Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 132 : Saba Alkamah 17


__ADS_3

Setelah tahun ketiga Alka tinggal di desa itu, tidak ada lagi jadwal menyuapi Alka yang dilakukan oleh para penduduk, karena tanah mereka sudah sangat subur, tidak perlu lagi air liur yang masih disembunyikan asal muasal yang menjadi alasan tanah mereka kembali sembuh dari sakit hingga tak mampu membuat tumbuhan tumbuh selayak kodratnya.


Alka juga tumbuh dengan baik karena begitu umurnya tiga tahun, dia disibukkan dengan semua kebahagiaan yang orang tua angkatnya berikan, karena uang sudah bukan jadi masalah mereka lagi.


Waktu terus berjalan, meski Alka sudah tidak lagi memberikan manfaat yang ada di dalam dirinya untuk desa itu, tapi Alka tetaplah pahlawan cilik bagi desa tersebut, jadi semua orang masih menghormati dan menyayangi Alka sebagai anak emas desa itu.


Hari ini bertepatan dengan lima tahun usia Alka, orang tua angkatnya mempersiapkan acara ulang tahun yang pada jaman itu biasanya dirayakan dengan membuat tumpeng, mengundang anak seumurannya dan menyiapkan bingkisan makanan ringan sebagai buah tangan, sama dengan sekarang hanya saja kue tart belum terlalu populer di desa itu.


Rumah besar itu sudah dihias sedemikian rupa untuk anak emas desa itu,perayaan ulang tahunnya bahkan rencananya akan dirayakan tiga hari tiga malam dengan menanggap wayang orang dan juga penari daerah sebagai hiburan malam.


Meriah sekali, Pak Kades turun tangan ikut menyumbang untuk acara ulang tahun tersebut, karena menurutnya kontribusi Alka untuk desa ini sangat besar, tidak perduli berapa umurnya, tapi dia berhak disayang karena semua jasanya itu.


“Bu, semua makanan untuk orang tua anak-anak yang datang sudah siap?” ayah angkatnya bertanya.


“Sudah dong Pak, lihat tuh, nanti pada makan parasmanan saja kalau anak-anak sudah mulia merayakan ulang tahun anak kita.”


“Alka sayang, sini Ayah gendong Nak.”


“Ayah, Alka sudah bukan anak kecil lagi, jadi biar Alka jalan saja. Alka tidak terlalu suka juga perayaan seperti ini, Alka pikir sayang sekali menghamburkan uang untuk hal sepele seperti ini.” Alka berkata dengan anggun, dia memang bukan balita biasa.


“Nak, sayangku, ayolah, jangan ngambek terus, semua orang sangat bersemangat menyambut ulang tahunmu, semua orang sayang sama Alka.” Ayahnya membujuk agar Alka tidak memperlihatkan wajah kesal.


“Kalau kalian sayang padaku, seharusnya dengar aku bicara, seharusnya tahu apa yang aku suka dan tidak, terakhir, seharusnya tidak memaksaku, karena definisi sayang itu harusnya membuat nyaman.”


“Anak ayah pintar sekali, pasti abis baca buku romansa lagi ya? kamu masih kecil loh untuk membaca buku dewasa begitu.”


Rumah orang tua angkat  Alka memang ada satu ruangan khusus untuk membaca, buku di sana banyak sekali, permintaan Alka, tidak ada yang mengajari Alka membaca, dia belajar sendiri, kebanyakan warga desa belajar baca dari orang tuanya yang juga belajar otodidak bisa dari keluarga yang lain atau dari orang tuanya juga.


Jarang warga desa yang ikut sekolah Rakyat, Alka juga tidak diperbolehkan sekolah karena mereka takut kalau akan ada yang mencelakai Alka di tempat sekolah itu.


Makanya sebagai pengganti sekolah, Alka dipanggilkan guru ke rumah, mereka tentu saja mampu membayar, walau sebenarnya Alka tidak terlalu butuh pendampingan ketika sudah bisa membaca. Daya pikirnya sangatlah cepat berkembang, dia bisa menangkap dengan baik semua yang dia baca, buku science, buku astronomi dari luar negeri yang sudah diterjemahkan, buku itu dibeli ayahnya di kota ketika harus ke sana urusan bisnis, sampai novel romansa.


Alka tumbuh menjadi anak yang riang, anak yang cerdas, cantik dan sangat anggun, karena ibunya selalu membelikan baju-baju terbaik di kota.


“Iya Ayah, mari kita mulai temui para tamu dan menyapa mereka dengan sopan, itu kan yang Ayah mau?”


“Anakku memang anak terbaik.”


“Tentu saja.” Alka lalu jalan di gandeng ayahnya, mereka di halaman untuk menyambut tamu masuk ke rumah, beberapa anak kecil mulai masuk dan duduk di tempat yang sudah disediakan, sudah ada seorang tetangga yang biasa membantu menjadi pembawa acara yang juga mulai mengisi acara sementara Alka dan ayahnya menyambut tamu yang hadir.


Anak-anak masuk rumah dan duduk di karpet dalam rumah mereka, para orang tua duduk di luar dimana tenda juga sudah didirikan, khawatir panas, karena musim hujam seharusnya masih tiga bulan lagi.


Orang tua juga sudah dipersilahkan untuk makan camilan yang disediakan di meja paling depan, camilan yang bebas diambil. Sementar makanan parasmanan belum dipersilahkan karena akan dimakan setelah acara dimulai nanti.


Tamu sudah banyak, Alka dipaksa orang tuanya untuk berdiri di depan mengikuti arahan pembawa acara, ada aneka permainan yang mereka mainkan agar acara ulang tahun semakin meriah, tentu ada juga hadiah untuk teman-teman Alka yang berani maju ke depan ikut permainan.


Alka tidak terlalu suka, tapi dia terpaksa memasang muka manis, karena kedua orang tuanya dari jauh memohon agar Alka mau tersenyum dan mengikuti acara dengan patuh.


Acara ulang tahun hampir selesai, para orang tua yang ikut mengantar anaknya juga sedang sibuk makan hidangan yang tersedia, kado yang diberikan begitu banyak dan besar-besar, tentu itu membuat Alka kecil yang meski berpikiran jauh diatas umurnya, tetap senang.


Semua orang bahagia, acara lancar, orang tua angkat Alka juga senang, karena makanan cukup bahkan berlimpah, tamu-tamu juga keliatan menikmati makanan.


Dalam benak mereka, betapa bahagianya memiliki Alka sebagai anak, anak yang benar-benar membalik hidup mereka menjadi lebih bahagia, yang tadinya tinggal di gubuk, sekarang punya rumah besar yang orang bilang, rumah gedong.

__ADS_1


Membuat pesta ulang tahun anaknya setiap tahun dengan perayaan yang meriah, mengundang banyak tamu, dihormati semua penduduk desa.  Sungguh pencapaian yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya akan mereka dapatkan.


Tapi ….


Di saat semua orang sedang bahagia, tiba-tiba petir menyambar, geluduk bersautan, pohon-pohon di sekitar rumah daunnya dan dahannya bergoyang ke kanan dan ke kiri dengan kencang karena angin yang semakin lama semakin kencang, tenda juga mulai goyang, semua itu lalu diiringi dengan rintik hujan yang turun.


Awalnya hanya gerimis, lalu semakin lama hujan itu semakin lebat, air yang jatuh sudah bukan butiran lagi, tapi seperti tumpah dari langit.


Semua orang yang berteduh di tenda, akhirnya memilih pulang hujan-hujanan, siapa juga yang membawa payung di musim panas seperti ini, hujan aneh yang tiba-tiba datang, tidak ada mendung yang biasa mengawali akan turunnya hujan, hanya petir dan geluduk saja yang tiba-tiba bersautan.


Orang-orang desa bubar, orang tua angkat Alka menggunakan kesempatan itu untuk mulai beberes rumah agar para pekerja tidak kemalaman membereskan rumahnya.


Ada satu orang tukang tenda yang inisiatif membereskan bangku yang ada di dalam tenda, agar mempersingkat waktu, makanya dia tetap membereskan bangku itu walau hujan deras, ayah Alka sudah bilang bahwa nanti saja bereskan tenda dan juga bangkunya, dia bahkan bilang kalau kemalaman akan membayar lebih.


Tapi tukang tendanya bilang tidak apa-apa, daripada dia di sana menganggur saja, karena yang lain sibuk membereskan rumah dan dia hanya tukang yang sungkan membantu karena orang ‘luar’. Makanya, dia memilih untuk membereskan bangku saja terlebih dahulu, menumpuk bangku-bangku plastik itu beberapa tumpuk dan nanti akan dibawa oleh mobil bak untuk menjemput tenda sekalian, jadi abngku plastik itu dan tendanya di sewa bersamaan pada satu orang pengusaha tenda di desa sebelah.


Saat semua orang sibuk beberes termasuk orang tua Alka dan Alka yang membantu membawa masuk hadiahnya ke kamar, tiba-tiba suara gelegar petir kencang sekali, saking kencangnya, suara itu mirip seperti petasan jumbo yang dijatuhkan, semua orang kaget, lalu tertawa karena suara itu membuat beberapa orang jadi berteriak bersamaan.


Tapi diantara teriakan itu ada teriakan yang janggal sekali, yaitu teriakan.


“Tolong!!! tolong!!! tolong!!!” Dari arah halaman depan.


Semua orang berlari ke asal suara, begitu orang mereka sampai di sana, hanya teriakan dan tangisan yang mereka keluarkan.


“Ya Allah … ya Allah … kenapa bisa begitu?” Ayahnya Alka terduduk kaget, karena dengan mata kepalanya sendiri dan mata kepala semua orang yang melihat, mereka menyaksikan, tubuh gosong yang jatuh di tanah.


Tukang tenda itu tersambar petir!


“Pak, tenda itu ada besinya sebagai pondasi agar berdiri, besi adalah penghantar petir, tadi saya tidak sengaja lihat dia sedang memegang besi pondasi tenda itu saat petir menyambar, jadi tubuhnya langsung tersambar petir dan gosong seketika, petir itu sungguh sangat kencang sambarannya, bahkan kilatannya sangat terlihat tadi, seolah memang menyambar terus ke depan rumah ini.”


Ayahnya Alka bingung dan takut, walau bukan dia penyebabnya, tapi kejadian itu terjadi di rumahnya.


Alka datang dan hampir saja berada di barisan depan, tapi ibunya keburu menghalangi Alka untuk melihat mayat gosong itu, dia buru-buru mendorong anaknya mundur, dia tidak mau Alka trauma, padahal setelahnya Alka akan mendapati begitu banyak penglihatan yang lebih buruk dari itu.


“Ada apa sih Bu? tadi Alka lagi beresin kado, trus pas keluar kamar, sepi, ada apa di luar sana?”


“Tidak ada apa-apa Nak, kamu di sini aja ya, di kamar aja, jangan keluar, nanti ibu panggil kalau udah bisa keluar.”


“Bu, ada apa?”


Ibunya lupa, bahwa Alka tidak akan berhenti kalau rasa penasarannya tidak dipenuhi.


“Begini Nak, ada seorang tukang yang tersambar petir, tubuhnya gosong, Alka jangan lihat ya, nanti kamu takut.”


“Astagfirullah, kasihan sekali, apakah dia masih hidup Bu?” Tentu Alka tahu, efek akhir dari tersambar adalah kematian, untuk anak berumur lima tahun sebenarnya hal itu masih terlalu dini untuk dimengerti.


“Tidak Nak, wajah dan kepalanya sudah gosong juga, bahkan rambutnya tidak bersisa.”


“Kasihan sekali Bu, kita harus bertanggung jawab pada keluarganya.”


“Iya Nak, pasti Nak. Kamu istirahat aja ya, Ibu dan ayah yang akan mengurus semuanya, buka kadomu satu-satu ya, kamu pasti suka dan sudah tidak sabar kan?”


“Iya, aku berharap ada yang kasih aku buku untuk di baca.”

__ADS_1


“Nak, kau sudah punya satu ruangan yang penuh buku, masih saja begitu suka buku.”


Alka tersenyum saja, ibunya akhirnya meninggalkan dia sendirian di kamar untuk kembali mengurus semuanya, hujan terlihat perlahan reda.


Saat Alka sedang fokus membuka kadonya, tiba-tiba dijendela, dia melihal sesuatu yang ganjil.


“Kau … tukang tenda?” Tanyanya pada seorang pria yang berdiri di depan jendela kamarnya bagian luar.


Lelaki yang berpenampilan gosong itu mengangguk.


“Kau kenapa masih di sini?” tanya Alka lagi.


Pria gosong itu menarap Alka dengan matanya yang hampir keluar karena tidak ada sisa daging lagi di wajahnya yang terbakar sempurna.


“Kau, marah padaku?” Alka menebak.


Pria gosong itu menatapnya makin tajam, tangannya dia julurkan ke arah leher Alka, pria gosong itu tembus tembok, dia ruh yang tidak tenang karena mati tiba-tiba.


“Ikut akuhhhh ….” Suara serak itu berkata dua kata yang membuat Alka pucat dan ketakutan.


“Tidak! tidak! lepaskan aku.” Alka berusaha melepas tangan itu dari lehernya, tapi saat menyentuh tangan itu, dia kepanasan, lehernya juga menjadi panas karena cekikan itu, dia ingin berteriak, tapi tidak bisa, suaranya tidak keluar sama sekali walau dia berusaha.


Saat nafasnya sudah di ujung tenggorokan dan dia mulai kehilangan kesadaran, Alka akhirnya mampu meraih vas bunga yang ada di meja samping jendela, dia menyenggolnya dengan usaha yang sangat keras diakhir sisa nafasnya, vas bunga itu jatuh dengan suara yang sangat kencang, seseorang terdengar membuka pintu.


Cekikannya di lepas, Alka yang tubuhnya tadi terangkat terjatuh, dia memegang lehernya sembari mengatur nafas.


“Kenapa Nak?” Ternyata ibunya yang masuk,, dia memang sedang berada di dekat kamar Alka sembari membantu membereskan karpet yang digelar untuk acara tadi, acara dilakukan persis di depan kamar Alka.


“I-itu Bu, itu Bu, dia mencekikku!” Alka menunjuk jendela kamarnya.


“Apa Nak? tidak ada apa-apa di sana.” Ibunya bingung, karena tidak mungkin ada penjahat, jendela Alka memang terbuka, tapi jendela itu dipasang teralis yang rapat, sehingga orang asing tidak bisa masuk atau bahkan mengulurkan tangan melewati jendela itu dari luar, saking rapatnya teralis itu.


“Tadi ada tukang tenda yang badannya gosong itu Bu, dia cekik Alka.” Alka menangis.


Selama ini Alka memang selalu bisa melihat ‘mereka’, tapi orang tuanya selalu meredam kemampuan itu dengan mengatakan bahwa Alka salah lihat, Alka hanya berkhayal atau halusinasi, jadi Alka cenderung mengabaikan kemampuannya, tapi tadi begitu jelas, dia melihat pria gosong itu berdiri di depan jendela, mengulurkan tangannya melewati jendela dan mencekiknya.


“Tapi tadi Alka lihat Bu, beneran.” Alka masih menangis.


“Tuh kan, ibu bilang juga apa, kalau ibu tidak mau cerita, seharusnya Alka mengerti, tadi pasti kamu ketakutan dan akhirnay berhalusinasi melihat pria gosong itu, udah sekarang kamu tidur aja dulu, mungin kamu kelelahan, buka kadonya nanti saja  dilanjutkan lagi.”


Ibunya menarik Alka menjauhi jendela, menutup jendelannya dan menemani Alka sampai tertidur.


Walau dalam hatinya dia sedikit ketakutan, tapi dia tidak mau Alka tau dan melihat itu, karena dia ingin menenangkan Alka sekarang.


Hal yang ibunya takuti adalah, sebenarnya dia mencium bau gosong tadi saat masuk ke kamar Alka, tapi dia tidak mau berpikir jauh, mungkin saja itu karena dia terguncang dengan kejadian tersambarnya tukang tenda itu di rumah mereka, makanya indera penciumannya seolah mencium bau gosong.


Bukankah membohongi diri sendiri itu mudah?


___________________________-


Catatan Penulis :


Aku mau mengucapkan terima kasih buat semua yang udah dukung AJP dan aku ya, maaf kemarin aku terlalu mellow, untuk teman pembaca yang masih bertahan berada di sini walau mungkin terkadang tersakiti dengan kata-kataku, terima kasih ya sudah maklum dan mengerti.

__ADS_1


Untuk yang terus tanpa henti komentar baik, aku baca komentar kalian, tidak pernah aku lewatkan satupun karena itu adalah bahan bakarku untuk tetap waras menulis, kalian luar biasa.


Sekarang aku mau kasih tau kalian, AJP naik level dari level 5 jadi level 8 itu berarti dukungan kalian tidak sia-sia, makasih ya kalian luar biasa.


__ADS_2