Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 59 : Janggit Benthangan 14


__ADS_3

2 MINGGU LALU


Hari ini adalah hari dimana Dina harus pergi untuk interview, dia tidak tahu bahwa tempat itu tidak seharusnya dia datangi, dia akan malu dan merasa hina serta rendah diri.


“Pamit ya bu, semoga Dina diterima di sini, biar bisa bikin bangga ayah dan ibu, seperti semua kakak-kakak Dina.” Dina salim dan pergi, seperti biasa ibu dan ayahnya tidak begitu tahu kemana dia akan pergi, hanya pamit berangkat panggilan kerja, sudah itu saja.


Dia naik ojek online, begitu sampai dia mengantri dipanggil seperti yang lain setelah sudah menjalani tes tertulis hampir 2 jam.


Bisa dibilang,  Dina paling cantik di sana, semua melamar pekerjaan untuk perawat tapi di luar negeri, bukan di Indonesia.


Satu persatu dipanggil, saat tiba gilirannya, dia berdiri dengan sangat percaya diri bersama 3 orang rekan lain, rupaya interview bersama.


Mereka melangkah masuk, lalu duduk di hadapan para petinggi yayasan penyalur tenaga kerja luar negeri.


Saat dia duduk, dia melihat kea rah depan dan lumayan terkejut, ada Ibu Budiman, istri dari kekasihnya, dia tertunduk, berharap orang itu tidak mengenalinya, karena Budiman memutuskan hubungan mereka karena ketahuan oleh istrinya, Dina takut dilabrak, tapi ternyata tidak, setelah itu, Budiman tidak pernah menghubunginya lagi.


“Dina, lulusan Akper.” Ibu Budiman berkata.


“Be-betul, Bu.”


“Lulusan terbaik, hebat.” Ibu Budiman berkata lagi, Dina lega, sepertinya dia tidak tahu kalau Dina adalah selingkuhan suaminya.


“Terima kasih.”


“Tapi kenapa keahlianmu malah menggoda suami orang!” Tiba-tiba ibu Budiman berteriak, dia sangat kesal melihat wajah Dina, sedari awal Dina dipanggil memang hanya untuk dipermainkan saja, Ibu Budiman tidak berniat merekrutnya saat melihat CV Dina, dia ingin mempermalukan Dina dan menunjukan bahwa dia jauh lebih hebat dari segala, walau Bu Budian terlihat lebih dewasa, kecantikannya tidak dapat dipungkiri, Dina hanya menang dari segi usia saja.


“Maaf, apa maksud ibu?”


“Kau fikir aku tidak tahu, semua foto dan video menjijkan kalian di galeri foto suamiku!” Panitia mengeluarkan tiga calon karyawan lain agar tidak melihat kejadian ini, sementara yang lain tetap karena mereka pegawa dan sudah pasti tidak akan membocorkan kejadian ini jika masih ingin bekerja di sini.


“Mohon maaf, saya tidak jadi melamar.” Dina bangkit dan hendak pergi, tapi Ibu Budiman menahan tangan Dina, rupanya dia tadi buru-buru mengejar.


“Kau wanita murahan, jangan ganggu suamiku lagi, atau kau akan aku habisi!” Ibu Dina mengancam.


“Lepaskan!” Dina kasar melepas tangan Ibu Budman.


“Kau memang wanita miskin rendah yang murahan!” Ibu Budiman masih terus menghinanya.


Dina tersulut lalu berbalik, dia membatalkan niatnya untuk pergi dari ruangan itu.


“Aku memang miskin, mungkin juga rendah dan murahan di matamu! Tapi bukan hanya salahku kalau suamimu datang padaku, wanita kasar yang keras, lelaki mana yang tahan! Kau tahu bahkan Budiman bilang ingin menikahiku segera setelah berhasil menceraikanmu!” Dina berteriak dengan histeris seperti kesetangan, kata miskin begitu melukai harga dirinya.


“Menikahimu! Kau sudah gila, kau hanya ingin uangnya bukan? kau hanya wanita miskin yang tidak tahu diri!” Ibu Budiman menyerang Dina, dia menarik rambutnya, lalu menendang Dina dalam waktu bersamaan hingga beberapa helai rambutnya tercabut dan berada di tangan Ibu Budiman, Dina bangkit mencoba untuk melawan, tapi tentu saja dia tidak akan bisa, di sana ada beberapa anak buah ibu Budiman, Dina dipegangi dan diarahkan untuk keluar dari ruangan, lalu berjalan kea rah luar kantor dengan rambut dan baju acak-acakan, saat sudah sampai di halaman kantor, mereka menendang Dina keluar hingga jatuh tersungkur.


Dina menangis sejadinya, tapi dia hanya jadi tontonan saja, sadar bahwa dia memang miskin dan tidak berharga, bahkan kekasih yang seharusnya melindungi dia malah bersembunyi di tengah laut serta memutuskan hubungan mereka, Dina masih terus mencoba menghubunginya bahkan sebelum sampai kantor ini tadi.


Dina bangun dan menuju halte angkutan umum di depan kantor, dia membereskan baju dan juga rambutnya.


Kata miskin sungguh membuat dia kesal dan marah, kata itu mengingatkannya pada ayah yang selalu dikasari oleh tengkulak brengsek itu.


Saat ingat itu, dia lalu menelpon seseorang.


[Siapa kau?] Orang yang dia telpon bertanya, suaranya laki-laki.


[Aku Dina, putri dari orang yang punya hutang padamu, ayahku membayar hutang dengan menyicil dari hasil sawah kami.] Dina menjelaskan.


[Oh, kau, kenapa? kau mau membayar hutang ayahmu?] Lelaki itu bertanya.


[Ya, aku mau membayarnya.]


[Yasudah, kalau begitu, kau datang ke rumahku.] Hasan meminta Dina datang.


[Kau yakin di rumah? Istrimu takkan marah?”]

__ADS_1


[Kenapa istriku perlu marah, apalagi kau akan membayar hutang, dia akan senang.]


[Aku akan membayar hutang bukan dalam bentuk uang.] Dina berkata dengan sedikit menggoda.


[Bukan uang? memang apa yang kau punya selain uang?} Hasan bertanya lagi.


[Tubuhku, aku pastikan, kau takkan menyesal.] Dina yang telah berpacaran dengan Budiman, sudah pasti tidak hanya mengisi hari-hari pacarannya hanya dengan menonton atau makan, sudah pasti mereka berhubungan layaknya suami istri, apalagi Budiman lelaki yang sudah menikah dalam jangka waktu yang lama, yang dia butuhkan sudah bukan hanya pacaran remaja saja, tapi hubungan yang dewasa. Maka menawarkan tubuhnya untuk uang, bukan sesuatu yang mengagetkan.


Dina menutup telepon, Hasan bilang akan mengirim alamat hotel tempat Dina ‘membayar hutangnya’.


Dalam hati Dina berkata, [Aku memang sudah sangat kotor, maka sekalian saja, kalau tubuhku bisa membantu ayahku, kenapa harus repot kerja, istri Budiman itu membuka fikiranku.] Dina tersenyum licik, dalam fikirannya, dia ingin sekaya istrinya Budiman lalu menghajarnya kelak, mungkin dari menjajakan tubuh dia akan cepat kaya.



“Ternyata benar ya, kau sangat cantik, tubuhmu juga bagus.” Hasan dan Dina sudah di hotel bintang dua, hotel di tengah pemukiman, khas untuk para lelaki mata keranjang yang bermalam untuk kepuasan bejat saja.


“Setelah ini, hutang ayahku lunas ya.” Dina memastikan.


“Kau tahu, kan, kalau hutang ayahmu sangat banyak, kuliah kalian aku yang membiayai, jadi satu malam saja tidak akan cukup gadis kecil.” Hasan membuat Dina kaget, tapi dia harus tetap melakukannya.


Lalu Dina mulai membuka bajunya dan melayani Hasan.


Satu jam Dina melayani lelaki bejat itu, sudah rentenir, mata keranjang pula, sungguh nasib yang sangat buruk sekali untuk Dina.


Hasan terlihat puas, dia tiduran dengan keadaan masih tanpa busana, sementara Dina sudah menutupi tubuhnya dengan handuk karena selesai mandi.


Hotel ini dan juga tubuh Dina, membuatnya jijik, karena hotel dan juga dirinya terlihat murahan. Tapi dia tidak akan membiarkan Hasan merendahkan lagi, dia akan membuat Hasan menandatangani surat pelunasan hutang ayahnya yang telah di cetak di tengah perjalanan menuju hotel tadi.


“Aku mengirim pesan ke hp mu, kau harus lihat.” Dina duduk di kaki tempat tidur, Hasan yang sedang puas merasa terganggu dengan kata-kata Dina.


“Perempuan brengsek!” Hasan mengatakan itu setelah mellihat video yang dikirim Dina, ternyata Dina merekam semua aktivitas mereka tadi, wajah Dina dan wajah hasan terlihat jelas sekali, Hasan bahkan memuji tubuh Dina berkali-kali, sangat menjijikan.


“Kau tanda tangani surat pelunasan hutang ini, lalu kita selesai sampai di sini saja, aku tidak akan menyebar video itu asal kau tidak menagih hutang pada ayahku.”


Melihat Dina yang tidak siap, karena membelakanginya, dia lalu meraih bantal yang ada di dekatnya, menarik tubuh Dina, menduduki tubuh kurus semampai itu dengan tubuhnya, dan menutup wajah Dina dengan bantal.


Dina berusaha melawan, tapi Hasan seorang lelaki yang masih sangat kuat, tentu Dina tidak akan berhasil melawan, perlahan Dina lemas, kehilangan oksigen mulai dari wajah hingga akhirnya dia tidak bergerak lagi.


Hasan masih menutup wajah Dina dengan bantal, setelah memastikan Dina sudah tidak bernyawa lagi, dia menarik bantalnya. Mata Dina terbelalak, kehabisan udara membuat ekspresi wajahnya menjadi mengerikan.


“Mampus kau wanita sundal! Kau fikir bisa bermain-main denganku?! Wanita aku suka, tapi uang lebih aku suka!” Setelah membunuhnya, dia masih sempat mandi dulu, memakai bajunya lagi, lalu memakaikan Dina baju, karena tadi dia hanya memakai handuk saja.


Setelah Dina pakai baju, dia meminta bantuan dari Petugas Hotel murah itu untuk membantu membawa Dina, katanya Dina mabuk sehingga harus mereka papah, Petugas Hotel tidak curiga, dia hanya membantu saja.


Hasan membawa  Dina ke hutan pinggir tol, menggali lubang dan memasukkan tubuh itu ke dalam lubang, tanpa kafan dan lubang itu tidak terlalu dalam.


Setelah selesai mengubur, Hasan tanpa rasa bersalah malah pergi ke tempat pemancingan yang melewati hotel itu, dia menghabiskan hari-hai berikutnya di sana, rencananya dia akan menagih kembali ayah Dina setelah merasa sudah cukup aman, tapi sebelum itu terjadi, Aditia dan Alka menemukannya.


Sementara, begitu Dina terbangun dari tidur lelapnya, dia lupa tentang dirinya, dia hanya ingat ayah dan ibunya, makanya dia selalu mengulang kata ILA, ILA, ILA, yang artinya ikut, ikut, ikut, dia sedang meminta bantuan dari para pengendara tol, meninggal dengan cara tragis, berakhir dengan wujud mengerikan, nyasar ke kerajaan jin, dibuang ke pinggir tol oleh penjaga kerajaan, Dina yang malang.


...


SAAT INI


“Kau tega sekali! Bagaimana jika adikmu, istrimu atau anak perempuanmu diperlakukan seperti Dina?” Aditia membentak Hasan setelah menceritakan semua itu.


“Adikku, istri dan anakku bukan wanita rendah seperti Dina.”


“Tapi! Dina tidak pantas kau bunuh!” Aditia masih kesal.


“Lalu pantas apa? aku nikahi?! Perempuan itu pasti sudah tidur dengan banyak pria, jijik aku jika harus menikahi wanita kotor seperti itu!” Hasan menghinanya.


Sementara ruh Dina perlahan kembali kepada wujud aslinya, seorang perempuan muda yang cantik tapi pucat karena sudah tak bernyawa.

__ADS_1


“Dina, kami akan bawa pria ini ke Polisi, setelahnya kami akan antar kamu kembali, pulanglah kembali kepada Tuhanmu, kami akan membantumu mengungkapkan semuanya, semoga kisahmu bisa menjadi pelajaan bagi siapapun yang mendengar kisah ini.” Alka berbicara pada Dina.


Dina menangis dan mengangguk, dia berbisik kata terima kasih.


Alka dan Aditia mengantar Pak Hasan pada Pak Dirga, Pak Dirga meminta anak buahnya mengumpulkan semua bukti, handuk bekas pakai, CCTV hotel dan Petugas yang membantu membawa Dina, Pak Dirga akan memastikan kasus Dina ke bawa ke Pengadilan hingga Hasan bisa dihukum setimpal.


Dina diantarkan oleh Aditia dan Alka, Dina pergi dengan tenang dan bahagia, hanya Tuhan yang berhak menghukum semua dosanya, kita manusia tidak berhak menghukum atau mencemooh, kewajiban kita adalah untuk hidup sebaik mungkin dalam jalan Tuhan.


“Ok, udah sampai.” Aditia mengantar Alka ke gua nya.


“Ya, Dit, besok pagi jemput ya, kita ke rumah Jarni dulu, gue mau tunaikan janji soal wasiat ayah.”


“Oh, ok.” Aditia tidak terlalu bersemangat.


“Dit, percayalah, apapun yang ayah lakukan, itu semua untuk kebaikan keluargamu, dia tidak pernah sedikitpun egois memikirkan dirinya sendiri, semua dia lakukan untuk keluargamu, percayalah.”


Aditia hanya mengangguk, setelah Alka turun dan memastikan dia masuk guanya, Aditia berkendara sendiri pulang ke rumah.


...


Pagi sudah datang, Aditia menjemput Alka, mereka akan ke rumah Jarni, hanya butuh aktu empat puluh menit mereka sampai, begitu sampai mereka disambut gerbang yang sangat besar, angkot Aditia di sambut oleh penjaga dan dibiarkan masuk karena Jarni sudah memberi pesan agar membiarkan angkot Aditia masuk tanpa diperiksa seperti biasa.


Mereka berdua turun dari angkot, seorang penjaga mendampingi mereka untuk langsung ke kamar kerja Jarni.


“Lama amat.” Jarni protes, ternyata sudah ada Ganding di sana, kamar kerja Jarni besar sekali.


Ruang ini tidak seperti ruang kamar kerja tapu sepertu ballromm dengan kapasitas dua pukuh orang, ada perpustakana mini, meja kerja yang besar, sofa set mwah berwarna abu-abu,  lemari pakaian yang terbuat dari kaca dengan gaun-gaun indah di dalamnya.


Aditia kagum melihat ruangan mewah itu,  Ganding duduk di sofa berhadapan dengan Jarni, mereka sedang mengobrol sambil melemlar senyum, mengobrol hal yang jarang Jarni lakukan.


"Udah aku pilihin tiga,  ganti di kamar ganti dulu ya." Jarni menarik Alka ke sebuah pintj yang Jarni bilang kamar ganti, bahkan di ruang ini ada kamar ganti.


"Dit, gue juga udah siapin buat lu, tapi gantian ya, setelah Alka baru kita, harusnya Jarni bikin kamar gantunya dua, kekecilan nih ruang kerjanya," ucal Ganding.


"Hah? kekecilan? ruang kerja Jarni ini luasnya sama ama ruang tengah gue digabung ama ruang makan dan dapur, elu masih bilang ini kurang gede,  emang anak orang kaya suka nggak puas."


"Ah ada anak orang kaya yang selalu puas dan nggak mau lebih."


"Masa, siapa?" Aditia penasaran.


"Elu."


"Gue kaya? gue cuma supir angkot, angkot warisan lagi."


"Seperti biasa Nding, pasti warna hitan pilihannya Kak Alka." Jarni sudah keluar dan membawa Alka yang mengenakan gaun resmi tertutup dengan panjang selutut, gaun itu terlihat mahal sekali, Alka sangat cantik dengan gaun itu.


"Tapi ini beda, kan, sama yang gaun terakhir dipake kak Alka?" Ganding bertanya.


"Iya beda, untung gue stock gaun warna hitam banyak."


"Udah bawel, cepeg dandanin gue." Alma berjalan ke meja kerja Jarni, sementara Ganding menarik Aditia ke kamar ganti.


Di dalam ternyata sudah ada setelan jas yang bagus dan lagi-lagi terlihat mewah.


Ganding memaksa Aditia memakai itu, setelah sudah siap dia membawa Aditia keluar lagi, ternyata Hartino juga sudah ada di sana, belakangan Aditia baru tahu kalau Alka memanggil mereka semua.


"Raja dan ratu sudah selesai dandan, giliran Jarni, Ganding dan Hartino berpakaian rapih, tidak perlu waktu lama, lima belas menit kemudian mereka berlima sudah rapih semua.


Laki-laki menggunakan jas dan sepatu mewah, yang perempuan memakai gaun, Jarni memakai gaun warna abu-abu tua dan Alka hitam, mereka berlima sangat terlihat tampan dan cantik dibalik busana mewah itu.


sementara di luar sudah menunggu mobil jeep besar untuk membawa mereka ke suatu tempat, Aditia bingung akan ke mana, tapi dia percaya, kamanapu itu, kawannya tidak akan mencelakai.


walau dalam hati, dia penasaran akan kemana mereka.

__ADS_1


__ADS_2