
Mulyana mendekati perempuan itu, dia sedang melafal mantra, Mulyana berusaha meraih bahunya, tapi sayang, dia malah mental. “
“Kau kenapa?” Dirga bertanya.
“Sungguh mengerikan!” Mulyana hanya berkata begitu.
“Apa yang mengerikan?” Dirga bertanya pada temannya.
“Energinya sangat kelam, sangat amat gelap, energi seperti itu, hanya dimiliki oleh makhluk yang memiliki dendam sangat dalam pada seseorang.”
“Dia dendam pada siapa? kekasihnya? Bukankah katamu dia menunggu kekasihnya?” Dirga bingung.
“Ya, tidak tahu dia dendam pada siapa, lalu apakah memang kekasih yang dia tunggu itu seseorang yang dia dendamkan, aku tidak tahu, tapi makhluk begitu, kemungkinan sulit untuk dibujuk. Tapi satu hal yang pasti, dia bukan jin, dia ruh yang tersesat, aku sudah curiga sejak awal, karena energinya memang ruh, bukan jin.”
“Kita harus apa sekarang?”
“Ga, kita balik deh ke rumahmu saja, karena aku tidak bisa menyelesaikan masalah ini sekarang, aku harus bertanya pada ayahku dan Karuhunnya.”
“Karuhun? Apa itu?”
“Karuhun adalah jin leluhur yang menjaga kami, jin itu memberi energi yang tinggi pada ilmu yang kami terima sejak lahir.”
“Wah, keluarga kalian memang benar-benar sangat mengagumkan, aku jadi iri.”
“Coba kau bicara pada Aep, dia pasti memukulmu, karena dia selalu mengeluh, tidak suka lahir di keluarga ini, dia benci hal ghaib. Dulu karena terpaksa, dia harus berlatih, tapi setelah bebas, dia sangat bahagia.”
“Ya, setiap orang berbeda-beda, tentu saja Yan. Tapi jujur, aku sangat suka berteman dengan kakak beradik aneh seperti kalian, apalagi kau sangat percaya padaku, tak takut kalau aku membicarakan kalian di belakang, mengatakan bahwa kalian adalah orang-orang aneh yang berhubungan dengan hal ghaib. Aku benar-benar berterima kasih kau jujur padaku, Yan.”
“Ya, bukan cuma pasangan yang berjodoh, bahkan teman saja itu jodoh-jodohan, sejak awal ketemu, aku hanya merasa percaya saja padamu, ditambah kau ini orang yang fokus, jadi aku suka, kau pasti bisa selalu membantuku kelak kalau benar-benar bisa jadi Polisi.”
“Aku tidak suka bagian ini, itu artinya kau mencoba memanfaatkanku.” Dirga merajuk.
“Bukan memanfaatkan, tapi memberdayakan.”
“Kau hanya memperhalusnya, bagiku terdengar sama saja.”
“Sudah jangan merajuk, yuk kita pulang, aku juga punya firasat lelaki tua itu sudah kembali lagi, maka dari itu, yuk kita buru-buru ke rumahmu.” Mulyana mengajak pulang.
Tak butuh waktu lama mereka sampai rumah, begitu masuk, Mulyana tahu, kakek itu ada, dia langsung berlari ke arah pintu suatu kamar.
“Ini kamar orang tuamu?” Mulyana bertanya.
“Ya, ini kamar orang tuaku, kenapa?”
__ADS_1
“Dia ada di sini, tapi aku sungkan masuk.” Mulyana mengatakan niatnya.
“Mereka berdua kalau tidur kebo, susah dibangunin, masuk saja.”
Mulyana mengangguk lalu membuka pintu itu, dia heran, pintu tak dikunci, karena biasanya kamar milik orang tua, selalu dikunci, apakah memang dua suami istri ini tidak lagi memiliki waktu privasi yang membuat mereka harus menfgunci pintunya?
Mulyana mengendap, dalam kegelapan dia bingung, karena benar kata Dirga, orang tuanya tak bangun sama sekali. Dirga semakin mendekat pada ranjang orang tuanya, tapi begitu dia berhasil sampai pada ranjang itu, bau menyengat semakin terasa, Dirga paham, Mulyana bahkan pernah memperingatkannya tentang makhluk halus yang memiliki bau menyengat, maka Dirga memberi isyarat pada Mulyana untuk mendekat, karena makhluk itu mungkin bisa saja ada dan menyerang, karena Dirga tak bisa melihat.
Mulyana diam, karena dengan jelas, makhluk itu berdiri di dua tubuh orang tuanya, satu di tubuh istrinya dan yang satu lagi di tubuh suaminya, sungguh pemandangan yang sangat menakutkan.
“Apa yang kau inginkan?” Mulyana bertanya karena dia tahu, sosok ini tak mungkin melepas kedua orang tuanya Dirga.
“Ada, Yan?” Dirga bertanya.
“Ada.”
“Di mana?”Dirga bertanya lagi.
Mulyana menunjuk pada arah yang dia lihat.
“Di atas kasur orang tua gue? dia melayang?” DIrga masih bertanya lagi.
“TIdak, dia berpijak pada ... tubuh orang tuamu.”
Dirga terjatuh, dia teringat setiap kali ibunya bangun, dia selalu mengeluh kesakitan di bagian perut, tentu saja hal itu akan terjadi, jika yang Mulyana katakan benar, sekarang posisi ibunya sedang terlentang dan posisi Mulyana menunjuk adalah arah yang sejajar dengan bagian perut ibunya.
“Pergi kau anak muda, apa kau benar-benar ingin aku celakakan?” Kakek tua itu terlihat marah, karena Mulyana muda berani sekali mengusirnya.
“Tidak akan, lepaskan dulu orang tua temanku.”
Kakek itu tiba-tiba melesat dan menempel pada tubuh DIrga dengan cara menggendong, wajahnya semakin menghitam.
“Sekarang apa lagi?” Mulyana mengubah arah berbicaranya, dia menghadap Dirga, karena kakek itu memang ad di sana.
“Apa Yan?” Dirga tak paham, walau sekarang dia merasa bahu dan punggungnya berat, tapi dia tak paham bahwa kakek itu sekarang menempel padanya.
“Aku tidak bicara padamu.”
“Hah, lalu ....” Dirga perlahan melihat ke arah belakangnya sambil ketakutan, tetap saja tak ada yang bisa dia lihat.
“Dia ada di mana?” Dirga bertanya dengan ketakutan, tak mampu bergerak karena rasa takut yang besar itu.
“Punggungmu!” Mulyana setelah mengatakan itu, lalu berlari hendak bertarung dengan kakek itu.
__ADS_1
Tapi lagi-lagi kakek itu hilang, entah ke mana perginya, dia sungguh membuat Mulyana kesal, hari ini gagal lagi, apakah dia harus bertanya juga pada ayahnya, semakin hari, kenapa kasus-kasus yang dihadapinya menjadi semakin pelik.
Mulyana dan Dirga akhirnya pergi ke kamar Dirga dan memperbincangkan apa yang terjadi sebelumnya.
"Apa yang dia lakukan dengan tubuh ibu dan ayahku, apa dia yang mengendalikan mereka berdua?"
"Kemungkinan itu tinggi, dia memberi energi negatif pada papa dan mamamu. Kupikir dia hanya mempengaruhi mamamu, tapi dia juga mempengaruhi mamamu."
"Ya, tentu saja dia mempengaruhi dua-duanya, orang dua-duanya yang dingin kok."
"Kupikir awalnya, hanya ibumu yang membuat rumah tangga jadi tak nyaman, lalu sikap ayahmu hanya efek domino dari sikap ibumu, ya kau tahu kan, manusia itu paling tidak suka disepelekan, lalu marah dan hubungan bisa memburuk.
Tapi aku salah, ternyata kakek itu mengendalikan dua tubuh orang tuamu untuk menghancurkan perkawinan mereka."
"Aku harus bagaimana? mengetahui ini aku jadi sedih, bagaimana jika dua orang yang saling mencintai, akhirnya berpisah karena pengaruh jin?" Dirga sedih.
"Aku bilang kan, aku akan bantu, kau tenang ya, ibadahnya dikencengin di rumah ini, bantu aku sementara mendapat jawaban, bikin kakek itu tak nyaman di rumah yang dihiasai ibadah yang kuat, ajak juga papa dan mamamu untuk solat dan mengaji bersama."
"Iya, Yan. Aku nggak ngebayangin kalau nggak ketemu kamu, gimana nasib orang tuaku."
"Setiap pertemuan itu takdir, pasti ada maksud baik di dalamnya."
Lalu mereka berdua akhirnya tidur, karena lelah, menghadapi 2 kasus hari ini yang belum selesai membuat mereka kelelahan.
...
"Jadi begitu Yah, aku tidak tahu, wanita itu siapa, apakah dia jin atau ruh, sedang kakek tua di rumah Dirga entah aku sangsi dia penunggu rumah ini, aku merasa tujuannya adalah memang menghancurkan rumah tangga mama dan papa Har." Mulyana bercerita pada ayahnya dan Aep, mereka di ruang keluarga, bersantai setelah makan malam, ibunya kembali ke kamar tidak ikut ngobrol.
"Kalau kakek itu, aku bisa menebak, kau pernah dengar tentang jin Dasim?" Drabya bertanya.
"Tidak, siapa itu?"
"Dasim adalah jin paling kuat dalam kategori penggoda manusia, penggodaannya pun spesifik, dia hanya menggoda pasangan suami istri untuk bercerai.
Langkah Dasim itu memiliki pola yang sama, langkah pertama yang Dasim pilih biasanya adalah, membuat pasangan saling membenci, tahap awal, para pasangan akan bertengkar, tahap akhir, para pasangan akan menciptakan iklim yang dingin bagi rumah tangga mereka dan mulai mencari orang lain untuk merasa kehangatan lagi, maka senjata Dasim yang menggunakan kecemburuan, amarah dan rasa tak menghargai sudah berhasil, jika akhirnya orang yang dia goda bercerai, maka pengakuan sebagai jin terkuat, akan dia dapatkan." Drabya menjelaskan.
"Oh pantas saja kakek itu marah sekali padaku, ternyata dia menggoda keluarga Dirga itu sudah tahap akhir, hampir saja dia mendapatkan pengakuan, tapi aku malah datang hendak menggagalkan rencananya."
"Tapi, dia bukan jin petarung, kau hanya perlu menangkapnya, dia takkan berkutik, tapi ya itu, dia pandai kabur, aku pernah menangkap beberapa, walau akhirnya tak bertarung, tapi aku sering kelelahan untuk menangkapnya, siapkan staminamu." Drabya mengingatkan, walau tak berat, tapi bukan berarti tak sulit.
"Baiklah, Ayah. Lalu bagaimana dengan wanita itu?"
"Ini yang berat, kalau kau mental, dia punya energi yang tinggi, bawalah keris ini dan juga ikut sertakan Wangsa besamamu, karena aku khawatir, wanita itu bukan ruh biasa. Mulailah dari tempat di mana kau menemukannya pertama kali, cari tahu tempat apa itu, ada legenda apa di sana, maka kau mungkin bisa menelusuri siapa perempuan itu."
__ADS_1
"Baik ayah, terima kasih, aku akan lakukan seperti yang ayah katakan."
Aep hanya mendengar cerita saja, tanpa ingin terlibat di dalamnya.