Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 210 : Tinung 14


__ADS_3

"Keluar kau!" Ganding berteriak di depan air terjun, dia tidak ingin berbasa-basi.


Tidak ada jawaban, hanya air jatuh dengan deraslah yang terdengar.


Jarni melemparkan ular mininya, ular itu tanpa diperintah lamgsung masuk ke dalam air terjun. Sepertinya di balik air terjun itu ada gua.


Tidak lama kemudian, Jarni menangkap ular-uparjya yang dilempar kembali, beberapa di antaranya mati.


"Brengsek!" Jarni marah karena ular peliharannya ada yang mari. Dia berlari masuk ke dalam gua yang ada dibalik air terjun. Ganding dan Hartino mengikutinya.


Begitu masuk gua, bau anyir terasa. Mereka bertiga masuk ke dalam. Ada banyak jiwa yang terantai.


"Makhluk gila, dia tidak menghabisi mereka sekaligus setelah lepas dari raganya. Jin laknat itu menyiksa jiwa-jiwa ini terlebih dahulu." Hartino kesal.


Jarni hendak masuk semakin dalam, tapi Hartino mencegahnya.


"Kita lepasin aja makanannya, nanti dia juga keluar." Hartino tersenyum licik. Jarni tertawa, ini balas dendan yang cukup sepadan, karena tadi dia sudha membunuh ular-ular Jarni, sekarang lepaskan saja makanannya, biar dia kelaparan.


Mereka bertiga melepaskan jiwa-jiwa tawanannya. Tak perlu menunggu waktu lama. Seorang kakek dengan wajah menghitam dan tubuh kurus keluar, dia berjalan dengan kaki diseret.


Jarni mengernyitkan dahi, karena tampilan jin ini sungguh diluar ekspektasi. Begitu banyak jiwa yang ditawan tidak seharusnya dia terlihat kelaparan seperti itu.


Yang Jarni harapkan adalah, jin itu telrihat sangat gendut, dengan perut buncit dan amukan yang dasyat.


Tapi yang keluar hanyalah seorang kakek yang menyedihkan seperti ini.


"Kalian siapa?" tanyanya. Suaranya begitu lirih, mirip kakek-kakek yang sedang kelaparan.


"Kami hendak meminta bantuan Kek." Ganding kaget karena Jarni tiba-tiba jadi lembut, tadi bukannya dia marah beberapa ularnya dibunuh.


"Apa?" Tanyanya, dia duduk di salah satu batu yang ada di situ. Jarni mendekat, Ganding menahan tangannya, tapi Jarni bersikeras dengan menatap Ganding, maksudnya lepaskan tangan Jarni.


Ganding tidak melepasnya tapi dia ikut maju, Hartino mengikuti mereka.


Jarni duduk dihadapan kakek itu.


"Aku Jarni kek, ini Ganding dan ini Hartino." Jarni memperkenalkan diri.


"Panggil aku Igaf, kalian butuh apa?" Kakek tua yang menyedihkan itu bertanya.


"Kami butuh Kakek Igaf bantu kami untuk mengeluarkan jiwa dalam tubuh seseorang." Jarni lamgsung lada intinya tanpa bertanya.


"Jelaskan dulu siapa kalian."


"Kami ada enam orang, kami biasa menangani kasus ghaib. Kami menolong orang tanpa tarif. Saat ini kakak kami terkena musibah, dia pemimoin kami, dia itu ... setengah jin setengah manusia. Darahnya telah dikuras habis oleh dukun yang membangkitkan anaknya melalui tubuh lain ...."


"Dia mengambil darah kakakmu untuk mempertahankan energi jiwanya." Kakek itu menebak dan itu benar.


"Benar begitu Kek."


"Lalu aku untuk apa?"


"Kami butuh supaya jiwa itu dikeluarkan dari tubuh yang ditumpanginya lalu jiwa yang sebenarnya masuk lagi, sehingga darah kakak kami bisa dikembalikan melalui proses cuci darah."

__ADS_1


"Wah rumit sekali ya. Lalu imbalan untukku apa?" tanyanya.


Jarni kembali mendekat, Ganding kaget Jarni melakukan gerakan tiba-tiba itu.


"Kau tahu, jiwa yang akan kau dapatkan adalah jiwa yang telah memakan jiwa bayi setelah bayi itu berumur 6 bulan, bayi yang lahir di hari yang sangat baik, jiwa dan energi bayi itu diserap karena sangat baik bagi kelangaungan jiwa sesat itu.


Kau bisa bayangkan bukan? Betapa lezatnya jiwa itu, yang menyimpan banyak energi, mungkin setelah ini kau akan kenyang dan bisa hidup lama tanpa harus mencari korban lagi."


Kakek itu terlihat biasa saja tidak terpancing.


"Satu lagi Kek, kalau ini berhasil, kau menyelamatkan dua nyawa sekaligus. Bukankah itu kebaikan? Tuhan suka pada makhluk yang melakukan kebaikan bukan?"


Kekek itu terlihat senang, senyum tersembunyi terlihat jelas di raut wajahnya. Jarni yang jarang bicara, darimana ide itu bisa muncul. Dia memamg gadis cerdas. Pantas Alka sangat menyayanginya.


"Ayolah kalau begitu." Kakek itu bersemangat dan mulai berdiri.


"Kek, masuk sini aja. Kelamaan kalau jalannya begitu." Jarni meminta kakek itu masuk ke botol kaca kecil yang sudah dia persiapkan.


"Ya, aku akan masuk ke situ."


"Ya, anggaplah rumahmu sendiri." Jarni berkata sembari membuka tutup botol yang terbuat dari and ptongan kayu itu.


"Ya, aku akan menganggap ini rumahku. Kau sangat baik." Kakek itu lalu masuk dengan sukarela. Jarni menutupnya lalu mereka kembali ke markas.


Setelah sampai Jarni menaruh botol kaca di tempat yang aman.


Lalu mereka istirahat sambip makan.


"Kalian pasti bingung kenapa aku jadi lebih lembut pada kakek itu?" Jarni memebak, Hartino juga penasaran.


"Aku memang marah ular-ular cantikku mati tadi, ularku memang banyak, tapi mati beberapa tetap saja membuatku sangat marah. Aku rasanya ingin membunuh jin itu. Saat melihatnya keluar, dengan tubuh kurus, jalan terseok, wajah menyedihkan. Padahal, jiwa yang kita bebaskan adalah santapan siap sedia yang bisa dihabisi.


Dari sini aku tahu, dia adalah jin kelaparan. Jin yang tidak pernah merasa kenyang. Masa lalunya pasti sangat kelam hingga Tuhan menghukumnya sangat keras.


Menjadi jin yang kelaparan, aku langsung menebak kalau sebanyak apapun dia makan, dia akan tetap kelaparan.


Awalnya aku pikir dia akan sangat senang ketika aku menawarkan rasa kenyang yang mungkin dia inginkan sejak lama.


Tapi ternyata bukan, dia jauh lebih suka jika itu bisa membuatnya melakukan kebaikan dan dimaafkan Tuhan. Berarti benar dugaanku bahwa dia ingin pengampunan dari Tuhan, justru itu lebih mudah bukan?” Jarni menutup penjelasannya.


“Wah, kau sudah ketularan Alka dalam menganalisa sesuatu, karena bisa mengambil keputusan dalam waktu yang sangat cepat.” Hartino berkata sambil menyuap makanannya.


“Wanita cerdas,”Ganding memuji.


“Kita tunggu Aditi dan Lais ya, semoga mereka menemukan Tinung dan dukun brengsek itu. Karena waktu kita hanya sampai besok.” Jarni berharap karena waktu mereka tidak banyak.


Sementara di jam yang sama, seorang pemuda dan pemudi sedang berkelahi dengan seorang lelaki yang cukup matang.


Alisha memegang pedangnya dengan tangan berlumuran darah, Aditia dengan kerisnya yang sudah patah bagian ujungnya, itu karena terkena pedang Alisha, mereka sama-sama menyerang dukun itu, tapi bukannya kena malah senjata Alisha mematahkan kerisnya Aditia.


Mereka sudah babak belur, dukun ini memang bukan orang biasa, pantas Alka bisa dikelabuinya dengan mudah.


“Lais, kita akan kehabisan waktu kalau begini, keluarkan khodam kita, kau punya bukan?” Aditia bertanya, Alisha terdiam, karena dia tidak diperbolehkan meminta terlalu banyak pada khodamnya, karena itu berbahaya, dia sudah meminta pertolongan khodamnya sebelum ini, lalu kalau sekaran dia meminta bantuan lagi, harusnya bahaya untuk dirinya sendiri.

__ADS_1


“Ayo, kita lakukan.” Alisha memilih melakukannya walau ini berbahaya, karena Alka yang menolongnya harus segera ditolong sekarang.


Khodam mereka keluar, kekuatan mereka sekarang menjadi lebih banyak. Dukun itu kaget saat melihat Khodam Alisha, dia melihat ada energi hitam yang sangat pekat, bahkan lebih pekat dari miliknya.


Tapi dia tidak bisa menyerah, anaknya baru saha memulai hidup baru, dia hanya seorang ayah yang ingin anaknya hidup dengan baik, makanya dia mati-matian akan membuat anaknya hidup dengan tenang dan damai. Dia akan hadapi siapapun yang hendak mencelakai ayahnya.


Khodam Alisha menyerang dari depan, dia terus melakukan gerakan memukul tapi pada angin, setiap pukulannya membuat dukun itu terlempar beberapa langkah, persis seperti ketika Alisha menendang pagar ghaib itu, getaran tendangannya sangat kuat, dari khodam ini ternyata.


Khodam itu menyerang tanpa henti, hingga akhirnya dukun itu terpelanting, karuhun Aditia memanfaatkan jatuhnya dukun itu, dia menyerang kepalanya, dia menahan kepalanya dengan tangan, sementara dua orang itu langsung memegang tangan dan kakinya khodam Alisha mendekat dan kembali memukul angin tepat di hadapan dukun itu. Seketika dia muntah darah karena pukul yang begitu dekat itu, padahal tidak menyentuh sama sekali, tapi karena saking kuatnya pukulan itu, maka dukun itu muntah darah karena pukulan itu menyerang organ vital.


Ini adalah langkah terakhir karena mereka sudah bertarung sejak pagi begitu Aditia menemukan mereka, dia meminta karuhunnya untuk mencari dukun itu melalui energi yang terdeteksi, menemukan mereka jauh lebih mudah dari pada menghabisi dukunnya.


Setelah muntah darah, dukun itu pingsan.


Alisha dan Aditia masuk ke dalam, sudah ada seorang wanita yang terbaring, dia terlihat lemah. Tentu saja, jiwa yang masuk ke dalam tubuh bukan miliknya, dia butuh energi yang cukup banyak untuk membuat tubuh itu sehat dan menjadi miliknya, darah Alka tidak membantu mereka terlalu banyak, mungkin karena Alka membuat darahnya sendiri menjadi tidak berguna karena dia tidak bersedia melindungi yang telah melakukan perjanjian dengannya dan dia dihukum oleh kitab perjanjian itu.


“Gendong tubuh dia Dit, kita harus cepat bawa dia ke markas, siapa tahu Hartino dan yang lainnya sudah membawa jin air terjun itu, waktu kita hanya tinggal besok.” Alisha mengingatkan.


Aditia menggendongnya setelah sebelumnya mengikat manusia tumpangan itu dengan ikatan ghaib, agar Tinung tidak memberontak dalam tubuh manusia ini.


“Cukup lama mereka sampai ke markas, begitu sampai sudah cukup malam, yang lain sudah ketiduran di ruang tamu menunggu Aditia dan Alisha.


“Ini dia Tinung.” Aditia membaringkan Tinung di sofa, yang lain sudah bangun dari tidur mereka.


“Bagaimana? kalian sudah menemukan jin itu dan membujuknya mengeluarkan Tinung?” Alisha bertanya.


“Sudah Lais, kita sudah mendapatkannya.” Hartino berbicara seolah dialah yang berperan, Handing dan Jarni saling lihat dan tersenyum karena tahu, ada yang sedang mencari perhatian.


Jarni mengeluarkan jin itu dari botol, lalu setelah jin itu keluar dari botol, dia bingung, karena berada di markas yang cukup menakutkan, pagar ghaibnya terlalu tinggi dan sesak bagi dia.


“Ini wanita yang telah ditumpangi, keluarkan Tinung dari tubuh ini.” Jarni meminta tolong, jin itu mendekati Tinung.


“Wah, energinya sangat besar, tapi bodohnya dia kalau merasa energi hitam bisa membuat dirinya memiliki tubuh ini.” Jin itu menghina.


Jin itu mendekati tubuh manusia tumpangan dan dia memegang kepalanya, setela itu dia menarik dari kepala itu hingga Tinung keluar melalui ubun-ubun karena ditarik oleh jin air terjun itu.


Setelah dia keluar sempurna, dia langsung menyerang jin itu, tapi tidak bisa, rupanya ada semacam ikatan batin ketika dia dikeluarkan oleh jin air terjun, Tinung menjadi tidak mampu menyerangnya.


“Masuk botol lagi ya Kek sama Tinung, kau bisa menikmatinya sementara waktu, sebelum dia kami pulangkan. Kau tahu kan maksudku? Mengambil pelan-pelan energinya.” Jarni membujuk agar Jin itu mau masuk ke botol bersam Tinung. Kalau mereka dilepas akan sangat berbahaya, dua jiwa sesat ini bisa membuat dunia semakin hancur.


“Kau pikir aku tidak tahu kalau kau sengaja?” Kakek itu menegur Jarni.


“Apa ini?” Aditia bingung.


“Kau secara tidak langsung telah membuat perjanjian denganku anak licik!” jin itu kesal tapi gemas dengan tingkah Jarni.


“Perjanjian apa Jarni?” Ganding bingung.


“Aku bilang gini, masuk sini kek, anggap aja rumah sendiri,” katanya Jarni sembari menunjuk botol tempat kakek itu dimasukan, “lalu kakek itu menjawab kalau dia setuju. Maka ... bukankah kami telah melakukan perjanjian? Aku meminta dia masuk ke botol dan dia setuju, maka setiap kali aku memintanya masuk ke botol dia tidak akan menolak, memang tidak ada yang ampuh untuk megakali jin selain dengan perjanjian yang selalu jin gunakan untuk menipu anak cucu adam.


“Aku menyadari kau telah mengelabuiku setelah aku masuk botol itu, dasar anak licik.” Jin itu masuk ke dalam botol dan akhirnya menikmat energi yang diambil dari Tinung, sementara manusia yang tadi ditumpangi ini telah memiliki jiwanya sendiri, karena dukun itu juga menyimpan jiwanya pada sebuah botol di tempat mereka menemukan Tinung.


“Ayo bawa dia ke rumah sakit, kita harus menemui Dokter Adi.” Aditia meminta semua orang untuk bergegas, waktu mereka hanya sampai besok dan proses medis harus segera dilakukan agar Alka bisa segera pulih seperti semula.

__ADS_1


__ADS_2