
Alka masih marah pada Aditia, Aditia sibuk membujuknya, setelah menyerahkan ruh-ruh itu pada tubuhnya, mengantar wanita berwajah buruk rupa kepada keluarganya, salah satu yang cukup berat dilakukan, tapi setidaknya dia kembali pada Sang Pencipta, mereka juga menangani beberapa kasus sederhana seperti santet dan pelet, dengan wajah cemberut Alka.
“Ka, kapan aku dimaafin?” Aditia bertanya.
“Memangnya penting pendapatku untukmu?” Alka bertanya, mereka sedang nongkrong di warung dekat kuburan seperti biasa dengan anggota yang lengkap, ada yang makan gorengan atau minum kopi, kemewahan tidak membuat mereka berubah, nongkrong di warung kecil dekat kuburan, membaut mereka tetap nyaman, membantu sesama dan bersikap tanpa pamrih, menjadi nilai yang mereka junjung tinggi.
“Penting untukku.” Aditia mantab menjawab.
“Baiklah kalau sebegitu pentingnya, kau harus ikut denganku, aku akan memberimu satu hal yang mungkin selalu menjadi pertanyaaanmu.” Alka berdiri, semua orang otomatis mengikutinya.
Mereka dalam perjalanan, Alka menyetir bersama Jarni di duduk di samping kemudi.
“Kita mau ke mana sih?” Aditia bertanya pada Ganding, mereka duduk di bagian belakang angkot.
“Nggak tau.”
“Hah? Trus kenapa kalian otomatis ikut?” Aditia kesal.
“Karena kami tahu, Kak Alka nggak akan pernah mencelakakan kami, jadi apapun yang dia lakukan pasti hal baik untuk kami, jadi buat apa repot tanya, kalau sudah tahu itu sesuatu yang baik?” Ganding berkata, itu membuat Aditia sedikit tertohok.
“Begitu.”
“Ya, dulu ke bapak kami juga begitu. Setiap bapak suruh apa, kami ikuti tanpa banyak bertanya, karena bapak pasti lakukan hal yang baik untuk kami, walau nyerempet bahaya, kami nggak pernah marah atau curiga.” Ganding menyindir, dia tahu Aditia sedang dalam kondisi bisa diluruskan lagi pemikirannya.
“Tapi, semua orang punya pemikiran sendiri, kan? Kenapa kita kayak robot aja, disuruh ini jalan, disuruh itu langsung aja, tanpa bertanya tanpa memilih mau melakukan atau tidak.” Aditia masih sedikit egois.
“Buat apa repot keras pada pemikiran kita yang belum jelas salah atau benarnya, tapi kalau kita mengikuti perintah orang yang selalu memikirkan kebaikan untuk kita, itu udah pasti tepat, ini namanya kepercayaan Dit, keluarga itu harusnya begitu, nggak saling curiga, nggak saling kecewa, karena apapun itu, dilakukan pasti sesuatu yang baik untuk keluarga. Ingat, ada saatnya kita punya pendapatasendiri, ada saatnya kita ikuti orang yang sudah pasti setiap keputusannya selalu yang terbaik, kayak gue sama Kak Alka, kalau dia lagi buntu dia pasti tanya pemikiran gue, disitu gue baru ungkapin apa yang gue anggap benar, persis peristiwa gue mutusin lepas khodam untuk nyelamatin sukma lu, yang ternyata gue ditipu sama Kak Alka, gue ungkapin pemikiran gue juga, kan? Ada saatnya Dit, nggak selalu kita yang memutuskan sesuatu, karena kita ini banyak yang nggak taunya.” Ganding lagi-lagi menasehati, Aditia terdiam.
“Udah sampai, yuk masuk.” Alka meminta semua orang masuk ke suatu tempat, tempat itu lahan kosong, tapi aneh, lahan kosong di tutup gerbang tinggi.
Alka membuka gerbangnya tinggi itu, dia yang saja yang punya kekuatan tinggi terliaht keberatan membuka gerbang itu, Aditia berlari untuk membantunya membuka gerbang, tapi dia tiba-tiba terpelanting, seolah ada medan magnet yang membuat dia terpental.
“Anak baru lu?!” Hartino tertawa.
“Masa iya kakak gue kesusahan buka gerbang yang lain diemin aja, dasar amatir!” Ganding menambah ejekan yang membuat Aditia semakin perih.
“Kasih tau dong, kalau emang pintu itu, cuma Alka yang bisa buka.”
“Katanya punya pemikiran sendiri, masa yang kayak gini nggak bisa mikir, Dit, Dit.” Ganding dan yang lain masuk stelah pintu gerbang itu dibuka sempurna, medan magnet yang membuat mental seolah hilang.
“Gerbangnya sudah ditembang laring, jadi nggak ada yang bisa mendekati, mereka juga akan takut jika melihat ke dalam, karena hanya lahan kosong luas seperti kuburan, padahal ....” Hartino berhenti berkata, Alka menyanyikan sebuah lirik lirih sambil mengetuk-ngetuk ke tanah sebanyak tiga belas kali, lalu muncul sebuah bangunnan besar yang terlihat kokoh, semua yang gelap terlihat sangat terang.
“Apa-apaan ini?” Aditia terpesona.
“Masih nggak tahu juga yang ini? Dit, kemarin waktu bapak ngajarin, elu kebanyakan tidur kali ya?” Hartino tidak berhenti meledek, Aditia terlihat kesal.
“Ini namanya, Babet Sinagtariman, ritual mengkasatmatakan yang terlihat menjadi tidak terlihat melalui ilusi mata, kalau gendam hanya bisa dilakukan personal, kalau Babet Sinagtariman bisa dilalukan dalam skala lebih besar, karena yang diilusikan bangunan itu sendiri. Ngerti nggak?” Ganding menjelaskan tapi tetap ada muatan meledek.
Sementara itu mereka berdua masuk ke gedung yang kokoh itu, saat masuk, di dalam sama sekali tidak seram, begitu terang dan kelihatan sangat mewah.
“Hanya bapak yang bisa lakukan Babet Sinagtariman, ini semua peninggalan beliau.” Alka menjelaskan. Mereka duduk di sofa yang mewah, di ruangan itu banyak sekali terpajang barang-barang antik yang terlihat sangat indah sekaligus muatan mistis yang kental.
“Ini punya bapak?” Aditia bertanya, ada raut kesal lagi di dalam pemikirannya.
“Dit, dengar dulu semua yang Alka mau sampaikan, setelah ini, Adit yang putuskan, jadi mohon dengarkan dengan pemikiran terbuka.” Alka melembutkan suaranya.
“Baiklah.”
“Dulu sekali, ketika Bapak menyuruhkan mengatur dana untuk memastikan kalian tidak kurang suatu apapun, aku bertanya, kenapa beliau tidak membiarkan keluarganya tahu, bahwa keadaan ekonomi kalian itu sangat amat baik, kenapa Bapak, menyembunyikan semua ini, bapak waktu itu hanya memintaku melihat Jarni, Ganding dan Hartino, katanya begini, perhatikan mereka, bayangkan jika kita tidak menemukan mereka, apa yang akan mereka alami?
__ADS_1
Lalu aku menjawab pertanyaan bapak, mereka akan dimasukkan ke rumah sakit jiwa.
Lalu Bapak menjawab lagi, atau mereka akan dibuat lupa, bahwa mereka sudah diberkahi, setelahnya tenggelam dalam semua kenikmatan dunia, tanpa mereka mau melakukan hal yang sudah menjadi tugas mereka, yaitu membantu orang yang membutuhkan.
Aku sadar, bahwa bapak sangat mencintai keluarganya lebih dari nyawanya, tapi tugasnya mendidikmu untuk melindungi keluarga dan juga manusia yang butuh kemampuan kamu.
Bapak sudah mempersiapkan kami semua untuk mendampingimu Dit, kami dikumpulkan tak lain dan tak bukan untuk selalu mendampingimu, entah kenapa aku merasa, bapak sudah tahu, umurnya tidak akan panjang untuk membimbingmu kelak, sedang umurmu masih sangat muda, jadi dia juga takut jika mendidikmu terlalu keras, maka akhirnya kau akan terbebani, maka diputuskanlah, dia mendidikku terlebih dahulu, untuk setelahnya menyalurkan ilmu itu kepada Aditia dan kalian semua.
Tapi mungkin perkataanku tidak akan kamu percayai, maka ini yang dapat aku berikan.”
Alka berdiri dan mengambil sesuatu pada peti mini yang ada di salah satu rak yang menaruh begitu banyak antik.
Alka mengambil sebuah amplop coklat kecil, setelah mengambilnya dia memberikan amplop itu pada Aditia, “Bacalah, ini seharusnya diberikan padamu setelah kau menikah, karena kau sudah cukup matang untuk mengelola ini semua, tapi aku terpaksa harus memberikannya sekarang.”
Aditia mengambil surat itu.
“Hari ini kita tidur di sini, ada tiga kamar di atas, dan 4 kamar di bawah, semua pilih kamarnya masing-masih, kita tidak pernah bermalam di sini tapi hari ini perlu, kau bisa membacanya lebih personal, cara membukanya kau harus gunakan mantra pelepas, tahu kan?” Alka bertanya.
“Iya tahu kalau itu.” Aditia merasa diledek lagi.
Lalu semua memilih kamar yang sudah lengkap dengan furnitur, semuanya bersih, karena setiap hari ada beberapa pekerja indigo yang dibayar untuk membereskan semua.
Aditia masuk kamar, lalu dia membuka surat dengan mantra pelepas, tiba-tiba ada cahaya yang masuk ke ruangan itu.
“Ayah!” Aditia kaget karena melihat Pak Mulyana sedang berdiri menggunakan pakaian serba putih.
“Tentu kau tahu, aku bukan ayahmu.” Ucap ruh itu, dia adalah jin qorin Pak Mulyana dulu.
“Ya, aku tahu.” Aditia baru sadar.
Aditia mencari surat dalam amplop itu, tapi ternyata tidak ada apa-apa di sana.
“Akulah suratnya, karena dia ingin aku bisa menjawab semua pertanyaanmu, aku tahu semua hal tentang dirinya, karena dari dia lahir sampai dia tiada aku bersamanya, tidak sedetikpun aku pergi darinya.” Kata jin qorin itu.
“Karena dia takut, harta membuatmu lupa, lupa bahwa kau dan ayahmu adalah orang yang diberikan berkah untukk membantu sesame, Mulyana takut Murka Tuhan.”
“Ya, ayah tidak percaya pada kami, makanya dia menyembunyikan semua ini dan membuat ibu menderita.” Aditia kesal.
“Kau salah Dit, apa kau akan tahu rasanya lapar kalau kau tidak pernah merasakan lapar? Apa kau akan tahu rasanya sulit keuangan tanpa pernah mengalami itu? Apakah kau akan tahu rasanya mendapatkan bantuan, tanpa ditolong orang terlebih dahulu?
Dia mendidikmu agar kau tahu bahwa mereka butuh kalian, mereka yang tidak punya uang tapi butuh ditolong, semua yang kau dan Alka serta yang lain bantu itu adalah orang-orang sulit ekonomi, siapa yang akan perduli dengan mereka, selain kalian yang diberkahi dengan ilmu?”
“Tapi seharusnya ayah ....”
“Jika kau dan keluargamu tahu kalau kalian bergelimang harta, maka Mulyana tidak akan bisa menjadi supir angkot untuk menolong, tidak bisa membuatmu ikhlas menjadi supir angkot dan tidak bisa membuat ibumu dan Dita seikhlas dan setulus ini dalam melakukan apapun. Kalau kalian bergelimang harta, kau akan tenggelam dalam cita-cita tinggi, tapi lupa bahwa sekitarmu yang dekat ini butuh bantuan.”
“Aku ....” Aditia Menangis, dia merasa menyesal telah mencurigai ayahnya.
“Pak Mulyana memastikan kalau kalian tidak kekurangan atau kelaparan, sama sekali tidak! Dia membawa kalian ke garis kehidupan bawah untuk menjadi pribadi yang kuat dan hebat. Kalian tidak kelaparan, tapi kalian bisa melihat dari dekat semua orang yang kesulitan, kau menjadi pria yang begitu perduli pada semua yang butuh bantuanmu, ingat dulu kau bekerja sendiri untuk membantu mereka sebelum bertemu Alka.
Mulyana hanya ingn kau dan keluargamu menjadi keluarga yang mementingkan nilai-nilai hidup yang tinggi daripada sekedar gaya hidup yang tinggi.
Uang itu bisa membuat orang lupa dan buta, makanya uang bukanlah warisannya, tapi buku catatannyalah warisan yang Mulyana berikan padamu, tidak pada Alka ataupun yang lain, dia percaya padamu dan keluargamu.
Kalau kau fikir dia tidak percaya, kau salah, dia malah sangat percaya pada keluarganya yang mampu melewati semua ini tanpa uang uang berlebihan, karena dia percaya kalian itu kuat dan hebat.”
“Maafkan aku Ayah.” Walau Aditia tahu itu ayahnya, tapi mengucapkan maaf seperti sesuatu keharusan.
“Tidak perlu, karena dia tahu, kau anak baik.”
__ADS_1
“Oh ya, apakah benar bahwa ayah meningal karena sesuatu yang janggal, kata Alka ....”
“Itu tidak perlu kau fikirkan, percayalah, semua ada jalannya.”
Lalu jin qorin itu tiba-tiba menghilang sementara Aditia menangis telah salah menilai ayahnya, dai maklum bahwa ini semua cara ayahnya mendidik dirinya dan itu hanya dilakukan padanya sebagai bentuk penempaan yang sangat berharga.
Aditia menghabiskan malam menyesali kebodohannya.
...
“Pagi, sarapan udah ada nih, yuk makan.” Alka mengetuk pintu kamar Aditia, mereka sarapan bersama untuk pertama kalinya.
Ternyata benar sudah ada sarapan yang sangat lengkap, nasi goring, roti bakar, buah-buahan, jus, susu, kopi, semua orang punya selera makan yang berbeda, ada beberapa orang yang berkerja di sini, orang-orang kepercayaan Pak Mulyana.
“Tuan Aditia mau sarapan apa?” seorang asisten rumha tangga bertanya.
“Panggil Adit aja, nasi goreng sama kopi, makasih ya.”
“Iya Dit, kamu mirip sekali dengan ayahmu waktu muda.” Pelayan itu berkata, umurnya terlihat matang, sekita empat puluh tahun.
“Sudah bekerja dengan ayah ketika ayah muda?” Aditia bingung, karena wajahnya terlihat tidak tua, bagaimana dia bisa mengenal Pak Mulyana saat dia masih muda.
“Saya sudah bekerja dengan tuan Mulyana saat dia baru lahir .” Pelayan itu menjelaskan.
“Hah?” Aditia bingung.
“Dia itu seperti aku, umurnya sudah enam puluh lima tahun, tapi memang terlihat muda, karena dia anak jin dan manusia.” Alka menjelaskan.
“Oh ....” Aditia takjub, umurnya sudah tua, tapi wajahnya masih sangat terlihat kencang.
Yang lain sibuk sarapan, mereka orang-orang yang Aditia perhatikan satu-persatu, orang yang sangat sederhana walau sebenarnya sangat kaya raya, itu semua karena mereka bertemu ayahnya, ayahnya sudah memberikan begitu banyak pada Aditia, perlindungan, didikan dan keluarga baru.
“Gimana semalam?” Alka bertanya.
“Makasih ya.” Aditia berhenti memakan sarapannya.
“Apa nih? Wah nggak pake nangis-nangisan ah, geli.” Hartino kesal melihat wajah Aditia yang mellow melihat mereka satu-persatu.
“Aku benar-benar bodoh sebelumnya, bukan ayah yang tidka percaya padaku, tapi aku yang tidak percaya kalian, mulai hari ini aku akan berubah menjadi lebih baik lagi, terima kasih kalian tidak pernah meninggalkanku, terima kasih kalian tidak menyerah padaku dan terima ka ....”
“Dit, geli ah, udah-udah iya, kita maafin.” Hartino meledek seolah dia hendak muntah.
“Gue maafin, jangan diulang ya.” Ganding meledek juga.
Alka cuma tersenyum saja melihat tingkah laku mereka.
“Eh bentar, ada yang telpon.” Aditia tahu, pasti ibunya yang telpon karena Aditia tidak pulang semalam.
[Kenapa Bu?] Aditia bertanya.
[Dit, ini ada temen ayah, dia datan sama anak laki-lakinya, dia cari ayah, dulu kayaknya kelewat, dia nggak kita kasih tahu pas ayah meninggal, udah mau pulang sih, tapi katanya tadi butuh bantuan, kayaknya mereka mau pinjam duit deh Dit, ibu ada sih sedikit simpanan, apa ibu tanya aja ya, butuh apa? Kasihan Dit, datang berdua sama anaknya, takutnya butuh banget.] Aditia tersenyum, satu lagi bukti bahwa Pak Mulyana mendidik mereka semua dengan baik, ibunya Aditia yang sedang kesusahan aja masih memikirkna orang lain.
[Yaudah bu, kalalu kita bisa bantu, bantu aja dulu, Insyaallah, uang mah Adit bisa usahain.]
[Yaudah, Ibu tanyain dulu deh, ini ibu di kamar, mereka masih di ruang tamu, wajahnya kasihan Dit, kelihatan kalut gitu, sepertinya memang butuh uang.]
[Yaudah Bu, bentar lagi juga Adit pulang, kasih aja berapa yang dia butuh, kasihan, kalau sampai berani datang pasti karena dulu teman dekat ayah.] Lalu Adiia menutup telpon.;
Aditia tidak tahu, bahwa mereka akan mendapatkan kasus baru yang mungkin saja cukup berat.
__ADS_1
Jangan lupa vote ya, maaf Authornya kemarin istirahat nulis dulu jadi nggak update.
Terima kasih.