
Mulyana mendapatkan surat balasan dari para Tetua, surat itu berisikan bahwa Aditia diterima sebagai Kharisma Jagat muda. Dia diakui karena kriteria yang dibutuhkan untuk menjadi Kharisma Jagat telah dipenuhi. Memiliki Karuhun dan juga memiliki darah dingin milik Kharisma Jagat.
Tapi tentu untuk menjadi anggota kesatuan Kharisma Jagat Aditia belum bisa, karena mengingat dia masih bayi.
Mulyana lega, karena paling tidak saat ini Aditia akan selamat dari serangan Tetua yang dipimpin Mudha Praya, sisanya jin jahat dan juga iblis, akan ditangani seperti biasa. Selama Mulyana menjalani peran sebagai pengantar jiwa yang tersesat, maka potensi dimusuhi oleh jin jahat tetap ada.
“Mas, bagaimana? apakah seluruh biayanya sudah dibayar?” istrinya Mulyana bertanya, dari awal dia menolak untuk melahirkan di rumah sakit. Tapi Mulyana memaksa, istrinya takut kalau biayanya akan mahal sekali. Jaman itu, melahirkan tidak ditanggung pemerintah.
“Tenang saja De,” jawab Mulyana.
“Aku akan bicara pada ayahku, aku akan minta pinjam uang darinya. Gimana?”
“De, tenang saja. Mas sudah lunasi kok, jadi kamu tenang aja ya, yang kamu pikirkan saat ini, hanya mengurus anak kita saja.”
“Tapi Mas, kalau memang kamu keberatan dengan biayanya, kita bisa minta bantuan ayahku. Nanti kita ganti, kita pinjam saja dulu ke ayahku.”
“De, Mas ada tabungan kok. Jadi, kamu tenang ya. Pokoknya sudah lunas semua.”
Istrinya tidak tahu, bahwa suaminya kaya raya, masalah biaya rumah sakit bukanlah sesuatu yang sulit. Tapi Mulyana tidak akan memberitahu istrinya tentang jati diri dia yang sebenarnya.
Mereka berdua pulang membawa anak yang baru dilahirkan, sempat agak heran ibunya Aditia, karena jari anaknya ada bekas luka. Sementara para Perawat tidak bisa menjelaskan kenapa luka baret itu ada dan cukup dalam.
Mulyana dan istrinya sudah sampai di rumah sederhana mereka. Istrinya begitu sampai sibuk mengurus anaknya, menyusui dan juga memastikan bahwa anaknya nyaman di rumah barunya.
Beberapa tetangga datang, mereka menjenguk ibu dan juga bayi yang baru dilahirkan.
“Ya Allah Bu, ganteng banget ya anaknya.” Seorang tetangga berkata sembari mengusap wajah anaknya.
“Alhamdulillah Bu, mirip ayahnya.” Ibunya Aditia juga melihat, tampan sekali anaknya.
“Wah, ibu-ibu makasih ya sudah datang ke rumah kami. Ini makanan alakadarnya.”
“Wah Pak Mulyana terima kasih loh, tidak perlu repot menyiapkan makanan, kami mengertilah, kalian juga pasti lelah karena baru pulang dari rumah sakit.”
“Tidak apa-apa Bu, ini juga sekedarnya saja kok.”
Lalu Mulyana meninggalkan ibu-ibu itu agar bisa mengobrol dengan santai, Mulyana ke halaman untuk merokok dan minum kopi yang dia buat sendiri, tidak lama Dirga datang bersama istrinya yang belum punya anak.
“Wah, masuk-masuk, ibu-ibu juga lagi pada ngumpul tuh di dalam.” Mulyana mempersilahkan istrinya Dirga masuk ke dalam bergabung dengan ibu-ibu yang lain.
Dirga duduk dan mengambil rokok Mulyana di dalam bungkusnya.
“Lu nggak ikut masuk?” Mulyana meledek.
“Lu pikir gue emak-emak, masa gue suruh gabung,” Dirga protes.
“Gimana akhirnya? udah dapat balasan surat dari para Tetua?” Dirga bertanya.
“Udah hari ini, sebelum aku pulang dari rumah sakit. Salah satu Karuhun mengantarnya, makanya surat itu sampai dengan cepat.”
“Istrimu bagaimana?”
“Kenapa dia?”
“Apakah dia tidak heran dengan luka di jari Aditia?”
“Dia bingung dan sempat akan marah, tapi aku berusaha menenangkan, Perawat juga tidak ada yang tahu kenapa bisa luka. Tentu saja, mereka kan aku gendam.”
“Mul, apa tidak sebaiknya kamu bicara jujur?”
“Jujur? tentang apa?”
“Tentang siapa dirimu, kamu yang seorang pengatar jiwa tersesat.”
“Tidak Ga.”
“Kenapa?”
“Jiwanya terlalu halus, dia gadis tulus, tidak memandang harta dan juga wajah. Dia tahu keadaan ekonomiku rendah ketika kami kenal pertama kali. Dia tetap bersikap baik, aku memperlambat mendekatinya, aku takut jatuh cinta, karena dari pandangan pertama saja, aku tahu, sangat tertarik padanya.
Aku mencoba untuk menghentikan rasa itu dulu, tapi tidak mampu. Maka aku melawan hukum adat untuk bisa bersamanya. Jika dia tahu siapa aku, aku takut. Pertama, hati orang-orang yang tulus itu, kalau dibohongi tidak akan mampu memaafkan. Karena mereka memberikan seluruh hatinya untuk yan dicintai, kalau dia tahu telah dibohongi, maka tidak akan ada tempat untukku lagi di hatinya.
Kedua, aku telah salah dari awal, aku seharusnya memberitahu dia jati diriku, tapi aku malah melanjutkan kebohongan karena keegoisanku dan menikmati ketulusannya tanpa embel-embel harta dan tahta.
Terakhir, Jika dia tahu aku telah berkorban sebanyak itu untuk bersamanya, melanggar adat dan dimusihi dua dunia. Maka, aku takut dia akan kecewa pada dirinya sendiri dan merasa rendah diri.
Aku takut kehilangan dia Ga. Dia itu wanita yang berbeda, dia bersamaku, menolak pinangan banyak lelaki baik hanya untuk bersamaku, aku takut sungguh takut dia akan pergi jika tahu yang sebenarnya mengenai diriku.”
__ADS_1
“Wah kau romantis juga, aku baru tahu sisimu yang ini.” Dirga tertawa karena dia sebenarnya memang merasa Mulyana terlalu dingin pada wanita lain.
“Oh ya, kau sudah selidiki keluarga yang aku berikan datanya?”
“Ya, sudah. Tapi, sepertinya dia bukan orang yang kau cari.”
“Kenapa kau yakin kalau dia bukan orang yang aku cari?”
“Anaknya semua laki-laki. Kau kan bilang, kalau seharusnya anak salah satu keluarga itu adalah perempuan.”
“Oh begitu. Aku sudah mencari ciri-cirinya, sesuai beberapa kawananku katakan. Aku takut kalau Mudha Praya akan menemukannya duluan.”
“Apa sepenting itu menemukan anak itu?”
“Ya, penting sekali. Harus aku temukan, karena hanya dia yang bisa memimpin kami semua.”
“Hah? yang kau cari itu seorang anak perempuan bukan? lalu kenapa dia bisa menjadi pemimpin.”
“Usia bagi kami para Kharisma Jagat bukan ukuran untuk menilai kemampuan. Kalau Karuhunnya lebih tua maka dia adalah pemimpin.”
“Oh begitu. Nggak ngertilah aku, pokoknya Yan, aku akan selalu berusaha membantumu.”
“Ga, sebentar lagi kau akan mendapat kabar baik tentang kehamilan istrimu.”
“Yan, jangan beri angin surga ah, aku tidak mau lagi berharap. Kau kan tahu, aku tidak mampu. Karena kecelakaan saat pelatihan, aku dinyatakan sulit punya anak. Aku seberuntung dirimu dalam meilih pasangan, dia bisa menerimaku apa adanya, setelah aku beritahu sakit, dia tetap mau melanjutkan pernikahan.”
“Dokter bisa mendiagnosa, tapi kan takdir Tuhan yang pegang.”
“Yan, udah ah.”
“Jangan lupa ibadah dikencengin, gue ngerasain sesuatu yang berbeda saat istri lu lewat, wangi yang gue rasain saat istri gue hamil.”
“Hah? jadi elu tahu duluan dong saat dia hamil sebelum diperiksa Dokter?”
“Ya, gue tahu duluan. Wangi ibu hamil itu khas sekali, makanya gue bilang sama lu, kencengin ibadah. Jin jahat suka sekali berdekatan dengan calon maupun perempuan yang sudah hamil. Karena wanginya itu berbeda.”
“Wanginya kayak gimana Yan?”
“Buat kita Kharisma Jagat akan merasa mencium wangi yang sangat manis ketika berdekatan dengan calon ibu hamil itu, wangi itu terus bertahan ketika kita masih berdekatan dengan perempuan itu. Tapi buat jin jahat, wangi itu tercium seperti makanan lezat.”
“Ya, kau bayangkan jika kau dalam keadaan sangat lapar, kau mencium wangi makanan yang paling kau suka, kau itu suka sekali dengan daging rendang kan? nah kira-kira seperti itulah wanginya perempuan hamil bagi jin.
Apalagi kalau ibu hamil masih janin muda, itu jauh lebih berbahaya, karena wanginya sangat tajam bagi jin jahat, mereka akan menggila dan berusaha untuk ....”
“Untuk apa Yan?”
“Mengambil janin itu dan memakannya.”
“Naudzubillah!!!” Dirga bergidik.
“Itu kenapa aku menjaga istriku dua puluh empat jam saat dia hamil, aku bertarung dengan banyak jin brengsek yang siang dan malam mengincar janin anakku.”
“Kau luar biasa Yan, karena aku bahkan tidak bisa melihat para jin jahat itu, lalu bagaimana aku bisa melindungi?”
“Kau hanya perlu pergiat ibadahmu, kencengin ibadah, baca doa yang khusyuk, minta perlindungan dari Tuhan, maka janin itu akan aman, Nanti bawa air dari sini ya. Lu sebarin airnya keliling rumah, trus suruh istri lu minum, gue mau samarin wanginya supaya calon kehamilan istri lu bisa lancar.”
Dirga memeluk temannya itu.
“Makasih ya sayang.” Dirga memeluk sahabatnya seperti remaja yang sedang jatuh cinta.
Mulyana bergidik melihat kelakukan sahabatnya.
“Bisa lepas nggak, bisa bahaya kalau ada yang lihat.” Mulyana kesal karena Dirga masih saja memeluknya.
Semua tamu pulang, istrinya terlihat kelelahan.
“De, kalau mau tidur, tidurlah. Biar anak kita aku yang jaga. Kalau dia lapar baru kau susui.”
“Iya Mas, maaf ya. Aku lelah sekali.” Istrinya memberikan anak itu dan dia berjalan perlahan ke kamarnya.
Anak itu tidak tidur, benar kata orang, anak ini tampan sekali wajahnya sangat bersih, bahkan saat lahir Dokter dan Suster bingung, karena semua bagian tubuhnya terkena darah karena proses melahirkan, tai bagian wajah dan kepala sangat bersih, tidak ada noda darah sedikitpun.
Saat dimandikan, wajah dan tubuh putih bersihnya semakin terlihat. Perawat bahkan sangat ingin menciuminya terus karena tampan sekali bayi baru lahir itu.
Anak itu tidur, Mulyana meletakkannya di samping tempat tidur dimana istrinya sudah tertidur.
Mulyana akan solat dan makan dulu, tadi belum sempat makan. Mumpung anaknya tidur.
__ADS_1
Dia makan makanan kiriman dari keluarga istrinya, beruntung Mulyana bersama keluarga istrinya yang selalu baik dan membantu dalam keadaan sulit.
Saat Mulyana sedang asik makan, Mulyana merasa sangat khawatir, dia mencium aroma anyir, dia langsung buru-buru berlari ke arah kamar istrinya.
Bayinya hilang!
Mulyana mencari sekeliling, dia mencari ke dalam lemari, tidak ada. Mencari ke kolong tempat tidur, tidak ada juga. Mulyana lalu memegang ubun-ubun istrinya dan membuat istrinya tidur lebih dalam.
Mulyana lalu memegang dinding dan memukul dinding itu beberapa kali.
Sekarang terlihat!
[Satu, dua, tiga, empat, lima, enam ... tiga belas!] Mulyana menghitung dalam hati.
Ramai sekali di kamar ini.
“Kembalikan anakku.” Mulyana berteriak hingga membuat semua makhluk yang berada di sana dalam berbagai wujud kaget.
“Tidak!” jawab salah satu makhluk yang tubuhnya bungkuk, wajahnya membiru dan rambutnya putih.
“Kembalikan anakku!” Mulyana tidak melihat Aditia dan mulai khawatir.
Semua makhluk menatapnya secara serentak, hawa dingin menyeruak, pencahayaan menjadi lebih redup. Mulyana memang telah masuk ke alam lain, istrinya terlihat, tapi istrinya pasti tidak bisa melihat dia saat ini. Makanya lebih baik ditidurkan lebih dalam agar istrinya tidak kaget saat bangun tidak menemukan dirinya dan anaknya.
“Kembalikan anakku!” Mulyana kesal karena ini pengulangan yang entah keberapa.
Semua makhluk masih terdiam, bau anyir dan juga udara yang pengap, Mulyaan takut Aditia tidak tidak bisa bertahan di dunia ini. Masih bayi sudah jalan-jalan ke dunia ghaib. Sungguh keterlaluan mereka!
“Kami pinjam sebentar ya.” Kali ini sesosok makhluk bertubuh ular tapi berkepala kambing berkata sambil mengembe, tubuh ularnya berdiri tegak, karena memiliki ukuran cukup besar.
“Kembalikan dia, dia masih bayi. Tidak sehrusnya kalian bawa ke dunia ini!” Mulyana masih bersabar.
“Anakmu tampan sekali, kasep banget!” masih dari si ular kambing.
“Mana dia!”
“Kaseeeepppp, Kaseeeeeppp.” Semua makhluk berteriak dengan suara menggema. Nama ini kelak akan sangat terkenal di dunia perghaiban. Anak yang baru beberapa hari lahir, tapi sudah melewati dua dunia. Hanya anak dengan keberkahan seperti dia yang bisa melewatinya.
Anak biasa akan langsung lemah dan jatuh sakit, karena untuk bisa melewati dunia ghaib, akan sangat menguras energi. Apalagi dia baru lahir.
Mulyana mencari sendiri, sementara yang lain masih terus memanggil nama Kasep.
Mulyana sekali lagi mencari di lemari, di kolong tempat tidur dan di ... hanya satu tempat yang belum dia lihat.
Mulyana menatap ke atas, ketemu! ternyata benar, dia ada di sana, di atas sana sedang ... digendong oleh sesosok wanita yang bertelanjang dada, bagian dadanya sangat panjang hingga menggantung bergoyang di atap, sedang kakinya bengkok seperti kuda.
Dia terlihat sedang memaksa Aditia untuk meminum air susu dari dadanya yang aneh itu.Pintar, Aditia bayi menolak, dia tidak mau membuka mulutnya.
Muyana kesal sekalli melihat itu, dia mau memberi susu yang beracun untuk anaknya?
“Kau! kembalikan anakku.”
“Aku susui dulu ya! anak ini tampan sekali, aku ingin awet muda lagi, kalau dia menyusui dariku, maka aku akan semakin cantik.” Makhluk itu tertawa melengking, itu membuat teinga Mulyana pekak.
“Turun kau!” Mulyana kesal karena makhluk itu masih saja memaksa menyusui Aditia, Aditia masih berontak.
Karena terus dipaksa, Aditia akhirnya menangis. Dia terlihat tidak suka dipaksa menyusui.
Aditia menangis dengan pelan, lalu sedang dan akhirnya tangisannya melengking.
Mulyana bersiap untuk menarik makhluk itu dengan terpaksa memegang bagian dadanya dan menarik ke bawah, tapi terlambat!
BUUUMM!!!
Suara atap runtuh terdengar, mereka di dunia ghaib, sehingga atap rumah Mulyana tidak benar-benar runtuh.
Dari runtuhan atap itu terlihat seorang remaja dengan mata memerah dan tubuh penuh sisik muncul.
“Mati kalian!” Mulyana tertawa melihat kedatangan Karuhun anaknya.
Mulyana lupa, belum memperbaharui pagar ghaibnya, Alka terlalu kuat untuk pagar yang Mulyana ciptakan. Lanjonya bereaksi pasti karena mendengar suara tangisan Aditia.
“Lepaskan anak itu!” Alka berbicara sambil menyerang banyak makhluk seperti kesetanan, mungkin dia memang setannya.
“Aku tidak ikut campur! kalian yang cari masalah sendiri.”
Mulyana duduk di kursi dan memperhatikan Alka mulai menyerang secara brutal semua makhluk yang lari kocar-kacir.
__ADS_1