Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
(Bagian 556 : Mulyana 62)


__ADS_3

“Apa kau bilang! Kau bilang ayahku menarik upeti untuk dijadikan jaminan atas pembebasan praktik dukun! Perempuan gila!” Mulyana sangat marah, karena mendengar keseluruhan cerita ini, seperti mendengar dongeng yang sangat mengerikan dan menjijikan.


“Ayahmu! Apa maksudmu ayahmu, yang mana ayahmu?” Wanita itu rupanya memang hanya mendengar seluruh kisah dari suaminya, tanpa tahu silsilah keluarga dari orang yang diceritakan, tentu saja, kita juga sebagai pendengar mana pernah sibuk mencari tahu, kecuali kau psikopat yang haus informasi pada orang yang kau membuatmu penasaran.


“Drabya! Ayahku itu adalah Drabya, nama yang kau sebut sebagai sekutu ayahnya Wulan!” Mulyana berteriak, dia membuat beberapa penjaga bahkan menoleh, Dirga mencoba untuk menenangkannya. Walau berita ini juga membuat Dirga menjadi kaget, dia tak pernah menyangka, ayah kawannya tidak sebaik yang mereka sangka, ini pasti pukulan terberat untuk mereka semua.


“Oh, jadi pemuda yang mengaku kaya raya raya ini adalah pemuda yang keluarganya menjadi budak uang dari para dukun laknat itu! Luar biasa! Dan kau masih sombong padaku memamerkan kekayaan, sungguh brengsek kalian!” Wanita itu menjadi semakin arogan setelah dia mengetahui bahwa Mulyana anak dari Drabya.


“Tidak, aku takkan pernah percaya padamu, pasti ada maksud kenapa ayahku ada di sana dan satu lagi, bisa jadi ayahku ke sana untuk membuat ritual itu gagal, lalu suamimu salah sangka, aku takkan pernah percaya omonganmu, dasar wanita iblis, keluargamu iblis! Walau tebakanku benar mengenai siapa pelaku dari pembunuhan itu, yaitu DUKUN PELIHARAAN KELUARGAMU, tapi tetap saja, otak dari semua ini adalah Badrun, suamimu, aku akan pastikan nama suamimu hancur dan juga anakmu hancur kalau sampai kau membuat nama ayahku buruk!” Mulyana tak terima dengan semua cerita ini, padahal dia belum dengar kemungkinan Yoga dan ayahnya disantet oleh ayahnya Wulan.


Mulyana menjadi tidak peduli lagi pada keluarga itu karena tuduhan yang dibuat istrinya Badrun, yang bukanlah tuduhan, itu kenyataan yang perih bagi Mulyana, sampai saat ini, dia masih percaya kalau ayahnya adalah seorang Kharisma Jagat yang setia pada nilai yang mereka pegang, seperti yang Abah Wangsa katakan, bahwa Kharisma Jagat adalah penjaga keseimbangan dua dunia yang melakukan tugasnya karena perintah Tuhan dan takkan pernah berpaling untuk kekuasaan, uang dan bahkan pasangan.


Dia menilai ayahnya jauh lebih tinggi dari pada itu, pasti ada alasan, takkan mungkin ayahnya mengambil semua uang itu, mereka kaya raya sejak nenek moyang, jadi mana mungkin Drabya melakukan perbuatan hina itu.


Mulyana keluar dari ruang tahanan dengan marah, Dirga menyusulnya.


“Yan, tunggulah, katanya aku asistenmu, kenapa kau malah begini, tenanglah dulu!” Dirga mengingatkan Mulyana, bahwa dia sedang dalam penyelesaian kasus.

__ADS_1


“Aku tidak akan pernah percaya bahwa ayahku melakukan hal tercela semacam itu, dia bekerja keras untuk menyelesaikan berbagai kasus, sekarang dia difitnah begini, aku takkan pernah melakukan itu.” Mulyana sangat marah pada wanita itu makanya dia keluar, Mulyana takut kalau dia akan mencelakai wanita itu jika saja dia masih di sana.


“Aku tidak tahu harus berkata apa, tapi sebagai temanmu, aku percaya pada apa yang kau percayai, jika kau sangat percaya ayahmu, maka aku juga akan percaya, tapi jikapun kelak kau tahu kebenarannya bukan seperti yang kau yakini, penilaianku padamu takkan pernah berbeda, selalu akan sama, karena aku mengenalmu dengan baik.”


“Tidak Dirga, aku yakin takkan pernah menemukan kenyataan lain, aku akan melawan setiap fitnah itu dengan sangat keras, aku takkan biarkan ibuku sedih karena hal ini, bahkan ayahku sering keluar kota dan meninggalkan kami untuk mengemban tugas ini, dia mendidikku dengan etos kerja seorang Kharisma Jagat yang mulia, tak mungkin ayahku melakukan itu, bagiku, ayahku orang yang sangat jujur, ini pasti akal-akalan Hagir sialan itu, aku akan pastikan menghabisinya, jika saja kami bertemu.”


“Baiklah, tenangkan dirimu kawan, sekarang kita harus mencari cara untuk membantu Yoga, kau akan tetap menyelesaikan kasus ini bukan?” Dirga bertanya. Ini membuat Mulyana jadi terdiam, dia sebenarnya enggan menolong Yoga.


“Aku tak ingin menyelesaikan kasus ini.”


“Hei Yan, kau itu kan Kharisma Jagat yang baik, buktikan kau dididik dengan baik oleh seorang ayah yang hebat, jangan jadi melempem hanya karena satu fitnah, kau punya dua tugas, pulangkan ruh Wulan dan juga sembuhkan Yoga.


“Ya, kau benar Dirga, maaf aku tadi kelepasan, tidak seharusnya kemarahan membuatku meninggalkan para korban.”


“Betul sekali, itu namanya sahabatku, walau aku tidak tahu tugasmu secara detail, tapi aku tahu, kau harus menjemput ruh itu untuk kembali pada Tuhan, aku kagum padamu dan keluargamu, kami orang terdekatmu, takkan pernah merubah penilaian, untukku, kau itu sahabat dan juga partner, ingat itu, aku asistenmu.”


“Makasih ya Dirga, aku sangat beruntung menabrakmu waktu itu.”

__ADS_1


“Ya, dan aku sial, karena sekarang terjebak, terikat dan bahkan menjadi merasa tak bisa kabur dari hubungan ini.”


“Kau menjijikan sekali Dirga!” Mulyana kelihatan jijik dengan perkataan Dirga.


“Oh ya Yan, ada satu yang menggangguku sejak tadi, kau rupanya tadi membisiki pelaku dari pembunuhan itu dan membuat Ibu Badrun kaget, karena kau menyebutkan pelakunya dengan tepat. Dari mana kau bisa menebak bahwa pelaku pembunuhan Wulan adalah DUKUN PELIHARAAN BADRUN?” Dirga bertanya. Maka apakah kalian ingat ketika malam hari Mulyana kabur dari rumah sakit padahal tangannya habis ditembak, lalu bertemu dengan kakaknya Aep dan dia membisiki Aep pelaku dari pembunuhan Wulan? Aku bertanya pada kalian, apakah kalian mendengar siapa yang dibisiki oleh Mulyana kepada Aep sebagai pelakunya, sayang dari kalian tak ada satupun yang mendengar bisikan itu, maka hari ini kalian semua tahu, bahwa Mulyana sudah menebak siapa pelaku dari pembunuhan itu, yaitu DUKUN PELIHARAAN BADRUN.


Bukankah ini tebakan yang janggal, darimana Mulyana tahu dia pelakunya, teori apa yang membawa Mulyana sampai pada kesimpulan itu dan mampu menebak dengan benar. Sedang Mulyana bukan orang yang bisa melihat masa lalu dan masa depan seperti Ayi Mahogra, lalu dari mana kesimpulan itu berasal.


Apakah dia dibisiki oleh dedemit? Ah itu sebuah jawaban yang terdengar receh bukan?


“Oh soal itu, rupanya kau penasaran seperti Aep, tapi aku ingin bercerita secara lengkap di rumah ya, biar tak dua kali bercerita, padamu dan pada Aep, sekalian kita makan malam, perutmu tak lapar? Aku juga butuh kopi karena kesal soal tadi.”


“Oh, ide bagus, kalau begitu, ayo naik ke motorku, aku akan membawamu pada rumah yang nyaman, jangan luap pegangan pinggang ya.”


“Hei! kau mau kutikam pakai golok!” Mulyana kesal dengan kelakuan iseng Dirga, ingatkah kalian gurauan kawanan yang sok romantis seperti ini?


“Sudah cepat naik, nanti kau bisa sakit.”

__ADS_1


“Dirga!!!!!”


Mulyana kesal tapi dia tetap naik, calon Polisi ini memang suka sekali bergurau, hanya agar suasana cari dan Mulyana jadi lebih tenang, walau dalam hatinya, ada rasa percaya pada Ibu Badrun tentang Drabya, karena berdasarkan pengalamannya, dia kecewa pada ayahnya yang ternyata pemuda iblis, padahal selama ini dia mengira ayahnya orang baik, maka tak menutup kemungkinan Mulyana juga memiliki takdir yang sama dengannya, mendapatkan ayah yang sangat buruk dalam memilih jalan hidup, tapi dia tak ingin membuat sahabatnya terluka, maka dia memilih untuk percaya apa yang sahabatnya percayai.


__ADS_2