
“Aku akan memanggilnya kalau begitu.” Alka bersiap mengucapkan mantra pemanggil lagi.
Lalu seperti biasa, kabut mulai muncul, suhu udara menjadi lebih dingin, Dewi yang menjadi musuh lelaki itu datang.
Sang Raja terlihat tenang saja, tidak marah ataupun kesal, sungguh dia telah berdamai dengan keadaan, mungkin karena waktu.
“Kalian sudah bisa menemukan apa yang ada di dalam tusuk konde itu bukan?” Dewi Sundarwani bertanya.
“Seperti yang kau lihat Dewi, bahwa raja telah kami bebaskan, tusuk konde itu sudah hancur, maka sekarang kau harus ceritakan apa ritual apa yang bisa kami lakukan untuk membuat Kemala terbebas dari Rajima?” Aditia memulai percakapan.
“Baiklah ... mungkin raja itu sudah berceloteh pada kalian tentang Rajima yang bukan seorang jin, tapi memang jiwa yang tersesat, sama sepertinya, maka sekuat apapun dia ingin berubah, tidak akan mungkin, karena tubuhnya adalah dzat pembentuk dirinya, kami berbeda dzat, jadi tidak ada kekuatan apapun yang mampu mengubah seorang manusia menjadi seorang jin.
Pun, jika kalian banyak mendengar tentang orang yang menjadi jin, itu hanya tipu daya saja, untuk suatu kepentingan, mereka tetap jiwa-jiwa tersesat yang tidak mau pulang.
Berbeda dengan para nabi yang mungkin dipanjangkan umurnya dan para wali yang bisa berpindah dari suatu lokasi ke lokasi lain atas izin Tuhan, maka itu tetap seorang manusia yang istimewa, bukanlah manusia yang dirubah menjadi jin, jelas itu berbeda, rahasia Tuhan.”
“Lalu apa maksudmu memberikan tusuk konde itu pada kami, bahkan kami harus berkali-kali diintai Rajima karena dia juga ingin tusuk konde itu, dia mungkin sudah tahu bahwa tusuk konde itu malah melemahkannya,” Aditia menyambung pertanyaan.
“Aku ingin kalian mengantar dua jiwa untuk kembali kepada Tuhan, seperti tugas kalian selama ini.”
“Kenapa? kenapa kau sekarang ingin kami mengantar dua orang ini? sedang dulu kau yang membuat mereka menjadi tersesat.”
“Umurku sudah takkan lama lagi, mungkin, banyak pertempuran yang telah aku lakukan hingga aku bahkan harus bersembunyi di desa sebrang jembatan itu, membuat desa itu tidak banyak dikunjungi dengan menebar isu palsu, tentang jembatan kutukan perpisahan.
Aku lelah, tidak dapat dipungkiri bahwa aku sudah tidak akan kuat lagi menjaga desa sebrang itu dan melawan Rajima, makanya aku membutuhkan kalian, aku butuh kalian untuk memulangkan dua jiwa yang aku sesatkan.” Dewi itu sepertinya berkata tulus walau kawanan harus banyak hati-hati karena bisa jadi tipu daya lain darinya.
“Bukannya umur jin itu bisa sampai ribuan tahun Dewi, kau itu terlalu muda untuk ukuran jin yang akan mati bukan?” Ganding bertanya.
“Kata siapa umurku baru ratusan tahun? apakah tahun 1400an itu, saat aku bertemu Rajima aku baru lahir? Hingga kalian menganggapku jin yang berumur ratusan tahun?”
Semua terdiam, lupa kalau pada tahun itu, bahkan Dewi telah berkuasa di hutan itu.
“Jadi berapa umurmu Dewi?” Hartino iseng bertanya.
“Tidak sopan bertanya pada seorang wanita berapa umurnya.” Dewi menjawab dengan ketus.
“Berarti mungkin sudah ribuan tahun ya, Dewi? Kau sudah punya firasat akan mati soalnya.”
“Har!” Semua orang mencoba mengendalikan rasa penasaran Hartino akan umur jin tua itu.
“Kalau kelak aku sudah tiada, bantu aku membersihkan desa itu dari jin pengikutku, bantu aku mengeluarkan membersihkan jembatan itu dari isu kutukan perpisahan, bantu aku memulangkan dua jiwa ini.”
“Buat perjanjian.” Alka tiba-tiba berkata dengan wajah agak mencurigakan.
“Tentu saja, aku tahu kalian pasti ingin upah karena akan sangat sulit memulangkan Rajima, maka apa yang kalian inginkan?” Dewi itu bertanya.
“Alka, apakah hal itu perlu dilakukan?” Aditia bertanya.
“Kenapa kita harus melakukannya, sedang kasus kita sangat banyak.” Alka berkata dengan penuh penekanan, membuat Aditia paham.
“Apa yang kau inginkan?” Dewi Sundarwani pasrah, dia memang sudah tak banyak memiliki harta benda pusaka, tapi mungkin Alka tahu itu dan menginginkan hal lain.
“Izinkan semua anak buahmu, menjadi tentara Ayi Mahogra,” Alka menjawab.
“Kau bermaksud menjilat Ayi Mahogra karena dulu pernah berkhianat?” Dewi itu menghina.
“Sepertinya bukan hanya manusia saja yang selalu bergosip, jin juga suka melakukannya hingga kalian tahu seluruh hidup kami.” Alka mencemooh kembali.
“Itu sulit sebenarnya, tapi aku akan lakukan, mungkin akan ada beberapa yang memberontak, karena kalian tahu bagaimana cara Ayi mendidik para jinnya, sangat kerasa hingga tidak bisa lagi nakal, aku juga pernah mendengar bahwa katanya, katanya Ayi juga hanya membiarkan kami makan-makan kotor beberapa waktu sekali, sedang kami makanannya adalah kotoran, sungguh jin para pengikutiku akan menjadi jin-jin yang harus berpuasa dari makan utama mereka.
Sedang sisanya, mungkin akan ikut dengan perintahku karena loyalitas, maka aku akan mencoba melakukannya.”
“Kalau begitu, kami juga akan berusaha mencoba melakukannya, tapi soal Rajima yang merasuki Kemala, kami perlu tahu harus melakukan ritual apa? bukankah kau bilang tahu caranya?”
“Satu lagi, semua pengikut Rajima adalah orang-orang yang jiwanya telah disesatkan oleh Rajima, mereka bukan jin, maka itu juga menjadi tanggung jawab kalian untuk menjemput mereka dan mengembalikan mereka pada Yang Maha Kuasa.”
“Wah makin banyak pekerjaan kami, tapi hanya satu perjanjian yang kami minta, itu kurang adil nggak sih?” Alka berkata dengan mimik muka yang angkuh.
“Ka, cukup. Pada dasarnya kami tidak melakukan perjanjian dengan jin, prinsip kami adalah membantu, apalagi ini soal manusia yang telah begitu lama tersesat jiwanya, tapi karena perjanjiannya akan menguntungkan Ayi Mahogra, maka aku setuju.
Kami para Kharisma Jagat, pantang melakukan perjanjian dengan jin, karena kami tidak melakukan kesepakatan dengan jin, tapi kami memerintah! Maka perjanjian ini dilakukan antara Saba Alkamah dengan Dewi Sundarwani, bukan kami sebagai kawanan. Dan Ayi Mahogra tidak ada kaitannya, isi perjanjian ini, adalah tanggung jawab Saba Alkamah sepenuhnya.”
Aditia Dengan tegas menolah mengakui perjajian ini, karena prinsip Kharisma Jagat adalah, hubungan antara manusia dengan jin adalah, tuan dan budaknya.
Itu sudah ditetapkan ratusan tahun lalu sejak Kharisma Jagat ada, bagi mereka para keturunan Pasundan dan merupakan Kharisma Jagat, pantang mengadakan perjanjian yang imbalannya setara, karena tuan memerintah, bukan mengadakan kesepakatan, ini adalah harga diri dan kehormatan, kaerna Alka yang menggulirkannya, Aditia bisa bersabar dan memutus polanya dari kawanan, jadi perjanjian ini berdiri sendiri, Alka tahu ini akan membuat Aditia geram, tapi kesempatan mendapatkan jin yang begitu banyak sebagai bala tentara akan sulit didapat lagi, apalagi jin-jin itu berumur ratusan bahkan ribuan tahun.
Ini akan membantu Ayi dalam mengumpulkan pasukan. Maka Alka berani melewati prinsip Kharisma Jagat.
Kesepakatan dibuat, lalu Dewi Sundarwani, mulai menceritakan satu-satunya ritual yang mampu melumpuhkan Rajima dan mungkin bisa membawanya pulang.
__ADS_1
“Kalian tahu, bahwa tubuh Rajima telah membatu, saat melakukan pertapaan? Ketika aku menipunya bahwa dia bisa berubah menjadi jin, padahal itu adalah caraku membuat jiwanya terpisah dari tubuhnya, agar dia mampu menjadi penerusku, walau aku tahu, jiwa tersesat tidak akan menjadi jin, tapi kerusakan yang dia timbulkan bagi umat manusia, sesuai dengan perhitungan kami, walau akhirnya dia menjadi serakah dan mengambil alih kekuasaan dariku.”
“Jadi, ritual apa yang harus kami lakukan Dewi?” Alka bertanya lagi.
“Pertama, kalian harus menghapalkan mantra yang paling tua di dunia ini, mantra untuk tubuh yang dirasuk, mantra ini akan mengeluarkan Rajima dan mengunci tubuh Kemala dari segala makhluk ghaib di dunia ini, tubuh itu kelak akan selalu bersih, ini adalah mantra nenek moyang yang akan aku hadiahkan untukmu Alka. Aku akan memberitahumu mantra itu dan hanya kau yang boleh membacanya, mengerti?”
“Baik dan aku harap tidak ada tipu muslihat akan ini.”
“Tidak, aku tidak punya waktu untuk tipu muslihat.”
“Baiklah lalu?”
“Lalu ....”
...
SATU MINGGU KEMUDIAN
“Kita akan ke mana Dit?” Kemala bertanya.
“Kita akan ke tempat yang akan kau sukai.” Aditia menjemput Kemala di rumahnya, Aditia dan Kemala berkendara menggunakan angkot jemputan, mereka akan ke tempat yang telah ditentukan oleh Dewi Sundarwani.
“Apa kita akan ke pantai? Tapi ini sudah hampir malam, Dit.” Kemala menebak.
“Lihat saja nanti.”
Mereka lalu berkendara hingga sampai ke suatu tempat, cukup gelap hingga Kemala tak bisa melihatnya.
“Ini di mana Dit? Gelap sekali.” Kemala mengeluh.
“Ayo ke sini.” Aditia menggenggam tangan Kemala, Kemala terlihat sumringah karenanya.
Aditia membawanya ke suatu tempat yang sangat lapang, walau tidak terlihat, tapi tempat itu terasa sangat lapang karena mereka berjalan tanpa terhenti oleh rumput ataupun pohon, seperti lapangan yang cukup besar.
Lampu yang sangat terang tiba-tiba menerangi mereka, lampu tembak yang Hatino sudah siapkan menyinari mereka, total ada 5 lampu tembak yang disebar di beberapa tempat dan menyinari mereka.
Dari kejauhan terlihat sebuah gua yang terbentuk dari bebetuan itu.
“Ini di mana Dit? Dan kenapa banyak sekali orang di sini, teman-temanmu sedang apa? bukankah katanya aku akan suka tempat ini, kupikir kita ....”
Aditia mundur, kawanan kecuali Alisha telah berdiri mengelilingi Kemala, tanpa di sadarinya dia sudah berdiri di suatu lingkaran yang digaris dengan bisa ghaib milik ular mini Jarni.
“Kemala diam, percaya pada kami, setelah ini kau akan menjadi bebas dari kutukan itu dan bisa menikah dengan lelaki yang kau cintai dan juga mencintaimu. Yang pasti ... bukan aku.”
Aditia dan yang lain terdiam, mereka semua berdiri dengan kuda-kuda, sedang Alka mulai membacakan mantra, pada setiap kata yang keluar darinya, maka beberapa bagian tubuh Kemala lemas, dari kaki, tangan hingga seluruh tubuhnya lemah dan jatuh terduduk, karena mantra itu telah mencapai akhir, Alka selesai mengucapkan mantranya.
“Wahai anak cucu adam yang telah tersesat, kembalilah pada Sang Penciptamu dalam kesempurnaan.” Aditia dan yang lain berteriak bersamaan, Alisha berada di luar lingkaran, dia memastikan tidak ada gangguan dari manapun.
“Adit, tolong aku, ini sakit sekali.” Kemala memohon.
“Kau jangan bersandiwara Rajima, aku takkan tertipu!” Aditia berteriak.
Karena telah satu minggu ini mereka akhirnya bisa menjalankan rencana terakhir yang harus mereka jalankan, karena seminggu yang lalu mereka gagal memulangkan Rajima si tukang tipu itu.
Maka hari ini mereka harus berhasil, tidak seperti satu minggu lalu, rencana mereka gagal untuk memulangkan Rajima.
...
SATU MINGGU LALU
“Kemala, kemarin Dewi Sundarwani telah memberitahu kami, bahwa kau bisa melakukan ritual mandi suci, ritual ini untuk membujuk Rajima keluar dari tubuhmu, setelah dia keluar, kami akan memulangkannya bersama dengan raja, suami Rajima yang tidak pernah berhasil menyentuhnya.”
“Apa ini akan berhasil, Dit?” Kemala bertanya.
“Mungkin berhasil, mungkin tidak, makanya kau harus membantuku, kooperatiflah. Bagaimana?” Aditia membujuk, mereka berbicara di sebuah restoran, Aditia menemui Kemala hanya sendirian.l
“Baiklah Dit, aku percaya padamu.” Aditia tersenyum dan mereka akhirnya pergi ke gua Alka.
“Ini tempat tinggal Alka, Dit?” Kemala bertanya.
“Ya, ini rumah Alka dan tempat para kawanan berlatih, Mala.”
“Alka tahan tinggal di gua seperti ini?” Kemala bertanya, mereka akhirnay masuk gua itu dan tidak adar orang sama sekali.
“Kita langsung ke bagian belakang gua ya, di sana hutan ghaib berada, tempat kami bertemu dengan para jin sekutu dan atau berlatih, kau mungkin akan kaget karena belakang gua ini akan terlihat berbeda dari hutan di depan gua.”
“Aku tidak masalah, aku percaya padamu, Dit.” Kemala tersenyum dan memegang tangan Aditia.
Saat mereka memasuki belakang gua, Alka melihat Kemala memegang lengan kiri Aditia, dia menyabet cambuknya, hal itu membuat Kemala kaget dan reflek membuat Aditia melepas pegangan Kemala, padahal Kemala sangat kaget mendengar cambuk itu disabet ke tanah. Tapi Aditia malah menjauh, Kemala tahu, bahwa Aditia menjaga perasaan Alka, walau mereka bukan sepasang kekasih.
__ADS_1
“Kami sudah menyiapkan tempatnya, ini adalah kamar dadakan yang kami buat untuk malam pertamamu, Rajima.”
Setelah Alka mengatakan itu, Aditia memukul tengkuk Kemala, hingga dia terjatuh, menyisakan ruh Rajima yang masih berdiri dan lepas dari tubuh Kemala secara tiba-tiba.
“Sekumpulan anak muda, hendak apa kalian membangunkan aku?” Rajima memang sudah terbangun sejak Kemala memasuki gua, karena Rajima merasakan dimensi yang berbeda begitu memasuki gua. Dia juga memutuskan untuk lepas dari Kemala ketika tahu Aditia memukul Kemala, titik paling lemah, tengkuk manusia.
“Rajima, kami telah menyiapkan kamar pengantin untukmu dan suamimu, malam pertama yang tertunda selama ratusan tahun.”
“Kau gila! Saba Alkamah, anak haram jin dan manusia, berani sekali kau mengatakan hal yang mustahil!”
“Rajima, ini aku.” Raja itu tiba-tiba muncul bersama Dewi Sundarwani.
“Kalian! Kalian bersekongkol!”
“Ini sudah waktunya untuk pulang Rajima, kita tunaikan yang sempat tertunda, hingga kau ‘pulang’ dalam keadaan sebagai istriku, bukan lagi janda yang laknat.” Raja mencoba merayunya.
“Kau raja yang laknat, bagaimana mungkin kau bersekutu dengan iblis yang mencelakaimu! Bodoh sekali, lagi pula kenapa kau ada di sini sekarang, bukankah kau telah menghadap Tuhan?!”
“Panjang ceritanya Rajima, akupun tersesat seperti kau, kita sama-sama jiwa manusia yang tersesat.”
“Bicara apa kau! aku jin yang sudah terberkahi, tubuhku membatu dan jiwaku menjadi jin! Aku sekarang telah menjadi jin yang sakti!”
“Rajima, kau aku bohongi bodoh! Ratusan tahun ini kau sudah aku tipu! Kau bukan jin, kau manusia yang telah mati! jiwamu tersesat di dunia ini dan harus pulang sekarang.”
“Diam kau Dewi bedebah, mengaku dewi padahal iblis!”
“Kau sendiri apa? manusia laknat! Dari tanah ingin menjadi api, apa kau tidak punya akal!” Dewi itu tertawa.
“Mari Rajima, kita tunaikan tugas sebagai suami istri lalu pulang kepada Tuhan, agar kita bisa mempertanggung jawabkan dosa kita di dunia ini, aku pun banyak dosa, karena telah menyakiti hati para istriku dan juga mungkin orang lain ketika aku hidup sebagai raja.”
“Bermimpilah! Kau pikir aku masuk ke sini tanpa persiapan!” Rajima lalu memanggil bala tentaranya, seketika banyak ruh dari para korbannya terdahulu yang berdatangan masuk ke belakang gua Alka, mereka bersiap bertarung.
“Cukup! Cukup!” Aditia meminta semua makhluk Tuhan untuk menahan diri.
“Aku siap jika kalian ingin kita bertarung!”
“Tidak, kami tidak mengajak bertarung, kami ingin melakukan ritual penyempurnaan malam pertama antara kau dan raja, hingga bisa menghapus kutukan pada jiwamu Rajima, karena hanya raja yang bisa memutus kutukan itu, pada jiwamu, aku mohon, mengertilah Rajima, kau telah membuat jiwa-jiwa tersesat lain menderita dan menunda kepulangan mereka kepada Tuhan begitu lama.” Aditia menasehati.
“Kalau kalian ingin membawa aku pulang, maka kalian harus memusnahkanku terlebih dahulu.”
“Tidak bisa! Kami bermaksud memulangkanmu, bukan bertarung!” Aditia bersikeras.
“Kalau begitu, lepaskan aku dan Kemala, aku tidak ingin melihat pria busuk ini dan juga Dewi iblis itu! kalau kalian masih memaksa, akan aku porak-porandakan tempat ini hingga kekasih gelapmu itu tak akan memiliki rumah nyamannya lagi!” Rajima mengancam.
“Baiklah, kami akan melepaskanmu.” Aditia pasrah.
Yang lain setuju, karena kalau sampai pertarungan ini dilakukan, maka akan timbul kekacauan besar, Rajima dan Dewi Sundarwani sama-sama memiliki pasukan, maka tak salah ketika Rajima bilang akan membuat gua Alka porak-poranda.
Aditia memilih mundur dahulu, hanya agar kerusakan parah tidak terjadi.
Hanya Ayi yang boleh menentukan sebuah perang terjadi, sementara kawanan hanya orang-orang bawahan yang tidak boleh menyulut peperangan.
Kemala dalam kendali Rajima bangun, dia dan bala tentaranya, para arwah tersesat korban Rajima itu menghilang.
“Dit! Gagal!” Ganding paham maksud Aditia dan tidak kecewa dengan langkahnya melepaskan Rajima.
“Kau pemuda yang terlalu ragu-ragu.” Dewi itu pergi karena marah, dia tak keberatan jika harus berperang.
“Maka, langkah terakhir yang harus kita lakukan Dit.”
“Alka, kau tidak masalah aku melakukannya?”
“Tidak masalah, lakukanlah, terkadang perih memang harus dilalui, maka aku akan berusaha menahan diri, ini hanya karena memulangkan jiwa yang tersesat jauh lebih penting dari perasaanku.” Alka tertunduk.
“Tidak, untukku, perasaannya Saba Alkamah jauh lebih penting, apa yang Saba Alkamah rasakan, jauh lebih prioritas!” Aditia mengatakannya dengan sungguh-sungguh.
“Kalai begitu, saat ini yang aku inginkan adalah, jalankan rencana kedua, aku akan mencoba mengendalikan diriku. Aku mohon, lakukanlah sesuai rencana, Plan B, harus segera dijalankan, karena ritual ini gagal!”
...
HARI INI
“Wahai anak cucu adam yang telah tersesat, kembalilah pada Sang Penciptamu dalam kesempurnaan.”
Lima sekawan berkata serempak dengan keadaan mengelilingi Kemala yang sudah terjatuh lunglai.
____________________________________-
Catatan Penulis :
__ADS_1
Pusing nggak sama alurnya? baca pelan-pelan, aku nggak akan kasih jawaban ya. saling tanya aja di komentar.