnya ke kantornya kan Pak? atau calon suami yang selalu orang tua Suminahnya selalu bicarakan itu.”


Seorang petugas ronda berbicara mewakili yang lain.


“Deden, kau tidak melihat Suminah ketika malam itu pulang? Atau orang lain, kau kan yang terakhir masuk desa ini.” Pak RT langsung bertanya pada Deden.


“Hmmm, malam itu sehabis mengantar penumpang, saya tidak melihat Suminah ataupun orang asing Pak, malam itu sepi. Tapi, ada yang aneh, ada mobil yang parkir di depan gang kampung kita ini, aku tidak tahu apa tujuannya, tapi sepertinya dia sedang mengamati desa, ini plat nomornya, karena curiga aku tulis.” Deden memberikan plat nomor yang dia curigai.


Lalu Pak lurah mengambil catatan plat nomor itu dan memanggil orang tua Suminah untuk membicarakan lebih lanjut tentang hilannya Suminah.


“Kita harus lapor Polisi Pak, Bu, karena ini menyangkut hilangnya orang, tapi sebelum itu, daripada nanti memalukan, karena kita salah sangka, saya mau tanya dulu, apakah kalian bertengkar dengan  Suminah?” Pak RT bertanya.


“Tidak, kami tidak pernah bertengkar, Suminah itu anak yang berbakti dan selalu membahagiakan kami, kami sama sekali tidak pernah mengekang Suminah, kami selalu memberikan izin dan dukungan setiap apapun yang Suminah inginkan.”


“Kalau begitu, apakah Suminah cerita soal calon suaminya? Mungkin saja mereka bertengkar dan sekarang sedang menyelesaikan masalah?”


“Pamannya Suminah sudah ke kantor Suminah, karena Suminah ada pegawai di perusahaan calon suaminya itu, maka aku meminta pamannya datang ke sana dan bertanya mengenai Suminah pada kekasihnya itu. Tapi sayang, katanya Suminah tidak masuk kerja dan Suminah kemarin pulang seperti biasa, agak telat tapi tetap saja itu biasa jam pulangnya Suminah.” Bapaknya Suminah menjelaskan.


“Tidak, plat mobil siapa ini?” Bapaknya Suminah bertanya.


“Deden melihat bahwa ada mobil mencurigakan parkir di depan gang kampung kita ini semalam, Deden mencatat nomornya hanya untuk jaga-jaga, ketika dia tahu Suminah hilang, dia memberikan nomor plat mobil ini supaya bisa dijadikan barang bukti jika dibutuhkan.”


“Oh begitu, kalau begitu, ayo kita ke kantor Polisi Pak.” Bapaknya Suminah mengajak Pak RT, sedang ibunya Suminah masih saja histeris, takut anaknya menjadi korban kejahatan.


Setelah sampai Polisi, Pak RT, bapaknya Suminah dan pamannya Suminah masuk ke ruang pengaduan orang hilang.


DIjelaskan duduk perkaranya, sekalian memberikan bukti nomor plat mobilnya, siapa tahu bisa dilacak siapa pemiliknya dan bisa jadi dia adalah orang yang membuat Suminah menghilang.


Setelah melaporakan itu, semuanya pulang ke rumah dan menunggu Polisi memberikan informasi selanjutnya.


Satu hari, dua hari, tiga hari hingga seminggu tak ada kabar, tapi saat orang tua Suminah hendak meminta bantuan Polisi lagi, Pak RT datang memberi kabar bahwa mereka semua di panggil ke kantor Polisi, seorang Polisi ke rumah Pak RT dan meminta Pak RT dan orang tua Suminah segera datang ke sana.

__ADS_1


Begitu sampai ke kantor Polisi, sudah ada seorang pria yang duduk membelakangi mereka, dia sedang memberikan laporan.


“Pak apakah anda mengenal pria ini?” tanya Polisi yang sedang menginterogasi pria yang sudah datang duluan itu.


“Rasanya tidak, siapa dia ini Pak?” tanya bapaknya Suminah.


“Dia adalah pemilik perusahaan kontraktor, dimana Suminah bekerja.” Bapaknya Suminah tampak sangat kaget, berarti ini calon suami anaknya, memang selama ini mereka belum pernah bertemu, dari Suminahlah orang tuanya tahu kalau dia akan segera menikah dengan bosnya, walau sebenarnya pertemuan antara mereka belum terjadi, orang tuanya Suminah sudah gembar-gembor soal pernikahan itu.


Nicko si calon suami itu terlihat kusut, wajahnya tak bergairah dan pucar, pemeriksaan selama empat jam terakhir ini membuatnya frustasi.


“Kau berarti pacar anakku ya?” Bapaknya bertanya, dia berharap bahwa ada empati sedikit saja untuk anaknya.


“Pacar? tidak, kami tidak pacaran.” Nicko dengan jelas mengataknnya, itu membuat bapaknya Suminah terpaku, dia sangat bingung, kok lelaki ini tidak mengakui Suminah.


“Tapi, kata anakku, pemilik perusahaannya adalah bos yang mau menikahi dia, itu kau kan!” Bapaknya terlihat marah karena anaknya disepelekan. Selama ini orang tuanya Suminah tidak memaksa bertemu karena tahu, mungkin Suminah takut kalau Nicko melihat keluarganya, dia akan disepelekan. Makanya ketika Suminah tidak berusaha mempertemukan mereka, itu pasti karena malu.


“Jangan mengarang Pak, saya punya anak dan istri.” Nicko berkata dengan lantang.


Bapaknya terduduk, dia benar-benar bingung, karena anaknya selama ini mungkin saja ditipu.


“Sudah jangan ribut lagi!” Polisi memperingatkan, bapaknya Suminah terdiam, Nicko pun sama, terdiam.


“Saya panggil bosnya Suminah, karena nomor plat mobil yang kalian berikan tempo hari itu, adalah plat nomor lelaki ini.” Polisi menunduk Nicko.


“Saya tidak di sana Pak, mungkin saja orang yang memberikan plat nomor itu salah dan menyangka saya yang ada di sana.” Nicko mencoba membantah.


“Tidak mungkin Deden salah, dia itu memiliki mata yang awas daripada siapapun pemuda di kampung kami, dia tidak mungkin salah.” Bapaknya membela lelaki itu yang dulu sebenarnya sangat direstui untuk menjadi calon suami, tapi sayang, Suminah tidak mencintainya, makanya Deden terlihat sangat pekerja keras agar bisa segera menyusul menjadi pria idaman Suminah.


Tapi apa dikata, takdir berbeda, Suminah berpulang duluan dengan menimbukan banyak masalah di kampung itu.


“Pak, selidiki lelaki ini, dia mungkin saja menculik anakku karena mereka bertengkar, dia ternyata telah memiliki anak dan istri, bisa saja anakku menuntut dinikahi tapi pria ini malah tidak mau dan akhirnya menculik anak ini Pak, tolong periksa dia Pak, tolong keadilan buat orang susah seperti kami Pak.” Bapaknya Suminah seperti sudah tidak yakin anaknya masih hidup apalagi melihat betapa tenangnya wajah Nicko saat menceritakan dirinya tidak ada hubungan dengan Suminah.

__ADS_1


__ADS_2