Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 43 : Bening


__ADS_3

Bagaimana mungkin anak sekecil itu menarik tubuh ibunya hanya dengan satu tangan sembari menari.


Baru tujuh tahun, tapi mampu menyeret ibunya yang tidak mampu bergerak.


Dari kejauhan, papanya berlari melihat adegan menakutkan itu, dia sangat marah karena Bening menyiksa mamanya. Tapi, setelah dia sampai di dekat Bening, dia tiba-tiba terdiam, melepaskan pegangan dari ibunya dan berjalan dengan santai masuk ke rumah, sementara mamanya menangis, ketakutan.


“Ma, kenapa? kok bening begitu?” Papanya tak habis fikir. Dia bertanya sembari mengangkat tubuh istirnya yang sudah lemas karena digeret dengan satu tangan saja oleh anak perempuannya yang masih kecil.


“Aku nggak tahu, Pa.” Ibunya Bening menangis, mereka berdua masuk ke rumah. Ibunya membersihkan tubuh, sementara papanya langsung ke kamar Bening.


“Bening! Kenapa kamu begitu?” Papanya masuk dan langsung marah, anaknya sedang duduk dan menyisiri boneka anaknya, membelakangi pintu masuk.


“Bening!” Bening tidak menggubris.


Saat Pak Sukandar hendak menarik anaknya, tubuh itu begitu berat, jangankan diangkat, tergeser saja tidak.


Suara tertawa cekikikan keluar dari mulut Bening, Pak Sukandar kaget, dia melepas peganganya, Bening mebalik tubuhnya menjadi kayang, lalu mengejar papanya, Pak Sukandar yang terkejut, berlari dan menutup pintu dan mengunci pintu kamar anaknya, dari dalam pintu terdengar Bening menggedor-gedor pintu sembari tertawa cekikikan.


“Pa, gimana Bening?” Istri Pak Sukandar bertanya.


“Justru Papa yang tanya, kenapa dia begitu? Mamakan yang ada di rumah.” Pak Sukandar marah.


“Mama juga nggak tahu, Pa. Tadi Mama dari kamar mau cek Bening lagi ngapain karena hujan dan petir bersautan, Mama khawatir Bening ketakutan, makanya Mama ke kamarnya, tapi saat Mama mau ke kamar, ada suara kran air dibuka dari kamar mandi, akhirnya mama sampering, Mama fikir Bening di sana, tapi ternyata tidak, Mama kepeleset, Bening malah ketawain, trus lari keluar dan akhirnya terjadi seperti yang Papa lihat.” Mamanya menjelaskan.


“Bukan barusan, Ma. Tapi beberapa hari ini, ada apa, apakah kamu sama Bening ada berkunjung ke tempat yang aneh atau gimana, kok Bening kayak kesurupan gitu.”


“Nggak ada! Mama sama Bening nggak mungkin pergi tanpa sepengetahuan Papa.”


“Kalau begitu, besok kita panggil Aki, kita minta Aki lihat dulu.” Maksudnya adalah dukun yang cukup terkenal di desa itu.


Kamar Bening tetap dikunci sampai pagi, mereka berdua tidur di ruang tamu, takut kalau Bening mengamuk dan akhirnya keluar tanpa sepengetahuan mereka.


Begitu sudah pagi, Pak Sukandar setelah solat subuh langsung pergi ke rumah Aki Peot, Dukun ternama di desa.


Tidak berapa lama, Pak Sukandar kembali dengan Aki Peot, saat masuk istri Pak Sukandar langsung memberikan kunci kamar dan Pak Sukandar membuka pintu kamar anaknya.


Bening masih tidur di tempat tidurnya, memeluk boneka, mendengar pintu dibuka, dia langsung berlari memeluk ibunya.

__ADS_1


“Mam, Bening kedinginan, baju Bening basah, Bening minta bukain pintu tapi Mama sama Papa nggak jawab. Jadi, Bening ganti baju sendiri.” Bening menangis histeris, mamanya juga, saking takutnya dengan apa yang terjadi semalam, Pak Sukandar dan istrinya lupa, bahwa Bening belum ganti baju selepas hujan-hujanan.


“Maafin Mama Nak.”


“Bening, sekarang kita ke ruang tamu ya.” Papanya langsung menggendong Bening dan membawa Bening menemui Aki Peot.


Setelah melihat Bening, Aki Peot bingung.


“Tidak ada apa-apa, Bening baik-baik saja.” Aki Peot mengatakannya.


“Tapi Ki, seperti yang saya ceritakan tadi, semalam Bening melakuan hal yang aneh.” Pak Sukandar berkata.


“Saya tidak melihat apapun, tidak ada jin atau makhluk lainnya.”


“Oh, kalau tidak coba nanti minta tolong, Aki ke sini lagi selepas magrib, kemarin juga kejadiannya habis Magrib, Ki.”


“Yasudah, saya usahakan ke sini sehabis magrib, ini untuk jaga-jaga.” Aki Peot memberikan sebuah jimat, kain putih yang membungkus sesuatu.


“Ini diapain Ki?” Pak Sukandar bertanya.


“Di taruh di kamarnya Bening, kunci kamar sebelum Magrib, buka setelah saya datang.” Aki Peot lalu pamit pulang, katanya beberapa pasiennya sudah menunggu di rumah, ada pesan masuk dari istrinya.


Mamanya tidak ingin meninggalkan anaknya, dia ingin melihat, keanehan itu apakah akan terjadi lagi?


Tepat Adzan Magrib, Pak Sukandar dan istrinya solat di kamar Bening. Setelah selesai solat, mereka melihat ke arah Bening, tidak ada … Bening hilang, mereka lupa mengunci pintu sebelum solat, tapi saat solat mereka tidak mendengar langkah kaki Bening sama sekali, bahkan tidak melihat Bening keluar, pintu seharusnya terhalang oleh tubuh Pak Sukandar dan istrinya yang sedang solat. Karena kiblat memang menghadap ke arah pintu.


Satu-satunya jalan keluar, hanya jendela, tapi jendela itu dibuat tinggi, Bening terlalu kecil untuk bisa memanjat ke jendela itu.


Saat mereka berdua kebingungan, ada suara lari Bening dari luar, dia berlari dari ruang tamu ke dapur sembari tertawa-tawa.


“Bening!” Pak Sukandar berlari mengejar, istrinya juga, perlengkapan solat ditinggalkan saja.


Saat sampai dapur, dia melihat Bening sedang menatap mereka, bibirnya penuh dengan darah, Pak Sukandar berteriak memanggil anaknya.


“Bening!” Bening tertawa sembari melanjutkan makannya, ternyata darah di bibirnya berasal dari sesuatu yang dia makan.


“Apa itu, Ma?” Pak Sukandar bertanya kira-kira apa yang anaknya makan dengan lahap.

__ADS_1


“Ti-tikus, Pa.” Mamanya Bening menangis sejadinya.


“Astagfirullah!!!” Pak Sukandar berusaha meraih Bening, tapi lagi-lagi Bening berlari sembari membawa bangkai tikus yang terlah dia makan, bibir dan juga tangannya penuh darah binatang kotor itu.


Mereka berdua mengejar anaknya, ternyata dia berlari ke kamar. Seketika Pak Sukandar mengunci pintu itu.


Lagi-lagi terdengar suara cekikikan Bening dan gedoran pintu yang cukup kuat, seharusnya seorang anak kecil tidak akan mampu menggedor pintu sekuat itu, seolah ada 1 orang dewasa yang menggedor pintunya dengan sangat kuat.


Tidak lama Aki Peot datang.


“Ki, anak saya memang kambuh pada saat petang begitu matahari terbenam, tolong kami Ki.” Pak Sukandar memohon, seolah dia lupa, hanya Tuhanlah yang Maha Penolong.


Ki Peot membuka pintu kamar dan menguncinya dari dalam, sebelum itu dia berkata pada Pak Sukandar bahwa dia akan menyembuhkan Bening dan Pak Sukandar harus percaya bahwa Aki Peot bisa menolong.


Pak Sukandar hanya mengangguk dan membiarkan orang asing masuk ke kamar putrinya sendirian.


Sekitar 15 menit Aki Peot keluar, Pak Sukandar harap-harap cemas bersama istrinya.


Aki Peot keluar perlahan, tidak, dia tidak keluar perlahan, tapi didorong, dia didorong oleh Bening dengan kakinya, tubuh Aki Peot itu terlihat lemas, saat keluar dari kamar Bening, dia tersungkur karena ditendang Bening.


Pak Sukandar membantu Aki Peot bangun, miris melihat wajahnya babak belur, bahkan dia muntah darah dan langsung meminta diantar ke rumah sakit.


Dukun yang aneh, dia bahkan tidak bisa menyembuhkan dirinya sendiri dan sombong sebelumnya, merasa mampu menyembuhkan Bening.


Pak Sukandar setelah meminta bantuan tetangga mengantar Aki Peot ke rumah sakit, lalu melihat Bening, di dalam dia sedang duduk bersila di atas tempat tidur, dia memandang ke arah Pak Sukandar dengan tatapan sinis.


“KELUAR!!!” Suara Bening menggema di seluruh ruangan, saat dia menyuruh Papanya keluar, pintu kamar tertutup sendiri, setelahnya tidak ada yang bisa masuk.


Pak Sukandar dan istrinya jatuh ke lantai, mereka menangis karena merasa tidak mampu menolong anaknya, anak yang begitu mereka inginkan, anak yang sangat dinanti, mereka menangis berdua.


Semalaman mereka berusaha untuk membuka kamar Bening, tapi tidak mampu, padahal kunci cadangan ada di tangan Pak Sukandar, kunci kamar aslinya ada di Aki Peot, karena tadi tidak sempat meminta.


Dari dalam kamar terus terdengar suara cekikikan, membuat mereka merinding, tapi di sana ada anaknya yang mungkin dalam dirinya ketakutan.


“Pa, gimana? Apa yang harus kita lakukan?”


“Besok pagi, kalau dia membaik, kita bawa ke Dokter dulu, dia tadi makan tikuskan, takut sakit, setelah itu baru kita coba bawa ke Psikiater, dia pasti sehat, pasti.” Pak Sukandar optimis.

__ADS_1


“Kalau tidak … bagaimana?” Istrinya tidak seoptimis Pak Sukandar.


“Aku akan lakukan apapun untuk Bening, apapun.”


__ADS_2