Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 33 : Mess


__ADS_3

“Alhamdulillah ya Pah, akhirnya kita bisa bareng-bareng lagi sekarang.” Istri Pak Ari yang seorang Supervisor Keuangan Pabrik berkata.


“Iya Mah, untung mess ini bisa kita pakai sementara waktu.”


Pak Ari baru saja dimutasi ke Bandung, cukup pelosok karena dia bekerja di pabrik pengolahan tepung jagung. Awalnya dia bekerja di kantor pusat, hanya saja karena pabrik di Bandung ada masalah perihal pencatatan keuangan yang akhirnya menyebabkan produksi terhambat, akhirnya Pak Ari mau tidak mau harus datang untuk audit.


Dia fikir ini hanya akan makan waktu beberap bulan saja, tapi tidak disangka, ternyata setelah satu tahun, pemilik perusahaan puas dengan kinerja Pak Ari sehingga meminta Pak Ari untuk tetap di Bandung agar pabrik bisa beroperasional dengan baik dan pencatatan keuangan bisa rapih untuk jangka waktu yang panjang.


Tadinya dia tinggal di mess perusahaan yang letaknya tidak jauh dari pabrik, mess bersama, satu rumah besar terdiri dari 10 kamar, satu kamar terisi 2 sampai 3 orang, mess ini memang diperuntukan untuk pegawai pada level staff, makanya ketika mutasi pertama kali, Pak Adi tidak bisa memboyong anak dan istrinya.


Tapi setelah satu tahun posisi Pak Ari yang harus tetap tinggal di Bandung, membuatnya mengajukan fasilitas untuk keluarga, karena selama ini Pak Ari selalu pulang ke Jakarta seminggu sekali untuk menemui keluarga, Bandung Jakarta memang tidak jauh, tapi cukup melelahkan jika harus selalu bolak-balik.


Pengajuan fasilitas keluarganya diterima oleh perusahaan dan akhirnya kelaurga Pak Ari bisa tinggal di dekat pabrik, yaitu mess yang khusus untuk Pak Adi. Mess itu satu rumah dengan 2 kamar tidur, tidak terlalu besar, tidak juga terlalu kecil.


Awalnya bos Pak Ari menawarkan rumah lain, tapi pak Ari menolak karena lokasinya begitu jauh dari Pabrik, untuk menghemat waktu dan juga bensin, akhirnya Pak Ari meminta untuk bisa tinggal di mess dekat perusahaan, dia tahu ada mess itu karena dia mengurus aset perusahaan, jadi menurutnya buat apa jauh kalau di dekat ada.


Tapi salahnya, Pak Ari tidak bertanya dulu ke penduduk sekitar, tentang rumah itu.


“Akbar mana, Mah?” Pak Ari bertanya pada istrinya yang sedang merapihkan baju. Rumah sudah dibersihkan oleh buruh pabrik yang sedang libur, Pak Ari sengaja meminjam beberapa buruh pabrik yang mau uang tambahan untuk membantunya membersihkan rumah.


Perabotan juga sudah di isi, dia hanya membeli prabotan dapur yang baru karena semua furniture di dalam rumah ini masih bisa digunakan.


“Ada, main di halaman.” Istrinya menjawab.


“Akbar.” Pak Ari lalu berjalan ke arah halaman depan.


Saat sudah sampai halaman, dia tidak menemukan anaknya, dia lalu melihat ke sekitar.


Jarak antara rumah pak Ari dan tetangga cukup jauh, terpisah oleh perkebunan, semua warga memang memiliki kebun pribadinya, walau tidak besar, tapi cukup membuat suasana antara satu rumah ke rumah lain menjadi lebih sepi.


“Akbar!” Pak Ari melihat Akbar sedang memetik daun di kebun milik tetangga, dia langsung memanggilnya untuk menghentikan itu, karena bisa jadi tetangga akan marah. Masa baru pindah sudah cari masalah.


Lalu Pak Ari buru-buru memakai sendalnya dan berlari ke arah Akbar, dia hendak memarahi anaknya.


“Akbar! Loh … kemana dia?” Akbar tidak ada di tempat ketika Pak Ari tadi melihatnya, dia bingung, karena perasaan tadi saat dia pakai sandal, dia masih melihat Akbar melalui ekor matanya, tapi kenapa sekarang hilang.


“Pak.” seseorang menyapa, Pak Ari kaget karena orang itu datang tiba-tiba, dia ada di depan Pak Ari, dia adalah tetangga yang tadi sepenglihatan Pak Ari daun di kebunnya sedang dicabuti oleh Akbar.


“Eh, iya Pak.” Pak Ari gugup, karena masih kaget.


“Cari apa Pak?”


“Itu, tadi anak saya di sini, sekarang udah nggak ada aja.” Pak Ari jadi ingat Akbar lagi.


“Hah, anak Bapak yang itu?” Si tetangga menunjuk halaman rumah Pak Ari.


Pak Ari menengok ke halaman rumahnya, di sana ada Akbar yang sedang duduk dan bermain, dia sedang bermain dengan mobil-mobilannya, semua mainannya berserak di halaman, padahal beberapa detik lalu, halaman itu terlihat kosong.


“Eh iya, kok ada di situ, tadi ….”

__ADS_1


“Baru pindah ya, Pak?” Tetangga itu bertanya.


“Iya nih, saya kerja di Pabrik tepung.”


“Oh pabrik itu, tapi kok, mau pak tinggal di situ?” si tetangga masih bertanya.


“Maksudnya? Memang kenapa?”


“Hmm, nggak, nggak apa-apa.” Si tetangga tiba-tiba pamit dengan tergesa-gesa. Pak Ari ditinggalkan begitu saja dengan bingung.


Tapi dia tidak mau mengambil pusing, karena dia punya banyak pekerjaan yang harus dilakukan dengan istrinya.


“Akbar, tadi nyabutin daun di tetangga ya?” Pak Ari bertanya pada anaknya yang masih bermain di halaman.


“Nggak Pah, tadi Akbar panggil-panggil Papah tapi Papah malah pergi ke tetangga.”


“Loh, nggak boleh bohong Akbar, tadi Papah liat kok.”


“Kenapa sih, Pah.” Istrinya sudah ada di halaman juga.


“Ini si Akbar, tadi masa nyabutin daun tetangga.” Pak Ari masih marah.


“Hah? Orang tadi aku liat kok dari jendela kamar, Akbar masih di halaman, trus dia panggil-panggil kamu, tapi kamu malah buru-buru pergi ke rumah sebelah.”


“Kok bisa? Udah-udah, yuk masuk, udah mau maghrib, kita masuk dulu siap-siap solat, terus makan. Mamah udah masak?”


“Udah, tapi ayam goreng aja ya, nggak sempet masak yang lain, ribet.”


“Pak, mereka nggak dikasih tahu aja?” istri dari tetangga itu menepuk bahu suaminya yang terlihat terkejut.


“Nggak usah, nggak berani saya, nanti kita lagi yang kena. Udah, kamu siap-siap solat. Mereka bukan urusan kita.”



“Makan yang banyak Akbar.” Pak Ari memberi anaknya ayam goreng lagi.


“Iya Papah.” Anaknya makan dengan lahap.


“Pah, besok udah mulai kerja?” Besok adalah hari senin, mereka pindahan pada hari jumat dan beberes rumah pada hari sabtu dan minggu, istrinya berharap tetap mendapatkan bantuan dua hari lagi untuk membersihkan dan membetulkan beberapa bagian rumah, seperti pintu kamar mandi yang kuncinya sudah rusak, terkadang gagang pintunya tidak bisa diputar, padahal untuk membuka kunci pintu kamar mandinya, harus dengan cara memutar gagang pintu bagian dalam.


“Udah masuk, Mah. Nanti dibantu Bi Iyem aja ya.”


“Kan Bi Iyem bantu beberes, kalau ada yang rusak Bi Iyem mana bisa benerin.”


“Ya abis gimana, kan cuma dapet cuti sehari kemarin jumat doang, Mah.”


“Yaudah, tapi minggu depan libur benerin yang rusak ya, Pak.”


“Iya.”

__ADS_1


Makan malam selesai, Pak Ari membantu istrinya membereskan meja, sedang istrinya mencuci piring.


“Pah, Akbar suruh gosok gigi dulu, tadi dia langsung lari ke kamarnya.” Akbar terbiasa tidur sendiri, untung rumah ini ada dua kamar, jadinya Akbar tetap bisa memiliki kamarnya sendiri.


Pak Ari lalu beranjak ke kamar Akbar, saat membuka pintu, ternyata Akbar tidak ada, dia lalu hendak pergi, tapi tidak sengaja, dia melihat kaki Akbar yang terlihat di bawah tempat tidurnya, dalam fikiran Pak Ari, Akbar hendak mengerjai Papahnya.


“Akbar mana ya ….” Pak Ari hendak mengambil umpan bercandaan anaknya.


Dia mendekati tempat tidur Akbar dan perlahan menunduk, dia akan mengagetkan Akbar.


“Akbar ….” Terdengar suara cekikian Akbar dari bawah sana, Pak Ari perlahan menunduk, kepala Akbar terlihat, tapi posisinya Akbar sedang telungkup, Pak Ari bersiap mengagetkan anaknya, tapi ….


“Pah!” Dari arah pintu istrinya memanggil.


“Ya, Mah? Astagfirullah!!!” Pak Ari kaget sampai terloncat dan menubruk lemari.


Istrinya tengah menggandeng anaknya.


“Kenapa Pah?” Istrinya mendekati Pak Ari dan mencoba membantunya bangkit.


“Kok Akbar sama Mamah, tadi bukannya dia di kolong tempat tidur lagi ngumpet?!” Pak Ari sudah duduk di kasur anaknya bersama dengan istri dan Akbar yang bingung dengan perkataan ayahnya.


“Kamu kenapa sih? kecapean ya? tadi bilang Akbar nyabutin daun, padahal dia di halaman, kamu lewatin dia pas dia panggil, sekarang kamu bilang dia di kolong tempat tidur, padahal dia lagi nonton di ruang tamu.


“Tapi tadi Mamah bilang Akbar langsung lari ke kamar, makanya Papah ke kamar Akbar.” Pak Ari merasa kesal dengan perkataan istrinya.


“Pah! Masa pas mau ke kamar Akbar Papah nggak liat Akbar di ruang tamu, kan kalau mau ke sini Papah lewatin ruang tamu! Tadi Akbar lihat Papah lewat nggak?” Istrinya bertanya pada anaknya.


“Iya lihat.”


“Trus kenapa nggak panggil Papah?”


Akbar hanya mengangkat bahunya tanda tidak mengerti, maklum Akbar baru berumur 5 tahun.


“Tadi Papah juga becandain Akbar, Papah kira Akbar ngumpet di kolong tempat tidur karena kakinya keliatan, Papah panggil-panggil Akbar, kok nggak nyaut dari ruang tamu?”


“Akbar nyaut kok, Akbar bilang, apa Pah, tapi Papah diem aja.”


“Hah, tadi tuh di kolong Akbar sempet cekikikan juga!” Pak Ari nggak mau kalah.


“Pah, udah deh, tidur yuk, kamu kecapean deh kayaknya.”


“Tapi bener, Mah. Tadi tuh.”


“Kamu mau buat Akbar ketakutan? Dia nanti minta tidur bareng kita loh.”


“Iya, Akbar mau tidur di kamar Mamah Papah aja.” Akbar akhirnya takut karena mendengar omongan Papahnya.


“Yaudah, Akbar sementara tidur di kamar kita aja dulu.” Pak Ari merasa ada yang aneh, karena dia yakin benar melihat kaki Akbar di kolong tempat tidur, bahkan mendengar cekikannya, dan tidak melihat maupun mendengar Akbar menyahut dari ruang tamu.

__ADS_1


Lalu, apa yang dilihat Pak Ari sebenarnya, kalau itu bukan Akbar???


__ADS_2