
Sarika datang pada hari di mana ujian Ratu dimulai. Dia melihat ada lima lawan yang terlihat sangat anggun. Ayi Mahogra menggunakan kebaya biasa saja, termurah dari semua kandidat, alas kaki biasa saja dan terakhir, riasan seadanya, tapi tetap terlihat paling cantik dan menawan.
Pertama karena dia adalah Ratunya Kharisma Jagat, tentu kharismanya tidak bisa dibandingkan dengan Ratu sekalipun. Dia terlalu menawan. Kedua, dia telah memantrai semua yagn dia kenakan dengan mantra pemikat.
Karena Sarika bukan berasal dari orang kaya, terlalu merepotkan juga kalau dia harus meminta bantuan sekutunya untuk sekedar pakaian, maka cara paling cepat adalah memantrai semua yang dia kenakan, Abiyasa melihat itu tertawa terbahak-bahak, Ratu hatinya memang tidak ada tandingan, dia terlalu tangguh untuk musuh-musuhnya.
“Hei ... kau hendak ke pasar dengan pakaian sederhana ini?” Abiyasa menemui Sarika diam-diam saat dia pamit ke kamar mandi, karena Abiyasa adalah Kharisma Jagat, maka penglihatannya tidak bisa ditipu oleh mantra, hingga pakaian Sarika yang sangat sederhana, Sarika tertawa, tidak tersinggung, karena tahu, bahwa tanpa pakaianlah, Abiyasa paling suka dirinya.
Sarika tidak butuh pengakuan akan kecantikan dan kecerdasannya, karena dia tidak perlu dibuat tinggi, dia sudah tinggi sejak lahir.
“Aku tidak punya kebaya yang cantik dan juga alas kaki yang indah, tapi aku punya mantra yang bisa menipu mata si pendusta.”
“Berarti aku tidak termasuk para pendusta itu?” Abiyasa merasa bangga.
“Tentu saja, makanya aku suka padamu.”
“Ini berarti jelas, kau suka aku dulua ya.” Abiyasa menggoda.
“Ya, memang begitu, aku tidak keberatan menjadi tertuduh, asal kau yang aku selamatkan.”
“Kau mahir menggombal, siapa yang mengajarimu?” Abiyasa kesal, takut kalau Sarika menggunakan kata-kata indah untuk lelaki lain.
“Kau pikir siapa? pria yang di depanku lah.”
“Sarika!!!” Abiyasa hendak menangkapnya, tapi Sarika mahir menghindar, dia lalu pergi ke tempat ujian lagi, saat ini adalah tata krama, Sarika tidak takut, karena keanggunan melekat padanya.
Saat hendak meminum jahe hangat, Sarika mengangkat gelasnya tanpa menundukan kepala, karena haram bagi seorang perempuan bangsawan, mendekati gelasnya, itu adalah cara minum budak dan rakyat jelata, gelas yang harus sampai ke mulut.
Saat gelas semakin sampai ke mulut, Sarika sempat terdiam, dia mencium bau racun di dalam gelas itu. Sarika melihat satu persatu semua pengawal dan dayang yang menjadi pengatur acara ujian, mereka terlihat tegang, ada Ratu di sana, dia adalah penguji utama.
Sarika diam sesaat lalu akhirnya meminum jahe hangat itu, tujuannya adalah menumbangkan Sarika hingga tidak bisa ikut sayembara ini lagi.
Tapi Sarika tidak bisa asal tuduh bisa jadi, ini akan membuat dia diusir dari ujian ini, karena berani menuduh kerajaan menaruh racun pada minumannya.
__ADS_1
Maka dia meneguk jahe hangatnya setelah memperhitungkan waktu bertahan, asal tegukannya tepat, dia mungkin akan selamat, Sarika mencoba peruntungannya, semua orang terlihat menarik nafas saat Sarika meminum jahenya, mungkin hanya minuman Sarika yang diberi racun.
Setelah acara tata krama makan dan minum, sepuluh menit kemudian, adalah acara memakaikan baju kejayaan milik Raja, modelnya adalah salah satu dayang wanita dengan postur yang tinggi, setinggi Raja. Agar ujian terasa nyata dan para peserta bisa membayangkan memakaikan pakaian kebesaran Raja.
Sarika mulai oleng, efek racun terasa, dua tegukan memang cukup mengulur waktu dan mungkin masih bisa Sarika tahan.
Tiba giliran Sarika memakaikan pakaian kebesaran untuk Raja, pandangan Sarika mulai kabur, dia terus bertahan, Panglima melihat tuannya oleng, mulai terlihat kesal, dia mungkin bisa membumihanguskan kerajaan jika Sarika kenapa-kenapa, tapi Sarika menahannya.
Hingga Panglima mendampingi Ayi Mahogra Seira, Panglima tidak pernah akur dengan pasangan Ayi. Karena bagi Panglima, orang yang Ayi cintai selalu membuat Ayi babak belur. Seperti sekarang ini.
“Hentikan ujian!” Raja tiba-tiba datang, dia menginterupsi ujian yang ibu suri Diah adakan.
“Ada apa Yang Mulia Raja?” Ibu suri bingung.
“Aku mendengar ada racun yang di taruh di minuman salah seorang peserta ujian.”
“Apa maksud anda berkata seperti itu wahai Yang Mulia Raja? Mana mungkin ujian ini ada pembelot, aku sendiri yang mengawasi keberlangsungan acara ini.” Ibu Suri bertanya dengan sangat marah.
“Salah seorang dayang telah memberitahuku.”
“Maka kita buktikan, bukankah gelasi ini bisa membuktikan apakah ada atau tidaknya racun itu?” Yang Mulia Raja menantang.
“Tidak perlu, kau tidak percaya padaku?”
“Tidak! aku tidak percaya pada siapapun, aku hanya percaya pada diriku sendiri, lakukan apa yang aku perintahkan, atau kupaksa, maka kau akan menjadi tertuduh dari pembelotan ini.” Raja membisiki Ibu Suri untuk melakukan apa yang dia mau, karena tidak mungkin terang-terangan mengatakannya.
Lalu salah satu dayang disuruh untuk menyicipi semua minuman dari gelas peserta, tiba saatnya dia harus menyicipi dari gelas Sarika, dia menolak dan ketakutan sembari menangis.
“Minum!” Raja terlihat marah, karena aduan dayang itu benar.
“Tidak Yang Mulia, ini ada racunnya.” Dayang itu bersujud dengan tubuh gemetaran.
“Siapa yang memerintahkanmu!” Raja terlihat marah, tapi saat Raja marah, Sarika tumbang, dia hampir jatuh ke lantai, tapi Raja buru-buru menangkapnya, dia lalu menggendong Sarika dan membawanya ke Pendopo, Ibu Suri buru-buru meminta Dorapala yang paling dia percaya untuk membawa dayang yang tadi menolak meminum dari gelas Sarika dan menghabisinya kelak.
__ADS_1
Ibu Suri lalu perdi ke pendoponya, untuk bersiap dengan murka Raja.
“Sarika, Ayi Mahogra, Ratuku! Panggil tabib sekarang! Sekarang!” Raja Abiyasa terlihat panik, dia ketakutan, karena racun itu bisa jadi sudah menyebar, seharusnya tadi dia buru-buru menyelamatkan Sarika bukan malah sibuk mencari kebenaran, untung ada dayang yang menghampirinya dan mengadu tentang racun itu.
Tabib datang, dia memeriksa Sarika dan menyatakan tubuh Sarika lemah, mungkin sulit untuk bertahan hingga malam ini.
Raja murka dan langsung datang ke kediaman Ibu Suri, Dorapala berusaha mencegah Raja masuk, tapi Raja meminta semua pengawalnya untuk membantai semua Dorapala milik Ibu Suri, mereka dituduh membelot dari titah Raja.
Saat sudah masuk ke pendopo Ibu Suri, Raja Abiyasa melihat Diah langsung bersujud memohon ampun.
Abisaya mendekatinya lalu berkata, “Kalau Sarika sampai tidak selamat, aku pastikan, semua keluargamu akan menanggung dosa yang telah kau lakukan, semua keluargamu yang kau kenal, akan aku habisi mereka satu persatu!” Abiyasa mengancam Ibu Suri, lalu mengeluarkan titah darurat, mengasingkan Ibu Suri dengan tidak hormat, karena berusaha untuk mencelakai Raja, Raja meminta semua dayang tutup mulut, karena dia akan memastikan semua orang kepercayaan Ibu Suri bahkan takut membantunya, karena tuduhan itu berat sekali.
Racun yang diperuntukkan untuk Sarika, akan dipakai untuk bukti bahwa racun itu diperuntukkan untuk Raja, Ibu Suri menjadi kambing hitam atas dosanya sendiri.
“Kau anak durhaka!” Ibu Suri berteriak sebelum Raja pergi.
“Kau bukan ibuku, kau wanita laknat yang membuat Negeri ini porak poranda, aku masih baik hanya mengasingkanmu, sebenarnya yang paling aku inginkan adalah, memenggal kepalamu, wanita jahat.” Ibu Suri kaget mendengar Abiyasa begitu marah, dia tidak pernah terlihat kelepasan begini selama dia menjadi ibu tirinya
Diah terlihat sangat ketakutan, tapi dia memang harus meninggalkan kerajaan segera, karena kalau lebih lama, mungkin Abiyasa akan benar-benar melakukan apa yang dia ancamkan.
Saat Abiyasa kembali, dia kaget, karena Sarika sedang makan, begitu banyak makanan.
Abiyasa memeluknya dengan sangat erat, bahkan menangis melihat Sarika bangun.
“Kau sudah sadar? Apakah kau baik-baik saja Ayi?” Abiyasa bertanya dan masih tetap memeluknya.
“Tentu saja, racun itu hanya berefek kecil padaku, tidak akan membuatku mati, aku kebal pada racun. Kau tidak tahu itu?”
“Kebal tapi pingsan?”
“Ya maksudku, tubuhku bisa menetralisir racun yang masuk, butuh waktu untuk akhirnay pulih, makanya aku tadi minta makan yang banyak agar cepat pulih.”
“Sarika! Kau benar-benar keterlaluan, aku baru saja menumbangkan Ibu Suri dan bersiap perang dengan keluarganya karena menyangka kau takkan selamat, tabib bilang kau terlalu lemah, makanya aku murka. Tapi sekarang kau malah sibuk makan! kau benar-benar keterlaluan!” Abiyasa kesal karena dia tidak menyangka kalau Sarika bisa sesantai ini.
__ADS_1
“Kau harus terima kasih padaku, punya alasan menghabisi mereka, jadi, kapan kita menikah.” Sarika bertanya sambil makan dengan santai.
Abiyasa tidak percaya, bahwa wanita ini benar-benar santai sekali menghadapi semua bahaya, tapi itu yang membuat Abiyasa sadar, dia tidak ingin wanita lain, selain yang menggemaskan ini.