
"Gimana Kasep, mau nggak tinggal di sini bersamaku? Tuhan! kau tampan sekali." Alka gemas melihat Aditia bayi, dia jadi sangat ingin bersama Aditia terus.
Tapi dia kemudian teringat, sudah membuat perjanjian secara tertulis menggunakan darahnya bersama dengan Pak Dirga. Kalau dia langgar, tentu kekuatannya akan menghilang selama beberapa tahun, secara otomatis dia juga akan keluar dari dunia gelap ini.
"Nggak bisa tapi kasep. Aku lupa, sudah membuat perjanjian dengan Pak Dirga."
Aditia hanya mengoceh saja tidak terlalu jelas. Ya kan, masih bayi.
"Botol obat itu sedikit aneh ya?" Alka mendekati Mulyana lalu mencoba meraih botol obat itu ... tidak bisa! botolnya tidak bisa disentuh. Alka baru sadar, ternyata cuma Mulyana yang bisa Alka sentuh.
Tentu saja, karena makhluk nyata di dunia gelap ini, ya, cuma Mulyana, sisanya adalah apa yang Mulyana ciptakan dalam kenangan dan harapan masa depan yang digunakan kembang Sukapuran untuk menjebaknya masuk dunia gelap.
"Aku harus bagaimana ini? berpikir Alka, berpikir ...." Aditia masih tenang di gendongan Aditia, saat sedang berpikir Alka tiba-tiba tersadar sesuatu.
"Kenapa kau tidak menangis? bukankah bayi sepertimu katanya suka sekali menangis. Sebentar ... menangis ya? kalau memang benar menangis tapi bagaimana caranya supaya bapak bisa mendengarnya? kita ini kan makhluk ghaib di dunia gelap ini.
Jadi gimana ya caranya supaya kita bisa dilihat oleh bapak ya? kita menepuk bahunya bisa, memanggil dia juga bisa tapi sulit. Apa ya yang bisa kita lakukan?" Alka yang sedang menggendong Aditia berdiri di belakang Bapak, dia sedang menyisir di depan kaca yang menempel pada lemari bajunya.
Tiba-tiba Bapak yang sedang menyisir rambut dengan mata kosong kaget dan melempar sisirnya.
Dia dengan kasar menengok ke belakang, lalu dia menengok kembali ke kaca lemari bajunya, lalu kembali menengok ke belakang. Dia melakukan gerakan itu beberapa kali hingga Alka sadar.
"Pak! Pak!" Alka berteriak dengan melambaikan tangan pada kaca lemari baju itu.
Tentu saja! kaca adalah media ghaib paling ampuh. Kaca bisa menjadi refleksi dunia ghaib karena kaca merupakan bidang mistis yang paling kental. Kaca mampu merefleksikan jiwa-jiwa gelap dan mengunci jiwa itu di dalamnya. Termasuk mengunci Alka dan Aditia yang berasal dari dunia nyata dalam pandangan Mulyana.
Tuhan memberi mereka jalan untuk menjemput Mulyana pulang.
"Alka!" Mulyana berteriak, dia terlihat senang ... tapi sedetik kemudian dia terlihat bingung.
"Aku pasti kambuh lagi, aku berhalusinasi lagi." Mulyana berkata seperti itu.
"Tidak! Pak! Pak! Bapak tidak halusinasi, ini Alka Pak!" Mulyana memilih untuk keluar kamar dan tidak percaya pada Alka. Menurutnya Alka adalah makhluk yang dia halusinasikan, makanya Mulyana akhirnya memilih keluar kamar.
Alka mengikutinya, terus berusaha berbicara, tapi tidak berhasil karena suaranya kadang muncul kadang tidak.
Mulyana kembali minum obat yang ada di meja makan tanpa disuruh. Dia merasa sedang kambuh.
"Ayahmu merasa kita berdua adalah halusinasi, Dit." Alka kecewa, sudah berhasil dilihat, tahunya tidak dipercayai.
Alka terus mengekor pada Mulyana, dia terus saja berusaha berbicara tapi Mulyana tetap t"tidak mau mendengar atau pura-pura tidak dengar.
Sampai tiba akhirnya Mulyana kembali ke kamarnya, begitu melewati kaca, Alka memanggilnya.
Suaranya terdengar jelas saat Mulyana melewati kaca itu.
Mulyana penasaran, dia berhenti di depan kaca lemari bajunya.
"Pak, ini aku dan anakmu. ini Aditia."
"Kau hanya makhluk khayalanku, aku itu sakit, itu kata istriku. Aku hanya bisa melihatmu dari kaca kan? kau hanya khayalan." Mulyana kembali hendak meninggalkan kaca itu.
"Pak! izinkan aku menjelaskan, hanya butuh waktu 5 menit saja." Alka membuat Mulyana kembali melihat ke kaca lagi.
"Tidak, aku tidak akan percaya khayalanku lagi, aku hanya ingin hidup dengan tenang sekarang."
"Bagaimana kau tenang, sementara waktu berjalan secara acak? hari ini kau melihat anakmu baru lahir, besok dia ternyata sudah menikah, lalu kemudian ternyata dia masih sekolah, bagaimana kau bisa hidup tenang di sini" Mulyana mendengar itu sedikit merasa bahwa ada seseorang yang akhirnya merasakan apa yang dia rasakan ... bingung dengan waktu yang berjalan secara acak.
"Buktikan padaku bahwa kau bukan khayalan."
"Tidak! salah Pak. Seharusnya kau yang menemukan bukti bahwa ini adalah dunia khayalanmu saja, yang diciptakan untuk menjebakmu!" Alka membuat Mulyana mulai terbuka pikirannya.
"Bagaimana aku membuktikan bahwa ini dunia khayalan?! istri dan anakku di sini! kau mau membawaku pergi dari dunia di mana istri dan anakku di sini!"
"Pak, ini anakmu, aku membawanya untuk menyadarkanmu!" Alka memperlihatkan wajah Aditia, wajah bayi yang sangat diingat oleh Mulyana.
"Tidak! itu pasti khayalan yang diciptakan otak sakitku, aku harus minum obat!" Mulyana kembali hendak meninggalkan kaca.
Alka mencubit tuannya, sesuatu yang membuat dia menangis juga, sekarang Aditia menangis dengan kencang, bersama Karuhunnya. Aditia yang kesakitan, Alka ikut menangis.
"Lihat, apakah anak di dunia yang kau ciptakan ini bisa menangis seperti ini ketika di cubit?" Alka kembali memberi tahu tentang kemungkinan yang mungkin bisa membuat Mulyana percaya bahwa dia sedang terjebak. Alka mengusap tangan Aditia yang baru saja dia cubit, Alka sedih harus terpaksa menyakiti tuannya.
Alka melanjutkan lagi perkataannya.
"Buktikan ucapanku, ketika kau bertemu dengan anakmu yang sudah sekolah dasar, tampar dia dan kau lihat apakah dia kesakitan?
Lalu ketika kau bertemu dengan anakmu yang telah dewasa, kau cubit perutnya, lihat apakah dia kesakitan? Begitu juga ketika kau bertemu anakmu yang remaja.
Lalu terakhir, ketika kau bertemu dengan anakmu yang bayi, kau angkat dia dan jatuhkan, kau akan membuktikan bahwa ini hanya dunia khayalanmu, bukan dunia sebenarnya."
Mulyana terdiam, dia bingung, tapi dia juga penasaran.
Ketika keluar kamar, Mulyana bertemu anaknya yang sekolah dasar sedang sarapan.
"Ayah mandi dulu ya, nanti antar Adit sekolah." Istrinya seperti biasa menyuruh Mulyana untuk mandi lalu meminta Mulyana untuk mengantar anaknya sekolah.
__ADS_1
Mulyana tidak menuruti perkataan istrinya, untuk pertama kalinya Mulyana tidak menuruti perkataan istrinya setelah tiga hari ini dia merasa dunianya aneh dan yakin dirinya sakit.
Mulyana mendekati Aditia yang terlihat sudah sekolah, dia memakai seragam sekolah dasar.
Mulyana melihat anaknya itu dan menampar anak itu tidak terlalu keras dengan mata tertutup. Mulyana tidak tega, tapi dia juga penasaran, makanya dia tidak mau melihat Aditia sakit karena tamparannya yang sebenarnya tidak keras itu.
Mulyana membuka mata, aneh ... tidak ada yang terjadi, Mulyana yakin telah menampar anak itu, Mulyana juga merasa telah menyentuh pipi Aditia yang sudah sekolah itu, tapi kenapa Aditia terlihat biasa saja, dia tetap menikmati sarapannya seolah tidak terjadi apapun.
Bahkan istrinya saja tidak terlihat marah, istrinya terlihat biasa saja seolah tidak melihat apa yang Mulyana lakukan.
Mulyana buru-buru pergi ke kamar dan berdiri di depan kaca.
"Alka kau benar, Aditia yang sekolah SD itu tidak merasa sakit dan istriku bahkan seperti tidak melihat apa yang terjadi."
"Kan, sudah aku bilang Pak. Ini dunia khayalan Pak, dunia bohongan yang diciptakan oleh Kembang itu membawa kenangan dan harapan Bapak tentang keluarga ini.
Karena bukan dunia nyata, maka rasa sakitnya, orang-orangnya dan juga semua yang Bapak lihat itu tidak nyata. Seperti mimpi Pak, apakah orang bermimpi bisa merasakan sakit karena jatuh? Sakit karena kecelakaan? Kan tidak, karena itu mimpi." Alka menjelaskan berdasarkan presepsinya sendiri.
"Bagaimana jika kau menipuku, bagaimana jika kau yang jahat, menciptakan dunia ini dan membuatku gila, kalau aku percaya padamu, bisa saja kau membuatku terjebak di dunia khayal yang sebenarnya.
"Pak, buktikan omonganku lagi, tadi aku sudah menandai, setelah anak SD itu, maka Aditia akan menjadi pria yang sudah menikah, tidak percaya? Keluarlah sana. Jangan lupa untuk mencubit Aditia yang sudah dewasa itu." Alka meminta bapak membutkikan lagi.
Bapak keluar, benar saja, ada Aditia yang sudah dewasa, dia membujuk Mulyana untuk minum obat.
Mulyana duduk di samping Aditia dewasa itu dan mencubitnya sekencang mungkin.
Aneh, Aditia dewasa sama sekali tidak berekspresi padahal cubitan itu cukup kencang, Aditia dewasa hanya manatap Mulyana tanpa berkata apapun, selain membujuk minum obat. Seharusnya Aditia dewasa kesakitan karena cubitan itu.
Begitupun dengan Aditia remaja, tidak merasakan apapun saat dicubit.
Mulyana kembali berdiri di depan kaca didalam kamar.
"Kau benar lagi, Alka."
"Kalau begitu tinggal yang terakhir, setelah ini maka yang muncul adalah anak bayi itu. Aditia yang baru lahir. Kau harus mengambilnya dari kasur dan membantingnya ke lantai."
"Tidak, kau gila! Bagaimana jika itu adalah Aditia yang sebenarnya?" tanya Mulyana.
"Aditia yang asli ada di sini, aku sedang menggendongnya, lihat, aku cubit lagi ya." Alka menangis lagi saat dia mencubit Aditia, rasa sakitnya sampai ke dalam hati, padahal Aditia yang dicubit.
Bayi Aditia yang palsu, yang ada di dunia khayalan sudah berada di kasur lagi, istrinya juga sedang berada di sisi bayi itu.
"Pak kenapa? Ayo sini tidur." Istrinya mengajak suaminya tidur. Kalau sebelumnya Mulyana selalu menuruti perkataan istrinya dan tidur, lalu keesokan paginya dia bangun dalam keadaan bingung lagi. Sekarang dia tidak menuruti lagi perkataan istrinya.
Dia mendekati tempat tidur, masih melihat kaca pada lemari bajunya agar dia bisa tetap berkomunikasi dengan Alka.
Mulyana semakin dekat dengan tempat tidur dan mengangkat Aditia bayi yang terlihat sangat mirip dengan Aditia yang ada di kaca.
Istrinya diam saja menatap Mulyana mengangkat bayinya.
"Jatuhkan bayi itu ke lantai, Pak." Alka berkata dengan tegas.
"Tapi, ini adalah Aditia, ini anakku, bagaimana aku membantingnya? Aku tidak tega." Mulyana ragu.
"Kalau begitu, apakah Bapak lebih tega meninggalkan anak Bapak dan istri di dunia nyata hanya untuk dunia gelap ini? Dunia yang terjadi berulang dengan acak, dimana Bapak yakin bahwa Bapak sakit mental. Itu yang Bapak mau pertahankan?" Alka sebenarnya agak berdebar, takut gagal. Tapi, dia harus berusaha lebih keras lagi agar berhasil meyakinkan Bapak.
"Tapi ...." Mulyana masih ragu.
"Baiklah, begini saja, kita berdua cubit bayi yang kita pegang masing-masing, kita lihat siapa yang bereaksi."
"Baiklah itu lebih masuk akal." Mulyana setuju.
Muyana dan Alka pada hitungan ketiga akan mencubit masing-masing bayi dan melihat reaksi bayi itu.
Saat mereka berdua akhirnya mencubit bayi itu, lagi-lagi bayi yang Mulyana pegang hanya terdiam tidak ada ekspresi sama sekali.
"Lihat Pak, seorang ibu melihat anaknya diperlakukan kasar, tapi hanya diam saja bukan? Lihat istrimu, dia bahkan tidak komentar saat kau berbicara dengan kaca. Ayo berpikirlah, kau harus menemukan lubang gelapnya, lubang ganjil yang akan membawamu pulang." Alka terus membujuknya.
"Tapi aku ...."
"Banting anak itu." Alka bersikeras, karena Mulyana masih saja ragu.
"Baiklah," Mulyana berkata.
Dia bersiap membanting anaknya, diangkat tinggi-tinggi bayi itu dan dalam hitungan detik, bayi itu dijatuhkan oleh Mulyana.
Aneh ... bayi itu tidak jatuh, tapi dia kembali lagi ke tempat tidur, Mulyana tertegun melihatnya, bagaimana bisa bayi yang dia lempar dari atas ke bawah cukup tinggi tapi kembali lagi ke tempat tidur, seolah apa yang dilakukan Mulyana tidak benar-benar terjadi.
Mulyana melihat sekeliling rumah, dia keluar kamar dan kembali dengan piring kaca dan menghadap kaca.
Mulyana membanting piring yang dia bawa dan ... piring tidak pecah, tapi entah kemana piring itu.
Mulyana pergi lagi ke luar, dia menemukan piring itu kembali lagi ke rak piring dengan posisi yang sama seperti sebelum diambil tadi.
Pak, perhatikan baik-baik, waktu di rumah ini tidak berjalan, tapi berputar di tempat yang sama.
__ADS_1
Sekarang kau tidurlah, kau bangun besok pasti disuruh anakmu antar sekolah, lalu belum sempat antar, Aditia dewasa datang, setelahnya Aditia remaja lalu terakhir Aditia bayi. Selalu begitu, perhatikan di sana, kau harus menemukan lubangnya Pak, lubang kesalahan pada dunia gelap ini."
Mulyana menuruti lagi perkataan Alka, dia tidur, Alka masih terus memperhatikannya. Mulyana hanya tidur sebentar saja, dia bangun dan benar saja, dunia ini berputar pada waktu yang sama, dia tidaklah sakit, tapi memang dunia ini yang tidak nyata.
Mulyana kembali ke kaca.
" Aku sudah menemukan lubangnya," Mulyana berkata.
"Apa?" Alka bertanya.
"Mereka semua dan aku juga, memakai pakaian yang sama setiap saat, saat bersama Aditia yang sekolah dasar, istriku memakai baju motif bunga, melakukan gerakan yang sama, menyiapkan sarapan yang sama. Begitu juga dengan Aditia yang sedang sarapan.
Berlanjut ke Aditia dewasa, dia juga memakai baju yang sama, istriku juga memakai baju berwarna abu-abu tua yang sama setiap bersama Aditia yang dewasa itu. Semua sama sampai terakhir aditia bayi." Mulyana tersenyum lega.
"Kau tidak sakit Pak, kau kemarin tidak sadar karena belum menemukan lubang kesalahan dunia khayalannya saja. Kau bingung dan akhirnya percaya dan yakin bahwa kau sakit. Istri dan anakmu adalah dua orang yang kau percaya, sayang orang yang mengerjaimu itu menggunakan dua kelemahanmu untuk membuatmu percaya, padahal kau dijebak."
"Aku disini karena apa?" Mulyana masih saja berbicara didepan cermin dengan Alka, sementara dunia gelap tetap berjalan sesuai urutan, yang berbeda adalah, Mulyana tidak lagi menuruti apa yang dikatakan istri-istrinya dan anak-anaknya yang palsu di dunia gelap itu. Dia hanya fokus berbicara pada Alka.
"Kembang Sukapuran pak, itu tertulis di kitab tumbuhan pesakitanmu." Alka mulai menjelaskan.
"Apakah kau sudah mendapatkan orang yang melakukannya padaku?"
"Sudah, Abah Wangsa sudah mengetahui orang yang mengerjaimu."
"Oh ya, kemana Abah?" Mulyana kembali ingat dengan karuhunnya itu.
"Dia terikat di dunia kita Pak."
"Wah, ternyata kehebatan Kembang Sukapuran tidak main-main, aku selama ini hanya mendengar rumornya saja."
"Pak, jadi sekarang apa yang harus kita lakukan?" Alka hanya tahu sampai menyadarkan Mulyana di dunia gelap saja, tapi dia tidak tahu bagaimana mengeluarkan Mulyana dari dunia itu."
"Caranya? Berat, apakah kau masih mau membantuku?"
"Tentu saja!"
"Tanpa syarat?"
"Ya lah, aku sekarang ke sini saja tanpa syarat."
"Alka aku yang membesarkanmu, bagaimana aku tidak tahu pemikiran gadis kecilku yang terkena Lanjo. Aditia tidak mungkin ada di gendonganmu kalau kau tidak mengajukan syarat pada Dirga dan Abah."
Alka tersenyum dan sadar, Bapak telah mengetahui akal bulusnya untuk bersama Aditia.
"Ya, tanpa syarat, aku janji."
"Kalau begitu ke sini." Bapak hendak membisikkan sesuatu ke telinga Alka.
...
"Jadi bagaimana dengan Mulyana?" Alka telah keluar dari dunia gelap, karena dia masuk menumpang dari memegang tubuh Mulyana, maka mudah bagi Alka untuk keluar, seperti jalan masuk, maka pintu keluarnya juga sama. Pintu itu tidak terlihat oleh Mulyana, sama seperti Alka dan juga Aditia yang tidak terlihat, mereka harus menggunakan kaca sebagai pihak ketiga, maka pintu keluar dan masuk yang Alka gunakan juga tidak terlihat oleh Mulyana, jadi dia tidak bisa keluar dari pintu itu.
"Dia sudah sadar, bahwa dunia yang dia tinggali saat ini adalah dunia gelap." Alka menjelaskan pada Dirga.
"Lalu kenapa kau tidak membawanya pulang?"
"Tidak bisa, dia tidak bisa melihatku dan Aditia ternyata, jadi pintu keluarku juga tidak bisa dia lihat. Beruntung kami bisa berkomunikasi melalui kaca lemari di dunia gelap itu. Kaca ini." Alka menunjuk kaca lemari baju di rumah itu, lemari yang sama persis di dunia gelap itu.
"Lalu kita harus apa sekarang, jadi caramu tidak berhasil?" Dirga terlihat kecewa.
"Bukan tidak berhasil, tapi belum selesai. Aku masuk ke sana itu hanya langkah awal."
"Lalu sekarang apa?" Dirga bertanya lagi.
"Kita akan tetap melakukan sesuai rencana dukun itu. Dia akan datang lagi kan? Kita lakukan ritual sesuai yang dia mau, aku butuh bertemu dengannya." Alka hanya memberi sedikit petunjuk.
"Apa maksudmu?" Dirga bingung.
"Bantu ibu untuk menyiapkan semua keperluan ritual membangunkan bapak yang akan dilakukan oleh dukun itu. Sisanya, aku dan Jana yang akan aturkan."
"Kau yakin? Bagaimana kalau dukun itu mencelakai Mulyana lagi?" Dirga ragu dengan rencana ini, dengan masih mengizinkan dukun itu untuk melakukan ritual.
"Tidak akan! Aku dan Jana akan jaga bapak."
"Aku percaya pada Alka," Jana berkata.
"Baiklah kalau begitu, aku akan membantu istrinya Mulyana menyiapkan semua." Dirga setuju akhirnya.
"Kalau begitu kami pamit ya." Alka hendak keluar dari kamar.
"Alka ... sebentar." Dirga menahan Alka.
"Ya, kenapa Pak?" Alka bingung karena dia ditahan untuk keluar.
"Sampai kapan rencananya Aditia mau kau gendong begitu? Kau tidak ada keinginan mengembalikan Aditia padaku?"
__ADS_1
Alka tersenyum.
"Maaf lupa Pak, pantas sedari tadi aku merasa sempurna, ternyata sayangku masih aku gendong." Alka pura-pura bodoh.