Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 266 : Esash 2


__ADS_3

Esash mendekati Rania, dia mencium wangi tubuh Rania, sangat harum seperti seorang perawan yang dia idamkan, tubuh itu adalah tubuh yang Esash kejar dari Alisha.


Esash mendekati Rania dan perlahan memasuki tubuh Rania dan akhirnya menerima Rania sebagai calon tubuh baru yang akan dia tempati dan mungkin menjadikan tubuh Rania sebagai rumah miliknya.


Begitu Esash masuk, Rania berlari dengan sangat berat ke arah altar yang dia siapkan, altar yang begitu banyak sajen.


Sangat berat kaki Rania untuk sampai altar itu, Alka mendekati Rania, menundukannya dengan sangat sulit, karena tubuh itu sudah mulai dikuasai Esash.


“Lakukan sekarang, lakukan!” Rania berteriak pada Alka.


“Rania, maafkan aku.” Alka berteriak, dia merubah wujudnya menjadi wujud jin, lalu menusuk Rania tepat di jantungnya dengan sebuah pisau yang tidak Aditia kenali, pisau yang tidak terlalu besar, tapi cukup panjang, di pegangannya terdapat batu berwarna hijau, batu ruby hijau, batu itu menjadi bersinar ketika menyentuh jantung Rania.


Saat ditusuk, Rania masih tersadar, menahan sakit itu dan mengucapkan mantra terakhirnya, mantra itu adalah mantra yang pengikat antara tuan dan khodamnya, mantra yang seharusnya Alisha ucapkan ketika dia menyerahkan tubuh miliknya kepada Esash, tapi belum dia ucapkan karena keburu koma dan Esash menahan jiwa Alisha hingga tidak mampu bangun bahkan saat jiwa itu masih di dalam tubuhnya.


Setelah mantra pengikat, Alisha lalu membisikkan sesuatu kepada Alka dan akhirnya tumbang, dengan Esash yang terikat selamanya dalam tubuh mati itu, tubuh Rania menjadi seperti peti mati yang bermantra bagi Esash, dia tidak akan bisa keluar dari sana kecuali Rania membatalkan mantra itu, sementara Rania telah ... meninggal dunia.


“Ada apa lagi ini Kak?” Hartino meminta penjelasan pada Alka.


“Keluarkan dulu Alisha dari ruangan ini, kita perlu mengurus tubuh Rania, aku akan memakamkannya dia dekat gua kita, agar kelak Alisha bisa sering mengunjungi Rania.” Tanpa menjawab pertanyaan Hartino Alka lalu pergi dan membawa tubuh Rania keluar.


Semua orang terdiam, mereka tidak menyangka Rania memilih cara ini, tidak ada yang tahu soal ini kecuali Alka, jujur ini membuat Aditia lagi-lagi kecewa, kenapa Alka sering sekali tidak jujur dan cenderung menyembunyikan banyak hal, apalagi hal segenting ini.


Alisha kembali ke kamar, Hartino tetap menungguinya, sementara Alka mengurus pemakaman Rania bersama teman-teman jinnya, dia juga memasang jimat pengikat, hanya untuk jaga-jaga jika Esash bisa menemukan cara mematahkan mantra yang telah Rania ucapkan.


Jadi ada penjagaan yang ganda sesuai pesan Rania, setelah selesai pemakaman, mereka berdoa, Alka dan teman-teman jinnya, untuk ketengan Rania, selesai prosesi pemakaman, Alka akhirnya kembali ke rumah sakit.


Sudah tengah malam, tapi semua orang tidak ada yang tertidur, menunggu Alka, Alka lelah tapi mereka butuh penjelasan, maka Alka akan menceritakan semuanya.


DUA HARI YANG LALU


“Begitu Esash keluar, kita harus cari cara untuk mengurungnya, dia tidak bisa dimusnahkan karena terlalu licik dan berilmu tinggi, sulit memusnahkan dia, kita harus menipunya.” Rania berbicara, mereka sedang di gua Alka, mencari cara bagaimana agar Esash keluar dari tubuh Alisha, Rania meminta berbicara berdua saja, karena banyak kepala, banyak yang harus diyakinkan, Rania merasa nyaman berbicara dengan Alka karena Alka yang paling fleksibel, buktinya dia membantu Alisha untuk masuk ke kawanan.


“Caranya?” Rania bertanya.


“Setelah Esash keluar, kita harus memasukkan dia ke tubuh baru, tubuh yang dia sukai, setelah dia terbujuk untuk masuk ke tubuh itu, kita langsung menguncinya dengan perjanjian yang tenggat waktunya dilepas saat itu juga, setelah itu, kita harus membuat dia terkunci selamanya ditubuh itu tanpa bisa memanfaatkan tubuh barunya untuk berbuat kejahatan.”


“Tubuh siapa? cara mengunci selamanya bagaimana?” Alka bertanya.


“Tubuhku ....”

__ADS_1


“Tidak! pertama Esash takkan mau masuk ke tubuhmu, maaf aku harus jujur, kau tidak punya wangi seorang perawan, aku jin, aku tahu wangi itu, berarti kau bukan gadis suci, kedua, kalau andaipun Esash tertipu masuk ke tubuhmu, maka kau harus mati untuk mengunci dia selamanya, kau gila!” Alka kesal dan dia sangat marah, seperti dugaan Rania, satu kepala saja akan sulit untuk ditaklukan.


“Pertama, kau benar, aku bukan perawan, aku juga sangat kotor, makanya kau butuh kau untuk membantuku membuat tubuhku sewangi Alisha, kedua, memang mati satu-satunya jalan agar Esash terkunci selamanya. Kau mau Esash benar-benar bangkit? Lalu merusak dunia ini dengan tubuhku? Jika dia tak sadar aku bukan perempuan suci, kalau dia sadar dirinya perempuan suci, maka dia akan mengamuk saat sadar bahwa kita merusak tubuh Alisha agar dia keluar dan akhirnya dia akan membunuh kalian semua? Mana yang kau pilih? Kawananmu? Atau aku?”


“Itu bukan pilihan, aku takkan pernah memilih kematian seseorang untuk kehidupan yang lain, Rania kau tidak akan bisa memaksaku.” Alka hendak hengkang karena kesal dengan ide Rania.


“Alka, aku mohon, aku tidak punya siapapun di dunia ini yang melindungiku seperti adiknya sendiri, Alisha hidupku, dia jauh lebih penting bahkan dari keluargaku sendiri, aku bersamanya, mengabdi kepadanya, dia itu hidupku, maka jika dia tiada, aku tidak akan bisa hidup, aku akan merusak hidupnya, menjadikan dirinya seperti diriku, padahal dulu dia menyelamatkanku, tapi aku tidak bisa menyelamatkannya, kalau aku hidup dan harus menerima kenyataan bahwa aku telah merusak tubuh Alisha, kau pikir aku akan baik-baik saja?


Ini solusi terbaik, lakukan dan semua akan selamat, bukankah perjuangan itu akan selalu ada yang dikorbankan?”


“Rania! Bukan berarti mengorbankan nyawa orang, kalau aku membunuhmu, maka kau akan masuk penjara, aku bukan kriminal!”


“Maka bunuh aku dengan tubuh jinmu, tak ada hukum untuk jin yang membunuh bukan?”


“Rania! Aku sedang membujukmu untuk tidak bunuh diri!”


“Niatku bulat, kalau tak bisa menolongku, aku akan cari bantuan orang lain, yang mungkin malah akan menipuku dan malah menjadi sekutu Esash, tidak ada yang aku percayai selain kau Alka, sama seperti Alisha percaya penuh padamu.”


“Aku ....”


“Aku mohon.” Rania akhirnya bersujud dan Alka akhirnya tidak mampu menolak lagi.


Tapi aku tidak punya senjata untuk menusuk jantungmu, kau tahu, setelah Esash masuk tubuhmu, kau mungkin akan kebal, itu yang membuat Alisha yang begitu kebal saat tubuhnya babak belur, karena Esash ada di dalamnya.”


“Aku punya senjatanya, kami dapatkan senjata itu dari mesir, salah satu jin di sana, yang menguasai piramida tak kasat mata, kalah bertarung dengan Alka dan memberikan pisau bermata ruby hijau padanya sebagai tanda perjanjian sekutu, pisau itu sangat tajam, dia bisa menghujam tubuh manusia dan juga jin di dalamnya, mungkin itu akan melemahkan Esash, kita bisa coba pisau itu ke tubuh jinmu dulu.”


“Kau banyak maunya, baiklah, akan aku coba dulu pisau itu.”


Akhiranya Alka mencoba pisau itu dan terluka cukup dalam, luka itu dia sembunyikan dari kawanan, luka gores yang setiapa harinya bukan sembuh malah semakin dalam, Alka juga bingung, kenapa luka itu tak sembuh-sembuh, tapi ini jadi bukti betapa pisau itu tajam untuk jin.


Setelah menyiapkan kebutuhan untuk memasukkan susuk ke tubuh Rania, susuk perawan yang membuat tubuhnya menjadi wangi seperti perawan, Alka bersiap menjadikan Rania ‘perawan’.


...


“Jadi kau menipu kami lagi?” Aditia berkata, ucapannya cukup pedas.


“Aku bisa apa? janji seorang jin itu tidak bisa dikhianati, kau tahu, walau kami penuh tipu muslihat, tapi perjanjian itu tidak bisa kami lewati.” Alka membela diri.


“Aku bahkan berteriak padanya, Kak, aku menyesal karena telah curiga padanya, seharusnya aku tahu, dia orang yang paling takkan pernah menyakiti Alisha.

__ADS_1


“Latar belakang Rania tidak ada yang pernah tahu, kami juga tidak tahu kalau dia tidak memiliki kualifikasi sebagai tubuh suci yang ingin dimiliki oleh Esash, kita tertipu, tapi Kakak tidak menipu kita untuk membuat kita sengsara, kakak menyelamatkan kita lagi ... itu yang kamu perlu ketahui Dit. Kami tidak pernah menuntut kakak selalu cerita, yang kami yakini, itu untuk kebaikan kita, makanya kau jangan keterlaluan menegur kakak, Dit.” Ganding kesal karena kakaknya ditegur dengan keras.


“Tetap saja, seharusnya Alka menjelaskan pada kita.”


“Kapan waktunya? Mereka tidak punya waktu, apalagi kau terlalu kerasa kepala, kami kesulitan saat kau keras kepala Dit, kami tahu, kau hanya bersikap sebagai pemimpin kami, tapi kau tidak boleh diktator!” Untuk pertama kalinya Ganding melawan Aditia.


“Aku setuju dengan Ganding.” Jarni berkata dengan lantang.


“Maaf Nding, kali ini aku tidak setuju dengan kakak, aku setuju dengan Aditia, kakak harus selalu terbuka dengan kita, kalaupun tidak ada jalan keluar selain jalan terburuk, kakak harus kasih tahu.” Hartino mengungkapkan keberatannya, saat mereka sedang berdebat, Alisha tiba-tiba terbatuk, Hartino berlari dan mendekati kekasihnya, Alisha terlihat sudah bangun namun tersedak, Ganding memanggil Dokter, lalu perawat dan Dokter datang berlarian, karena ini sangat langka,  Alka yang koma tiba-tiba bangun.


Sementara Dokter menangani Alisha, kawanan tetap di sana, orang tua Alisha juga datang.


Dokter memeriksa Alisha, lalu bingung, dengan luka di bagian perut, mirip seperti luka jahitan operasi caesar, Hartino panik, kalau Dokter bertanya, apa yang bisa dia jelaskan, Alka berlari ke arah Dokter, dia memegang kepala Dokter dan seorang perawat, Jarni berlari dan memegang kepala perawat yang lain, sedang Aditia menepuk bahu orang tua Alisha. Semua orang kecuali kawanan jatuh pingsan, mereka digendam agar bisa lupa dengan luka jahit Alisha.


“Har ....” Alisha memanggi Hartino.


“Ya sayang?” Hartino mendekati Alisha.


“Perutku sakit sekali.” Alisha bertanya, ini pertama kalinya dia merasakan sakit yang hebat, pertama karena Esash sudah keluar dari tubuhnya hingga dia kehilangan kekuatan kebal, kedua efek bius juga sudah habis.


“Iya sayang, tahan ya, mereka akan memberimu obat anti nyeri lagi ya, sabar sayang.”


“Kak, Dokter bangunin ya, aku butuh dia untuk membuat nyeri Alisha menjadi ringan, dia kesakitan Kak.”


Lalu Alka mengangguk, Dokter dibangunkan dalam keadaan dalam pengaruh gendam, supaya Dokter itu tidak banyak tanya dulu.


Setelah memberikan obat anti nyeri pada Alisha, Dokter dan dua perawat dibangunkan dan diantar ke ruangan mereka agar ketika bangun yang mereka ingat adalah selesai memeriksa Alisha dan Alisha baik-baik saja, sedang orang tua Alisha dibangunkan di ruang inap Alisha. Yang mereka ingat adalah, Alisha sudah baik-baik saja.


“Alka, ke sini sebentar.” Alisha meminta Alka mendekatinya.


Alka mendekati Alisha dan begitu di dekatnya Alisha meminta Alka mendekatkan wajanya, Alisha ingin membisikkan sesuatu, Alka melakukan apa yang diminta Alisha, mendekatkan telinganya ke wajah Alisha.


“Rania mana?” Alisha bertanya, karena yang dia tahu dan ingat, hanya Alka yang tahu soal Rania.


“Rania ....”


___________________________________


Catatan Penulis :

__ADS_1


Wih udah pada pinter nih, ah ga asik pada inget ternyata Rania ngga suci. Hebat Euy, mesti ati-ati nih sekarang kalau nyari kasus, udah pada pinter pembacaku, keren ih.


__ADS_2