Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 290 : Tukang Bubur


__ADS_3

“Aku ingin bertemu dengan Rania, Har, aku mohon.” Alisha memohon untuk kesekian kalinya.


“Cha, kita bicarakan kelak ya.”


“Har, sampai kapan? Apa yang kalian sembunyikan, aku bahkan tidak bisa menghubungi siapapun saat ini, tidak Alka dan lainnya, semua orang tidak mau menjawab teleponku, ada apa dengan kalian semua?” Alisha mulai tidak bisa mengendalikan amarahnya.


“Alisha sayangku, istriku yang sangat cantik. Aku mohon, kita bicarakan ini nanti.”


“Baiklah, kalau kau masih saja tak mau memberitahuku soal ini, aku tak mau bicara padamu lagi.” Alisha sangat marah.


Dia pergi ke kamarnya dan membanting pintu.


Hampir setiap hari mereka selalu bertengkar, tepatnya Alisha mulai tidak memberi jeda untuk setiap pertanyaannya seperti sore ini, tapi selain itu, yang paling ditakuti Har adalah, ketika akhirnya dia menyadari bahwa ....


Hari berlalu, Har tidak pernah meninggalkan rumah, pekerjaan kantor dan juga kawanan, dia serahkan semua pada lima sekawan, sedang dia hanya mengurus Alisha, tapi Alisha tidak ingin disentuh, dia marah karena setelah beberapa lama pun, Har masih saja diam.


Pagi ini mereka sarapan, setelah sarapan Alisha tiba-tiba bertanya sesuatu yang membuat Har tersedak hingga sesak nafas.


“Har, belikan aku test pack ya.”


“Ke-kenapa kau meminta itu?” Har yang akhirnya setelah tenang dan sudah tidak tersedak lagi.


“Aku seharusnya sudah haid, tapi sejak pulang dari rumah sakit, aku tidak haid, aku takutnya aku hamil, karena kan kita sudah menikah, jadi bisa saja kan, kalau aku hamil.” Alisha terlihat sangat berbinar, bisa jadi ini adalah hari yang membuat Alisha mampu tersenyum lagi, setelah setiap hari dia hanya bertanya soal Rania.


Har terdiam, bukan dia tak mau membelikannya, karena pasti hasilnya negatif, Alisha tidak haid karena memang dia tidak punya rahim lagi, jadi tidak mungkin dia bisa haid.


Har bingung harus bagaimana, apakah dia harus memberitatahu semuanya? Tapi ....


“Har.” Alisha mengagetkan Hartino.


“Sha, ada yang mau aku bicarakan, tapi aku ingin bersama keluargaku saat memberitahumu, karena aku ingin kita berdua memiliki dukungan dalam menghadapi ini semua.”


“Har, apa seberat itu?” Alisha bertanya lagi.


“Ya.” Maksudnya untuk Alisha bukan Har.


Har mengumpulkan kawanan, kecuali Aditia, karena dia masih koma, kawanan meninggalkan Aditia dengan ibu dan adiknya.


“Kalian berkumpul? Kenapa kalian selama ini tidak bisa aku hubungi?” Alisha kesal.


“Cha, duduk dulu ya.” Mereka semua duduk di sofa apartemen Hartino dan Alisha, sofa yang membentuk huruf U. Alisha duduk diapit oleh Alka dan Jarni di sofa besar, sedang Hartino dan Ganding duduk di hadapannya menggunakan bangku yang diambil dari meja makan, agar mereka bsia duduk sedekat mungkin.


“Apa sih? aku jadi gugup, kenapa Alka dan Jarni duduk sedekat ini dan merangkulku?” Alisha mulai khawatir.


“Alisha, istriku yang cantik, setelah aku ceritakan semuanya, kau harus tetap bersamaku, kau harus berjanji, kalau kau pergi, aku bersumpah akan membuatmu menyesal, kau akan melihat mayatku jika kau berani melakukan itu.” Hartino memperingatkan Alisha.


“Tidak, aku tidak mau berjanji, jika itu taruhannya nyawamu.” Alisha tidak mau berjanji.


“Kalau begitu kau tidak akan tahu apa yang sebenarnya terjadi.” Har memaksa.


“Har, aku ....”


“Aku takkan memberitahumu, jika kau berani pergi.”


“Baiklah, aku berjanji.”


“Kalau begitu, pertama aku akan beritahumu soal Rania ... Rania dia ... dia ... telah tiada.” Har berat sekali mengatakannya.


“A-a-apa ....” Alisha sesak nafas mendengarnya, dia bahkan tidak mampu untuk berkata karena sesak.

__ADS_1


“Alisha Rania telah tiada.”


“Har! Jangan kau bicara sembarangan tentang adikku, setelah kau, dia adalah orang yang paling berharga dalam hidupku, aku takkan memaafkanmu jika ini hanya kesalahan kalian yang tidak benar-benar mencaritahu tentang Rania.” Alisha marah.


“Sha, maaf, aku sendiri yang menguburnya.” Alka berkata dengan mata berkaca-kaca, dia dan Jarni memegang tubuh Alisha dengan sangat kencang, tubuh itu lunglai dan gemetar, ini adalah waktu yang cukup tepat, karena Alisha sudah pulih.


“Ka, kau tidak bohong kan? Rania adik kecilku yang sangat baik hatinya, apakah benar dia telah tiada?”


“Ya, dia telah tiada.”


“Apa yang menyebabkan dia tiada?” Alisha sampai pada pertanyaan yang paling Har takuti.


“Rania mengunci Esash di dalam tubuhnya, lalu membuat jin jahat itu selamanya terkunci di tubuhnya.”


Rania berteriak, dia berteriak dengan sangat kencang, Alka dan Jarni memeluk Alisha, ini kenapa Har butuh keluarganya, bukan orang tua mereka, tapi kawanan, karena kawanan yang selalu ada dan mengerti penderitaan mereka.


Alisha masih terus berusaha untuk mengendalikan dirinya, pantas selama ini dia tidak merasakan kehadiran Esash, karena memang jin tua itu sudah ikut hilang bersama Rania.


“Apa dia melakukan itu karena ingin menyelamatkanku? Bagaimana mungkin Esash keluar dari tubuhku, karena dia sangat menginginkan tubuh perawan, sedang Rania sudah dilecehkan dan bahkan rahimnya rusak. Tidak mungkin Esash mau masuk ke dalam tubuhnya ... apa dia ....”


“Ya, dia membuat tubuhnya memiliki wangi yang sama sepertimu, dia melakukan banyak ritual agar bisa tercium seperti perawan.”


“Rania!!! Rania!!! Kenapa kalian membiarkannya mengorbankan diri, apa kalian membiarkannya agar aku selamat dan dia mati!” Alisha terus memanggil nama Rania dalam kekecewaan yang mendalam, pada dirinya sendiri.


“Tidak ada satu pun dari kami tahu soal rencana Rania, dia menutupinya Sha, bahkan aku menyadari bahwa dia akan berkoban saat-sat terakhir dia hendak mengorbankan dirinya, aku tidak bisa mencegahnya, karena dia merasa tidak akan bisa hidup tanpamu, maka dia lebih memilih menyerahkan hidupnya untukmu.” Alka mencoba menjelaskan.


“Seharusnya kalian menyelamatkan dia, bukannya malah mengorbankannya!” Alisha tetap tidak terima dan dia terus saja histeris.


“Sha, maafkan kami.” Jarni akhirnya bicara setelah melihat betapa pedihnya kehilangan orang yang paling disayang.


Semua orang memeluk Alisha, Alisha masih terus menangis, Har tidak mampu menceritakan soal Rahim Alisha, karena saat ini Alisha sudah sangat terguncang, Har memutuskan untuk menceritakan soal rahimnya kelak di waktu yang lebih baik lagi.


“Har, kapan kau akan memberitahunya soal rahim itu?” Mereka berkumpul di meja makan.


“Entah, aku menunggu dia tenang dulu, karena saat ini tidak tepat, Kak.”


“Har, semakin cepat semakin baik, kita harus menguatkan Alisha, kita takkan pernah meninggalkan kalian, kau tahu kan, kita tidak menjawab panggilan Alisha, hanya karena kau yang meminta dan tidak pernah kami melepaskan pengawasan kami kepada kalian, jadi aku mohon, kita hadapi bersama, jangan bersembunyi dengan kebohongan.” Alka menempatkan dirinya sebagai kakak pertama.


“Ya Kak, aku tahu aku harus segera memberitahunya, tapi aku mohon, beri aku waktu, aku takut, kalau dia sampai jatuh sakit dan akhirnya ... aku akan kehilangan dia, aku takkan sanggup hidup Kak.”


“Kalau begitu, cari waktu yang tepat, kami akan datang untuk menemanimu menjelaskan padanya.”


“Iya Kak, makasih ya.”


Lalu lima sekawan pamit, untuk kembali ke rumah sakit, menemani Aditia.


...


“Bubur! Bang bubur!” Surti memanggil tukang bubur, tukang bubur itu memang hanya jualan malam hari saja, seperti beberapa tukang makanan lain yang jual makanan di malam hari.


“Bang!” Surti terus memanggilnya, ini adalah rumah komplek, Surti kerja di salah satu rumah majikannya di komplek ini, keluarga Setiabudi.


“Abang!” Surti masih terus memanggil, karena abang bubur itu masih saja berjalan mendorong gerobaknya dan tidak berhenti, sementara Surti sudah mengejar abangnya terus berjalan bahkan tanpa mengurangi kecepatan, berjalan seperti biasa.


“Bang!!!” Akhirnya tibalah Surti di belakang abang bubur itu dan akhirnya abang bubur berhenti, namun tidak menoleh.


“Bang, dipanggilin juga dari tadi, beli bang, dua. Nih!” Surt menyodorkan mangkoknya, abang bubur itu tidak menoleh, tangannya bahkan masih berada di bagian dorongan gerobaknya.


“Bang, cepet ih, saya nggak boleh lama-lama nih keluar, ntar majikan saya marah.” Surti masih menyodorkan mangkoknya, abang bubur lalu mengulurkan tangannya kebelakang untuk mengambil mangkok yang Surti sodorkan, tubuh dan kepalanya sedikit saja menolehnya, hingga Surti tidak bisa melihat dengan jelas wajahnya.

__ADS_1


Lalu abang bubur yang memakai topi itu berpindah dari posisi mendorong gerobak, ke posisi menyiapkan pesanan, yaitu bagian samping gerobak.


Dia menunduk dan terlihat malas-malasan dalam menyiapkan buburnya.


Surti lalu menunggu buburnya di belakang tukang bubur itu, dia melihat keadaan sekeliling, sepi sekali, udara malam juga terasa dingin.


Sembari memperhatikan sekitar, dia akhirnya memperhatikan tukang bubur lagi yang menyiapkan buburnya.


“Bang, yang satu jangan pakai bawang, yang satu jangan pakai kacang ya.” Surti baru ingat, kalau majikannya ada permintaan khusus untuk buburnya.


Abang bubur hanya mengangguk.


Surti lalu menunggu lagi, abang buburnya cukup lelet dalam melayani, dia tidak menyendok buburnya pada dua mangkok sekaligus, seperti abang bubur pada umumnya, dia menyendok dan memberikan isian bubur satu persatu mangkok, ketika satu mangkok selesai, dia baru ke mangkok berikutnya.


“Bang, satenya ada nggak?” Surti tidak ingin makan buburnya, tapi sate bisa jadi camilan nanti di rumah. Majikannya juga tadi kasih uang lebih.


Abang itu lagi-lagi mengangguk.


Malam semakin larut, lama sekali memang abang bubur ini melayani, Surti membawa telepon genggamnya, rupanya majikan menelpon.


[Surti, dimana kamu? lama banget?] Ibu Setiabudi bertanya.


[Kan lagi beli bubur bu, ini lagi dilayanin, tapi tadi kelewat, abangnya nggak denger pas Surti panggil. Jadinya Surti ngejar, nggak jauh dari rumah kok.] Surti menjawab pertanyaan majikannya.


[Cepet pulang kalau udah selesai, udah malem banget nih.]


[Iya bu, kalau udah selesai, Surti langsung pulang.]


Surti bingung, dia baru keluar dari rumah tadi selepas Isya, kenapa tuannya malah bilang ini sudah malam sekali. Tapi Surti menganggap itu hanya respon berlebihan majikannya, dia memang wanita yang cerewet dan suka mengatur, jadinya Surti mengabaikan perkataan itu dan kembali menunggu.


“Ada sate apa, Bang?” Surti lalu berjalan semakin mendekati abang buburnya, dia melihat kotak plastik yang ada penutupnya, bentuknya persegi panjang, biasanya tukang bubur menaruh satenya di tempat plastik tebal seperti itu, letaknya ada di dekat pegangan pendorong gerobak.


Surti semakin mendekat dan tanpa meminta izin lagi, dia membuka kotak plastik itu, begitu kotak plastiknya dibuka ... bau busuk menyeruak.


“Astaga Bang! bau apaan nih! Kok bau busuk?” Belum juga kotak itu dibuka sempurna, hanya sedikit saja terbuka, sudah tercium bau busuk.


“Bang! ini bau apaan? Jualannya yang bener dong! kok ini bau busuk!” Surti masih terus mengomel karena dia tidak ditanggapi oleh tukang buburnya.


“Bang! budeg apa gimana sih! ini bau apaan! Jualannya bener nggak sih, itu buat majikan saya loh, kalau dia kenapa-kenapa, kamu bisa digebukin masa!”  Surti kesal, karena tukang bubur ini benar-benar tidak tahu sopan santun, sebagai orang bawah seharusnya dia mengerti bahwa ada adab yang harus dijaga, mulai dari tadi dipanggil, sampai sekarang tiba-tiba ada bau busuk dari tempat satenya.


“Bang!” Surti mendekat, ternyata bau busuk itu semakin terasa, bukan hanya dari kotak plastiknya, tapi dari seluruh gerobak itu dan juga ... dari tubuh tukang buburnya.


“Bang! kamu bau sekali!” Surti mundur. Tukang bubur itu tiba-tiba mengambil dua mangkok yang sudah selesai diisi dengan bubur sesuai permintaan Surti, dia masih saja menunduk.


“Bang, kalau bau mah nggak usah deh.” Abang bubur itu masih saja berjalan mendekati Surti yang sebenarnya sudah menjauh sekitar tiga langkah, abang itu terus saja menyodorkan buburnya, hingga akhirnya jarak mereka dekat. Surti masih saja ingin menolak bubur itu, tapi karena jarak mereka sudha sangat dekat, Surti melihat isi dari dua mangkok yang dia bawa dari rumah tadi, seharusnya isinya adalah bubur hangat dengan isian sesuai permintaan, tapi ... tapi ... isinya bukan bubur ... isi dari mangkok itu adalah cairan pekat yang berbau busuk, seperti air yang terkena tanah, entah apa.


“Bang! jangan sembarangan, ini bukan bubur ini apa!” Surti yang tadinya kaget, kembali marah dan menunjuk wajah abang bubur yang masih saja terus menunduk, Surti tidak sadar bahwa cahaya di sekitarnya redup, padahal di kompleknya lampu adalah hal yang sangat penting dan dijaga tetep menyala terang, karena takut ada maling kalau cahaya remang.


Abang bubur tidak menjawab, masih menyodorkan bubur saja.


“Bang, kamu jawab saya, ini apa! kalau kamu tidak jawab, saya teriak nih, biar orang pada datang dan memukuli kamu, jualan kok kayak gini sih!” Surt berbicara sambil menutup hidungnya karena bau busuk itu semakin menjadi.


“Iniiiiihhhhh.” Untuk pertama kalinya abang bubur itu berkata dan suaranya begitu membuat bulu kuduk merinding, bagaimana tidak, suara itu terdengar serak dan seperti kesulitan untuk bicara.


Saat berkata, abang bubur itu juga perlahan mengangkat kepalanya, wajah yang sedari tadi terutupi, akhirnya terlihat, seketika melihat wajah tukang bubur itu, Surti berteriak, tapi teriakannya tidak terdengar siapapun, suara Surti tidak keluar sama sekali, dia mencoba berteriak lagi, tapi suaranya masih saja tidak keluar, Surti lemas dan akhirnya gelap! Dia pingsan.


_______________________________


Catatan Penulis :

__ADS_1


Merinding euy, ampe nyalain lampu kamar pas ngetik, biasanya berani. Nggak tahu ini merinding berkali-kali. Kalian juga gitu nggak? komentar ya.


__ADS_2