
“Kenalin ini namanya Pak Samidi, dia yang akan anter kita susur hutan itu Win.” Heru membawa seseorang, mereka sedang bertemu di suatu tempat makan dekat kampus.
“Iya Pak saya Winda, bapak dulu yang jaga kampus?” Winda tanya berbasa-basi.
“Iya Neng, saya yang jaga kampus, tapi udah pensiun karena umur pegawai kan sekarang sesuait peraturan pemerinta, padahal kami turun temurun kerja sebagai penjaga di kampus itu Neng, dulu bapak saya kerja di kampus itu sampai meninggal, karena jaman dulu memang nggak ada peraturan untuk usia pegawai. Tapi makin ke sini peraturan makin ketat, makanya saya dipensiunkan karena umur.”
“Oh gitu, kalau kerja dari turun temurun di kampus, berarti tahu banget ya pak sama hutan lindung di kampus kita?”
“Iya itu mah tempat main saya waktu kecil.” Ucap pria yang kini berusia 65 tahun itu.
“Kira-kira kapan kita bisa ke sana Pak?” Tanya Winda, dia sekarang yakin kalau mereka tidak akan tersesat dan kemungkinan menemukan dua sahabatnya semakin besar peluangnya.
“Mungkin lusa, karena kalian perlu mempersiapkan semua keperluannya besok bukan?” Samidi bertanya pada Heru.
“Ya, kita perlu mempersiapkan bekal untuk tiga hari.”
“Jadi kita tiga hari di hutan itu Her?” tanya Winda.
“Iya Neng, semoga bisa lebih cepat ya, aku kira hari kedua kita bisa menemukan jejak tantemu dan juga dua sahabatmu.” Samidi menjelaskan.
“Ya Win, kita juga harus pastikan semua bekal cukup, karena keselamatan kita juga penting, jadi kita harus mempersiapkan segalana dengan baik.” Heru berkata dengan yakin.
“Aku serahkan ke Bapak dan juga Heru, aku akan membantu sebisa mungkin kebutuhan yang diperlukan.”
Lalu setelahnya Winda dan Heru pulang mengendarai mobil Heru, Winda diantar Heru pulang.
“Win, kamu yakin ikut kami?” Heru bertanya tib-tiba saat mereka berdua di jalan.
“Kenapa kamu sekarang bertanya? Kemarin kamu sangat membujuk?”
“Karena aku takut kamu akan menyesal setelah ikut.”
“Kenapa harus menyesal kalau akhirnay Arif dan Nola ketemu?”
“Mereka itu kan cuma sahabat Win, kenapa kau sangat gencar ingin mereka ketemu?” agak terlambat memang Heru baru bertanya.
“Karena, saat terakhir Nola bisa dihubungi, hanya aku yang menghubunginya, lalu saat terakhir Arif hilang, aku seharusnya bisa mencegah dia untuk tidak ikut mencari, aku jelas tahu, kondisinya tidak stabil karena rasa bersalah.”
“Jadi ini semua karena rasa bersalah?” Heru bertanya lagi.
“Ya, ini karena rasa bersalah.”
“Rasa bersalah memang membuat orang akhirnya melakukan hal yang salah Win, banyak orang melakukan itu.” Heru berkata dengan penuh makna, Winda tak terlalu perhatikan maknanya.
Satu hari dipersiapkan untuk mengumpulkan kebutuhan menyusuri hutan selama tiga hari mendatang, Winda mengambil tabungannya untuk membeli tenda dan juga persediaan makanan.
Besok rencananya mereka akan pergi pada saat setelah isya, karena kalau mereka pergi saat matahari masih terang, maka akan sangat bahaya, bisa jadi mereka tidak akan bisa pergi ke hutan, karena sejak hilangnya Nola dan Arif, kawasan hutan dijaga ketat, kecuali malam hari, mereka sepertinya juga takut menjaga hutan malam hari.
Waktu untuk masuk hutan akhirnya datang, Samidi, Heru dan Winda sudah di pintu masuk hutan, seperti yang dikatakan Heru dan Samidi bahwa hutan kosong begitu matahari terbenam, semua orang termakan omongan bahwa hutan itu angker.
__ADS_1
Winda dengan pakaian kasual, kaus lengan panjang, jaket parasut, sepatu gunung dan tas khas anak gunung, agar semua kebutuhan bisa masuk, sama dengan Heru, sementar pak Samidi tidak membawa apapun karena dua orang ini yang akan menanggung kebutuhan Pak Samidi, dia hanya membawa tas selempang kecil berisi baju ganti.
Mereka masuk ke hutan ... suara lolongan anjing tiba-tiba terdengar, Winda kaget dan seketika mendekat pada Heru.
“Kenapa? takut?”
“Kaget.” Winda menjauh kembali.
...
“Bangun Nol.” Bobby berusaha untuk membangunkan Nola yang tubuhnya banyak memar dan kakinya sakit sekali.
“Makasih Bob, kita berhasil!” Nola berteriak, yang lain juga, Nola memeluk Bobby.
Walau sakit, mereka akhirnya memutuskan untuk berlari, sepi, ini adalah jalanan di mana hutan berada di kanan kiri jalan.
“Bob, bentar, minggi bentar.” Nola meminta semua orang minggir saat mereka sedang berlari.
“Kenapa?” tanya Bobby.
“Aku mau hubungi temanku dulu, Winda, aku mau kasih tahu dia kalau aku udah keluar dari bus itu, aku yakin, dia pasti cariin aku, karena dia orang paling dekat dengaku setelah keluargaku.”
“Hubungi pakai apa! tidak ada telepon umum di sini, adanya kan di kampus.” Bobby berkata, Nola lalu tertawa.
“Apa sih Bob, masa telepon umum, becandamu lawas sekali. Pakai handphonekulah, sebentar aku mau telepon Winda.”
Nola mengeluarkan handphonenya, Nola senang karena handphonenya masih berfungsi, dia membuka kuncinya lalu mencoba menghubungi Winda.
“Iya.” Nola masih berusaha menghubungi Winda.
Sementara di sisi hutan, Winda merasa telepon genggamnya berbunyi, Winda mengambil telepon genggamnya, betapa terkejutnya Winda, ternyata nama yang tertera adalah nama sahabatnya.
[Nola!] Winda berteriak ketika telepon sudah diangkat.
[Win! Win!] Di sisi lain Nola tidak mendengar suara Winda, begitupun Winda tidak mendengar suara Nola.
Mereka terus saling memanggil.
“Win, coba di chat aja kalau teleponnya nggak jelas!” Heru mencoba memberi usul.
“Oh ya.” Winda baru ingat.
[Kamu di mana?] Winda menutup telepon dan segera mengirim pesan.
Nola menerima pesan dan langsung membalas, [Aku di jalanan kampus menuju gerbang Win. Deket lampu jalan nomor 14.] Nola memberikan patokan jalan.
“Nih katanya.” Winda memberikan telepon genggamnya pada Heru, lalu mereka bertiga lari menyusuri hutan untuk mencapai jalanan yang diberitahu Nola.
Winda mengirim pesan meminta Nola untuk menunggu di sana.
__ADS_1
Tidak sampai dua puluh menit mereka sampai di jalanan yang diberitahu Nola, ketika sudah sampai sana, ternyata sepi dan kosong, tidak ada orang sama sekali.
[Kamu dimana! Aku sudah di jalan yang kamu sebut!] Winda mengirim pesan, Nola menerimanya dan panik.
[Aku ada di jalan yang tepat aku bilang barusan. Lampu nomor 14 Win.] Nola berkata dengan putus asa melalui pesan singkatnya.
[Kirim fotomu!] Winda meminta Nola mengirim foto supaya dia yakin Nola memang di sana.
Nola mengirim foto, dia mengirim foto dirinya dan juga Bobby serta teman-temannya di belakang dia.
Saat foto itu terkirim, Winda lalu membuka fotonya dan ....
“Ah!!!!” Winda melempar telepon genggamnya dengan spontan.
“Kenapa!” Heru mengambil telepon itu dan membukanya, dia juga sedikit kaget dan menunjukannya pada Pak Samidi, Pak Samidi menghembuskan nafas dan mengerti.
...
“Melati, kita tidur di mana ini?” Arif dan Melati di waktu yang sama, yaitu malam hari, mereka masih terus mencari jalan keluar.
“Di sini aja.” Melati menunjuk pohon besar yang ada di sana.
“Ya.” Mereka lalu terduduk dan istirahat.
“Kau dan Nola itu ... pacaran?” Melati bertanya.
“Tidak ... belum maksudku.”
“Jadi kau suka padanya?” Melati bertanya.
“Ya, bisa dibilang begitu.”
“Kalau Nolanya gimana?”
“Nggak tahu, aku belum bilang padanya kalau aku suka dia, ini yang aku sesali.” Arif memeganga kembali saputangan Nola dan menggenggamnya erat.
“Nola beruntung ya, punya kamu.”
“Nggak kok, aku lemah, aku yang bikin dia ilang.”
“Nggak dong, Nola memang berada di tempat dna waktu yang salah aja, semua udah ada takdir dan nasib masing-masing Rif.”
“Ya sih, tapi tetap aja, seandainya aku saat itu menawarinya tumpangan dan sabar menunggu, mungkin saat ini kami masih bersama.”
“Rif, kita pasti bisa temuin dia ya, jadi kamu harus sabar dan tetap gigih mencari, aku temenin, jangan sampai kamu putus asa.”
“Mel, makasih ya udah nemenin aku, aku mungkin nggak akan sanggup kalau nggak sama kamu.”
“Ya, aku akan temenin sampai kamu temuin Nola, itu janjiku.”
__ADS_1
“Mel, aku juga berharap kita bisa keluar bersama Nola dan akhirnya bisa meneruskan hidup, menggapai cita-cita dan selamat dari hutan ini.”
“Iya, kalian pasti bisa.” Melati tersenyum, Arif lalu tertidur digelapnya malam hutan itu.