
“Pak tolong Pak, anak saya hilang Pak, dia hilang di hutan belakang Keluharan Pak.” Mamanya Har berteriak-teriak, dia tidak bisa menyembunyikan tasa kalutnya, yang dia lupa, apakah Pak Polisi akan menerima alasannya datang ke hutan itu.
“Kok bisa, apakah dia bermain di sana?” Tanya Polisi itu.
“Tidak Pak.”
“Lalu kenapa dia bisa ke sana, bukankah hutan itu sudah terkenal angker?” Polisi itu bertanya lagi.
“Karena … karena … bisakah kita bicara berdua saja Pak?” Mamanya Har meminta sesuatu yang aneh, anak buah Polisi itu memang sedang berkerumun karena teriakan mamanya Har.
“Baiklah, kita ke ruangan saya ya, Bu.” Pak Polisi ini memang seorang dengan pangkat yang tinggi, dia tadi keluar dari ruangannya karena mendengar teriakan.
“Sekarang kita sudah berdua, tidak aka nada orang yang mendengar kita bicara, jadi anda bisa jelaskan dengan leluasa.
Mamanya Har sudah duduk di depan Polisi itu, mereka terpisah meja.
“Jadi begini Pak, anak saya itu seminggu ini dihantuioleh mimpi yang aneh, dia awalnya takut, tapi karena suatu hal dia akhirnya jadi berani menelisik mimpinya Pak, dia mulai memperhatikan mimpi berulang itu, dia sangat yakin bahwa hutan di belakang kelurahan itu adalah hutan dalam mimpinya, dia juga bisa merinci dengan sangat detail di mana di hutan itu ada lapangan yang ditubuhi semak.
Saya percaya anak saya, makanya saya temani dia masuk ke dalam hutan itu.”
“Kenapa kalian harus memasuki hutan itu?” tanya Polisi itu lagi.
“Karena Har anak saya itu, yakin bahwa ada sumur di dalam hutan itu, sumur yang sama dalam mimpinya, di sumur itu ia ditenggelamkan, makanya dia mau tahu, ada apa di sumur itu, dia mau tahu apa yang membuat dia bermimpi hal yang sama setiap malam.”
“Apa ibu semudah itu percaya bahwa anak ibu jujur atau sekedar berhalusinasi?”
“Awalnya saya kira itu hanya bunga tidur dan menyepelekannya Pak, tapi setelah Har mimpinya berlanjut sampai seminggu, lalu prilakunya berubah menjadi lebih murung, padahal dia anak yang sangat bersemangat, riang dan bersahabat, dari situ saya yakin, mimpi itu benar-benar menakutinya.
Terlebih, beberapa hari ini, setiap dia bangun tidur, dia memuntahkan air, persis seperti anak yang tenggelam lalu di selamatkan maka akan memuntahkan air dari mulutnya.”
“Baiklah, sebentar, saya akan bantu ibu, terima kasih sudah meminta berbicara berdua saja.”
Mamanya Har bingung, kok Pak Polisi ini berterima kasih saat diminta bicara hanya berdua.
“Tunggu sebentar, kita akan mencarinya bersama teman saya, dia akan sangat membantu dalam masalah seperti ini.”
Tidak lama kemudian ada seorang pria datang.
“Dirga, ada apa?” Lelaki itu langsung menyapa Pak Polisi, mamanya Har baru sadar bahwa nama Polisi itu adalah Dirga dari papan nama di atas mejanya.
“Ini Yan, anaknya namanya Hartino, ilang di hutan belakang kelurahan, dia katanya mimpi buruk yang sama setiap hari, tapi akhirnya dia berani dan memperhatikan mimpinya, lalu dia menemukan lokasi mimpi itu, hutan belakang kelurahan adalah lokasi di mana dia selalu di seret dan diceburkan ke sumur, dia penasaran dengan maksud dari mimpi itu dan merasa bahwa sumur adalah jawabannya.” Polisi itu menjelaskan intinya saja.
“Ibu ada foto anaknya, saya mau lihat.” Mulyana meminta foto untuk menerawang.
“Ada, sebentar.” Mamanya Har membuka dompetnya dan mengeluarkan foto Har ketika berumur empat tahun, dia selalu menaruh foto itu di dompetnya.
“Baiklah saya lihat dulu ya.” Mulyana menyentuh foto itu dan mulai menerawang.
“Baiklah, dia bukan bocah biasa Dirga, kita tidak akan menemukannya jika mencari di hutan itu dengan dimensi kita.”
“Maksudmu, dia pindah dimensi?” Dirga kaget.
“Ya, dia sudah pindah dimensi saat kalian masuk hutan itu terlalu dalam, ada yang mengambilnya saat kalian jalan beriringan masuk ke hutan itu,” jelas Mulyana.
“Bagaimana kau bisa tahu kalau kami masuk beriringan dan aku kehilangan dia setelah masuk lebih dalam ke hutan itu?” Mamanya Har bingung dan cuku pterkejut.
“Ayuk Bu, kita harus bergegas, tapi dengan angkot saya saja ya.” Mulyana berdiri dan semua orang mengikutinya.
Mereka naik angkot Mulyana, mamanya Har duduk di bagian belakang, pintu angkot ditutup semua.
Begitu sampai di hutan itu, Mulyana meminta semua orang turun.
“Bu, sampai sini saja ya, saya mau ibu nunggu Har di sini, kalau ibu ikut masuk malah celaka karena kita akan masuk ke dunia lain, saya mohon apapun yang terjadi jangan mendekati hutan, saya janji akan membawa pulang Har, tapi jika setelah magrib kami belum keluar dari hutan itu juga, Ibu harus segera menghubungi nomor ini ya, dia seorang gadis, tapi kemampuannya luar biasa, ingat pesan saya ini ya.” Pak Mulyana memberi pesan, mamanya Har cukup cerdas untuk menuruti, dia percaya bahwa Mulyana punya kemampuan yang cukup membawa pulang anaknya, karena tadi dia menceritakan kronologi kejadian dengan tepat, padahal mamanya Har tidak bercerita soal itu, karena takut terlalu bertele-tele.
Mulyana dan Dirga masuk ke hutan, semakin lama jejak mereka tidak terlihat, mamanya Har menunggu di dalam mobil angkot dan memegang telepon genggam dengan ukuran sangat besar di tangannya, Mulyana memberikan itu.
Sebuah angkot dan telepon genggam bukan suatu yang biasa, tidak dalam garis lurus yang sama, supir angkot adalah pekerjaan seseorang yang tidak mungkin memiliki telepon genggam dalam jaman itu, hanya orang-orang yang sangat kaya punya telepon genggam dalam ukuran besar itu.
Mamanya Har yang orang kaya saja, hanya punya pager, tapi Mulyana dan Dirga punya telepon genggam, mamanya Har yakin, mereka bukan hanya sekedar Polisi dan Supir Angkot.
“Aku akan masuk ke dimensi mereka, kau tunggu di sini ya, jagain pintu masukku, aku memilih dua pohon ini sebagai pintu masuk, jangan sampai apapun lewat sini, ok?” Mulyana bertanya.
__ADS_1
“Ok, tapi aku mohon, cepat ya, jangan terlalu lama dan hati-hati kawan.”
“Ya, titip keluargaku jika aku tidak kembali.”
“Yan! aku benci kau selalu mengatakan itu setiap kali kita sedang menangani kasus bersama.”
“Hanya untuk jaga-jaga Dirga, umur siapa yang tahu.”
“Ya, cepat sana, mumpung masih jauh ke maghrib.”
“Iya.” Mulyana lalu memegang satu pohon, membaca sesuatu, lalu setelahnya menyentuh pohon di sebarangnya, membacakan sesuatu lagi, setelah itu angin besar datang dari antara dua pohon itu, Mulyana masuk ke antara dua pohon itu dan menghilang. Dirga tidak heran, dia sudah sering sekali melihat itu jika bersama Mulyana, sahabatnya dari kecil.
Saat Mulyana, sudah masuk dimensi lain, suasana hutan itu lebih gelap dan cahayanya terasa abu-abu, udara pun terasa pengap.
Mulyana terus berjalan, dia mengikuti instingnya saja, tidak jauh dia melihat ada sumur di sana, sumur yang cukup besar.
Jadi ini sumur yang Har mimpikan, tentu saja dia tidak akan menemukan sumur itu di hutan ini sejauh apapun dia berjalan, sumur ini ada di dimensi lain.
Dari kejauhan Mulyana mendengar isak tangis seorang anak, Mulyana menebak, itu adalah tangisnya Har.
“Hartino! Hartino! ini saya Mulyana, mamamu menyuruhku untuk menjemputmu.” Mulyana berteriak, suara tangisnya hilang.
“Kalau kamu benar disuruh ibuku, katakan padaku hal yang bisa membuatku percaya.” Har berteriak entah dari mana, anak cerdas, dia tidak langsung percaya dan ikut saja, mungkin dia belajar dari pengalaman sebelumnya.
“Ibumu bilang kau bermimpi hal yang sama selama seminggu ini, sumur ini yang kamu cari kan?” Mulyana menjawab dengan teriakan juga sembari memperhatikan, siapa tahu terlihat di mana Har berada.
Tidak lama, keluar anak dengan baju seragam, tentu saja masih dengan seragam sekolah, karena dia taid ke hutan setelah pulang sekolah. Har percaya karena dia hanya menceritakan mimpinya pada ibu dan kakeknya saja, jadi Mulyana pasti benar orang suruhan ibunya.
“Kamu Har?” Mulyana mendekatinya dan bertanya.
“I-iya Om, saya Har.”
“Panggil Bapak saja ya, kamu sudah menemukan sesuatu?”
“Belum Pak, aku takut banget mau melihat ke dalam sumur,” Hartino menjawab.
“Baiklah, kau mau keluar dari dunia ini atau mau mencari jawaban dulu?” Mulyana bertanya, karena dia tidak ingin memaksa.
“Aku capek mimpi terus Pak, tadi sendirian nggak berani, tapi sekarang ada Bapak, mau bantuin Har cari jawabannya Pak?”
Mereka berdua mendekati sumur itu, Mulyana terpejam, dia memegang mulut sumur itu, tidak lama setelahnya dia membuka mata lagi dan tiba-tiba muncul tali dan ember kecil di atas sumur itu, persis sumur pada umumnya.
“Apa itu Pak?”
“Kita akan cari tahu bersama Har.”
Lalu Mulyana menurunkan ember itu dengan tali yang terhubung dengan papan peyangga di atas, ember itu turun, setelah lama mengulurkan talinya, Mulyana menarik ember itu lagi, ember perlahan naik, dari kejauhan mereka melihat sesuatu.
Begitu ember naik dan diambil Mulyana, mereka berdua melihat apa yang mereka ambil dari sumur itu.
“Ini apa?” Mulyana bertanya.
“Ini … ini popok kainku, aku ingat karena mama menyimpan satu di tasnya, katanya popok kain ini suka dia cium kalau lagi kerja, karena mama suka kangen Har pas lagi kerja, wangi popok ini buat mama jadi lebih tenang dan senang.”
“Astaga, kalau begitu, ini pasti helaian rambut dan potongan kukumu, ini santet!” Mulyana berteriak karena kesal, dia menemukan helaian rambut dan potongan kuku di dalam popok kain itu.
“Santet itu apa Pak?”
“Santet adalah … hmm, begini Nak, kalau orang jahat, tidak suka padamu, dia akan mengirim sesuatu, tapi bukan surat, bukan juga barang, dia mengirim penyakit.”
“Oh gitu, tapi Har nggak sakit Pak.”
“Kamu tidak sakit? oh kalau begitu ….”
Sebelum Mulyana menyelesaikan kalimatnya, ada suara yang terdengar familiar di telinga Har, suara seretan kaki.
Dari arah belakang Mulyana, terlihat sesosok wanita yang memakai daster putih lusuh, rambut panjang yang berantakan serta kaki yang di seret, seluruh badannya penuh luka dan berdarah.
“Pak, tolong Har, dia mau ceburin Har ke sumur itu, dia mau Har mati, dia yang selalu muncu di mimpi Har.” Har berlindung di belakan tubuh Pak Mulyana, Mulyana memperhatikan wanita itu yang masih berjalan dengan cara diseret kakinya.
“Har tunggu sini ya.”
__ADS_1
“Jangan tinggalin Har ya Pak.”
“Nggak akan Har, sebentar ya.”
Mulyana mendekati perempuan itu, perempuan menakutkan itu berhenti saat di dekati, Mulyana membaca tembah khas sunda, tembang itu membuat perempuan menakutkan itu menjadi duduk bersila.
“Har, kemari Nak.” Har tidak mau, dia tidak mau karena takut, dia diam saja di tempatnya.
“’Nggak apa-apa Nak, tenang saja, ke sini Nak.” Mulyana masih terus membujuk, Har akhirnya mau mendekati Mulyana, tapi dia berlari dan berdiri di belakang Mulyana sambil memeluk tubuh Mulyana.
“Tenang saja Nak, ini bukan musuh.”
“Aku takut Pak.”
“Coba Har perhatikan baik-baik, apa benar ini perempuan yang Har temui setiap malam?” Har mengangguk, dia tidak perlu lagi memastikan, dia sangat yakin.
“Maka dekati dia.”
“Tidak mau!” Har menolak dengan keras.
“Har dengar Bapak baik-baik ya, Har harus hadapi sendiri kali ini, Bapak tidak akan tinggalkan, tapi Bapak akan awasi dari belakang ya, Har tidak akan celaka, Har pikir deh baik-baik, kalau dia memang mau celakai Har, sudah dari hari pertama Har dibawa ke sini lalu dicelakai, trus ini sudah beberapa jam Har dibawa ke sini, tapi Har dibiarkan saja kan? dia membawa Har ke sini bukan untuk diculik, tapi untuk dilindungi.
“Dilindungi, seperti mama lindungi Har?”
“Mirip seperti itu, walau tidak ada yang bisa menyamai perlindungan seorang ibu.”
“Baiklah, tapi kalau Har takut,Bapak jangan pergi ya.”
“Iya, Bapak akan di sini, tepat di belakangmu.”
Har mendekati perlahan wanita mengerikan yang sedang bersila dan diam itu, dia mendekatinya, bau busuk, semakin dilihat dekat, semakin terlihat betapa mengerikannya wanita yang selalu hadir dalam mimpinya itu.
“Hei, kamu siapa?” Har bertanya, dia bertanya sembari jongkok, dia takut kalau perempuan itu menunjukan wajahnya, tapi tidak, perempuan mengerikan itu tetap menutup seluruh wajahnya dengan rambut.
“Har,” Bapak mendekatinya, “ulurkan tanganmu, dia tidak akan menjawab.
“Hah, gini Pak?” Har mengulurkan tangannya, seketika perempuan mengerikan itu berubah menjadi asap, asap itu bergerak ke tangan Har, lalu menghilang meninggalkan golok yang cukup berat di tangannya, dia hampir jatuh karena golok itu berat sekali.
“Dia adalah Sigur Ziqala Nak, salam sapa dari Khodammu, kau mendapatkan hadiah golok sebagai salam perkenalan.”
“Sigur Ziqala, khodam? hadiah? Har nggak ngerti.”
“Har akan ngerti, tapi nanti ya, sekarang ikuti perintah Bapak.”
Mulyana meminta Har mendekati sumur lagi, dia meminta Har memegang popok kain berisi helaian rambut dan potongan kukunya ke kantong celana Har, lalu setelahnya, dia meminta Har mengahancurkan sumurnya.
Har melakukan perintah itu walah sedikit pesimis sumur itu bisa hancur dengan golok yang dia pegang.
Har mengayunkan goloknya, tapi gagal, dia keberatan sehingga golok itu meleset.
“Izinkan Bapak membantu, boleh?”
Har mengangguk.
“Ucapkan agar senjatamu mengerti, karena kalau kau tidak izinkan senjata itu tidak akan mau aku pegang.”
“Baik Pak, aku izinkan Bapak membantuku menghancurkan sumur ini dengan golokku.”
Lalu Mulyana memegang golok itu, golok jadi terasa ringan, sangat ringan dan akhirnya sumur itu perlahan dihancurkan dengan golok itu, cukup lama mereka menghancurkan sumurnya, setelah benar-benar hancur, Mulyana dan Har istirahat sebentar, mereka tersenyum.
“Aku tidak tahu bahwa dia adalah golok yang melindungiku.” Har berkata dengan sumringah.
“Ada khodam yang melatih dengan apa yang manusai sukai, ada juga khodam yang melatih dengan apa yang dia takuti, semua untuk satu hal, siap menerima khodamnya, kau adalah yang ditakuti agar menjadi berani.”
“Aku tidak mengerti Pak.”
“Baiklah nanti aku jelaskan, tapi sekarang kita harus keluar dari dunia ini, karena tidak boleh terlalu lama di sini.”
“Kalau lama di sini memang kenapa Pak?”
“Har mau tinggal di sini?”
__ADS_1
“Nggak!!!”
Lalu mereka berdua keluar dari dunia dengan dimensi berbeda itu, Mulyana menggenggam Har dengan sangat erat, setelah sebelumnya meminta Har memasukkan golok itu ke dalam tubuhnya, Har tidak mengerti tapi Mulyana menunjukan caranya. Har suka itu.