
Mereka pulang masing-masing, begitu sampai rumah Aditia melihat ibu dan Dita sedang sibuk di dapur, membuat kue, dari belakang Aditia tersenyum, kalau mereka tahu bahwa uang mereka sangat banyak, pasti Aditia tidak akan pernah melihat pemandangan ini, karena Dita akan sibuk dengan gadjetnya dan ibu sibuk dengan arisannya.
Jadi ini yang ayahnya ingin bangun dari keluarga, kehangatan dengan kesederhanaan.
“Eh, udah balik Kak?” Dita bertanya, karena tadi dia hendak mengambil sesuatu di meja makan sedang Aditia ada di sana.
“Iya, lagi apa?” Aditia bertanya.
“Lagi buat pesenan kue, orderan lagi banyak, kamu bantuin ibu dong.” Ibunya menjawab.
“Iya, Adit mandi cuci tangan dulu ya, Bu. Nanti Adit bantui.” Aditia bergegas menaruh tas yang biasa dia bawa dan mencuci tangan, lalu bergabung dengan keluarganya.
“Bolue ketan sama bolu pandan?” Aditia bertanya.
“Iya.” Ibunya menjawab singkat.
“Adit ngapain?”
“Itu kamu bentuk kontak kuenya, biar kalau udah ada yang siap, bisa dimasukin.” Aditia dengan sigap membantu membentuk kotak kuenya.
“Oh ya, Bu, teman ayah tadi jadinya pinjam uang berapa?” Aditia teringat teman ayahnya yang datang tadi pagi saat Aditia masih di markas ghaib itu.
“Oh, nggak Dit, Ibu salah, ternyata mereka ke sini tidak pinjam uang, mereka bilang ada keperluan lain. Mereka nggak butuh uang, tapi butuh keahlian Ayahmu, mungkin maksudnya nyupirin kali ya, wong keahliannya kan, cuma nyupir angkot.” Ibu tertawa, ada sedikit rasa tersentak dalam fikiran Aditia saat mendengar itu.
Keahlian ayah bukan cuma sekedar supir angkot, bahkan dia tidak menyupiri siapapun di luar pekerjaannya sebagai supir ruh-ruh itu, teman ayah pasti tahu soal kemampuan ayah yang itu.
“Bu, mereka ninggalin nomor telepon nggak?” Aditia harus memastikan sesuatu.
“Iya ningalin, ibu yang minta, supaya kalau ada kabar apa-apa lagi, mereka bisa kita hubungi. Nomornya ada di HP ibu, kamu liat sendiri ya, eh tapi, buat apa? Oh iya, kamu mau gantiin ayah ya? Iya tuh Dit, bantuin, siapa tahu bisa jadi penghasilan tambahan.” Ibunya sumringah, beliau memang ibu yang memiliki pemikiran sederhana, ikhlas dan tulus.
Setelah beres membantu ibunya, Aditia rencananya akan mengantar kue itu ke rumah orang yang memesan, dia langsung mengantar, setelah mengantar kue itu, Aditia menghubungi nomor telepon teman ayahnya.
[Halo Assalamualaikum, siapa ini?] suara dari sebrang sana, menjawab telepon Aditia, Aditia ada di angkotnya.
[Halo, saya Aditia, anaknya Pak Mulyana, tadi kata ibu, saya, Bapak temannya ayah?] Aditia bertanya.
[Oh, yang temannya ayahmu, papaku, kenalkan, saya Imran, saya dan papa saya ke sana ada perlu dengan Almarhum, maaf kami tidak tahu kalau Pak Mulyaan sudah tiada.]
[Tidak apa-apa Pak Imran, kalau boleh tahu, ada apa ya? Kata ibu saya, bapak butuh keahlian ayah.]
[Tidak, bukan apa-apa kok, terima kasih sudah bertanya.]
[Pak Imran, di keluarga, cuma saya yang tahu soal keahlian ayah dan keahlian itu diturunkan ke saya.]
[Hmm, Mas Aditia umur berapa?] Imran bertanya.
[Dua puluh dua tahun Pak.]
[Maaf Mas, kami terima kasih sekali, tapi sepertinya kami tidak ingin menjadi beban bagi Mas Aditia, kami ….]
[Bapak Ragu kalau saya bisa bantu karena umur saya masih sangat muda?]
[Bukan begitu, saya hanya takut membahayakan Mas Aditia, karena ini urusannya sungguh serius.]
[Saya bisa bantu Pak Imran usir ruh itu.] Begitu mendengar Aditia berkata seperti itu, Imran suami Ranti terdiam, berarti Aditia memang sudah diturunkan ilmu oleh ayahnya.
__ADS_1
[Saya sangat berharap ada yang bisa bantu Ranti, istri saya, papa saya tidak percaya pada siapapun selain Pak Mulyana, karena katanya, ini bisa menimbulkan korban jiwa jika kita salah jalan, saya harus berkonsultasi dulu dengan papa saya, karena ….]
[Saya akan ke rumah Pak Imran, saya dan tim saya, tenang Pak, saya nggak sendirian, kami juga biasa mengerjakan hal ini.]
[Baik, kalau begitu silahkan datang, kalau boleh tahu, berapa ya biaya yang mesti saya siapkan?] Ada nada khawatir dari kata-kata Imran, dia mungkin takut mahal karena mendengar kata tim.
[Baik saya maupun ayah saya, kami tidak pernah menentukan tarif, tidak juga mematok harga dan satu lagi, tidak menerima uang sepeserpun, karena itu hinaan bagi kami, jadi tenang Pak, membantu orang seperti istri Bapak, adalah kewajiban dari ilmu yang dititipkan kepada kami. Tidak usah siapkan apapun, tidak usah siapkan ayam, telur atau sejenisnya, kami hanya akan datang dan melihat keadaan istri bapak, setelahnya baru cari solusi.] Panjang lebar Aditia menjelaskan, setelah itu dia menghubungi semua kawannya, menjemput Alka di gua, lalu bertemu di rumah Ranti.
“Ini Aditia Pa, ini teman-temannya, katanya mereka bisa bantu kita.” Imran memperkenalkan Aditia dan kawan-kawan, papanya Imran terlihat kurang yakin dengan kumpulan anak muda ini. Mereka duduk berhadapan di sofa ruang tengah keluarga Ranti.
“Kamu anaknya Mulyana? Wah sudah besar ya.” Papanya Imran berkata.
“Iya Pak.” Aditia menjawab sembari tersenyum.
“Tapi, begini Nak, Bapak dan Imran berharap pertolongan dari Pak Mulyana, karena sejauh Bapak mengenal semua orang pintar, hanya Mulyana yang paling bijak dan benar membantu orang, kita tidak bisa anggap enteng, karena Ranti akan dalam bahaya, makanya resikonya tinggi, Bapak tidak ingin kalian celaka.” Papanya Imran mencoba menolak dengan halus.
“Pagar yang bapak bangun di depan koyak, ‘dia’ masuk secara paksa, ada yang mengizinkan ‘dia’ masuk, pagar itu tidak bisa ditambal, karena ‘dia’ sudah ada di sini, walau bapak bangun pagar itu di depan kamarnya istri Pak Imran, itu tidak akan berpengaruh sama sekali, karena ‘dia’ sudah masuk.”
Papanya Imran kaget, berarti memang Aditia melihat dengan jelas dunia mereka, hingga pagar ghaibnya yang koyak dan pagar baru yang dibuat di depan kamar Ranti Aditia bisa menjelaskan dengan tepat.
“Baunya sudah ada di seluruh rumah ini, gosong dan busuk. Kita harus cepat, apakah ada lebam, melepuh atau cakaran di tubuh Ibu Ranti?” Ganding bertanya.
Lagi-lagi papanya Imran kaget, dia tidak menyangka, bahwa Ganding bisa menjelaskan, keadaan Ranti yang belum diceritakan sama sekali.
“Iya benar, pagar yang saya buat koyak, Ranti juga melepuh pada telapak tangannya, tapi saat ini lepuhan itu sudah menjalar sampai pundak. Ranti juga sudah sering tidak sadarkan diri, dia meraung-raung ingin mencelakai anaknya.” Akhirnya papanya Imran mengizinkan mereka, karena dia mau menjelaskan keadaan Ranti.
“Boleh saya lihat Ibu Ranti?” Alka bertanya.
“Terlalu berbahaya Neng, ruh itu ….”
Alka menubruk papanya Imran, seketika mereka berdua mematung, tidak bergerak sama sekali dalam keadaan berdiri hadap-hadapan, tangan kanan Alka memegang bahu papanya Imran, di titik itu, ternyata Alka sedang mendorong sukma papanya Imran keluar lebih tepatnya ke belakang tubuhnya sendiri, makanya tubuh mereka seperti membeku, terdiam, karena sukma Alka mendorong sukma papanya Imran, dalam hitungan detik, Alka menarik kembali sukma itu ke tubuh mereka.
“Bagaimana kau bisa membuatku lepas raga semudah itu?” Papanya Imran kaget dan gemetar.
“Kelamaan kalau dijelasin dulu Pak. Makanya kami membuktikan kemampuan.” Hartino kesal karena obrolan ini membuat semuanya menjadi lama.
“Baiklah, tolong bantu menantu saya.” Akhirnya Alka, Jarni dan Aditia masuk ke kamar, sementar Ganding dan Hartino tetap di luar.
Ranti duduk di tempat tidur, dia terlihat sedang menatap foto anaknya, dia duduk dengan sangat anggun, walau bau gosong sangat tercium di ruangan ini, rupanya luka lepuhan itu sudah sampai di sekitar wajahnya.
“Bagaimana kau bisa menyiksa seorang ibu yang masih menyusui anaknya seperti ini?” Alka berteriak dengan kesal.
Ranti melihat ke arah Alka dan mencekik Alka, tapi dia tidak bisa membuat Alka bahkan bergerak sesenti pun dari tempatnya. Alka memegang tangan Ranti dan mendorongnya.
“Mas, aku mohon, aku ingin bertemu anakku.” Ranti memelas, tentu itu hanya tipuan.
“Keluar kau!” Alka berteriak lagi.
“Mas, aku takut, dia jahat, dia iblis, kenapa kalian jahat padaku? Apa karena aku hanya seorang menantu? Makanya aku diperlakukan jahat seperti ini?” Ranti kembali memelas.
“Sayang, nggak gitu, Mbak Alka dan Mas Aditia mau bantu kamu.”
“Kau bohong!!! Mereka mau membunuhku, mau mengusirku dari rumah ini, kau mau menikah lagi kan?” Ranti berteriak histeris, saat dia hendak mengamuk lagi, Alka mengeluarkan cambuk ghaib, menyabet cambuk itu pada kaki Ranti dan dia terjatuh, cambuk ghaib melilit tubuh Ranti.
Tentu Imran tidak bisa melihat cambuk itu, papanya Imran masih bisa melihat cambuk itu dan terkejut, betapa Alka memiliki ilmu yang tinggi.
__ADS_1
“Ruhnya melekat dengan sempurna karena diizinkan masuk, dia menempel rapat dan harus keluar dengan cara sukarela.” Alka berkata, sementara semua orang sudah keluar dari kamar.
“Kak, apa asumsimu?” Ganding bertanya.
“Suri Sedya Wharok.” Alka menjawab.
Aditia langsung membuka buku catatan ayahnya, dia mencari judul yang Alka katakan, ada! Ayahnya pernah menangani hal yang sama, dalam catatannya dikatakan begini,
Suri Sedya Wharok adalah membawa mati yang hidup dengan cara menempel pada tubuhnya, ruh ini biasanya masuk ke dalam tubuh dengan cara diizinkan baik secara sengaja ataupun tidak sengaja.
Biasanya ruh ini menempel pada tubuh-tubuh orang yang ingin bunuh diri, ruh ini membantu manusia melakukan dosa yang cukup berat di Mata Tuhan, dengan bunuh diri maka dia tidak akan bisa masuk surge, maka dia bisa saja menjadi pendamping dari ruh yang menempel tersebut hingga sampai kiamat tiba.
Suri Sedya Wharok hanya bisa dipatahkan dengan cara melepaskan ruh tersebut dari tubuh manusia yang terasuki, tapi ruh tersebut yang harus keluarsecara sukarela karena saat ini tubuh manusia yang terasuki sudah dikendalikan penuh oleh ruh.
“Begitu Pak.” Aditia menutup catatan Pak Mulyana.
“Saya sudah curiga kalau ini Suri Sedya Wharok, saya berharap salah, makanya saya mencoba menghubungi Mulyana tapi hpnya sudah tidak aktif lagi, lalu berkunjung ke rumah dan mendapatkan kabar bahwa Mulyana telah tiada.” Papanya Imran berkata.
“Apakah menantu bapak ada niat bunuh diri, apakah dia sedang ada masalah?” Aditia berani bertanya karena masalah ini memang ada sangkut pautnya dengan peristiwa kerasukan ini.
“Dalamnya hati seseorang kita tidak tahu, tapi dalam sepengamatan kami, dia baik-baik saja, dia bekerja, tetap menyusui, hubungan antar menantu dan mertua juga baik, kami jarang sekali berselisih paham, kami menjaga menantu kami dengan ikhlas, begitu juga menantu kami menjaga kami dengan ikhlas, dia bahkan masih tertawa dengan anaknya sebelum kejadian karasukan tersebut, kalau kami memandang bahwa menantu kami baik-baik saja, tidak ada sama sekali pemikiran dia stress atau depresi.”
“Bagaimana dengan pekerjaan?” Aditia kembali bertanya.
“Menantu kami ini seseorang yang cukup terbuka, jika malam hari tiba kami makan malam bersama, dia suka cerita kegiatan kantornya, kadang dia mengeluh tentang kantor, kadang juga dia senang karena satu dan lain hal, tapi memang akhir-akhir ini dia sering sekali lembur.”
“Apakah kalau karena kecapean dia bisa begitu?” Imran bertanya.
“Tidak Mas, kecapean tidak akan membuat seseorang terasuki, lemahnya mental yang membuat orang terasuki.” Ganding menjawab.
“Tapi sebentar, sebenarnya ada satu hal yang ingin istri saya katakana, coba saya panggil dia dulu ya, semoga Giska sudah tidur.” Papanya Imran ke lantai dua dan memanggil istrinya, mama mertua Ranti.
“Halo semuanya, saya mertuanya Ranti, ibunya Imran/” Semua orang member salam sebagai tanda perkenalan.
“Jadi apa yang mau ibu ceritakan?” Aditia bertanya.
“Iya, pada malam itu, sebelum Ranti teriak-teriak di tengah malam, sebenarnya saya melihat Ranti berjalan melewati saya setelah pulang kerja, dia berjalan saja dengan tatapan kosong, saya memanggil-manggilnya, dia terus saja jalan dengan tangan kosong, lalu ketika saya tepuk ... dia mengatakan hal yang aneh.”
“Aneh apa?” Aditia bertanya lagi.
“Dia bilang ingin mengantar seseorang ke rumahnya karena orang itu sakit, dia bilang orang itu tadinya ada di depan dia, tapi tiba-tiba nggak ada, katanya lagi, mungkin sudah pulang ke rumah, saya tanya itu siapa, dia bilang seorang ibu yang suka menunggu anaknya di ujung gang, lalu saya buru-buru menariknya karena itu malam jumat, saya takut kalau kami nanti sawan, saya juga tidak memikirkan apapun lagi setelahnya, kami pulang, Ranti mandi dan mengambil Giska ke atas, setelah itu mereka tidur, lalu pada tengah malam, tiba-tiba Ranti bilang bahwa ada seseorang yang masuk dan memaksa minta melihat anaknya, tapi pintu masih terkunci dari dalam, jadi seharusnya tidak ada yang masuk. Ya kan, Pa?” Ibu mertua Ranti menjelaskan.
“Perempuan di ujung gang? Kalau nggak salah, Ranti juga menyapa seorang pada saat kita pulang bersama, tapi sebenanarnya saya tidak melihat siapapun di sana, saya fikir mungkin orangnya sudah pergi, tapi kalau di hubungkan, bisa jadi, hanya Ranti yang lihat.” Imran ikut menceritakan.
“Berarti dia sudah diincar, hanya dia yang melihat sosok itu, pantas dia diincar, bisa jadi ruh itu sangat menginginkan tubuh Ranti, tapi kita harus cari cara membuat ruh itu keluar secara suka rela walau sulit.” Alka buka suara.
“Kalau dia sangat menginginkan tubuh Ranti, bagaimana caranya supaya dia mau keluar secara suka rela?” Imran bertanya.
“Cari tahu dulu identitasnya, cari tahu apa penyesalannya sampai dia masih di sini, setelah kita bantu menyelesaikan masalahnya, mungkin dia mau keluar dan pulang pada Yang Maha Kuasa.” Aditia berkata.
Semua orang hanya tertunduk, berat sekali pekerjaan selanjutnya, seperti mencari jarum di dalam jerami, harus mulai dari mana?
______________________________________
Catatan Penulis :
__ADS_1
Terima kasih yang masih setia, terima kasih nggak bosen mampir walau Authornya on off.
Jangan lupa Like dan Vote ya, bantu kami naik kelas.