
“Kasep ....” Seorang wanita yang sangat berwibawa datang, dia meamkai jubah berwarna hijau memegang tongkat yang tidak terlalu panjang, mirip dengan tingkat seorang jendral, hanya saja tongkat itu bersinar dan berwarna senada dengan jubah wanita itu.
“Selamat malam Ayi.” Aditia bangun, mereka sedang berada di pinggir pantai, menatap pada laut yang begitu bergelombang.
“Dingin ya Dit.” Wanita itu membetulkan jubahnya, Aditia juga mendekap tubuhnya, dia baru saja bangun dari tidur dan sudah berada di sini bersama wanita tersebut.
“Iya, Ayi. Apakah aku lepas raga?” Aditia bingung, karena yang dia ingat, dia sudah pulang dari puncak bersama kawanan lalu dia tertidur di rumahnya.
“Tidak, kau sedang bermimpi, aku memanggilmu ke alam mimpi.”
“Ada yang begitu mendesak, Ayi?” Aditia khawatir karena dia mendengar gonjang-ganjing tentang AKJ yang saat ini masih banyak dibidik oleh banyak pihak, karena tidak menerima seorang wanita memimpin Kharisma Jagat, persis pada Ayi sebelumnya, kepemimpinan mereka selalu dipertanyakan. Padahal Ratu adalah ibu dari semua rakyatnya, itu yang mereka tidak paham.
“Pergilan ke Pulau Dewata, bawa tongkat ini tunjukan pada setiap orang, setiap makhluk dan siapapun yang menilak kehadiran kalian, karena ini adalah tongkat perjanjian ghaib antara kami, Kharisma Jagat dan Persatuan Balian di pulau itu, kami mengadakan perjanjian kerjasama jika saja rakyatku ada yang terkena masalah di pulau itu.
Tongkat itu akan menjadi penanda bahwa kau datang dengan perdamaian, kau datang untuk membawa pulang wanita itu.”
“Jadi ini karena kasus di Bali, Ayi?”
“Dit, sejak kapan Kharisma Jagat memilih daerah yang harus dia selesaikan kasusnya? Kau pikir bagaimana kakakmu Malik bisa mendapatkan begitu banyak pasukan untuk mengabdi padaku selain bertarung? Dia bukan Kharisma Jagat, tapi semangatnya sangat tinggi. Kau tidak malu sebagai Kharisma Jagat malah menolak orang yang sangat butuh bantuan?”
“Ayi, aku ... takut.”
Ayi menatap Aditia dengan tajam.
“Adik Ayi yang kasep, yang kuat dan kurang bijak,” Ayi tertawa mengatakannya lalu melanjutkan maksud kedatangannya itu, “aku tahu bahwa Bali memang sangat tinggi energinya, putih, hitam dan abu-abu, semua berputar di langit Bali.
Tapi Aditia, lihat warna-warna itu, jika saja kau tahu, Bali punya keindahan tersendiri yang membuat kemagisannya sangat bermakna.
Dari adat dan budaya Bali aku tahu satu hal, bahwa hitam tak selalu hitam Aditia, putih tak mustahil menjadi gelap dan abu-abu bisa saja salah dan benar.
Bahwa di sana diajarkan tentang karma yang menjadi landasan perbuatan setiap penduduknya, kau berbuat baik, maka baiklah kembali padamu, kau berbuat jahat, hanya tinggal tunggu waktu kejahatan itu akan kembali juga padamu.
Aku tahu kau ketakutan karena merasa kerdil, tapi kau tidak melawan pulau itu, kau tidak melawan mereka, kau tidak sedang berperang dengan pulau itu, kau sedang bertamu, mereka butuh bantuanmu, mereka ingin kau datang ke sana sebagai saudara se-tanah air, kita saudara Dit, walau beda agama, adat dan budaya, kita sama-sama lahir di tanah yang sangat kita cintai ini, tak sakit kah hatimu ketika melihat saudaramu itu kesulitan dan mungkin kematian mengintainya?”
“Ayi, tapi aku harus bagaimana, jika Balian dan Kharisma Jagat yang lebih paham kota itu saja tidak bisa berbuat apa-apa?”
“Bawa dia ke luar dari sana.”
“Kan tidak bisa, mereka hendak kembali dan dia membuat gaduh Bandara, dia tidak bisa dibawa ke luar dari pulau itu, lalu bagaimana caraku membawanya ke luar dari sana?”
“Aku tidak bicara tentang ke luar dari kota itu, tapi ke luar dari daerah kekuasaan makhluk itu.”
“Makhluk, Ayi sudah tahu siapa yang melakukan pada wanita itu?” Aditia bertanya karena penasaran.”
__ADS_1
“Tidak yakin, tapi kalau tebakanku benar, maka akan mudah mengetahui daerah kekuasaannya, kita bisa menarik garis yang jelas untuk membuatnya berhenti merasuki wanita itu.”
“Ayi, apakah aku mampu?”
“Kau itu siapa? kau adikku, kau mungkin ragu, tapi berapa kasus yang sudah kau selesaikan bersama kawanan? Setiap kasus punya kesulitanny sendiri, Bali memang semenakutkan itu, tapi percayalah, Bali itu indah, jika saja aku tidak sedang menjaga benteng AKJ, aku yang akan pergi ke sana, apa kau mau kita gantian, kau jaga benteng AKJ, aku yang ke sana? Biar sekalian aku bulan madu dengan kakakmu.” Ayi tertawa membayangkan itu.
“Ayi! Mana mungkin aku memintamu melakukan pekerjaan itu sedang pekerjaanmu jauh lebih berat, lagian ... bisa dihajar kak Malik aku, kalau sampai dia tahu Ayi harus menggantikanku mengerjakan tugas ini.”
“Maka lakukan, tongkat ini tidak menjagamu, dia hanya memuluskan jalanmu, sisanya, kau yang harus menetukan jalan itu, ingat, kita tidak pernah bekerja sendiri.
Aku saja harus menghimpun begitu banyak pasukan selama beberapa tahun untuk berperang, karena aku tahu, kakiku cuma 2, hingga aku butuh banyak kaki lagi agar kuat.
Maka kawanan adalah penguatmu, ikuti kata hatimu dan dengar kata hati kawanan, kau akan selamat jika saja kau dapat memilih jalan yang benar dan aku percaya padamu.”
Perlahan jarak pandang Aditia kabur, pantai tak lagi terlihat, pasir pantai tak lagi terasa di kaki Aditia, sinar matahari terasa di pelupuk matanya.
Rupanya ibu membuka jendela untuk membangunkan Aditia yang sejak habis subuh itu tertidur lagi, biasanya tidak, tapi entah kenapa dia merasa sangat mengantuk dan akhirnya tertidur lagi setelah solat subuh.
Aditia bangun, duduk di tempat tidurnya dan mengusap wajah. Mimpi tadi terasa nyata.
“Kok tumben sih, abis solat subuh tidur lagi, biasanya langsung cuci angkot atau ngepel lantai, atau ngapain gitu? nggak enak badan?” Ibu terlihat khawatir.
“Enggak bu, capek aja kok.” Aditia tidak mungkin jujur, karena sebenarnya dia bahkan tidak sadar selepas solat subuh tiba-tiba sudah ada di kasurnya lagi, ternyata karena dipanggil Ayi dalam alam mimpi.
“Nggak kok Bu, Aditia kerja aja.” Kerja di perusahaannya sendiri.
Aditia lalu mandi, sarapan dan bersiap untuk kerja.
Dia tetap membawa angkotnya, Aditia bilang pada ibunya ingin tetap menggunakan angkot itu untuk transportasi pribadi, agar ibunya tak kepikiran untuk menjual.
Walau tak dimodifikasi secara tampilan, tapi mesin sudah diperbaharui dan tidak akan pernah mogok lagi.
Aditia sampai di markas ghaib, semua orang satu persatu juga sampai.
Saat semua berkumpul, Aditia memulai memberi perintah.
“Har, beli tiket ke Bali untuk kita semua ya.”
“Hah?!” Semua orang kaget dengan mata berbinar, bukan karena Bali adalah tempat liburan yang tepat, karena liburan bukan prioritas mereka, tapi mereka akan menemui kasus dengan tingkat kesulitan super tinggi. Itu membuat kawanan selalu bersemangat, mereka memang dilatih Mulyana sedemikian hebat, hingga sangat tidak takut mati, makanya jargonnya adalah hidup dan mati bersama, karena mereka tahu, cepat atau lambat kematian akan datang. Lebih bagus mati dalam keadaan sedang menolong orang, daripada selamat tapi membiarkan orang mati.
“Ok Dit, aku akan belikan, penerbangan kapan? Besok?”
“Nggak, secepatnya, hari ini, kalau siang ini bisa, kita berangkat ke Bandara sekarang.”
__ADS_1
“Private Jet saja kalau begitu, punya kenalan keluargaku, bisa kita sewa, aku akan hubungi mereka.” Ganding tiba-tiba memberikan ide, semua orang setuju.
“Pakaian gimana Dit?” Alisha bertanya, si ratunya nekat ini tidak bisa nekat kalau soal fashion, karena dia mengedepankan penampilan yang keren tidak peduli apapun yang terjadi,fashion harus dipikirkan baik-baik.
“Kau bawa saja bajumu yang ada di sini.” Aditia tidak mau pusing.
“Nggak bisa, ini Bali, outfitnya harus sesuai. Sebentar aku telepon orangku, biar dia bawakan pakain untukku dan kita semua, ingat! Fashion tetap harus tidak boleh diabaikan!” Alisha lalu menelpon para pegawainya dan meminta mereka menyiapkan baju untuk 6 orang yang cukup banyak, baju yang sesuai dengan suasana Bali.
“Alisha, jangan lama-lama, ingat prioritas kita itu kasus, bukan jalan-jalan.” Alka mengingatkan.
“Iya, aku butuh satu setengah jam saja, aku mohon Alka, kau tahu kan, aku tidak bisa nyaman kalau pakaianku tidak bagus.”
“Ya Alisha ... pokoknya usahakan lebih cepat dari itu.”
“Siap kakak ....” Ada maunya saja dia panggil Alka kakak.
Hartino hanya tertawa melihat istrinya merengek pada kakaknya.
Jarni seperti biasa tidak terlalu peduli dengan pakaian, tapi dia senang Aditia akhirnya setuju untuk mengambil kasus ini.
Yang lain bersiap, Aditia dan Alka akhirnya duduk di sofa ruang tamu, Aditia dan Alka meminta Hartino mengirim sisa video yang belum dia tonton kemarin. Aditia ingin melihat apa yang terjadi selanjutnya untuk menyiapkan rencana.
“Pinjam HPmu ya.” Aditia meminjam HP alka, mereka terbiasa saling meminjam HP, tidak ada yang disembunyikan satu sama lain, jadi HP mereka itu kadang rada kabur kepemilikannya.
“Kenapa Dit?” Alka bertanya.
“Ini batrei HPku mau habis, makanya pinjam HPmu.” Aditia menjawab.
“Bukan, bukan soal kau meminjam HPku, tapi kenapa kau tiba-tiba mengubah keputusanmu?” Alka kesal karena Aditia salah tangkap.
“Hmmm ... ini.” Aditia tiba-tiba mengeluarkan tongkat itu, tongkat hijau yang bersinar itu.
“Tongkat perjanjian kerjasama, kau dapat dari Ayi?” Alka takjub.
“Kau tahu tentang tongkat ini?”
“Tentu saja, dulu ayahku mati-matian mencari tongkat ini ke banyak daerah, agar dia bisa bepergian ke setiap daerah yang ingin dia taklukan, tapi selalu gagal. Sedang Ayi salah satu orang yang diberikan kuasa memegang tongkat ini, kau sekarang memegangnya, sungguh hebat.”
“Aku hebat ya?” Aditia seperti anak remaja yang dipuji kekasihnya.
“Tongkatnya.” Alka lalu berdiri hendak bersiap juga.
“Kau ini menyebalkan!” Aditia protes karena tidak jadi dipuji kekasih hatinya.
__ADS_1