
“Jadi, benar pelakunya adalah dukun peliharaan Badrun?” Aep terlihat sangat terkejut tapi senang, karena tebakan adiknya benar, apa yang adiknya bisikkan waktu itu, ketika mulyana kabur dari rumah sakit setelah tertembak.
“Ya, dia benar Ep, kau harus lihat bagaimana ibu Badrun terkejut mendengar itu dan akhirnya mau cerita semuanya.” Dirga terlihat sangat bersemangat.
“Jadi, kenapa kau bisa ambil kesimpulan bahwa dukun peliharaan Badrunlah pembunuhnya?” Aep bertanya pada Mulyana.
Mereka semua ada di rumah, di ruang tamu, ayah dan ibunya tak ada di rumah, katanya Drabya mengantar istrinya untuk arisan keluarga, di keluarga mereka acara seperti ini memang hal yang selalu dilestarikan untuk menjaga hubungan keluarga tetap erat hingga anak cucu. Jadi nilainya bukan pada uang, tapi pada kebersamaan.
“Pertama, saat istrinya Yoga bilang Yoga adalah pelakunya, aku sedikit percaya, karena tidak ada istri yang ingin suaminya terpuruk, kecuali luka perselingkuhan, bisa jadi memang Yoga pelakunya, tapi saat aku dan Dirga ke kamar Yoga dan aku menyebutkan nama Wulan lalu Yoga histeris, aku tahu, dia bukan pelakunya.”
“Kenapa?” Aep dan Dirga terlihat penasaran.
“Raungannya bukan raungan ketakutan, tapi raungan … sakit yang dalam, bisa jadi itu raungan patah hati.”
“Kau sok tahu sekali, kau kan belum pernah jatuh cinta, jadi bagaimana kau bisa membedakannya.” Aep protes, karena teori ini terlalu prematur jika dilontarkan oleh Mulyana yang belum pernah berpacaran.
“Mungkin seluruh organ tubuh bisa berbohong, tapi tidak dengan mata, karena mata adalah jendela hati, aku yakin itu, walau ini adalah pelajaran SD tapi aku sudah membuktikannya beberapa kali, bahwa memang mata tidak pernah berbohong, di antara raungannya, aku melihat kesedihan yang dalam dari mata Yoga, dia sangat sedih dan terluka ketika nama itu kusebutkan, artinya, dia sangat mencintai wanita itu dan semakin yakin bukan Yoga pelakunya, karena pasti ada rasa cemburu yang besar dari istrinya Yoga, hingga dia ingin suaminya hancur, jadi ini hanya drama rumah tangga, bukan Yoga pelakunya.”
“Lalu Badrun, bagaimana kau mengeleminasinya?” Dirga kali ini yang bertanya.
“Sudah pasti bukan dia, ini mudah sekali loh. Pertama, ketika orang membunuh, dia harus punya landasan kuat untuk melakukannya, bisa dendam, uang atau cinta. Sedang Badrun tak punya ke semua landasan itu. Dia tak punya dendam apapun pada Wulan, bukankah sudah kukatakan bahwa jika untuk membunuh orang, pertaruhannya harus besar, landasannya harus jelas. Badrun tak punya motif apapun, selain anaknya yang bisa buat malu, tapi itu tak bisa benar-benar mengancam karirnya juga.
Bahkan ketika Wulan akhirnya menikah dengan Yoga pun, jika dia bisa menyembunyikan hubungan ini, Badrun takkan pernah terkena masalah. Pun jika akhirnya dia harus ikut campur karena tidak enak dengan besannya, dia pasti hanya akan meminta Wulan keluar dari sana dan memulangkannya ke kampung.
Maka dua orang tereleminasi sebagai tersangka.”
“Gimana dengan istrinya Yoga? Dia kan mungkin saja bunuh Wulan. Motifnya jelas, CEMBURU.” Dirga bertanya, dia punya kemampuan analisa yang baik juga.
__ADS_1
“Aku juga sempat memikirkan kemungkinan itu, apalagi ditambah dia itu ngotot kalau Yoga pembunuhnya, kau tahu kan, biasanya maling teriak maling, pembunuh, teriak pembunuh, tapi akhirnya aku eliminasi dia setelah melihat tangannya.”
“Hah? kok bisa? Kenapa?” Dirga bingung.
“Tangannya terlalu kecil untuk bisa menyerang orang, dia sangat kurus, tipikal ibu sosialita kaya raya yang mengandalkan uang dan harus selalu cantik dengan berlomba-lomba kurus, tangannya terlihat lemah, sulit untuk memikirkan bagaimana dia menyerang Wulan dengan tangan selemah itu.”
“Tapi kan ....” Dirga dan Aep bersiap untuk membantah, tapi mereka berkata bersamaan dan akhirnya berdiam bersamaan juga.
“Pasti kau mau bilang gini, bisa saja istri Yoga menyuruh orang lain dan membayarnya untuk membunuh. Iya kan?” Aep menebak perkataan Dirga yang tertahan itu.
“Ya, benar sekali Ep.”
“Tidak mungkin dia menyuruh orang untuk membunuh Wulan.”
“Kok nggak mungkin?” Aep dan Dirga bingung.
“Wah kau sudah mengobservasi cukup jauh, kok kau bisa mendapatkan laporan arus rekeningnya? Kau menggendam pegawai bank?” Aep bertanya.
“Tidak, ada salah satu anak Kharisma Jagat yang bekerja di bank, aku minta bantuannya untuk memeriksa arus rekening wanita itu, dia membantu karena tahu ini tentang kasus.”
“Wah kalian melakukan praktik ilegal.” Dirga bertepuk tangan tapi tetap saja komplain.
“Baiklah, lalu terakhir, ini terakhir Yan, kalau mertuanya? Kenapa kau tidak curiga pada mertuanya Yoga, karena kan, ayah mana yang rela anaknya disakiti?”
“Wah, dia sudah kusingkirkan di hari pertama aku menyelidiki, karena ... kelakuannya sama kayak menantunya, dia punya banyak selingkuhan dan mungkin sudah tahu kelakuan menantunya dan diam saja yang penting anaknya tetap bahagia, ditambah anaknya bilang kalau suaminya butuh dana, maka mertuanya pasti menyangka kalau menantunya sedang sibuk membangun bisnis, bukan sibuk bangunin mayat.”
Mereka semua tertawa, lalu merasa semua yang dikatakan Mulyana masuk akal.
__ADS_1
“Lalu terjadi jalan buntu waktu itu, aku sudah memeriksa semuanya, tapi semuanya mentah, semuanya tereliminasi sebagai tersangka, karena motif mereka terlalu samar dan bahkan tak ada, sampai aku teringat satu hal.”
“Satu hal, apa itu?” Aep bertanya, Dirga juga penasaran.
“Kau ingat ketika kita menyamar jadi tukang sayur, Ga?”
“Iya, ingat. Kenapa?”
“Ketiak itu kita tahu kalau mereka sering mengadakan ritual di rumah itu dari para tetangga kan? lalu istrinya Badrun juga bilang dulu mereka punya dukun yang biasa menangani masalah ghaib tapi akhirnya mereka memanggil dukun lain, ini aneh, kalau mereka ada dukun yang biasa membantu menangani masalah ghaib, lalu kenapa harus memanggil dukun lain? Pasti karena dukun itu ... menghilang, walau ibu Badrun tak pernah bilang soal dukun yang menghilang itu, dia sengaja melakukannya, bukan untuk melindungi dukun itu, tapi dia melindungi orang yang mungkin terlibat dalam kejadian pembunuhan itu, yaitu suaminya, karena ibu Badrun tahu, kalau suaminya yang menyuruh dukun itu untuk mengantar pulang kampung dan akhirnya kebablasan jadi peristiwa pembunuhan, saat teringat ini, aku jadi sangat yakin, pasti orang itu pelakunya.
Makanya aku buru-buru cari tahu tentang dukun itu dan benar saja, dukun itu menghilang seperti ditelan bumi, kabur bersama keluaranya. Maka kecurigaanku sudah pasti benar, hanya butuh pengakuan saja dari istrinya Badrun.”
“Yan, kau sungguh hebat!” Aep dan Dirga bertepuk tangan.
Mulyana hanya tersenyum. Kelak, dia akan mewariskan kemampuan analisa ini kepada Saba Alkamah, dia mendidik Alka agar lebih hati-hati dalam bertindak, makanya Alka selalu paling hati-hati di antara kawanan, tidak seperti Alisha yang sangat nekat jika sedang menghadapi kasus, karena sejak kecil Alka sudah ditempa untuk menganalisa dulu semua hal, baru ambil tindakan saat sudah sangat yakin dan tak menemukan celah lagi, jangan gegabah, hingga akhirnya musuh bisa mengalahkanmu melalui celah dari sikap gegabah itu.
“Maka sekarang kita harus menemukan ayahnya Wulan, pasti ada sesuatu yang dia lakukan untuk membuat Wulan tak bisa kita jemput dan para dukun yang dikubur sembarang itu ruhnya juga harus dipulangkan, kita harus membuat ayahnya Wulan menyerah.”
“Iya Yan, pekerjaan kita masih belum selesai.” Dirga setuju, tak lama kemudian Drabya pulang,Mulyana dan Dirga melihat Drabya dan mereka semua salim.
“Lagi apa nih?” Drabya terlihat lelah tapi sempat bertanya.
“Biasa, bahas kasus, Mulyana berhasil selesaikan kasus lagi nih.” Aep menjelaskan.
“Oh ok, kalau begitu aku istirahat dulu ya.” Drabya pamit dan masuk kamar, sedang ibunya masuk belakangan, memberikan makanan ringan pada mereka dan akhirnya masuk ke kamar menyusul suaminya.
Mulyana melihat ke kamar itu dengan tatapan sedih, dia masih yakin ayahnya orang baik.
__ADS_1