Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 562 : Mulyana 68


__ADS_3

Dirga mengingat perkataan dari abah Wangsa, kalau dia sudah bertemu ayahnya Wulan dan bisa membujuknya untuk mau memulangkan Wulan, maka dia harus segera membawanya ke suatu tanah kosong di suatu tempat, abah sudah memberikan alamatnya.


“Kau sudah bersama ayahnya Wulan?” Mulyana yang ternyata sudah ada di tempat itu juga bertanya, saat datang Dirga melihat betapa Mulyana terdiam dan kelelahan.


“Iya, katanya beliau mau mengantar Wulan untuk ‘dipulangkan’ ke sisi Tuhannya.”


“Hai Pak, kenapa kau selama ini diam saja bersembunyi sementara anakmu digunakan sebagai alat untuk mencari uang oleh istrinya Yoga.” Mulyana bertanya.


“Karena aku juga dikerjai oleh mereka.”


“Hagir dan istrinya Yoga?” Mulyana bertanya lagi.


“Ya, mereka membuatku linglung, mereka membuatku seperti orang dementia, ritual terakhir yang aku lakukan membuatku menjadi lemah, walau aku tidak pernah mengikuti perjanjian darah itu, tapi ritual itu menguras habis energiku.


Setiap hari aku menjalani hari terkadang ingat, terkadang tidak, mereka yang mengendalikanku dan anakku. Sudah sejak lama sekali aku ingin melepaskan diri, aku bahkan menggunakan sisa tenagaku untuk menemuimu di rumah sakit itu. Aku hendak meminta pertolongan makanya menarikmu ke zona ghaib, tapi sayang, dia menghalangiku, padahal saat itu aku hendak meminta pertolongan, aku tahu kalau kau anak Drabya dan ….”


“Sudah waktunya memulangkan Wulan, jangan terlalu lama, ingat bahwa Hagir masih mengintai kita, jadi cepat ucapkan kata perpisahan dengan anakmu, bujuk dia untk Ikhlas pulang dan Mulyana akan mengantarnya ‘pulang’.” Abah Wangsa memotong perkataan ayahnya Wulan, karena itu sungguh hampir saja memberitahu kalau mereka saling kenal dan bisa jadi pembuktian bahwa parkataan ibunya Yoga benar tentang pembelotan Drabya dan upeti yang dia pungut.


“Baiklah, kau harus bicara pada anakmu.” Mulyana akhirnya memberikan waktu pada ayahnya Wulan dan mengeluarkan Wulan dari botol itu.


“Nak, maafkan ayahmu yang tak mampu menjagamu dan membiarkanmu akhirnya tiada karena perbuatan bejat Badrun dan dukun itu, maafkan aku karena akhirnya menjebak banyak orang yang digunakan oleh Hagir dan istrinya Yoga untuk menghasilkan uang dari pesugihan. Bahkan saat kalian sudah tiada, Hagir yang membunuh kalian menggunakan ruh kalian untuk mencari uang, sungguh celakalah sifatnya.


Nak, sekarang pulanglah pada Tuhanmu, tidak ada tubuh yang sudah meninggal bisa dibangkitkan lagi, jika takdirmu memang meninggal, maka sudah menjadi suratan dari Tuhan agar kau kembali pada-Nya.


Nak, maafkan ayahmu yang bahkan masih bertahan untuk melakukan ritual, padahal ruhmu kesakitan dan kepanasan padahal aku juga tak benar-benar tahu kalau tubuhmu bisa bangkit lagi atau tidak.


Nak … pulanglah bersama Mulyana kembali kepada Tuhanmu, pertanggungjawabkan semua yang sudah kita lakukan di sana dengan sabar, karena kita mungkin akan disiksa di alam kubur karena perbuatan kita, tapi percayalah, bahwa pengampunan Tuhan akan sampai juga.


Nak … maafkan ayahmu yang penuh dosa ini, maka aku akan pulang ke kampung kita dan meminta semua ayah untuk menjaga anak perempuannya tanpa harus memaksa mereka mencari lelaki kaya untuk diperas, kita sudah salah jalan sejak nenek moyang, Nak, maka sekarang kita harus sabar menjalani hukuman.”


Ruh Wulan hanya menangis saja dan mengangguk, tanda setuju untuk ikut Mulyana dipulangkan, mereka harus membuka gerbang kepulangan seperti biasa.


Mulyana bergegas membawa Wulan agar Hagir tak bisa menemukan mereka, setelah Wulan dipulangkan, Mulyana kembali ke tanah kosong itu, kelak tanah itu akan menjadi markas ghaib yang diwariskan pada kawanan oleh Mulyana, walau saat ini, markasnya belum dibangun, hanya tanah kosong milik Drabya yang belum dipergunakan untuk apapun.


Setelah kembali, Mulyana melihat hanya ada Dirga di sana, sedang ayahnya Wulan sudah diantar oleh seorang kenalan Dirga, dia akan diantar ke Bandara untuk bisa pulang ke kampunngya.


Dirga menunggu sahabatnya di sana dan abah telah kembali pada Kharisma Jagat yang menjadi tuan sesungguhnya.

__ADS_1


“Aku tahu kalau abah menyembunyikan sesuatu.” Mulyana dan Dirga sudah berkendara dengan mobil Mulyana, mobil carry yang kelak akan menjadi angkot itu, mobil milik Drabya yang diberikan pada Mulyana.


“Kenapa kau berpikir begitu?” Dirga bertanya, walau dia curiga, arah pembicaraan ini pasti soal upeti dukun itu.


“Dia mencegahku untuk berinteraksi dengan ayahnya Wulan, lalu bagaimana ayahnya Wulan sangat percaya diri aku bisa menolongnya, sedang dia tidak kenal aku, apa yang dikatakan ibunya Yoga, istrinya Badrun itu benar?” Mulyana mulai gusar.


“Yan, apakah sangat penting bahwa … mengetahui ayahmu bukan orang yang kau kenal?” Dirga tiba-tiba bertanya.


“Sangat penting, karena kami Kharisma Jagat, dia mengajarkanku untuk bersikap lurus, memandang pekerjaan kami di ranah ghaib itu sesuatu yang mulia, maka tidak seharusnya dia melakukan hal seperti itu, jika benar dia melakukannya.”


“Maka kau harus bertanya pada Abah.”


“Aku ingin, tapi ....”


“Takut? kalau itu benar dan akhirnya menghancurkanmu?” Dirga menebak.


“Mungkin.”


“Kau ingat, ketika akhirnya aku tahu bahwa ayahku adalah pelaku pesugihan? Aku juga terpuruk, aku pikir ini hanya masalah rumah tangga biasa, tapi akhirnya aku tahu kalau dia tidak sebaik yang aku pikirkan.


Tapi dengan aku tahu, aku bisa menyelamatkan ibuku dan dia bisa jadi hidup lebih baik, tidak selalu marah karena dalam pengaruh jin jahat.


Aku tidak bicara bahwa dukun menderita karena upeti itu, tapi mungkin saja, banyak korban yang akan bisa kau selamatkan jika tahu kebenarannya.”


“Kenapa kau bicara seolah kebenarannya adalah ayahku seorang yang ... jahat dan licik?” Mulyana bertanya lagi. Mereka masih berkendara menuju rumah Dirga, Mulyana yang menyetir.


“Itu hanya prasangkamu karena kau sedang dalam fase bimbang dan tidak percaya. Kalau kebenarannya adalah ayahmu difitnah, maka mungkin kau tidak akan curiga lagi pada ayahmu dan bisa melanjutkan tugas ghaib kalian dengan baik, banyak hal yang bisa kau selamatkan dengan fokus pada tugas itu.


Sedang jika akhirnya memang upeti itu benar adanya, kau harus bisa mengambil keputusan untuk berada di jalur mana, tapi sebelum itu ... maukah kau membantuku?” Dirga bertanya tiba-tiba.


“Bantu apa?”


“Bisakah kau membantuku menutup mata batin? Karena ... aku tersiksa melihat banyak hal yang aku lihat secara tak sengaja ini, mengerikan sekali makhluk-makhluk di pinggir jalan itu. Kenapa mereka banyak sekali dan berjalan seolah tak terjadi apa-apa padahal wajahnya rusak dan tubuhnya tak utuh, mereka sungguh mengerikan, apa kau melihat mereka sejelas ini?” Dirga tiba-tiba mendekati Mulyana yang sedang menyetir. Dia takut ... walau para makhluk tak kasat mata yang akhirnya bisa dia lihat itu tak tahu Dirga mampu melihat, karena dia dibuka mata batinnya, bukan kemampuan yang ada dari lahir, sehingga Dirga tak memiliki wangi yang disukai para makhluk itu sebagai manusia yang diberkahi kemampuan mata batin, jadi aman baginya karena tak dianggap menarik oleh makhluk-makhluk itu.


“Ga, apa yang lu lihat itu belum seberapa sama aslinya, karena elu baru dibuka matanya sama abah, jadi yang elu lihat juga nggak langsung semua, jin dengan kemampuan tinggi tak mudah dilihat, jadi apa yang kau lihat itu ... tidak ada apa-apanya dibanding yang  aku lihat.” Mulyana terdengar menyombongkan diri.


“Terserahlah, yang penting, bisakah kau menutup mataku lagi? aku ingin hidup tenang.”

__ADS_1


“Ya, nanti sampai rumahmu akan aku tutup, lagian rumahmu sudah kupagari, jadi akan aman kok.”


“Tetan saja Yan, aku mohon padamu untuk menutupnya ya, harus pokoknya.” Dirga mulai memegang tangan Mulyana karena masih ketakutan.


“Kau bisa jauhan nggak? risih aku dipeluk begini.”


“AKU TIDAK MEMELUKMU! Aku hanya memegang tanganmu saja!” Dirga kesal karena diprotes Mulyana, tapi tak bisa benar-benar marah, takut kalau mata batinnya akan semakin lama dia hadapi jika Mulyana marah.


Malam terus berlalu, rumah Dirga sudah di depan mata, sebelum dia turun, Mulyana membaca mantra dan akhirnay mata batin Dirga tertutup setelah matanya diusap oleh telapak tangan Mulyana yang sudah dibacakan mantra.


“Sudah turun sana, jangan memikirkan yang tadi kau lihat ya, karena bisa jadi kau akan mimpi buruk.”


“Berisik kau! jadi ingat lagi kan!” Dirga kesal karena Mulyana malah mengingatkan.


Mulyana pamit dan segera pulang ke rumahnya, begitu sampai rumah dia melihat ayahnya yang sedang duduk di ruang tamu, dia seperti menunggu Mulyana.


“Duduk sini Nak. Ada yang ayah mau bicarakan.” Drabya meminta Mulyana duduk di ruang tamu itu, Mulyana menaruh kunci mobil di meja ruang tamu itu dan duduk di sana.


“Ada apa, Yah?” Mulyana bertanya, benar-benar tak paham apa yang ingin dibicarakan ayahnya.


“Aku tahu kau telah menyelesaikan kasus Wulan dan Yoga.”


Mulyana melotot, kaget kalau ayahnya akan membahas ini.


“Aku tahu kalau kau adalah anak yang sangat terperinci, kau selalu memikirkan banyak langkah setiap menghadapi kasus, maka dari kasus ini, aku tahu kau pasti gusar karena satu dua hal bukan?” Drabya langsung menembak pertanyaan pada Mulyana.


“Aku tidak paham maksud Ayah.” Mulyana menunduk, masih belum siap tentang pembicaraan ini.


“Apa kau mendengar rumor tentangku?” Draya bertanya lagi.


“Rumor?” Mulyana masih tak mau memakan umpan itu.


“Aku dan ibumu menikah dengan menyalahi aturan adat kita sebagai Kharisma Jagat, maka dari itu aku memintamu untuk menikah dengan jodoh adatmu, kau harus sangat memegang teguh itu, agar tak melewati jalan yang sama sepertiku.


Aku tak ingin kau mendengar dari orang lain, sebagai keturunan yang kelak akan memegang Karuhunku, maka kau harus tahu ini.


Aku memang menarik upeti pada semua dukun itu.”

__ADS_1


Mulyana menatap Drabya dengan sangat tajam, bagaimana perkataan itu terlontar dengan mudah dari mulut ayahnya, dia mengakui kejahatan hina yang dia lakukan dengan sangat tenang, lalu kemana kebanggaannya sebagai seorang Kharisma Jagat yang hebat, keturunan dari seorang Ayi Mahogra, tapi malah mengemis uang dari para dukun ilmu hitam itu!


“Aku akan jelaskan, kenapa aku melakukannya dan mungkin aku ingin kau juka melakukannya.”


__ADS_2