Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 408 : Bulan Madu 6


__ADS_3

Mereka semua sudah ke hanggar tempat private jet itu berada, pakaian yang Alisha pikir itu cocok dengan kawanan juga sudah disiapkan, permintaan Aditia hanya satu, tidak membawa baju pakai koper, tapi bawa pakai tas gunung saja, biar tidak susah saat mereka harus melakukan mobilitas.


Alisha setuju, tetap dengan gayanya.


Begitu sudah naik private jet, semua orang lalu berkumpul memperbincangkan apa saja yang harus mereka lakukan, sementara Hartino sudah menghubungi Jajat untuk membantu persiapan kedatangan mereka.


Pesawat itu lalu terbang di atas langit Jakarta menuju langit Bali, seperti biasa, laut adalah areal bebas bagi para makhluk ghaib, kau tahu bagaimana Ayi dulu diserang dan jatuh di gunung bersama Pram dulu, maka tidak akan mudah juga bagi Aditia dan kawanan untuk menyebrang laut meskipun mereka berada di atas langit.


Aditia meminta semua orang untuk bersiap, karena mereka harus menghadapi serangan, ini akan jadi pertarungan, karena laut daerah yang luas dan bebas, terkadang hukum barbar lebih diadopsi di sini.


“Mereka akan menghadang kita.” Aditia berkata pada Alka.


Alka mengangguk, semua orang bersiap, mungkin pesawat ini akan berguncang sebagai tanda bahwa serangan dimulai.


Laut adalah tempat yang paling menakutkan dilewati oleh para Kharisma Jagat atau orang-orang yang memiliki khodam, taruhannya adalah nyawa, karena dianggap penyusup, masuk ke daerah yang asal tebas.


Pesawat tiba-tiba terguncang, seperti mengalami turbulensi. Aditia melihat ke arah kaca pesawat, ada begitu banyak makhluk yang mengejar laju pesawat.


Alka masuk ke dalam wujud jinnya, Abah Wangsa dan semua khodam keluar dari tubuh kawanan, mereka bersiap.


Abah Wangsa keluar bersama Alka, sedang yang lain berjaga, Jarni membuat lingkaran pagar ghaib bagi semua orang, karena mereka kosong, lingkaran ini akan aman.


Alka dan Abah Wangsa terlihat sedang bertarung dengan para makhluk.


Abah dan Alka terlihat melesat mengejar para makhluk yang mencoba menyerang dan hendak masuk ke dalam, makhluk itu tidak terlihat jelas bentuknya, mereka hanya terlihat seperti lesatan cahaya yang mengejar pesawat dalam jumlah banyak.


Abah dan Alka terihat kewalahan. Aditia memerintahkan Abah dan Alka untuk kembali ke dalam pesawat karena kalau mereka hanya menghalau seluruh makhluk berdua saja, kemungkinan menangnya akan sangat kecil.


Alka dan Abah Wangsa terlihat kelelahan begitu masuk lagi ke dalam pesawat.


Aditia memerintah semua orang untuk masuk ke dalam barisan, Aditia ingin menghimpun kekuatan, Alisha tetap di dalam lingkaran ghaib yang Jarni buat, sementara turbulensi pesawat semakin terasa, pesawat terasa naik turun dengan tajam.


Beberapa makhluk masuk dengan tampilan sangat mengerikan, baju mereka compang-camping, tubuh mereka sangat tinggi, rambut hampir menutup wajah mereka, tapi wajah yang terlihat sedikit menghitam sempurna.


“Mereka siapa?”Aditia bertanya pada Abah Wangsa.


“Tawanan perang yang kabur pada saat peperangan dengan Ayi dulu itu. Sisa-sisa sekutu tetua dulu. Mereka tahu Kharisma Jagat melintas makanya menyerang, Jajat sudah membersihkan areal ini, tapi sayang kalau pembelot susah diatur, makanya ini harus kita hadapi.” Abah menjelaskan.


“Sisanya yang di luar juga sekutu tetua?” Aditia bertanya lagi.


“Tidak semua, ada beberapa yang malah membantu kita, karena Jajat memang meminta agar perjalanan kita aman, tapi di luar dugaan, ada pembelot.”


“Aditia menyeluarkan keris mininya, kawanan sudah menyalurkan kekuatan pada bahu bagian belakang masing-masing.


Setelah Aditia merasakan kekuatan kawanan masuk ke dalam tubuhnya, dia menyalurkan kekuatan itu pada keris mini, lalu memukulkan keris itu ke lantai pesawat, seketika sosok-sosok yang masuk ke dalam pesawat terlempar lagi ke luar pesawat. Aditia membuat pagar ghaib dengan kekuatan yang sangat besar, dari kawanan dan juga kerisnya, tapi selama pesawat itu terbang, maka keris harus tetap di lantai di mana dipukulkan tadi, untuk mengalirkan kekuatan.


Pesawat itu kini sudah terlindungi oleh  pagar ghaib dari kekuatan bersama, tapi karena itu, mereka jatuh satu persatu, energi mereka langsung terkuras karena tidak mudah membuat pagar ghaib sebesar pesawat ini untuk menghalau sosok-sosok yang cukup banyak di luar pesawat.


Makanya hal ini tidak dilakukan sejak mereka mulai terbang, karena energi mereka akan langsung terkuras.

__ADS_1


Benar saja, kawanan tumbang. Mereka merebahkan tubuhnya di bangku sofa yang tersedia di private jet itu. Turbulensi perlahan hilang, pesawat terasa stabil lagi.


“Kita istirahat dulu ya.” Aditia meminta semua orang untuk istirahat.


Pilot memberitahu bahwa mereka akan mendarat dalam waktu 20 menit, tapi biasanya waktu akan mulur, tak masalah yang penting bahaya di belakang telah dilewati.


Begitu pesawat sudah mendarat, Aditia melihat awan gelap menyelimuti kedatangan mereka.


Kawanan keluar dari pesawat lalu dijemput dengan mobil jeep.


Aditia dan kawanan melihat ke arah langit, langit bali tiba-tiba gelap.


“Sudah dimulai.” Ganding berkata, Aditia mengangguk.


Mereka lalu turun dari tangga pesawat dan langsung melangkahkan kaki masuk ke dalam mobil tanpa menyentuh tanah Bali.


Saat masuk jeep, ternyata sudah ada Jajat di sana, dia duduk di bangku samping kemudi.


“Dit, semua, selamat datang di Bali, bagaimana perjalanan kalian?” Jajat bertanya.


“Menurutmu?” Aditia kesal, karena kata Jajat yang memastikan semua lancar, sudah gagal bahkan di fase awal, sungguh menyebalkan.


“Ada apa?” Jajat bertanya.


“Pembelot peperangan yang dipimpin Ayi dulu itu menyerang kami, mereka yang kabur dari peperangan itu menyerang kami saat kami di dalam pesawat, aku harus mengeluarkan semua kekuatan untuk mendirikan pagar ghaib di pesawat itu, kau tahu kan, pagar ghaib yang dinamis itu butuh kekuatan yang sangat tinggi, berbeda dengan pagar ghaib pada benda mati yang berada di satu tempat.


Kau benar-benar keterlaluan Jat, katamu sudah kau atasi semuanya, bahkan baru permulaan saja kami sudah kehabisan energi.” Aditia menegur Jajat.


“Dit, kau kan tahu, tadi juga ada yang membantu kita di luar pesawat, itu pasti ‘mereka’ yang sudah mengadakan perjanjian dengan Jajat makanya menolong kita.” Aditia menatap tajam pada Alka, dia berani sekali membela seorang lelaki di depan Aditia.


“Aku minta maaf ya Dit.” Jajat meminta maaf lagi.


“Sudah Jat, yang penting kami selamat kan, sekarang kami harus ke mana dulu?” Ganding bertanya dan berusaha untuk mencairkan suasana.


“Kita akan ke areal putih dulu, tempat di mana perjanjian dengan seluruh Kharisma Jagat dan para Balian diadakan. Tempat ini bisa dibilang zona netral, karena akan bahaya bagi kawanan menginjak tanah Bali tanpa melakukan ritual dulu. Makanya tadi begitu mereka turun tangga pesawat harus loncat masuk ke dalam mobil.


Kalau itu dilanggar, begitu kaki salah satu dari kawanan menyentuh tanah, maka para makhluk legenda dan mitos di Bali akan menyadari kedatangan kawanan, mereka kan langsung bisa mengetahui jejak kawanan dan mungkin melakukan penyerangan, karena tongkat Ayi hanya berlaku untuk mereka yang mengikuti perjanjian, sedang ‘mereka’ yang tidak punya tuan pasti tidak mau tunduk pada tongkat itu.


Mereka sampai di areal putih, sudah ada puluhan Balian berkumpul di sana, hanya perwakilan dari setiap daerah, tidak seluruh Balian, kalau seluruh Balian didatangkan, maka akan ada ratusan Balian berkumpul di sini, makanya hanay perwakilan saja.


Yang pertama turun adalah Aditia, dia membuka sepatunya, sebelum kakinay menyentuh tanah, kakinya disiram dengan tirta suci dulu, setelah kakinya tersiram secara sempurna, dia turun dari mobil dan seluruh tubuhnya di siram dengan air itu, setiap jengkap tubuh tidak diperbolehkan luput dari siraman tirta suci.


Aditia masih memakai baju lengkap kecuali sepatu.


Setelah selesai disiram tirta suci, Tubuh Aditia langsung dibalu dengan kain putih, kain yang sudah dimantrai, kain itu membuat aroma tubuh Aditia akan memudar.


Lalu Alka yang turun, dia diperlakukan sama tapi yang melakukan adalah beberapa orang Balian perempuan.


Selesai ritual Alka diberikan kain putih untuk membalut tubuh basahnya.

__ADS_1


Lalu Hartino, Ganding dan Jarni, semua melakukan ritual yang sama, Alisha tidak perlu karena dia hanya manusia biasa tanpa khodam.


Alisha senang sekali karena tidak perlu berbasah ria.


Setelah semua kawanan sudah terbalut kain putih, mereka dibawa ke tengah lapangan, lapangan itu dikelilingi oleh obor yang sangat wangi, beberapa orang Balian bertelanjang dada sudah berkumpul membentuk lingkaran, mereka memegang obor yang lebih kecil, setelah kawanan masuk ke dalam lingkaran masih dalam keadaan tubuh basah dan terbalut kain putih tebal hingga lekukan tubuh mereka aman, para Balian yang bertelanjang dada ini tiba-tiba membakar lingkaran di sekeliling kawanan dengan menyemburkan minyak pada obor kecil yang mereka bawa, seketika sekeliling kawanan terbakar api seperti ada tali yang membentuk lingkaran, tali itu terbakar api dengan sempurna menciptakan lingkaran tak putus.


Kawanan di tengah lingkaran api itu.


Api semakin besar, kawanan duduk dengan bersila, merasakan dingin tirta suci dan panas api, mereka tahu ritual ini untuk semakin membuat energi kawanan sulit dideteksi oleh makhluk ghaib yang tidak suka kedatangan makhluk asing, seperti Khodam, Karuhun dan jadi-jadian seperti Saba Alkamah.


15 menit mereka harus menahan dingin dan panas sekaligus, sungguh membuat tubuh mereka sangat terasa tidak enak.


Energi mereka benar-benar terkuras.


Sudah selesai pengapian, masih dengan baju yang sedikit basah dan sedikit kering, mereka lalu dibawa ke suatu ruangan, sudah ada Balian dengan pakaian adat Bali yang lengkap, ada perempuan ada laki-laki.


Mereka meminta Alka dan Aditia untuk duduk menghadap sebuah pura kecil, pura itu dipercaya adalah tempat Dewa mengalirkan kebaikan, kawanan dikalungkan bunga dan disematkan juga pada kuping mereka.


Kawanan tidak membantah, walau ini berlawanan dengan agama mereka, tapi tetap mereka lakukan, karena ini adat yang harus dipenuhi dengan satu syarat, kawanan hanya menolak satu hal, bersujud di pura, karena bertentangan dengan agama mereka, yaitu islam.


Karena tongkat Ayi syarat itu disetujui, kawanan hanya duduk saja di hadapan pura dan membiarkan para Balian membaca mantra.


Ada energi hangat masuk ke dalam tubuh kawanan.


Selama prosesi ini, Alisha sibuk mengambil gambar, dia terlihat bersemangat mengambil seluruh rekaman itu dari sejak awal prosesi, dia paling bahagia diantara semua orang, karena tidak perlu melakukan ritual berat seperti ini.


Setelah selesai pembacaan doa dan mantra di hadapan pura, ritual masih harus dilanjutkan.


Sekarang mereka harus melewati bara api yang sudah dimantrai, ini berfungsi untuk membuat mental kawanan semakin kuat, membuat mereka berani menghadapi rasa takut, tapi selama mereka melewati bara api itu, mereka juga akan dilempar dengan berbagai macam bunga. Tujuan masih sama, untuk membuat energi mereka tersamarkan.


Kenapa ritualnya begitu banyak, karena energi kawanan yang begitu kuat, makanya ritualnya pun harus sangat dalam, memastikan tak ada celah untuk makhluk yang tidak perlu mereka hadapi datang.


Agar kawanan bisa fokus hanya mencari cara untuk menyembuhkan Gea.


Satu persatu kawanan melewati bara api dengan kaki telanjang, setelah selesai bara api, masih ada  ritual lagi sebelum akhirnya berakhir.


Ritual setelah bara api adalah berendam di tirta suci, rendaman ini berfungsi untuk memberikan energi baru bagi mereka, hingga kawanan akan dikenali sebagai Balian, bukan lagi kawanan oleh ‘mereka’.


Bagian ini semua orang berendam bersama tetap memakai kain putih yang diberikan pada saat pertama kali mereka turun dari mobil dan disiram tirta suci.


15 menit mereka berendam, setelah berendam, maka mereka sekarang akan masuk ke dunia ghaib ... ini namanya ritual pengujian, ini yang Aditia takuti sejak awal dan semua kawanan juga takuti.


Mereka akan bertemu dengan semua jenis makhluk ghaib yang ada di Bali, yang jahat maupun baik, tahap ini kawanan hanya boleh diam dan berjalan sesuai arahan dari Balian, untuk memastikan bahwa tidak akan ada kebocoran sedikitpun pada energi mereka.


Kawanan akan dikenali para makhluk di Bali sebagai Balian.


Di sini Aditia sebenarnya sangat takut, akan begitu banyak makhluk yang tidak boleh dilawan, apapun kelakuan mereka pada tubuh kawanan, karena itu tahap ini dinamakan ritual pengujian.


Ritual ini membuat Aditia takut karena, dia harus super sabar, apapun yang makhluk-makhluk itu lakukan pada tubuh kawanan, mereka harus diam.

__ADS_1


Kalian tahu dong apa yang membuat Aditia takut hingga membuatnya mungkin tidak sabar?


__ADS_2