
“Lihat itu, dia sedang menaiki bus, tempat di mana aku bertemu dengannya dulu untuk pertama kali.” Mulyana menunjuk bus yang dianiki ruh Wulan, tentu saja Dirga tak bisa lihat, jadi sia-sia saja Mulyana menunjuk.
Mereka berdua lari ke bus itu dan naik, ruh Wulan tak disadari kehadirannya di dalam bus itu, para penumpang bus duduk sibuk dengan urusan masing-masing, Mulyana memilih duduk berdekatan dengan Wulan, karena sore hari, bus menuju tempat pelatihan Polisi itu tak ramai, jadi masih banyak bangku tersisa, termasuk bangku yang Wulan duduki. Kalau dalam pangangan orang awam, bangkunya kosong.
Mulyana dan Dirga turun, seperti yang Wulan lakukan, walau Wulan tak perlu untuk meminta supir berhenti, sedang Mulyana dan Dirga buru-buru minta supir untuk berhenti agar bisa turun seperti Wulan yang melayang untuk turun, hari makin gelap, langit berwarna jingga, mereka masih mengikuti Wulan.
Dirga meminta izin pada pelatih untuk masuk, dia beralasan ingin lari marathon, latihan fisik, padahal tujuan mereka adalah bangku tembok itu. Wulan pasti ke sana, bangku tembok yang ditutupi pepohonan hingga tak terlihat lagi.
Benar saja, ruh Wulan berhenti di sana.
“Dia duduk di bangku itu. Sepertinya, bangku ini adalah altar yang hancur Ga, kita salah duga, ini bukan bangku tempat mereka berkencan dulu saat Wulan masih hidup, kita menyangka bahwa bangku itu tempat Wulan menunggu Yoga, tapi itu mungkin altar tempat terakhir ruh itu melihat tubuhnya yang dipanggil Yoga untuk masuk kembali ke dalam tubuh matinya.
Dia ke sini karena ingatan terakhirnya, kekasih yang dia cintai memanggilnya di sini dan membujuknya untuk kembali ke dunia manusia, sayang … tubuhnya telah hangus terbakar.” Mulyana sedih mengatakannya, bukan dia mendukung perselingkuhan, tapi takdir Wulan sunggu tragis, dia urungkan niat untuk menjadi wanita penghancur rumah tangga, tapi kematian yang dia terima, sungguh ironis.
“Lalu kenapa saat kita membawa baju Yoga dan Badrun, dia sangat marah?” Dirga jadi ingat terakhir kali mereka membawa baju Yoga dan Badrun, tapi Wulan malah mengamuk.
“Dia tidak marah pada Yoga, tapi dia marah pada Badrun, kau ingat kan, ketika Ibu Badrun bercerita, detik-detik terakhir hidupnya, dia hanya melihat dua orang, pertama badrun kedua dukun suruhannya, mereka adalah, pembunuh dirinya, secara tak langsung dan secara langsung, Badrun dan dukun suruhannya.
Maka ada trauma yang cukup dalam.”
“Tapi Yan, kenapa ketika itu, ketika kita datang membawa baju Yoga dan Badrun, kau memegang barang Yoga dan aku milik Badrun, kau ingat kan, Wulan itu langsung marah dan mendekatimu karena memegang barang Yoga, saat itu kita ambil kesimpulan bahwa, memang Yoga yang membunuhnya, makanya dia marah sekali begitu melihat barang-barang Yoga yang kau pegang.” Dirga mengingatkan lagi karena dia bingung. Saat itu Mulyana sempat bertanya pada ruh Wulan yang sedang murka, apakah barang yang Mulyana pegang adalah barang orang yang membuatnya mati, ketika itu, Wulan semakin marah dengan terpaksa Mulyana mengeluarkan pecut kuda lumping ghaib hadiah dari Drabya untuk memecut Wulan, karena tahu, wanita itu bersiap untuk menyerang.
Sayang pecut yang biasanya ampuh untuk membuat ruh tunduk itu, sama sekali tak berpengaruh pada Wulan, tak lama kemudian Wulan menghilang tapi tidak seperti keinginan sendiri, dia seperti ditarik ke tempat lain, oleh seseorang.
__ADS_1
“Bukan marah tapi cemburu, bukan marah pada pemilik barang, tapi marah padaku karena barang milik orang yang dicintai, dipegang oleh aku orang asing, dia berasumsi aku orang jahat, makanya dia menyerangku dan bahkan tidak peduli pada barang yang kau pegang, karena dia memang tak mengenal Badrun sama sekali, dia hanya mengenal Yoga dan hapal bajunya.”
“Wah, masuk akal sekali, pantas saja dia cemburu, karena rindu dan juga takut kalau Yoga celaka makanya dia menyerangmu, masuk akal Yan.”
“Ga, kalau ini adalah altar tempat tubuh Wulan dibaringkan sebelum dibakar Badrun, maka dia menunggu Yoga di sini, berharap yoga akan datang, makanya aku berani ke sini, karena aku akan mempertemukan mereka, itu satu-satunya cara agar wanita ini bisa menjadi sanderaku.” Mulyana berjalan ke arah Wulan, lalu duduk di sampingnya, wanita itu tidak terlihat mengerikan sama sekali.
“Wulan, kau ingin bertemu Yoga?” Mulyana bertanya.
Wulan langsung menengok pada Mulyana, dia sempat ingin marah, tapi tidak jadi, karena Mulyana memberikan secarik kertas padanya, Mulyana membaca kertas itu dengan lantang, kertas yang katanya adalah surat yang Wulan buat untuk berpamitan pulang, Mulyana hanya ingin Wulan percaya kalau Mulyana ada di pihaknya.
“Yoga yakin kalau ini bukan tulisan tanganmu, makanya dia mencarimu untuk bisa bertemu, sayang, ternyata tubuhmu di kubur di bawah altar yang sudah tinggal setengah ini, hingga terlihat seperti bangku, tubuhmu dibaringkan di sini kan? untuk dibangkitkan kembali, kau mendengar suara kekasihmu makanya kau hendak masuk kembali ke tubuhmu walau sakit sekali rasanya, seperti terbakar, lihat kakimu, menghitam karena kejadian waktu itu.” Mulyana terus mendekatinya, meyakinkan bahwa dia memang ada di pihaknya, teknik yang Mulyana lupakan, tujuan dia adalah mengembalikan Wulan pada tempatnya, yaitu di sisi Tuhan, dia harus membujuk pelan-pelan, agar ruh Wulan bisa melihat realita, bukan imajinasi lagi seperti dalam ingatannya.
Waktu sudah berjalan sangat jauh, tapi ruhnya terjebak di sini, sendirian, sangat mengerikan sekali.” Mulyana sedih, karena semua ruh yang dia jemput dan pulangkan, harus menahan sepi sendirian akibat kesalahan orang lain, kebanyakan begitu, ruh itu tertahan karena sifat egois manusia yang masih hidup dan sulit menerima takdir.
Ya, dia akan menggunakan Wulan sebagai sandera, dia harus membuat Wulan tidak dapat dideteksi lagi oleh ayahnya, karena saat ini, ayahnya Wulan tak bisa keluar seenaknya lagi, karena Hagir masihg menyangka dia saat ini sudah tiada, akibat dar sumpah darah itu, jika dia keluar, maka Hagir akan memburunya lagi.
Mulyana harus membuat ayahnya Wulan keluar dari persembunyian dan berhenti menarik anaknya saat dia hendak dipulangkan oleh Mulyana, terakhir kali saat dipecut oleh Mulyana dan Wulan tiba-tiba menghilang, Mulyana curiga kalau ada seseorang yang mengendalikan ruh Wulan dari jauh, tapi kecurigaan itu baru terbukti setelah ibu Badrun bercerita.
Makanya sekarang cara yang paling tepat membuat ayahnya Wulan keluar dari persembunyian adalah dengan dengan cara menyandera anaknya, dia pasti keluar kalau tidak bisa melacak ruh Wulan. Dan membuat Wulan untuk tunduk pada Mulyana, tanpa harus bertarung, mengingat dia adalah ruh penasaran dengan minyak kasturi yang masih pekat, tidak mudah mengalahkannya, maka membujuknya melalui Yoga, itu adalah langkah terbaik.
“Lihat ini Wulan, lihat kemari, Yoga sudah datang untuk bertemu denganmu, lihat ke sana Wulan.” Mulyana menunjuk di tengah lapangan, seorang lelaki yang sangat dikenal Wulan dan juga dicintainya.
Ruh Wulan hanya terdiam dan tersenyum, dia tahu itu kekasihnya, baju dan juga raut wajahnya, sungguh sangat sendu, itu membuat ruh Wulan melayang dan hendak mendekatinya, Mulyana lalu mengikuti dari belakang, membaca mantra sambil memegang botol, hingga jarak antara Wulan dan Yoga sangatlah dekat, Yoga menatap ruh itu dengan sedih.
__ADS_1
Mereka saling menatap dan ... ruh Wulan masuk ke dalam botol yang sudah dipersiapkan oleh Mulyana dan Dirga, rupanya Dirga ada di belakang Yoga, tubuhnya tak terlihat, dia memegangi Yoga dari belakang agar Yoga tak kabur.
Begitu ruh Wulang masuk ke dalam botol, seorang wanita muncul, dia lalu mendekati semua orang, ya, wanita itu adalah istrinya Yoga.
“Sungguh sangat romantis sekali moment ini ya, aku sangat terkesan, wanita cantik itu ternyata memang masih di sini seperti yang orang bilang. Masih saja menunggu suamiku untuk menjemputnya, dasar wanita bodoh!” Istrinya Yoga tiba-tiba mengeluarkan senjata api dari dalam tasnya dan menodongkan senjata itu pada Mulyana, Dirga melepaskan Yoga yang langsung ambruk karena lemas, dia hendak menolong Mulyana, tapi terlambat, ada seorang pria tegap memegang pistol yang sama dan menodongkannya pada Dirga, wanita itu membawa ajudan rupanya, sementara Yoga mulai histeris, melepas pakaiannya dan mulai lari di lapangan itu.
“Apa yang kau lakukan, Bu!” Mulyana kesal, karena kemarin dia ditembak oleh ibu mertua wanita ini, sekarang dia ditodong oleh menantunya! Sungguh keluarga yang aneh.
“Berikan botol itu!” Istrinya Yoga meminta botol yang Mulyana pegang.
“Untuk apa kau ingin botol ini!” Mulyana bingung.
“Aku ingin wanita itu membusuk selamanya di dunia ini sampai kiamat nanti dan tak punya waktu untuk pulang, walau zaman berganti, aku ingin dia musnah!” Istri Yoga berteriak histeris, ajudannya masih bersiap menodongkan senjata api pada Dirga.
“Bukankah aku sudah janjikan kalau wanita ini takkan lagi mengganggu kalian, pernikahanmu akan kembali harmonis jika ruh Wulan telah aku jemput dan aku pulangkan, dengan begitu, pelet yang Wulan berikan pada tubuh suamimu akan musnah dan dia akan kembali mencintaimu seperti semula.” Mulyana memang mengadakan perjanjian dengan wanita ini, karena dia ingin wanita ini mengizinkan Yoga keluar dari rumah untuk membujuk ruh Wulan masuk ke dalam botol, memuluskan rencana penyanderaan Mulyana.
“Omong kosong! Lelaki brengsek itu tidak akan pernah mencintaiku lagi seperti semula, aku sudah muak dan ingin muntah dengan prilaku dia, prilaku bapak mertuaku dan juga prilaku ayahku! Aku membenci kalian semua! Aku mencintai kalian dengan tulus, tapi lihat, bahkan lelaki yang disebut suami itu berani menipuku dengan meminta uang untuk bangun usaha, tapi dia berikan pada setan sundal itu!
Aku tak mau lagi tubuh dan jiwa busuk itu! jadi berikan ruh wanita itu padaku sekarang! Aku ingin dia bekerja padaku untuk bisa menghasilkan uang yang banyak! Aku akan menggunakan ruh itu untuk mendapatkan uang!”
“Astaga! Kau yang mengerjai ayah mertua dan suamimu!” Mulyana baru sadar, ternyata Wulan bukan hanya menebak, tapi dia benar-benar bisa melihat ruh Wulan, karena dia menunjuk Wulan di dalam botol dengan tepat, bukan asal tunjuk, arah matanya sangat tepat posisi. Hanya orang yang dibuka mata batinnya yang bisa lihat Wulan dan biasanya kebutuhan membuka mata batin hanya jika menghadapi masalah ghaib, berlaku untuk orang biasa tanpa kemampuan dari Tuhan untuk bisa sensitif pada dunia ghaib.
Maka jika istrinya Yoga bisa melihat Wulan, kemungkinan dia bersekutu dengan dukun. Itulah kenapa Mulana baru sadar, kalau Badrun dan Yoga dikerjai oleh istrinya Yoga sendiri!
__ADS_1
“Rupanya kau tidak sepintar yang aku kira ....” Istrinya Yoga tertawa dengan terbahak-bahak.