
Dengan mengetahui puranya, maka kawanan tahu di mana Sak Gede berada, karena tempat pemujaan adalah rumahnya.
Karena pura bagi dewa adalah tempat suci yang didirikan berdasarkan konsep teologi-filosofis tertentu untuk menjadi tempat sekaligus pusat orientasi pemujaan.
Walau jika hubungannya dengan Sak Gede, maka akan menjadi bergeser maknanya.
Karena jelas Sak Dewa secara mitos adalah dewa yang diusir hingga status kedewaannya menjadi batal.
"Kita harus menghancurkan vila ini untuk dapat membuatnya keluar." Ganding berkata, mereka sedang sarapan dengan belas luka yang mulai pudar.
"Kau kan tahu, ayahnya Anggih saja tidak bisa menghancurkan pura yang dia bangun." Aditia mengingatkan.
"Dia melakukannya sendirian, energinya tentu tidak sebanding dengan energi Sak Gede."
"Maksudmu, kau ingin kita menghancurkan pura dengan menggabungkan kekuatan, Nding?"
"Ya, ditambah dengan kekuatan Rangda, tentu saja kekuatannya mungkin sebanding. Kita punya 5 khodam, 5 manusia istimewa dan 1 manusia yang sangat spesial, memiliki wijud jinnya sendiri, jadi pasti kita mampu memecah pertahan Sak Gese dan mampu menghancurkan vila ini."
"Kalau begitu aku akan telepon Jajat untuk bantu menyewa alat berat, kita butuh untuk menghancurkan fisik vila ini." Hartino kemudian beranjak dari meja makan dan mulai menghubungi Jajat.
"Kita tuh terlalu bergantung pada Jajat, padahal kita bisa membawa salah satu anak buah kita yang punya khodam untuk melakukan hal-hal seperti ini." Ganding protes, kita tahu dia protes bukan karena tidak suka kinerja Jajat.
"Nding, Jajat biarpun Kharisma Jagat, tapi dia tinggal di sini sudah sangat lama. Jadi, dia jauh lebih bisa bantu kita. Aku tahu perasaanmu, percayalah. Aku akan minta Hartino untuk tidak menyertakan Jajat saat proses penghancuran vila ini. Dia hanya akan bantu sewa alat dan bayar jasa operatornya." Aditia menepuk bahu Ganding, dua orang budak cinta itu memang mudah terbakar cemburu.
"Jangan pegang bahuku." Ganding menolak, karena dia tahu, ada nada mengejek dalam perkataan Aditia, karena selama ini hanya Aditia yang selalu dibilang cemburuan dan posesif, ternyata kawanan memiliki circle yang sama.
"Kau ini pemarah sekali, yasudah makan semua, kita butuh energi hari ini begitu alat berat sampai.
Sementara Hartino masih berbicara dengan Jajat.
[Kami butuh akat berat untuk menghancurkan vilanya.] Hartino berkata.
[Aku akan siapkan. Kapan?]
[Siang ini?]
[Kau gila!]
[Kita bayar 2 kali lipat kalau masih belum bisa bikin 3 kali lupat, yang penting bisa datang.]
[Baiklah, itu bisa diatur berarti. Apa saja yang kau butuhkan?]
[Pertama siapkan dozer, kami butuh untuk menghancurkan vilanya dan membawa pasir, tanah serta krikil dari bangunan vila yang akan kita robohkan itu.
Kedua, aku butuh dumptruck, karena puingnya akan langsung kita jauhkan dari areal vila ini.
Terakhir scaper, supaya kita bisa lebih cepat mengeruk lapisan tanahnya.]
[Kau mau menghancurkan vila atau menghancurkan gedung? Alatnya kebanyakan.]
[Jat, aku butuh cepat, aku ingin vila itu rubuh dalam hitungan menit.]
[Wah memang benar ya kata para Kharisma Jagat yang sering menceritakan sepak terjang lalian, tidak pernah setengah-setengah, bahkan menggunakan uang pribadi untuk menaklukan kasus, aku iri dengan kalian.
Kalau begitu aku akan bantu ke sana ya, untuk ikut menggancurkan vila itu.]
[Tidak perlu, karena kau harus fokus memastikan Manager hotel itu bisa dihukum berat.
Kau harus fokus ke sana, biar di sini kami yang urus.]
[Oh begitu, baiklah. Aku akan segera mencari alat beratnya.]
Hartino telah mendapatkan kode dari Aditia intuk tidak membiarkan Jajat ikut ke vila ini, Hartino paha
"Aku sudah telepon Jajat dia akan siapkan alat beratnya, dia juga akan ke sini."
__ADS_1
"Jajat akan ke sini!"
"Eh salah ngomong, alat beratnya yang ke sini." Rupanya Hartino meledek Ganding.
"Kau mau kuhajar?"
"Kau tidak takut dengan wanita yang suka menari ini?" Hartino meledek Alisha yang masih sibuk menari.
"Kau tidak takut dengan ular mini wanita ini?"
"Kami tidak ikut campur soal urusan lelaki!" Jarni kesal dan dia beranjak dari meja makan, membawa piring kotor miliknya dan semua orang yang sudah selesai, Alka ikut ke belakang.
"Kau kesal karena Ganding cemburu pada Jajat?" Alka bertanya disela mereka mencuci piring.
"Ya, lumayan. Terkesan lebay, seperti bukan kekasihku."
"Orang yang cemburu memang terkadang telruhat konyol, tersengar bodoh dan menjadi kikuk, karena dia tidka bisa mengendalikan rasa takutnya, maka yang paling tepat adalah menerima perasaan itu, lalu mengendalikannya bersama.
Kau menjaga jarak dari apa yang membuat Ganding cemburu dan Ganding harus evlajar percaya. Hingga akhirnya kalian berdua semakin kuat karena mampu mengendalikan apa yang membuat hubungan kalian akan memburuk.
Walau dalam kasusku dan Adit itu sulit, karena aku sakit, Lanjoku masuh bersarang, mungkin Lanjoku juga mempengaruhi sikap posesif Adit."
Jarni menatap kakaknya, dia jadi ingat peristiwa itu, saat mereka harus menangani kasus sumur yang bisa buat orang gila, di mana Lanjo Alka diikat Aditia dan menjadi lebih terkendali, Aditia keluar dari kamar dengan menggendong Alka, lalu berkata dia tau semuanya.
Lanjo Alka yang juga ternyata menjangkiri Aditia dan Alka bekum tahu soal ini sampai sekarang. Karena Aditia mengancam, jika saja itu bocor, Aditia akan menjauhkan Alka dari kawanan.
Walau kawanan tetap diam bukan karena takut, tapi tahu, Aditia akan selalu melakukan yang terbaik untuk Alka.
"Kak, kau percaya pada Adit?" Jarni bertanya.
"Aku percaya kalian semua, tidak ada keraguan sedikit pun. Kalian yang tidak percaya aku. Seringnya begitu." Alka tersenyum mengatakannya.
"Kak ...." Jarni merajuk.
"Kalian selalu saja ragu saat aku melakukan tindakan ekstrim, padahal kalian tahu, aku menghitung segalanya dengan baik lebih dulu sebelum bertindak. Walau aku kadnag tak punya waktu menjelaskan, makanya kulakukan dulu."
"Kau lebih parah, tidak suka bicara, tapi anak baik yang patuh, kau itu adikku yang paling manis dan loyal."
Alka memeluk Jarni. Lalu mereka melanjutkan cici piringnya.
...
Kawanan siap untuk emngancurkan vila, masih pagi, mereka harus melepas pertahanan Sak Gede untuk membuat alat berat bisa menghancurkan vila ini dan membuat mereka bertemu dengan Sak Gede.
Semua orang memakai pakaian yang cukup kasual, hanya kaus over size, celan panjang dan sandal jepit karet.
Semua dalam posisi untuk mengumpulkan kekuatan, lalu Aditia paling depan, mereka memilih pintu utama masuk vila, Aditia sudah memeriksa lubang energi Sak Gede, dia yakin pintu utama salah satu yang dijaga Sak Gede, walau energi itu tipis sekali.
Mereka terdiam berdoa, lalu mulai salung menstransfer energi. Setelah energi sudaha sampai bermuara pada tangan Aditia, Aditia memegang gagang pintu dan ....
Dhuar!!!
Mereka terpental. Mereka terpental oleh energi mereka yang sangat kuat itu, bukan karena pertahanan Sak Gede yang memang tidak dibuat untuk melawan.
Mereka semua bangun dari duduk, posisi terakhir saat mereka terpental.
"Aku dihempas oleh energiku sendiri!" Aditia bingung,
"Aku juga merasa dipukul oleh energiku sendiri!" Yang lain merasakan hal yang sama.
"Energinya berbalik ...." Alka melihat pada Alisha.
"Aku kan belum pernah mengumpulkan kekuatan, maaf aku tadi kelepasan." Alisha mengaku. Dia melepaskan energi yang sangat kuat tanpa tahapan, energi yang sangat kuat itu membuat energi yang sudah bersinergi malah memantul, karena energinya tidak satu frekuensi dengan kawanan.
"Salah kita tidak berlatih dulu." Alka berkata dengan kecewa.
__ADS_1
"Kita mana punya waktu berlatih, kau tahu kan kita sibuk sekali." Aditia tidak ingin Alka kecewa dan lupa, mereka sudha berusaha sebaik mungkin.
"Aku belum tahu cara mengendalikannya, walau Rangda sangat patuh, tapi aku tidak tahu cara mengatur agar energiku bisa bersinergi dengan kalian." Alisha berkata dengan kesal pada dirinya sendiri.
"Kita coba sekali lagi. Kau coba fokus pada energinya, bayangkan energi itu adalah kau dan energi kami adalah Hartino, apa kau ingin dia mencelakainya?"
"Baiklah akan aku coba." Alisha setuju.
Mereka mulai pada posisi saling memegang bahu, di mana Aditia paling depan. Alka berada di belakang bahu sebelah kiri, Ganding ada di bahu Aditia sebelah kanan, sedang Hartino memegang bahu kanan Ganding dan Jarni memegang bahu kanan Alka. Sednag Alisha berada di belakang Jarni dan Hartino memegang bahu kanan Jarni dan Hartino.
Mereka mulai mengumpulkan kekuatan, lalu menyakurkannya pada orang yang di depan mereka melalui bahunya. Setelah energi itu terkumpul di tangan kanan Aditia, Aditia mencoba memegang gagang pintu dan ....
Dhuar!!!
Mental lagi!
"Shaaaaa!" Semua orang kesal.
"Aku kan udah bilang, aku belum berlatih loh, di tim ini aku kan anak baru, bukan Lais yang jagoan itu!" Alisha jadi kesal karena diserang.
"Iya, dia ini anak magang loh." Hartino membela istrinya.
"Iya, aku ini seperti anak magang yang pakai seragam hitam putih dan sepatu pantofel hitam." Alisha masih melucu di saat seperti ini.
"Shaaa!!" Semua jadi marah lagi.
"Kau ini! Sudah kubela malah begitu, belajar dari siapa sih!" Hartino ikutan kesal.
"Rangda, dia mengajariku banyak hal usil." Alisha tertawa, menyeringai dan mulai menari lagi.
"Tidak bisa Ka, Alisha terlalu prematur jika kita sertakan, kita akan sulit menembus pertahanan Sak Gede."
"Kita coba lakukan berlima?" Alka memberi ide. Yang lain setuju.
"Aku sudah dipecat bahkan sebelum bekerja." Alisha menunduk pura-pura kecewa, padahal dia paham ini hanya soal energinya yang terlalu besar.
Kawanan mulai membentuk formasi lagi, menyakurkan kekuatan dan ketika kekuatan itu sudah berkumpul di tangan kanan Aditia, dia memegang gagang pintu dan ....
Ada ledakan dari bagian belakang vila, Alisha berlari ke sana. Dia lalu kembali tak lama kemudian.
"Kalian berhasil menghancurkan pertahanan Sal Gede, tapi ... hanya sejengkal tanah." Alisha tertawa terbahak-bahak.
"Tahu dari mana?" Hartino tidak percaya pada Alisha.
"Ada satu bidang yang aku lihat menimbulkan asap, aku mencium bau terbakar di sana, lalu ku pukul bidang itu, karena disemen, bisa! Bidang itu hancur karena pukulanku, Berarti itu bidang yang sudah kalian hancurkan pertahanannha, lalu aku coba ke area lain, aku malah mental, bidang yang aku coba hancurkan tidak mau lecet sedikit pun, itu artinya ...."
"Masih terlindungi oleh pertahanan Sak Gede."
"Sebesar apa bidang yang berhasil kami hancurkan?" Gandinh bertanya.
"Segini." Alisha menunjuk satu kotak lantai vila yang terbuat dari keramik ukuran sedang.
"Brengsek! Setelah energi kami kuras, hanya sekotak itu!" Ganding kesal.
Alisha tertawa dan mengangguk.
"Kita mungkin butuh waktu berhari-hari untuk menghancurkan vila ini, energi kita tak sebesar itu untuk vila yang seluas ini, ibaratnya kita melawan Sak Gede dengan kembang api!" Hartino pesimis.
"Tidak boleh selama itu, tidak boleh terlalu lama membiarkan Sak Gede bebas." Aditia mencoba memutar otak.
"Kalau kita meminta bantuan mereka gimana?"
"Kau yakin Dit?" Ganding bertanya.
"Kita memang butuh bantuan, Nding."
__ADS_1
"Tapi itu akan berat kan? Kita bisa ...."