Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 426 : Bulan Madu 24


__ADS_3

“Mereka masih di dalam?” Manager hotel itu bertanya pada pengintai yang masih terus mengintai rumah itu.


“Masih Bos, kita sergap sekarang?”


“Tentu saja, kita akan habisi mereka, para Balian akan menghabisi khodamnya. Sedang kita akan menghabisi mereka dengan orang-orang yang hebat ilmu beladirinya ini.” Manager itu menunjuk para anak buahnya, ada sekitar 15 orang preman yang terlihat keji dengan berbagai senjata dan ada 5 Balian yang terlihat sakti mandra guna, mereka siap untuk menyergap kawanan di rumah itu.


Manager itu mengendap dan mendekati pintu masuk rumah, dia memegang gagang pintunya, memutar gagang itu lalu setelah pintu terbuka, dia menendang pintu itu dan terlihatlah kawanan yang sedang duduk mengobrol dengan pria tua dan juga wanita petugas hotel.


Preman-preman itu berhamburan masuk ke dalam rumah dan mulai menyergap kawanan dengan berbagai senjata, mereka menyabet celurit, golok dan pedang pada tubuh kawanan, semua senjata itu kena, kawanan tidak siap, mereka berusaha untuk menghindar tapi tidak mampu, semua senjata itu terus mengenai tubuh kawanan, bahkan wanita petugas hotel itu juga terlihat terluka dengan parah.


Ada luka tusuk, luka sabetan celurit pada tangan dan kaki, sedang luka sayatan dari pisau, para preman mengarahkan senjata dengan membabi buta, kawanan benar-benar dikeroyok.


Manager itu tertawa karena dia akhirnya berhasil membuat kawanan terluka.


Aditia melihat semua orang sudah terluka parah, dia melihat mereka dan memberikan kode pada kawanan untuk melakukan rencana cadangan yang telah mereka siapkan.


Rencana itu adalah ....


Terdengar suara yang sangat kencang, sirine Polisi nyaring terdengar dari arah luar, semua orang kelabakan mendengar itu, mereka hendak lari tapi sungguh disayangkan, ternyata Polisi sudah masuk dan langsung menangkap para penjahat, termasuk Manager itu, wanita petugas hotel terluka parah, ayahnya Anggih juga sama, begitu juga kawanan.


“Hei, kalian baik-baik saja?” Jajat masuk dengan wajah sangat khawatir.


“Pastikan kami digiring langsung untuk melakuakn BAP dan diarahkan untuk langsung melakukan visum, karena aku ingin menangkap mereka dengan tuntutan rencana pembunuhan, bukan pengeroyokan ataupun penganiaayaan yang masa hukumannya paling lama adalah 5 tahun, aku akan memastikan mereka dihukum dengan hukuman yang sangat berat. Karena percobaan pembunuhan masa hukumannya paling lama adalah seumur hidup atau hukuman mati.”


“Aku sudah mengarahkan Polisi untuk langsung melakukan visum pada semua orang, semakin parah lukanya semakin bagus. Kau terluka parah?” Jajat bertanya pada Jarni.


Ganding menatapnya dengan tajam.


“Maksudku adalah ….”


“Kau tidak lihat tangannya? Tulangnya hampir terlihat karena celurit tadi, kalau bukan karena rencana ini, aku takkan biarkan preman sialan itu menyabet celuritnya pada kami, Oknum Balian tingkat rendah begitu diajak menyerang kami, beruntung mereka tertangkap, kalau aku adukan kepada seluruh Balian yang menyambut kami, bisa dirajam mereka. Karena dianggap pembelot pada perjanjian kerjasama.” Ganding menjawab, Jarni hanya diam, tak ingin kekasihnya larut dalam kecemburuan.


“Kalau begitu kita obati dulu luka kalian.”


“Jat!” Semua orang berteriak karena kebodohan Jajat, kalau diobati nanti lukanya tidak terlihat, mereka ingin luka itu terlihat sangat parah, makanya tadi mereka tidak membalas sama sekali, bukan karena terkejut dan tidak bisa melawan, tapi karena memang sengaja membuat tubuh mereka terluka.


“Jat, cepat! Kita harus visum dulu, karena efek mantra kebal dari Alka ini akan bertahan satu hari saja, setelah hari ini, kami pasti merasakan sakit yang sangat.” Aditia mengingatkan Jajat bahwa mereka harus segera ke rumah sakit untuk visum.


Setelah obrolan singkat itu, para korban dibawa menggunakan ambulans, mereka pura-pura kesakitan, termasuk wanita dan ayahnya Anggih, mereka juga diberikan mantra oleh Alka agar tidak merasakan sakit saat penyerangan itu terjadi, besok pasti mereka kesakitan.


Butuh waktu satu jam untuk sampai rumah sakit terdekat, mereka melakukan visum, sungguh luka yang sangat ganas dilakukan oleh para preman dan Manager hotel itu, yang mereka incar adalah, minimal hukuman 20 tahun penjara bagi Manager Hotel itu, karena merencanakan pembunuhan bagi 8 orang sekaligus, maka semakin banyak korban, semakin baik, semakin banyak luka, juga semakin bagus.


Di rumah sakit, mereka divisum satu persatu, setelah visum selesai, tengah malam kawanan kembali ke vila, sedang wanita itu tetap di rumah sakit bersama dengan ayahnya Anggih karena merekalah dengan luka yang paling parah.


“Minum ini.” Alka memberikan air itu pada kawanan setelah mereka sampai vila, itu adalah air kehidupan dari Ayi Mahogra, dulu dia menggunakan air itu saat peperangan agar luka cepat sembuh, apa kalian ingat air itu atau kita menyebutnya, Teh Amreta? Maka Alka memberikannya pada kawanan, dalam hitungan menit, semua luka langsung kering dan hanya menjadi bekas guratan saja.


“Apakah lukanya akan membekas?”  Alisha bertanya, dia memang si paling gusar tentang penampilan.


“Kita akan operasi plastik kalau memang itu berbekas, beruntung tadi kita memastikan bahwa wajah tidak boleh sampai kena.


Lalu bagaimana dengan wanita petugas hotel dan ayahnya Anggih Kak?” Hartino bertanya setelah menenangkan istrinya.

__ADS_1


“Sudah kutitipkan Teh Amreta untuk mereka pada Jajat, mereka akan segera pulih, aku meminta Jajat memberikannya sedikit demi sedikit agar pihak rumah sakit tidak curiga dengan luka yang tiba-tiba sembuh.” Alka menjelaskan.


“Kau sudah bicara pada Jajat agar memastikan kasus ini sampai ke pengadilan kan? Memastikan bahwa pasal yang akan dikenakan padanya adalah percobaan pembunuhan, aku tidak perudli jika saja para preman dan Balian itu hanya dihukum sebentar di penjara, tapi untuk Manager hotel itu, pastikan dia mendekam di penjara sangat lama, minimal 20 tahun.” Aditia geram karena dia pastikan komplotan Anto, atau malah dia dalang sebenarnya, atau kalaupun dia adalah salah satu sekutu, maka kita akan mendapatkan nama orang dalangnya, cepat atau lambat, menggunakan masa kurungan penjara untuk mengancamnya.” Aditia bertanya pada Ganding.


“Sudah, aku sudah menekankan pada Jajat, jangan sampai lepas, kalau perlu uang untuk memastikan mereka tidak lepas, aku akan siapkan, Jajat bekerja sama dengan para Balian baik yang akan membantu, mereka juga menahan diri untuk menghabisi para Oknum Balian yang kemarin ikut menganiaya kalian.” Ganding menjawab.


“Aku hanya heran saja, bahkan wanita itu tahu kalau dia akan dibunuh, berhasil atau tidak rencana ini, tapi dia tetap ambil resiko untuk menjebak kita dengan iming-iming uang yang memang sudah diberikan padanya sebelum menjebak kita.


Wanita itu pasti sangat suka uang, aku jadi teringat saat dia datang pertama kali dan berusaha menipu kita.” Alisha terbayang kembali moment itu.


KETIKA WANITA PETUGAS HOTEL ITU DATANG UNTUK MENJEBAK


“Kalau begitu, beri kami alamatnya, alamat dari pemilik vila.”


“Ya, aku memang bermaksud memberikan alamat itu pada kalian, tapi bosku tidak tinggal lagi di dekat sini, pemilik vila dan hotel ini sudah pindah ke daerah yang cukup terpencil di Bali, dia memilih untuk keluar dari hiruk-pikuk bisnis dan membiarkan orang-orang kepercayaannya saja yang mengendalikan hotel dan vila, adik dari pemilik vila yang sekarang mengambil bisnis ini, dia tidak tahu menahu soal seluk-beluk vila dan hotel.


Kalau kalian mau tahu apa yang terjadi di vila ini dan apapun yang kalian coba cari, kalian harus ke sana, ke rumah bos kami itu, tempatnya lumayan jauh, perlu 4 jam perjalanan dari sini.”


Petugas hotel itu memberikan alamatnya lalu pamit … tapi sebelum itu Alka menahannya dan berkata, “Kau tidak berbohong, kau tahu cerita itu benar, tapi aku tahu, kalau kau bermaksud menjebak kami bukan?” Alka menatap wanita itu dengan tajam.


“Aku hanya ….” Alka melompat ke arahnya dan memegang kepala wanita itu, matanya bersinar menatap ke atas menandakan dia sedang membaca masa lalunya.


Setelah membaca masa lalu itu, Alka melepas kepala wanita itu.


“Ceritanya soal Anggih dan ibunya benar, tapi dia akan menjebak kita, menggiring ke tempat itu.”


“Kau ini jujurnya setengah-setengah, kenapa memberi tahu kita yang benar, tapi hendak menjebak kita?” Ganding bingung.


“Nyawa kami berenam hanya senilai 150 juta?” Alka kesal karena melihat itu pada masa lalu wanita petugas hotel ini.


“Bagaimana kau tahu nilainya dengan pasti!” Wanita petugas hotel itu tidak sadar bahwa masa lalunya telah dibaca oleh Alka.


“Karena aku memang cenayang! Kau tidak takut kalau aku akan menyantet keluargamu, kau punya anak kan? Sudah kau tunggu lama, maka kalau kehilangan pasti menyakitkan.” Alka menakuti, bukan gaya Alka, tapi dia meminjam gaya Alisha si kasar yang berani, Alisha tertawa melihat itu.


“Karena kalau aku mengarang cerita kalian pasti langsung tahu, aku tahu kalian bukan orang biasa, makanya aku menceritakan yang sebenarnya agar kalian percaya. Tapi ternyata masih ketahuan.” Petugas itu khawatir.


“Kalau begitu tetap jalankan rencana penjebakan kami.” Ganding berkata dengan dingin.


“Apa maksudnya?” Wanita itu bingung.


“Jebakan dalam jebakan, cara menjatukan orang yang suka menjebak adalah, pasang perangkap yang sama, dia pasti takkan waspada dan tidak menyangka kita memakai perangkap yang sama padanya.”


“Aku tidak mengerti.” Aditia berkata dengan polosnya.


“kami akan ke tempat itu sesuai rencanamu dan bosmu itu, dia ingin kita mati kan? Kita laksanakan, kita buat diri kita terluka parah, maka dia akan dipenjara dengan waktu yang cukup lama, karena kita punya alat bukti yang lengkap.


Kalian tahu kan, kalau seeorang itu dapat dikenakan pasal dan dijadikan tersangka atau bahkan terdakwa atas beberapa unsur.


Satu, keterangan saksi, kita punya para penjahat yang menyerang kita nanti, kita akan membuat mereka menyerang bosmu, memberikan kesaksian bahwa memang bosmu hendak membunuh kita, pasti ada percakapan itu diantara mereka.


Kedua keterangan ahli, kita bisa dapat dari visum, makanya kita harus memastikan tubuh kita semua terluka parah, agar mendapatkan keterangan ahli dari visum itu.

__ADS_1


Ketiga, adalah surat, surat visum yang akan diterbitkan oleh tenaga ahli itu, lalu keempat adalah petunjuk, kita tidak perlu itu, karena tersangkanya sudah jelas diketahui, terakhir keterangan terdakwa. Kita akan mendapatkan dia kali ini.” Ganding sangat yakin dengan penjelasannya.


“Kalau begitu aku akan ikut ke lokasinya, itu akan membuat kesaksianku semakin memberatkan bosku, tapi … berapa upahku?” Wanita itu berkata dengan sangat tidak tahu malu.


“Kubuat dua kali lipat dari tawaran bosmu, bagaimana? Bukankah nanti kalau kau masuk penjara karena menjadi pendukung rencana pembunuhan, uang dari bosmu akan disita?” Ganding memberikan penawaran.”


“Bagaimana kalau digenapkan? 500 juta?” Wanita itu sungguh tidak tahu malu.


“Tapi itu ….”


“Nding, berikan. Tapi mungkin kau akan terluka nanti, karena dia pasti menyerang kami membabi buta, mengingat tujuannya pasti membunuh kami. Kau sanggup?”


"Kalau nilainya kalian setujui, mungkin aku sanggup."


"Kau memang wanita yang konsisten, konsisten mencintai uang, baiklah, akan aku siapkan malam ini, aku akan memberimu cash, karena kebodohanmu dan bosmu itu adalah, uang sogokan dilakukan dengan cara trasnsfer, tidak tahu kah kau, kalau itu bisa dilacak dan dijadikan alat bukti kelak, karena mutasi bank itu bisa dipelajari, kala uada tren yang tidak sesuai dengan pendapatanmu seperti biasanya, maka itu akan dicurigai. Maka aku akan siapkan uang cash malam ini juga."


"Nding, narik segitu banyak, lu gila." Hartino mengingatkan.


"Kan aku nasabah prioritas."


"Kita semua!" Yang lain serempak mengingatkan bahwa mereka semua nasabah prioritas, apa dia lupa kalau mereka semua kaya raya, bukan dirinya saja.


"Yasudah, aku akan siapkan dananya, tapi kau harus mengikuti apapun yang aku kami rencanakan, jangan berani-beraninya kau mengkhianati kami, karena kami jelas lebih pandai dibanding bosmu itu."


"Aku lebih suka angka 500 juta, maka aku akan setia."


Wanita itu lalu pamit.


“Kita ke sana.” Aditia meminta semua orang bersiap.


"Kau yakin, Dit?” Alka bertanya, semua orang yang tadinya hendak bersiap, jadi berhenti karena tumben sekali Alka ragu.


“Kenapa aku harus tidak yakin?”


“Perempuan itu ... apa kalian percaya dia?” Alka bertanya.


“Entahlah, aku hanya ingin mengikuti semua informasi yang kita dapat saja.”


Dialog ini pasti kalian ingat ketika itu Alka ragu.


__________________________________________


Catatan Penulis :


Apa kalian bisa menebaknya? kalau tidak, maka komentarlah, AUTHOR MENANG LAGI.


Tapi kalau kalian merasa menebak dengan benar, maka komentarlah, READER YANG MENANG.


Seru ya main kayak gini.


Satu lagi masalah Sak Gede, udah tahu kan sekarang dia berada di mana, kan udah dijelasin sama Ayahnya Anggih.

__ADS_1


__ADS_2